Belanja Sambil Beramal

(Tulisan ini aku buat tahun 2008, saat masih tinggal di Palu, Sulawesi Tengah. Lalu aku kirim ke Majalah Ummi dan dimuat pada tahun yang sama tapi lupa bulannya.  Tidak disangka setahun kemudian aku kerja di majalah Ummi..Hehe)
——-

Kalau ada yang nawarin barang, barangnya sama, satunya seharga 1000, satunya seharga 1500. pilih mana?”Sebagai seorang wanita, apalagi ibu rumah tangga, hampir pasti kita akan pilih barang harganya lebih murah.

Apakah ada yang salah dengan pilihan itu? Sebenarnya sih tidak. Sejak di bangku sekolah, kita sudah dikenalkan dengan definisi ilmu ekonomi yaitu sebuah kegiatan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sesedikit-dikitnya. Definisi itu diterima, mengendap dan tanpa sadar telah memasuki relung pemikiran terdalam manusia ‘modern’ -khususnya perempuan’ sehingga melahirkan sikap dan perilaku. Menjadi wajar, jika kita begitu teliti membandingkan harga barang yang ingin kita beli, dan rela berpindah toko jika kita melihat toko tersebut menawarkan harga lebih murah.

Namun, coba kita renungkan, uang yang kita keluarkan tadi, akhirnya masuk ke kantong siapa sih? Atau siapa yang sebenarnya mendapat keuntungan dari produk yang kita beli? Jika kita membeli barang di mall/swalayan, yang mendapat keuntungan adalah, pertama, tentu saja si pabrik yang memproduksi barang itu. Kedua, swalayan atau pemilik mall. Bukankah buruh pabrik dan penjaga swalayan juga mendapat keuntungan? Memang iya, namun jika dibandingkan pasti prosentase keuntungan mereka sangat kecil dibanding yang pertama dan kedua.

Artinya, kalau selama ini kita sering memilih berbelanja di swalayan atau toko-toko besar, berarti kita memberikan keuntungan yang besar kepada mereka. Bahkan mungkin kita-lah yang membuat semakin banyak bermunculan mall bahkan megamall yang seringkali mengancam kehidupan pasar tradisional.

Sebaliknya, jika kita memilih membeli barang di warung milik tetangga kita atau beli di pasar tradisional, siapa yang mendapat keuntungan? Yang pertama, tentunya masih sama, yaitu si produsen barang, baru yang kedua, adalah si pemilik warung/kios/toko. Artinya pilihan ini akan memberi keuntungan pada tetangga dan saudara kita dan itu berarti kita juga yang mendukung mereka untuk tetap bekerja. Ini jugaberarti membantu mereka memenuhi kebutuhan rumah tangga dan membuat dapur mereka tetap mengepul. Walaupun seringkali sedikit lebih mahal seratus dua ratus rupiah, saya pikir tak ada salahnya kita lakukan. Toh, kita tau persis bahwa ‘kelebihan’ uang yang kita bayar itu akan mereka pakai untuk membayar uang sekolah atau biaya hidup lainnya. Apalagi kalau mereka termasuk orang-orang yang mengalami kesulitan finansial, juga kalau mereka sesama muslim. Ini adalah juga termasuk kebaikan dan Insya Allahakan berbuah pahala dari Allah swt.

Ini mungkin hal yang sederhana, namun jika kita lakukan secara konsisten akan memberi efek ekonomi yang luar biasa. Pilihan kita akan produk lokal, juga berbelanja para distributor lokal, akan menumbuhsuburkan sendi-sendi ekonomi nasional yang saat ini mulai melemah. Dalam jangka panjang, tidakmustahil kita akan hadir sebagai bangsa yangmandiri yang tidak tergantung sepenuhnya pada perubahan ekonomi di negara lain, khususnya Amerika. Dan perubahan besar itu, berawal dari pilihan bijak kita, para perempuan atau ibu rumah tangga dalam berbelanja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s