Featured

Selamat Datang

Apa kabar teman-teman?

Terimakasih sudah mampir ke blog ini. Meskipun blog ini terbilang baru tapi tulisan-tulisan yang ada merupakan rekapan dari blog-blog sebelumnya. Aku sendiri suka menulis sejak kuliah di UGM antara tahun 2000-2005 dan memulai aktivitas blogging sejak 2008, sebelum mulai bekerja di majalah Ummi tahun 2009.

Menulis menjadi cara yang efektif untuk berbagi cerita dan pengalaman. Dengan menulis kita merekam kejadian, menyajikannya secara sistematis hingga memudahkan pembaca untuk menangkap apa yang kita sajikan. Butuh kemampuan khusus untuk bisa menyarikan sebuah kejadian yang sepintas sederhana menjadi bermakna. Namun kemampuan khusus itu akan terbangun dengan sendirinya jika kita belajar dan terus berlatih.

Jadi, aku percaya bahwa menulis tidak mensyaratkan bakat yang dibawa sejak lahir. Kemampuan ini lebih pada kemauan memulai dan berlatih terus menerus. Aku sendiri memberanikan menyebut diri sebagai penulis, bukan karena memang sudah menjadi penulis jempolan, namun lebih pada upaya menyemangati diri untuk terus menulis. Dengan harapan tulisan-tulisan tersebut membawa kebaikan yang menjelma sebagai amal kebaikan.

Selamat membaca, dan semoga ada hikmah yang bisa dipetik dari tulisan-tulisan di sini!

 

Menjelajah Eksotisnya Teluk Hijau

Banyuwangi memiliki destinasi yang serasa tidak habis-habis dijelajahi. Betapa beruntungnya masyarakat yang tinggal di kabupaten yang berjuluk The Sunrise of Java ini. Betapa tidak? Di ujung utara, ada Taman Nasional Baluran, yang menawarkan keindahan alami savana, hutan, serta deretan pantai-pantai berombak ringan dengan pemandangan bawah laut yang memesona. Sementara di sisi selatan, terdapat taman Nasional Meru Betiri, Alas Purwo dengan koleksi flora serta fauna yang menggoda untuk dijelajahi. Juga deretan laut-laut berpasir putih yang memukau pandangan mata.

Kali ini, saya dan keluarga menjelajahi destinasi tersembunyi. Butuh usaha yang tidak ringan untuk mencapainya, namun sepadan dengan eksotisme pemandangannya. Tempat itu adalah Teluk Hijau atau masyarakat sekitar menyebutnya Teluk Ijo.

Berlokasi di dusun Krajan, desa Sarongan, kecamatan Pesanggarana, Teluk Hijau tepat berada di balik deretan bukit terjal di sebelah Pantai Rajegwesi. Jika ingin ke sana kita mesti menuju kecamatan Pesanggaran yang berjarak kurang lebih 90 km dari kota Banyuwangi. Lokasi pantai ini searah dengan Pantai Pulau Merah, Mustika, Pancer, dan Sukamade. Wisatawan yang menuju Pantai Sukamade umumnya singgah di pantai ini.

Dari kawasan Pulau Merah, Teluk Ijo masih berjarang kurang lebih 25 meter. Ikuti saja arah yang ditunjukkan GPS hingga kita memasuki kawasan Perkebunan Sungailembu. Di kanan kiri jalan kita disuguhi pemandangan hijau segar. Ada banyak jenis pohon, tapi saya hanya mengenali pohon karet dengan bekas sayatan di batang. Di salah satu kebun terdapat informasi bahwa saat itu sedang ada penebangan pohon, oleh sebab itu pengunjung diminta berhati-hati. Sayangnya makin dekat ke pantai, jalan makin jelek. Jalan tanah berbatu dengan lubang di sana sini. Bagi pengunjung yang membawa mobil kecil rendah seperti kami, tidak ada jalan lain selain mengemudi dengan kecepatan rendah. Waktu tempuhnya jelas lebih lama, tapi lebih aman karena tidak perlu merasakan guncangan-guncangan keras kala ban melindas batu dan melintasi lubang.

Kawasan perkebunan Sungailembu

Lalu kita akan bertemu pintu gerbang Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). Saat ke sana akhir Mei 2021 lalu, saya membayar tiket masuk Taman Nasional Rp32.000 untuk satu mobil, 2 dewasa, 1 anak remaja, 1 anak usia 7 tahun, dan 1 bocah balita. Biaya yang saya keluarkan terkait retribusi hanya di sini saja, kami tidak diminta membayar parkir lagi di Pantai Rajegwesi. Saat membayar tiket, pengunjung diminta mengisi buku tamu dengan mencantumkan nomor telepon genggam.

Dari pintu gerbang TNMB kami melanjutkan perjalanan ke arah pantai Rajegwesi. Bagi pengunjung yang ingin menjangkau Teluk Ijo menggunakan perahu, parkirlah kendaraan di kawasan Pantai Rajegwesi. Saat kita sampai akan terlihat perahu-perahu di pantai. Ada kedai-kedai makanan, mushola, dan toilet. Tidak perlu khawatir, tak perlu mencari-cari perahu, biasanya saat kita sampai akan ada nelayan yang menghampiri dan menawarkan jasa menyeberang. Ongkos naik perahu per orang (di saat ramai) Rp35.000 atau Rp50.000 di kala sepi.

Jika enggan membayar ongkos perahu atau takut menaiki kapal, pengunjung bisa juga mencapai Teluk Ijo dengan berjalan kaki. Lanjutkan perjalanan dari Pantai Rajegwesi hingga mencapai Teluk Damai. Dari sana lanjutkan perjalanan mendaki bukit sepanjang kurang lebih 1 km ke arah pantai Batu. Pantai Batu berada 300 m sebelum Teluk Ijo. Waktu pendakian hingga mencapai Teluk Ijo kurang lebih 1 jam.

Pantai Rajegwesi

Dua puluh empat tahun yang lalu, saya menjangkau Teluk Ijo dengan mendaki bukit. Kali ini, dengan membawa 3 anak, salah satunya balita, kami memilih menaiki perahu. Total ongkos yang kami bayar Rp200.000 satu perahu PP (pergi pulang).

Singkat cerita, kami menaiki perahu menuju Teluk Ijo. Lama perjalanan kurang lebih 15 menit. Kami mengarungi laut yang biru jernih dengan deretan bukit terjal hijau di sisi kanan. Laut terlihat dalam karena tidak terlihat dasarnya. Ombak tidak terlalu besar namun perahu tetap bergoyang-goyang. Anak saya paling kecil, Ihsan, menangis saat pertama memasuki perahu. Tangisnya makin kencang saat perahu berjalan. Setelah beberapa saat dia berhenti menangis dalam dekapan suami saya. Ini memang pengalaman kedua dia naik perahu dalam jangka waktu seminggu. Semua penumpang memakai jaket pelampung untuk keamanan.

Saya sangat menikmati pemandangan saat menyebarang menggunakan perahu. Cuaca cerah, langit berwarna biru terang. Air laut tampak jernih berkilauan. Terlihat perahu-perahu nelayan di kejauhan. Riak ombak membuat perahu bergoyang, dengan kecipak air di sana sini. Kami sekeluarga sudah memakai pakaian renang jadi tidak masalah dengan baju basah. Saat menuju Teluk Ijo, sebaiknya bawa barang secukupnya dengan tas tertutup rapat.

Sesampainya di Teluk Ijo, saya langsung terpaku dengan pemandangan yang indah memesona. Pasir pantai yang berwarna putih kecokelatan terlihat kontras dengan warna air laut biru kehijauan. Batu-batu cadas dengan hutan di sekelilingnya mengingatkan saya akan film lama, Cast Away. Saat kapal merapat sekitar pukul 10.00 pagi pantai masih sepi. Anak pertama saya, Sofie menyeletuk, “I hope we are not the only one who come here today.” Agak ngeri juga kalau sepi dan hanya kami sekeluarga di pantai ini. Soalnya seusai mengantar kita, perahu akan kembali ke Rajegwesi. Jadi terbayang jika hanya sekeluarga, apalagi sendiri, akan terasa memiliki pantai sendiri.

Tapi kekhawatiran Sofie tidak terbukti. Tak lama setelah kami sampai, datang serombongan anak muda dari arah hutan. Mereka langsung mengambil tempat di sisi utara yang penuh batu karang. Suara tawa riang dan antusiasme mereka mengambil foto terdengar dari kejauhan. Kami duduk-duduk santai, anak-anak bermain pasir dan ombak. Saya mengeksplorasi pantai. Sisi utara pantai memang spot pertama yang dijangkau pengunjung yang datang berjalan kaki. Ada batu-batu besar, dengan air jernih dan ikan-ikan kecil berenang di sana. Sisi selatan, juga dipagari dengan karang terjal. Ada air terjun yang saat itu kering. Air terjun ini hanya ada airnya di musim hujan, sekitar bulan Desember-Februari. Ada bangku-bangku untuk duduk. Tidak ada kedai makan, toilet dan ruangan berganti pakaian.

Satu lagi yang sangat penting dan mesti diwaspadai. Kawanan MONYET. Beberapa menit setelah kami tiba di pulau, mereka sudah menguasai bangku dan memandang kami penuh minat. Mas Eko, nelayan yang mengantar kami sudah berpesan, semua makanan harus disimpan rapi di dalam tas tertutup. Jangan meninggalkan tas jauh dari jangkauan, apalagi menggelar makanan. Ada banyak monyet usil dan agresif.

Untung kami membawa tas ransel dan tas makanan jinjing besar. Saya ingat baik-baik pesan tersebut. Sampai Lili kelilipan dan minta diambilkan handuk. Saat mengambil handuk, tanpa sengaja saya mengeluarkan keripik kentang yang masih dalam kemasan bersegel. Sibuk mengurus anak-anak, saya lupa memasukkan kembali keripik kentang tersebut ke dalam tas. Tidak menunggu lama, seekor monyet menyambar keripik tersebut dan ngacir diikuti kawanan mereka. Kami terpukau, kaget, sempat takut disusul tawa geli anak-anak.

“Can the monkey open the chips, Mommy?” Tanya Lili.

Saya jawab, pasti bisa. Mereka memiliki cakar tajam. Dan kemungkinan besar ini bukan pertama kali mereka mencuri makanan. Jadi pasti mereka sudah ahli membuka makanan kemasan seperti tadi.

Sesiang itu saya melihat si monyet beberapa kali mencuri sesuatu dari pengunjung lain. Bahkan ada satu tas pengunjung yang dia bongkar. Dengan lihai si monyet memasukkan tangannya ke laci-laci ransel, mencari makanan. Saat diteriaki pemilik tas, dia lari, tapi kemudian balik lagi.

Saat kami makan siang, mereka (monyet-monyet itu maksudnya) mengawasi kami dengan ‘ganas’. Seakan-akan mereka menunggu saat yang tepat untuk meloncat dan merebut makanan kami. Padahal selama kami makan, mas Sigit berdiri siaga sambil membawa pentungan kayu seukuran paha orang dewasa. Tapi mereka tidak menunjukkan raut takut sedikit pun malah balik menyeringai galak. Alhasil kami sendiri yang ‘keder’ lalu mempercepat proses makan siang dan berpindah ke area yang lebih ramai.

Makin siang, makin banyak orang datang, tambah besar juga ombaknya. Anak-anak melipir ke pinggir, hanya berani bermain air di pantai, sambil membuat istana pasir dan mengumpulkan kerang.

Menjelang jam dua belas siang, Pak Supri yang pertama kali menawari kami perahu saat di Pantai Rajegwesi datang bersama dua perahu yang penuh berisi rombongan biker. Saat perahu kembali ke Rajegwesi, Pak Supri tinggal. Beliau duduk di samping kami dan mengobrol. Beliau bapak 3 anak laki-laki yang semuanya berprofesi sebagai nelayan serta menjual jasa mengantar wisatawan ke Teluk Ijo. Mas Eko yang tadi menganatr kami adalah putra ketiga beliau. Sebelum pandemi, setiap pekan mereka bisa dapat, minimal Rp1.000.000 dari jasa sewa perahu. Tapi setelah pandemi, dapat seperempatnya saja sudah beruntung.

Mengobrol bersama Pak Supri

Untung masih ada ikan-ikan yang menjadi mata pencaharian utama mereka. Bulan Mei-Juni ini musim ikan lemuru dan tongkol. Mereka biasa melaut malam hari. Di pantai sudah ada tengkulak yang menyambut dan membeli ikan-ikan mereka, jadi tak perlu repot menjual ikan ke pasar.

Menurut Pak Supri, setiap tanggal 1 bulan Hijriyah, ombak tinggi. Jadi perahu tidak berani mengantar wisatawan ke Teluk Ijo.

Setiap tanggal satu kalender bulan (Hijriyah) ombak tinggi jadi tidak aman ke Teluk Hijau menggunakan perahu

Pak Supri (pemilik perahu di Pantai Rajekwesi)

Pak Supri juga memberikan informasi bahwa laut di Teluk Ijo ini relatif aman untuk berenang asal tidak sampai ke tengah. Namun, wisatawan juga mesti memperhatikan ombak, jika makin tinggi sebaiknya segera menepi. Sebab beberapa saat lalu, ada 6 remaja tenggelam karena berenang dari jam 7.00 pagi hingga pukul 02.00 sore. Tiga di antara mereka ditemukan selamat, 3 yang lain meninggal karena terseret ombak. Jadi penting sekali untuk berhati-hati. Teluk Ijo ini tidak memiliki sarana prasana keselamatan. Tidak ada penjaga pantai juga. Tiap pengunjung mesti menjaga diri sebaik-baiknya. Jika ombak sedang tinggi sekali, biasanya pantai ditutup untuk wisatawan.

Sekitar pukul 01.30 siang kami kembali ke Pantai Rajegwesi. Kali ini, yang mengemudi adalah Mas Imam, putra kedua Pak Supri. Sampai sana kami makan di kedai milik keluarga Pak Supri lalu mandi dan bersiap shalat. Harga makanan di pantai Rejegwesi relatif normal (tidak semahal biasanya di tempat wisata). Kami makan satu porsi mie ayam, 2 porsi popmie, dan satu kelapa utuh seharga (total) Rp36.000.

Ini beberapa tips saat berkunjung ke sana:

  1. Jika ingin menaiki perahu dan hendak bermain air di pantai, sebaiknya memakai baju renang sebelum naik perahu. Karena baju kemungkinan juga basah terkena cipratan air.
  2. Tidak perlu membawa baju ganti ke Teluk Hijau, karena tidak ada ruangan berganti pakaian di sana. Baju ganti tinggalkan saja di pantai Rajegwesi.
  3. Bawa barang secukupnya (makanan, minuman dan beberapa barang penting) dalam tas tertutup. Lebih baik jika memakai ransel.
  4. Saat di Teluk Ijo, letakkan barang di dekat tempat duduk. Jangan tinggalkan jauh-jauh karena bisa dibongkar oleh si monyet. Pastikan kunci, dompet, dan barang-barang penting lain tersimpan rapi dalam kantong dalam tas. Sebab monyet bisa mengambil barang di kantong depan dan samping tas. Bayangkan kerepotan yang terjadi jika kunci motor atau mobil dicuri si monyet!
  5. Bisa membawa tikar lipat kecil untuk alas meletakkan barang dan tempat duduk di dekat pantai.
  6. Bawa plastik sampah, sebaiknya sampah di bawa kembali ke Rajegwesi. Ada tempat sampah di Teluk ijo tapi sepertinya tidak rutin dibersihkan sehingga saat saya ke sana tempat sampah terguling dan sampah-sampah berserakan.
  7. Jika ingin lebih aman masukkan ponsel atau kamera di dalam plastik (lebih baik plastik khusus kamera atau ponsel) agar terlindung dari air dan pasir. Plastik ini juga bermanfaat untuk melindungi ponsel saat mengambil foto atau video di atas perahu juga saat tiba-tiba ombak menerjang pantai.

Jadi, kapan kamu berkunjung ke Teluk Hijau? Kalau mau ke sana bisa kontak mas Imam dulu untuk tanya cuaca dan bisa pesan perahu. Kalau butuh nomor hp Mas Imam, boleh komen atau tanya melalui email ya: aini.firdaus@gmail.com.

selamat menikmati keindahan ‘surga’ tersebunyi di Banyuwangi!

Snorkeling di Pantai Bangsring

Arti snorkeling menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah selam permukaan. Memang sesui arti kata tersebut, snorkeling adalah aktivitas mengapung di laut sambil melihat ‘isi’ bawah laut dari permukaan air melalui kacamata google. Kacamata google ini sudah didesain khusus jadi hidung kita dijepit ke dalam hingga mau tidak mau kita mesti bernafas melalui mulut. Nah, aktivitas menghirup dan membuang nafas ini akan terjadi melalui selang snorkel yang kita gigit di dalam mulut. Dengan begitu, muka kita bisa bertahan lama tanpa perlu keluar masuk permukaan air.

Ngapain, sih, pakai menjelaskan aktivitas snorkeling segala?

Ya, kan, siapa tahu ada yang belum tahu ^_^

Oke, lanjut. Jadi ceritanya, akhir pekan lalu kami sekeluarga jalan-jalan ke pantai yang berjuluk Bangsring Underwater. Dari rumah ibuku didekat kota Jajag, membutuhkan waktu 2 jam menuju sana. Bangsring sendiri berlokasi di jalan Situbondo-Banyuwangi. Ikuti saja GPS, tempatnya mudah ditemui. Tapi hati-hati saat sudah masuk ke lokasi, sebelum menuju pantai, kita akan diminta belok kiri oleh GPS. Ikuti saja petunjuk tersebut, sebab jika kita nekad lurus malah masuk ke pantai lain dan mesti bayar retribusi Rp10 ribu. Saat saya di sana ada seorang ibu yang mengeluh pada penjual hotdog, “Ternyata pengelola pantai yang sana (si ibu menunjuk arah pantai sebelum Bangsring) beda dengan yang sini, ya, pak? Saya tadi sudah masuk sana dan bayar Rp10 ribu, eh ternyata bukan Bangsring yang saya tuju!”

“Iya, pengelolanya memang beda, bu. Kalau masuk sini, mesti bayar lagi. Banyak yang kesasar ke sana, sudah bayar, masuk sini harus bayar lagi karena beda pengelola,” jawab si Bapak penjual hotdog.

Retribusi masuk Bangsring sangat murah, hanya Rp5000 per orang. Sebelum masuk area, pengunjung wajib memakai masker dan mencuci tangan. Setelah membayar tiket kita akan disambut taman yang rindang. Ada aula luas di depan, juga beberapa gazebo kecil bagi pengunjung yang ingin duduk-duduk santai. Sebelum sampai pantai kita akan menemui bangunan kecil dengan jaket-jaket pelampung di sampingnya. Di sini tempat kita menyewa peralatan snorkeling.

Berikut biaya sewa alat dan jasa

Pelampung dan alat snorkelingRp 30 ribu
Sewa jasa guideRp 40 ribu
Sewa kamera bawah lautRp 150 ribu

catatan: jaket pelampung tersedia untuk semua usia, bahkan anak balita. Sebaiknya semua anggota keluarga mencoba jaket pelampung dan google terlebih dulu untuk memastikan ukurannya cocok. Oya, bisa juga menyewa jaket pelampung saja tanpa google dnegan harga yang lebih murah.

Tak jauh dari sana, terlihat laut biru terharmpar luas. Pasir di pantai ini berwarna hitam berbatu. Hati-hati saat Anda melangkah tanpa sandal karena terkadang ada batu runcing yang bisa melukai telapak kaki. Di pantai ini, kita bisa main pasir dan berenang. Di sekelilingnya juga banyak kedai makanan.

Saya biarkan dulu anak-anak main pasir dan berenang. Setelahnya kami sewa alat dan bersiap snorkeling! Saya memutuskan menyewa jasa guide karena kami bawa tiga anak (dua di antaranya berencana snorkeling). Menurut pengelola, guide juga akan menunjukkan spot-spot menarik. Saya jadi tergoda menyewa kamera guide juga akan membantu mengambil foto bersama ikan-ikan dan terumbu karang. Wah, asyik!

Petualanganpun dimulai. Kami membayar ongkos naik perahu sebesar Rp5 ribu per orang. Lalu kami menuju dermaga, dan menaiki kapal ke rumah apung yang berjarak kurang lebih 20 meter dari pantai. Di rumah apung ada beberapa ruangan untuk duduk-duduk santai. Di sekelilingnya terlihat ikan-ikan berenang jinak, sebagian mengerubungi potongan-potongan roti tawar yang dilempar pengunjung. Roti tawar tersebut memang sengaja disediakan pengelola seharga Rp10 ribu per bungkus.

Kami bersiap snorkeling. Pak Ipin, pemandu kami, menjelaskan penggunaan kacamata google.

“Tarik karetnya ke belakang kepala, pastikan rapat. Setelah itu turunkan kaca menutupi mata dan hidung. Lalu bagian yang ini (pipa snorkel) dimasukkan ke dalam mulut dan gigit. Selama snorkeling jangan bernapas menggunakan hidung. Nafasnya pakai mulut seperti ini,” ujar Pak Ipin sambil menyontohkan cara memasang kacamata dan bernapas mulut menggunakan snorkel. (snorkel adalah set pipa udara berbentuk J)

Lalu kami masuk ke air bergantian.

Tiba-tiba ada yang sesenggukan. Lili menangis. Rupanya dia takut. Padahal sejak semalam sebelumnya dia yang paling bersemangat dan tidak sabar bersnorkeling pertama kali. Saya minta Lili tenang dan menunggu di atas bersama ayah dan Ihsan.

Saya dan Sofie turun dan langsung snorkeling. Wuih, kami langsung disambut ikan-ikan. Ikan yang jumlahnya banyak yakni ikan biru bergaris, Pak Ipin menyebutnya ikan ‘sersan’. Lalu ada satu dua ikan berukuran besar, pipih, berwarna putih, bernama Pomacentrus amboinensis. Selain itu banyak jenis ikan lain yang saya tidak tahu namanya. Sayang, ya. Kubayangkan, akan lebih menarik jika pengelola memiliki daftar ikan (disertai gambar) di perairan Bangsring. Mungkin nggak perlu semua jenis ikan, tapi ikan-ikan yang jumlahnya banyak dan relatif sering ditemui saat snorkeling. Jadi pengunjung bisa mengetahui beberapa jenis ikan tersebut. Jika ada informasi tambahan tentang masa hidup, habitat, dan lain-lain tentu lebih menarik. Jadi pengunjung bisa sekalian belajar ekosistem perairan. Mungkin ke depan bisa dikembangkan model pengelolaan wisata edukasi seperti ini.

Rasanya tak bosan-bosannya melihat ikan-ikan yang hilir mudik. Sepertinya di sekitar rumah apung ini lautnya relatif dalam, hingga tidak terlihat dasar laut dan terumbu karangnya. Saat tidak terlihat ikan, tidak terlihat apa-apa. Sofie, setelah snorkeling becerita, kalau dia merasa canggung dan takut saat snorkeling. Tak heran jika dia menempel dan terus memegang tangan saya. Maklum ini juga pengalaman pertama dia snorkeling.

Di awal-awal Sofie juga kesulitan bernapas pakai mulut. Karenanya berkali-kali kacamatanya berembun atau kemasukan air.

“Apalagi jika cemas dan takut, rasanya sulit konsentrasi bernapas menggunakan mulut,” kata Sofie.

Selain menikmati pemandangan ikan-ikan yang hilir mudik, Pak Ipin juga mengajari kami menyelam singkat, dengan berpegangan di tangga rumah apung. Saya melepaskan pelampung dan snorkel, lalu menyelam singkat sambil memberi makan ikan. Jadilah foto yang ciamik bersama ikan-ikan yang menawan.

Petualangan berlanjut dengan berenang ke area yang memiliki terumbu karang mempesona yang berjarak kurang lebih 5 meter dari rumah apung. Di sana jelas sekali terumbu-terumbu karang beraneka bentuk dan warna. Sayang sekali tidak ada program eduksi untuk mengenali jenis terumbu karang dan namanya. Seandainya sebelum snorkeling pengunjung bisa melihat jenis-jenis terumbu karang, bentuk dan warnanya tentu akan lebih menarik. Jadi sembari melihat-lihat kita bisa mengenali terumbu karang yang keras dan lunak, yang bentuknya lebar, runcing, dan lain-lain.

Di spot yang penuh terumbu karang kami juga melakukan penyelaman singkat. Pak Ipin mengajari tekniknya. Kami tahan napas, didorong masuk ke dalam air, lalu pegangan tali dan pengait yang ada di dasar laut, lalu melihat-lihat terumbu krang dari dekat, berfoto, dan kembali ke permukaan. Saya cuma bisa menyelam singkat, mungkin hanya 1 menit atau lebih sedikit di kedalaman sekitar 5 metar. Rasanya telinga sudah sakit. Tidak terbayang, ya, kejadian kapal Naggala 402 yang berada di kedalaman 800 meter lebih. Tapi pengalaman menyelam singkat itu sungguh berkesan. Betapa dunia bawah laut itu penuh misteri namun memesona. Ingin rasanya menyelam lebih lama dan menikmati keindahan bawah laut lebih luas.

Selanjutnya kami berenang di laut, bermain dengan ikan-ikan, melihat ikan hiu jinak di ‘kolam’ berukuran 3×3 meter. Ihsan dan Lili senang sekali memberi makan ikan. Lili yang awalnya menangis, saya bujuk untuk berenang. Begitu merasakan asyiknya berenang di laut, dia malah enggan berhenti. Setelah puas snorkeling dan berenang di skeitar rumah apung, kami kembali ke pantai dan anak-anak menikmati main pasir dan berenang lagi.

Beberapa tip jika ingin ke Bangsring Underwater:

  1. Datanglah lebih awal. Lokasi buka jam 7.30 pagi. Pekan lalu saya datang jam 8.30 pagi dan masih relatif sepi. Baru ada sekitar 3 mobil di parkiran. Di masa pandemi seperti sekarang, penting memastikan lokasi wisata tidak terlalu ramai dengan tetap menghindari kerumunan.
  2. Jika memiliki alat snorkeling, lebih baik bawa sendiri. Terus terang saya rada takut dengan proses desinfekstan alat, meskipun pengelola sudah memastikan hal tersebut.
  3. Jika sudah terbiasa snorkeling dan tidak menyewa kamera, mungkin tidak perlu memakai guide, jelas akan menghemat biaya. Namun pastikan mencari informasi spot-spot menarik.
  4. Saat mandi dan berganti baju pilih kamar mandi yang depan di dekat loket pembayaran. Di sana relatif tidak antri, kamar mandinya juga bersih. Di area belakang, di dekat laut juga ada kamar mandi tapi kemungkinan besar antri karena mayoritas orang yang berenang di laut memanfaatkan toilet di sana.
  5. Area tidak terlalu luas, jadi barang yang tidak diperlukan segera, seperti baju ganti, bekal makan yang berat, ditinggal di mobil saja. Jadi bisa santai saat berenang, menyeberang ke rumah apung, dan bermain di pantai tanpa harus direpotkan barang bawaan.

Secara umum, Bangsring Underwater sangat layak dipertimbangkan sebagai destinasi wisata keluarga. Biayanya murah namun pelayanannya tidak murahan. Yuk, agendakan, ke sana!

Melawan Rasa Takut

sumber gambar: dreamstime.com

“I learned that courage was not the absence of fear, but the triumph over it. The brave man is not he who does not feel afraid, but he who conquers that fear.

Nelson Mandela

Umumnya manusia memiliki ketakutan akan sesuatu. Jenis ketakutan itu berkembang sesuai usia dan pengalaman yang dihadapinya. Bayi biasanya merasa tidak aman jika berada di lingkungan asing. Misalnya dia biasa tinggal di rumah yang tenang, tidak banyak suara, saat dibawa ke tempat yang ramai dan bising si bayi akan menangis karena merasa takut dan tidak aman. Penelitian yang dilakukan Andy Field dari Sussex University di Inggris menguatkan hal ini. Menurutnya, ada kesamaan pola ‘ketakutan’ yang dimiliki tiap anak pada usia yang berbeda. bayi takut akan lingkungan yang tidak biasa dihadapinya, seiring bertambah usianya mereka cenderung takut pada hewan tertentu dan hal-hal supranatural seperti hantu. Di atas umur delapan tahun anak mulai khawatir dengan hal seputar dirinya, misalnya mengalami cedera atau kecelakaan. Sedangkan anak remaja umumnya takut dengan masalah sosial seperti dianggap aneh atau ditertawakan oleh teman sebayanya.

Apa yang terjadi saat kita merasa takut?

Profesor Joanne Cantor dari Universitas Wisconsin Amerika Serikat pernah meneliti tentang sekelompok orang yang masih dibayangi rasa takut dari sebuah film yang sudah lama mereka tonton. Dari pemeriksaan MRI terlihat ada bagian dari otak, disebut amigdala, yang sangat aktif. Aktifnya amigdala ini memicu respon tubuh berupa detak jantung meningkat, tekanan darah naik, muncul keringat dingin dan timbul dorongan untuk melawan atau lari. Perasaan ini juga memicu hipokampus yakni tempat otak menyimpan ingatan hingga rasa takut akan muncul kembali jika menghadapi hal sama.

Tidak heran jika ketakutan itu berulang. Tiap kali kita menemui pemicu rasa takut, sekejap saja rasa ngeri akan menjalari diri. Tengkuk merinding, degup jantung meningkat, keringat dingin mengalir dan kaki tiba-tiba terasa lumpuh. Perasaan itu akan terus menerus kita alami, sampai kita berhasil mengalahkan rasa takut tersebut.

Rasa takut karena trauma masa lalu biasanya lebih susah diatasi karena ingatan yang sudah terpendam lama. Ingatan itu begitu membekas hingga merembet tidak hanya pada hal yang menyebabkan trauma, bahkan hal ”sederhana’ yang berkaitan dengannya. Contohnya mereka yang trauma karena pernah tenggelam di laut jadi takut berenang. Tidak hanya berenang di laut, mandi di sungai kecil atau bahkan di bak mandi (bath-up) akan membuat tidak nyaman.

Jika level ketakutan itu sudah begitu dalam, perlu dipertimbangkan untuk menemui psikolog. Dengan konsultasi dan terapi, ketakutan bisa ditelusuri dan pelan-pelan diatasi. Mungkin butuh waktu tidak sebentar, namun ada harapan untuk dilawan. Bahkan bukan tidak mungkin jika suatu saat rasa takut tersebut dapat ditekan serendah mungkin.

Untuk ketakutan-ketakutan yang tidak akut, kita bisa lawan sendiri. Salah satu caranya dengan menemukan sumber penyemangat dari diri sendiri maupun cerita atau pengalaman orang lain. Seperti pengalaman yang kurasakan baru-baru ini.

Sejak kembali ke Indonesia, aku takut menyetir mobil. Bayangan jalan-jalan kecil yang sempit, motor-motor yang berseliweran, kadang tidak bisa diprediksi, membuat ngeri. Aku takut menyenggol motor ibu-ibu (padahal aku juga seorang ibu pemakai motor) apalagi kalau ibu tersebut membawa anak kecil. Aku khawatir menyenggol mobil orang lain yang kadang diparkir di jalan dan sebagainya. Rasa takut itu membuatku selalu menunda keinginan untuk latihan menyetir, sampai hampir dua tahun kami kembali ke Indonesia.

Namun akhir-akhir ini aku merasa kebutuhan menyetir makin tinggi. Kadang ada acara yang kalau ditempuh menggunakan motor terasa jauh dan melelahkan. Jika naik go-car ongkosnya juga lumayan besar. Akhirnya aku memaksa diri untuk kembali menyetir.

Hal yang selalu kuingat adalah pengalaman menyetir selama 4 tahun di Amerika. Aku yakinkan diri kalau sebetulnya aku ini bisa menyetir. Aku ingat-ingat cerita teman tentang mereka yang awalnya takut menyetir, lalu memaksa diri dan akhirnya terampil juga. Aku tumbuhkan niat, bahwa kalau terampil menyetir mungkin aku bisa membantu teman-teman lain, misalnya ketika pergi ke alamat yang sama setidaknya bisa memberi tumpangan 2-3 orang.

Ternyata cara itu cukup efektif. Pekan lalu adalah pertama kalinya aku menyetir kembali. Saat pertama menginjak pedal, jantung berdegup kencang, keringat dingin mengalir, badan dan tangan kaku sekali memutar kemudi. Tapi terus aku lawan rasa-rasa itu. Sepanjang jalan ke RS Mitra keluarga Cikarang (kebetulan mau cek telinga yang beberapa hari terasa super gatal dan berdengung) tak henti aku rapalkan doa dan shalawat. Tiap papasan sama truk tronton jangungku berdegup lebih kencang 🙂 Perjalanan yang hanya 20-an menit serasa berjam-jam. Saat akhirnya berhasil parkir di RS, dan duduk di dalam menunggu giliran, rasanya lega sekali. Meskipun saat ingat nanti pulang mesti nyetir kembali, jantung kembali berdebar-debar.

Saat pulang dari RS, hujan deras. Tantangan menyetir bertambah. Ditambah lagi, mendadak aku lupa cara mengaktifkan wiper (untuk membersihkan kaca mobil dari air hujan). Tak lama kemudian aku salah belok alias kesasar. Panik, khawatir, takut menjadi satu. Akhirnya aku mencari tempat aman dan menepi. Lalu bertanya ke satpam arah yang benar, kemudian menelpon suami untuk memastikan cara mengaktifkan wiper. Masih dengan perasaan yang campur aduk, aku menyetir pelan-pelan, sampai…akhirnya sampai rumah dengan selamat. Meskipun saat masuk rumah, kaki masih gemetaran dan sekujur tubuh terasa pegal-pegal seakan menempuh perjalanan berjam-jam. Haha.

Setelah itu, ajaib sekali. Dua hari kemudian aku menyetir lagi. Dan perasaan takut itu sirna dengan sendirinya. Tiba-tiba seperti otomatis saja, respon mengurangi kecepatan, belok kanan, belok kiri, mundur. Truk besar, bus, mobil-mobil lain, sepeda motor tidak lagi terasa menakutkan. Bahkan aku sudah memberanikan diri melewati jalan yang lebih sempit dan ramai.

Oya malam sebelum menyetir yang kedua itu aku nonton episode baru “The Good Doctor S4”. Salah satu ceritanya ada seorang pasien yang sejak umur 8 tahun mengalami skoliosis atau tulang belakangnya melengkung mirip huruf C. Setelah 10 tahun mengalami kondisi tersebut, ada peluang dia dioperasi dan sembuh. Awalnya dia semangat namun menjelang jadwal operasi tiba-tiba dia mundur karena takut akan konsekuensi kalau dia benar-benar sembuh. Dia takut tidak bisa berlaku ‘normal’ seperti orang umum. Dia takut tidak bisa beradaptasi seperti orang kebanyakan. Singkat cerita Dr Glassman mengingatkan si pasien akan cita-citanya untuk hidup normal juga perjuangan mencari ‘dokter gila’ yang mau ambil risiko melakukan ‘operasi edan’ yang peluang keberhasilannya tergolong rendah. Hingga akhirnya si pasien memutuskan jadi operasi, dan dokter-dokter yang turut bertugas jadi terinspirasi untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya mereka takuti.

Sepertinya ada efeknya juga aku menonton episode tersebut. Jika dibandingkan dengan ketakutan-ketakutan yang selama ini mendera seseorang, misalnya saja trauma karena Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), ketakutan akibat teror atau kerusuhan, dan sejenisnya yang begitu dalam dan akut, ketakutan ‘menyetir’ serasa tidak ada apa-apanya. “Masak, sih, mengalahkan ketakutan ‘sekecil’ ini saja aku tidak mampu?” tantangku pada diri sendiri.

Entah ada kaitannya atau tidak, yang jelas, saat hari ini aku kembali menyetir, alhamdulillah sudah tidak takut lagi. Keterampilanku memang belum kembali 100% tapi rasa tenang dan percaya diri sudah kembali. Dengan keyakinan yang kuat insya Allah keterampilan bisa kita latih. Tanpa rasa takut, kita akan menempuh kemajuan. Dan percaya atau tidak, kemampuan mengalahkan rasa takut itu membuat BAHAGIA.

Dan kutipan dari Nelson Mendela baru benar-benar kurasakan: “Saya belajar bahwa keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, tetapi kemenangan atasnya. Orang pemberani bukanlah dia yang tidak merasa takut, tetapi dia yang mengalahkan rasa takut itu.”

Thanksgiving Day

Hari ini, Kamis 28 Nov 2020 adalah Thanksgiving Day di Amerika Serikat. Pada hari ini keluarga-keluarga di sana akan berkumpul, makan dan menghabiskan waktu bersama. Hidangan yang wajib ada saat hari Thanksgiving adalah kalkun panggang, kentang tumbuk, roti, saus cranberi, buncis rebus dan kue pie labu.

Filosofi dari Thanksgiving Day adalah ungkapan syukur dari hasil panen yang baik dan melimpah. Ini berakar dari sejarah Thanksgiving Day pertama pada 26 November 1621 (tentu waktu itu belum disebut sebagai Hari Thanksgiving). Ceritanya pada waktu itu sekelompok orang dari Plymount, Inggris melakukan perjalanan panjang menggunakan kapal laut Mayflower menuju sebuah tanah harapan. Sekelompok orang ini -biasa disebut the Pilgrims- (kalau dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai haji) namun lebih tepatnya merujuk pada orang-orang yang melakukan perjalanan menuju ‘tanah suci’. Tanah suci yang dimaksud dalam konteks ini adalah tempat dimana mereka bisa menjalankan agama mereka. Rupanya di tempat tinggal sebelumnya, mereka mengalami kesulitan dalam menjalankan ibadah sesuai kepercayaan mereka.

Pada tahun 1620 sekelompok Pilgrims ini melintasi Massachusset Bay dan memutuskan untuk bermukim. Dengan bantuan seorang Indian bernama Squanto mereka belajar menanam jagung, memerah getah pohon maple untuk membuat sirup, menangkap ikan dan mengenali tanaman beracun. Squanto bisa berbahasa Inggris karena dia pernah diculik dan dijadikan budak lalu dibawa ke London oleh orang Inggris. Squanto juga membantu para Pilgrims membangun aliansi dengan the Wampanoag, suku Indian di pulau tersebut.

November 1621 merupakan hari panen jagung pertama di pemukiman the Pilgrims. Tidak tergambar rasa sukacita mereka setelah sekian lama merasakan kesulitan hidup. Bayangkan selama mereka berlayar dari Inggris ke benua Amerika, separuh dari awak kapal meninggal karena tak mampu melawan musim dingin dan berbagai kesulitan lain. Saat awal mendarat, mereka lemah, tidak punya cukup makanan, banyak yang sakit karena tanaman beracun serta tertular penyakit. Makanya saat mereka berhasil bertanam dan menikmati panen perdana tak terkira rasa bahagianya.

Pimpinan kelompok Pilgrims tersebut, Governor William Bradford memutuskan menggelar pesta dengan mengundang suku Wampanoag. Hidangan yang disuguhkan adalah daging rusa, daging unggas, jagung dan aneka buah. Pesta berlangsung selama tiga hari. Tahun 1863, presiden Amerika Serikat ke-16 menjadikan Thanksgiving Day sebagai hari libur nasional yang dirayakan setiap tahun pada hari minggu keempat bulan November.

Lalu apa yang kami sekeluarga lakukan pada hari Thanksgiving Day saat masih tinggal di Amerika?

Kami biasanya mengikuti pesta Thanksgiving Day yang diadakan organisasi Global Student Friendship. Acara yang dihadiri oleh keluarga Amerika dan mahasiswa internasional itu dikemas seperti dinner party. Ada meja-meja bundar dengan sejumlah kursi di sekelilingnya. Peserta yang hadir memakai baju formal atau pakaian khas dari negara masing-masing. Di pintu masuk ada petugas yang kemudian mengantarkan kami ke meja masing-masing. Di awal acara dijelaskan sejarah Thanksgiving dilanjutkan dengan menikmati aneka hidangan khas Thanksgiving. Lalu peserta bisa menikmati aneka hiburan. Anak-anak berada di ruangan lain untuk membuat aneka kerajinan dan bermain. Di akhir acara ada pembagian hadiah dan pemilihan the best outfit atau peserta dengan baju paling menarik. Mas Sigit pernah sekali mendapat hadiah saat memakai baju beskap komplit.

Selain datang ke acara tersebut terkadang kami menghadiri undangan makan-makan bersama teman-teman komunitas Indonesia. Biasanya acara digelar di salah satu rumah teman Indonesia. Makanan yang disajikan tentu hidangan khas Indonesia dengan tetap menyuguhkan daging kalkun.

Di awal bulan November toko-toko sudah memajang pernak pernik Thanksgiving. Persediaan ayam kalkun meningkat. Labu, kentang, buncis dan kaleng-kaleng cranberi dipajang dengan menyolok. Tulisan bertema thanksgiving terpajang di pelbagai tempat.

Sekolah-sekolah juga memasukkan topik thanksgiving dalam proses pembelajaran. Suatu ketika Sofie pernah pulang dengan membawa selembar kertas berisi daftar hal-hal yang dia syukuri. Di sekolahnya Lili saat Pre-K (pre kindergarden atau semacam playgroup di Indonesia) mengadakan acara khusus dengan mengundang orangtua hadir di kelas. Di dalam kelas diatur sedemikian rupa sehingga ada semacam area panggung di depan. Anak-anak berbaris rapi menyanyikan lagu “Thanksgiving is coming” serta tarian jenaka “Halo Mr Turkey How Are You?”

Salah satu video Elmo yang sering ditonton anak-anak menampilkan tema Thanksgiving. Di video tersebut sekelompok anak ditanya apa hal-hal yang mereka syukuri.

Hal yang paling kusukai dari perayaan Thanksgiving adalah kita diingatkan untuk mengingat hal-hal yang harus kita syukuri. Tentunya ada banyak hal yang kita syukuri, yang mungkin jika ditulis daftarnya tidak akan cukup. Dan seringkali kesyukuran kita itu terbatas pada hal-hal material, yang terlihat dan terukur, misalnya rumah, mobil, uang, makanan, orangtua, suami, istri, adik, kakak. Meskipun tidak ada yang salah dengan hal itu, namun ada baiknya kita melongok lebih dalam dan mencoba menemukan hal-hal yang sebetulnya berharga dan perlu kita syukuri. Apa yang kamu temukan? Buatku: Syukur diberi indera yang lengkap dan berfungsi dengan baik, memiliki keluarga dan sahabat baik, diberi kemampuan berpikir dan membedakan baik/buruk, diberi kemampuan menulis, dan kebebasan memilih aktivitas yang kusukai

Jadi, apa hal yang paling kamu syukuri?

Ke Puncak Telomoyo pake Jip

Di masa pandemi korona seperti sekarang, mesti pinter-pinter milih tempat wisata. Aku biasanya memilih tempat wisata outdoor, lokasinya luas, tidak terlalu banyak orang dan minim interaksi dengan pengunjung lain. Berkunjung ke Gunung Telomoyo, Magelang, Jawa Tengah, memenuhi kriteria ini.

Lokasinya mudah dicari, tinggal ketik ‘Gunung Telomoyo’ di GPS dan ikuti petunjuk yang ada di sana, kita akan sampai di parkiran wisata. Saat keluar dari mobil, seorang laki-laki menghampiri kami dan menyodorkan pamflet berisi informasi harga paket menyewa jip ke puncak gunung Telomoyo. Tertera 3 pilihan paket, Paket siang antara jam 9 pagi sampai pukul 15.00 WIB Rp 350 ribu, paket sunset Rp 550 ribu dan paket sunrise Rp 750 ribu. Kami datang saat siang hari, otomatis pilih paket pertama.

Kami pun membayar Rp 350 ribu untuk sewa jip dan Rp 20 ribu untuk tiket masuk 2 orang dewasa. Lalu naik jip yang kapasitasnya 4 dewasa dan pas untuk kami sekeluarga (ayah ibu dan 3 anak). Mulailah perjalanan yang menyenangkan, melewati area pertanian, hutan pinus dan pohon-pohon lain yang aku tidak tahu namanya. Kadang jalannya jelek jadi jip berguncang-guncang, kadang mulus. Di tiap belokan pak supir akan membunyikan klakson untuk memberi tahu kendaraan dari arah yang berlawanan.

Di sepanjang perjalanan kami mengobrol tentang pemandangan yang kami lihat. Lili berkomentar mengenai udara pegunungan yang dingin. Kami membahas telinga yang terasa tersumbat saat berada di ketinggian.  Juga saling menduga jenis-jenis hewan berdasar suara yang kami dengar. Sesekali kami berfoto, baik di dalam jip maupun saat berhenti di lokasi dengan pemandangan bagus.

Setelah kurang lebih 30 menit perjalanan sampailah kami di puncak. Sayang sekali pas berkabut. Pemandangan tidak jelas. Jalanan dan pemandangan sekitar memutih. Udara terasa dingin dan lembab.

Kami mampir di sebuah kedai dan pesan pop mie. Saat anaka-anak menunggu makanan, aku inisiatif jalan-jalan sendiri. Ada sebuah tanjakan dengan tangga menuju sebuah pemancar yang dikelilingi pagar terkunci.

Sampai di tangga paling atas, terlihat jalan tanah memutar ke arah samping pemancar. Aku pun memberanikan diri menapaki jalan tanah tersebut sambil berpegangan di pagar pamancar. Kita mesti ekstra hati-hati karena tidak ada pengaman di sekitar jalan tanah yang dikelilingi lereng curam tersebut. Tidak terlihat seorang pun di sekitar. Sempat terlintas di benakku, kalau sampai terpeleset lalu jatuh ke lereng, tidak akan ada orang yang tahu dan pasti butuh waktu lama untuk mendapatkan pertolongan.

Jalanan tanah, sempit, dikelilingi lereng curam yang ditumbuhi aneka tanaman itu mengingatkanku akan jalan-jalan setapak yang biasa kutapaki saat masih sering mendaki. Sayang pemandangan sekitar dipenuhi kabut. Pasti akan tampak indah saat cuaca cerah.

Setelah istirahat sebentar, duduk di batu sambil menikmati suasana dan mengambil beberapa foto aku kembali ke kedai menemui mas Sigit dan anak-anak. Tampak 2 pengunjung lain baru datang dan tengah menikmati kopi. Kami sekeluarga lalu menikmati mie dan beberapa camilan yang kami  bawa dari rumah.

Lili dan Ihsan asyik bermain, Sofie menikmati mie dan kami mengisi waktu dengan mengobrol. Terkesan rugi, naik ke puncak gunung hanya untuk makan mie dan duduk-duduk. Tapi entah mengapa, aku menikmati sekali kesempatan tersebut.

Jika dibandingkan dengan perjalanan kami ke Bromo tahun lalu, mengunjungi Telomoyo terasa lebih berkesan. Mungkin karena anak-anak sedang bersemangat dan mereka juga menikmati suasana. Sementara saat ke Bromo, anak-anak mengantuk dan rewel karena ‘dipaksa’ mengikuti jadwal kami orang dewasa yang ingin melihat matahari terbit dari ketinggian. Karena tidak menikmati suasana, kemungkinan besar mereka juga tidak ingat kalau sudah pernah menaiki Bromo.

Saat di puncak Telomoyo, pemandangan memang tidak terlihat karena dipenuhi kabut. Tapi anak-anak terlihat menikmati perjalanan. Mereka merasakan mengendarai mobil di jalanan yang berliku. Mereka melihat aneka pohon dan tanaman di gunung. Mereka menghirup udara segar, melihat kabut  dan awan yang terasa begitu rendah. Mereka mendengar kicauan burung dan suara serangga. Mereka menikmati mie panas, yang pasti terasa lebih lezat dibanding saat menyeduh makanan yang sama di rumah. Mereka duduk di kedai yang terbuat dari bambu, merasakan semilir angin pegunungan yang dingin dan menikmati waktu bersama keluarga.

Jika kurenungkan lagi, hal-hal kecil dalam hidup seperti ini yang justru lebih berharga. Sekadar makan mie di puncak gunung, ngobrol ngalor ngidul dengan mas Sigit, melihat Lili dan Ihsan bercanda, membuat hati terasa penuh. Dan untuk membuat anak-anak senang tidak melulu harus dengan mainan mahal atau liburan mewah.

Tahu nggak? Lili dan Ihsan tertawa-tawa hanya karena makan kuaci bunga matahari! Lili mengupas kuaci buat Ihsan, lalu dia meminta Ihsan mendongak sambil membuka mulut. Kemudian Lili menjatuhkan kuaci ke mulut Ihsan. Tiap kali kuacinya jatuh ke lantai, baik Lili dan Ihsan terbahak. Lalu mereka akan memulai lagi proses dari awal. Lili mengupas kuaci, ihsan mengambil posisi, Lili menjatuhkan kuaci ke mulut Ihsan, tapi terlewat, kuaci jatuh ke lantai dan mereka tertawa-tawa lagi. Begitu sederhana!

Saat kami memutuskan turun, kabut masih memenuhi puncak. Udara makin dingin dan mendung mulai tebal. Awalnya jendela jok belakang jip dibuka, baru 5 menit perjalanan pak supir menawarkan menutup jendela karena rintik hujan mulai terasa. Tepat setelah kami melanjutkan perjalanan usai menutup jendela mobil, hujan turun deras sekali. Ihsan minta dipeluk, Lili yang kali ini duduk depan bersama ayah, juga merapatkan diri. Pengalaman baru kembali dirasakan anak-anak. Menuruni lereng gunung sambil mengendarai jip, di tengah hujan deras dan sesekali petir menggelegar. Jalanan basah dan pemandangan tertutup kabut. Kami melewati banyak warung yang dipenuhi pengunjung bermotor yang berteduh. Tidak berapa lama Ihsan, Lili dan ayah tertidur. Sofie masih mencari posisi yang enak untuk tidur sementara aku masih menikmati suasana. Bagaimana bisa suasana yang seakan tidak menguntungkan ini malah terasa sempurna?

Kering Kentang

Bahan:

1 kg kentang (kupas dan potong korek api)

150 gr kacang tanah kupas

3/4 butir jeruk nipis, ambil airnya

70 ml santan

100 gr gula pasir

2 sdt garam ato secukupnya

2 lembar daun salam

Bumbu halus (blender semua bumbu bersama santan)

3 buah cabe merah

5 siung bawang putih

4 cm lengkuas

¼ sdt terasi (optional)

Cara:

  1. Kentang: potong2, iris tipis (pake serutan), cuci 3-4 kali sampe gak keruh lagi, lalu rendam air dingin. Goreng dalam minyak banyak sampe kering kuning keemasan, tiriskan dan angin2kan sampe dingin, masukin toples. Campur kentang dan kacang goreng, aduk merata, sisihkan.
  2. Panasin teflon/wajan, masukkan bumbu halus yang sudah diblender bersama santan. Masukkan daun salam, gula, garam dan air jeruk. Masak dengan api kecil sambil sesekali diaduk hingga kental (JANGAN SAMPE BERAMBUT). Matikan api, tunggu sampai setengah dingin.
  3. Campur bumbu dengan kentang kacang sekaligus sambil diaduk2 dengan cepat (pake sendok kayu dan spatula) hingga bumbu merata. Tebarkan di nampan plastik, angin2kan hingga dingin, simpen di toples.

Diadaptasi dari resep ini: https://www.pinterest.co.uk/pin/782289397744023303/

Pasien Rewel… atau Cerdas?

Dua hari terakhir Ibuku masuk rumah sakit lagi karena gejala stroke yang berulang. Tiga pekan terakhir tekanan darah beliau memang cenderung tinggi. Terapi obat juga sempat terhenti karena kami mengira setelah obatnya habis tidak perlu menebus obat lagi. Belakangan kami baru sadar kalau penderita darah tinggi perlu rutin minum obat.

Singkat cerita, stroke Ibu kambuh dan segera kami larikan ke UGD RS AH. Sampai di sana beliau segera diperiksa dan diputuskan opname. Kami pun mengurus administrasi, menemani ibu rontgen, baru masuk kamar. Sesiangan itu kami menunggu visit dokter spesialis saraf yang datang sekitar pukul 2 siang dengan waktu kunjungan kirang dari 5 menit. Aku masih syok saat ibu dokter berlalu sementara aku belum puas konsultasi.

‘Ah biasa memang kalau di RS itu dokter yang berkunjung cepat sekali,” ujar kakakku.

Kebetulan setelah itu sepupuku yang juga berprofesi sebagai dokter menelpon san menanyakan perkembangan kesehatan ibu. Aku langsung komplain mengenai kunjungan dokter yang sangat singkat dan kurangnya waktu untuk konsultasi. Dia menyatakan semasa pandemi ini memang ada kecenderungan dokter spesialis membatasi kunjungan bahkan ada yang tidak mau menyentuh pasien sama sekali. Dia menghibur dengan menyampaikan kalau minimal Ibu sudah mendapat injeksi obat. Aku lalu bertanya-tanya kapan Ibu mendapat injeksi obat karena merasa tidak mendapat informasi apapun. Di akhir pembicaraan sepupuku tersebut menjanjikan akan mengontak bagian manajemen RS agar kami mendapat informasi lebih lanjut.

Sorenya, ada perawat yang datang ke ruangan dan menjelaskan penanganan yang sudah diberikan. Mulai dari injeksi obat saat Ibu masuk UGD, obat yang diberikan siang hari dan lain-lain. Si Mbak perawat juga menyatakan kalau kami bisa konsultasi dengan dokter spesialis kunjungan esok.

Pagi ini ketika perawat datang untuk memberikan obat injeksi aku berinisiatif bertanya jenis dan tujuan pemberian obat tersebut. Juga apa standar menilai ibu sduah ada peningkatan yang menjadi patokan kapan beliau bisa pulang.

“Dokter yang akan memutuskan kapan pasien boleh pulang, Bu!” jawab perawat singkat, menjawab pertanyaanku yang terakhir.

Aku juga kembali menanyakan kesempatan berkonsultasi dengan dokter spesialis, jawabnya, “Kalau ingin konsultasi, sebaiknya Ibu bertemu dokter di ruang depan karena terkadang dokter tidak ingin menjelaskan kondisi di depan pasien,” jawabnya.

Hari itu saat bagian gizi mengantarkan makanan aku juga bertanya, apakah bisa bubur nasi yang dihidangkan diganti dengan nasi biasa, ternyata bisa. Siangnya ketika dokter spesialis berkunjung, beliau benar meluangkan waktu buatku untuk berkonsultasi. Bahkan ketika ibu menyatakan ingin segera pulang, beliau merespon secara positif dengan memastikan bahwa keluhan-keluhan kemarin sudah hilang sehingga Ibu bisa pulang.

Dan, benar, sore tadi ibu sudah boleh pulang. Kami sekeluarga tentu senamg sekali.

Namun selama dua hari di RS ini aku berefleksi, ‘Kenapa, ya, kita ini kalau dirwat di RS tidak pernah mendapat penjelasan, apa penanganan yang dilakukan, jenis obat yang diberikan dan kondisi seperti apa yang diharapkan bisa dicapai?”

Untuk kasus ibuku, sebenarnya informasi yang kubutuhkan sederhana saja. Kubayangkan, saat masuk UGD, perawat atau dokter akan memperkenalkan diri sebelum menanyakan gejala-gejala. Ini penting buat keluarga pasien untuk mengetahui otoritas orang yang menangani keluarga kita. Lalu setelah mendengar penuturan kami dan memutuskan, “pasien ini perlu dirawat ya pak/bu!” aku berharap dokter tersebut akan menjelaskan penanganan apa yang akan diberikan. Misalnya setelah ini pasien akan diberikan injeksi obat X untuk mencegah kerusakan yang lebih parah (misalnya). Setelah itu pasien akan dirontgen untuk mengetahui bla bla. Lalu pasien akan diperiksa dokter spesialis dan akan diberikan informasi lebih lanjut. Harapanku juga dokter spesialis setelah memeriksa akan memberikan informasi sesuai kondisi pasien maka akan diberikan penanganan ini dan itu, obat X dan Y sampai kondisi tertentu sehingga pasien bisa pulang atau perlu penanganan lebih lanjut.

Apakah keinginan tersebut terlalu muluk, pertanda pasien rewel..atau cerdas?

Merawat Orangtua

sumber; pixabay

“Kapan, Bu, kembali ke Cikarang? Betah banget di kampung?”

Beberapa tetangga dan teman baik berkali menanyakan pertanyaan tersebut. Kami sekeluarga memang sudah hampir dua bulan tinggal di desa kelahiran saya, Banyuwangi, Jawa Timur. Kami yang sebelumnya tidak berencana mudik lebaran, mendadak mudik, karena ibuku terkena stroke. Sekitar 10 hari menjelang lebaran lalu kami tes rapid untuk memastikan non-reaktif covid, menembus beberapa check point hingga alhamdulillah sampai rumah. Setibanya di sini, kami melakukan karantina 14 hari, hanya aku yang bisa menemui ibu dengan menggunakan peralatan APD lengkap.

Alhamdulillah masa karantina sudah berlalu, kami bisa beraktivitas seperti biasa. Kesehatan ibu berangsur membaik. Tangan dan kaki kiri yang sebelumnya kaku, perlahan sudah bisa digerakkan. Awalnya Ibu sama sekali tidak bisa berjalan, kini pelan-pelan beliau bisa melangkah dengan bantuan. Kekuatan tangan dan kaki menguat tapi beliau belum bisa memegang sesuatu dalam waktu lama atau berjalan sendiri.

“Ojo balik, sik, yo!” (Jangan pulang dulu, ya!), pesan Ibu beberapa kali padaku.

Rupanya keramaian bocah-bocah bermain menjadi obat tersendiri buat beliau. Ditemani dua anak (aku dan mbakku yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Ibu) menjadi hal yang inginkan di kala sakit begini. Syukurnya suamiku juga masih kerja dari rumah, anak-anak kemungkinan besar juga tetap belajar dari rumah jadi kami masih bisa ‘berlibur’ di sini.

Selama merawat ibu, banyak hal yang kupikirkan. Melihat rambut beliau yang memutih, aku membayangkan apakah kelak rambutku juga akan seputih itu? Mendampingi beliau makan, kesulitan mengunyah jenis makanan tertentu, aku bertanya-tanya, apakah ada masanya aku akan seperti ini juga? Menyaksikan beliau yang kadang tidak sabaran, tidak konsisten (kadang pagi menyampaikan sesuatu, sorenya beliau menyatakan hal yang 100% berkebalikan), frustasi (marah sampai menangis), seakan umur beliau mengerut dan kembali seperti anak usia balita.

Di sini, di Indonesia, lansia seperti ibuku tidak bisa melakukan apa-apa jika tidak didampingi anak atau pengasuh. Beliau membutuhkan bantuan untuk hampir semua aktivitas keseharian. Mobilitas beliau juga terbatas, dari kamar tidur ke kamar mandi, ke ruang tengah, dapur, halaman, paling jauh menyeberang ke toko depan rumah menggunakan kursi roda.

Aku ingat teman-teman di Amerika yang sudah sepuh. Sebagian dari mereka tinggal sendiri, masih menyetir mobil sendiri, bisa belanja dan ke mana-mana sendiri. Padahal usia mereka kuperkirakan sekitar 70-80 tahunan. Kadang kalau pas belanja di Walmart, aku ketemu sama ibu/bapak yang juga sudah sepuh, naik kursi roda otomatis yang bisa jalan sendiri. Ada juga fasilitas mobil/van yang secara khusus disediakan pemerintah untuk mereka yang berkebutuhan khusus.

Ada satu teman lansia di Amerika yang dua tahun lalu harus menjalani operasi di Rumah Sakit setelah sebelumnya ditemukan colaps oleh tetangganya. Pak H, nama si bapak ini, tinggal sendiri. Beruntung ada tetangganya yang menengoknya pagi itu dan menemukan dia terkapar sakit. Si tetangga lalu menelepon 911, dalam waktu singkat tenaga kesehatan datang dan pak H segera dilarikan ke rumah sakit. Ternyata dia harus menjalani operasi. Usai operasi pak H tidak bisa pulang ke rumah karena dia membutuhkan bantuan melakukan aktivitas keseharian. Makanya dia dikirim ke eldery nursing house atau rumah perawatan khusus lansia dan tinggal di sana sekitar 2.5 bulan. Setelah dinyatakan sehat Pak H pun pulang ke rumah dia sendiri dan ditemani sepupu dia selama seminggu. Setelahnya dan hingga sekarang dia kembali tinggal sendiri. Seperti ini gambaran seorang lansia di Amerika yang menjalani perawatan kesehatan.

Teman-teman lansia yang kukenal di Amerika cenderung aktif berkegiatan. Ada yang tergabung dalam klub berkebun, kelompok membaca buku di perpustakaan, merajut dan pengajar bahasa Inggris. Kebanyakan mereka menjadi volunteer atau bekerja secara sukarela. Di salah satu mall tempat aku kerja saat masih tinggal di Norfolk, punya kegiatan rutin pekanan untuk lansia. Tiap kamis para lansia itu bertemu di foodcourt untuk makan dan bermain kartu, tebak kata, dan permaian lainnya.

Lansia yang aktif, cenderung lebih sehat.

Ini pula yang kulihat pada ibuku. Saat masih sehat beliau aktif membina pengajian, menjadi pengurus koperasi, dan mengajar senam tera. Badan beliau sehat (dibanding para lansia yang berusia sebaya) dan masih kuat melakukan perjalaan ke mana-mana, termasuk mengikuti Muktamar Muhammadiyah ke Makassar pada 2015. Saat mulai jatuh sakit pada tahun 2016 dan tidak lagi bisa melakukan banyak kegiatan, kesehatan beliau juga menurun drastis. Apalagi setelah terkena stroke kemarin, perasaan beliau sangat down bahkan sempat bilang bahwa mungkin usia beliau tidak lama dan sudah siap dipanggil kapan saja.

Perasaan tidak berguna, merasa membebani orang lain, bosan dan putus asa menjadi ancama serius yang bisa secara cepat menurunkan kesehatan lansia. Makanya selama menjaga ibu, aku dan kakak berusaha sebisa mungkin menyemangati beliau. Misalnya saat ibu mengeluh mengenai tangan dan kakinya yang tidak kunjung bisa digerakkan secara normal, aku akan mengingatkan bahwa dibanding kondisi beliau saat pertama aku datang, saat ini sudah banyak sekali perkembangan. Yang awalnya untuk miring ke kiri saja tidak bisa, sekarang beliau bebas miring ke kanan, kiri, bahkan bangun sendiri dari posisi tidur ke duduk. Lalu aku ingatkan juga kalau sebelumnya Ibu sama sekali tidak bisa berjalan, sekarang sudah bisa jalan 90% dan hanya butuh sedikit bantuan. Demikian juga porsi makan beliau yang sebelumnya hanya 3-5 suap, sekarang sudah porsi orang normal. Selera makan beliau juga sudah kembali normal. Mendengar ‘pemaparan’ perkembangan tersebut, biasanya ibu jadi kembali bersemangat.

Untuk menghindari kebosanan, ibu rutin latihan jalan kaki, kadang menggunakan kursi roda. Saat di kamar aku putarkan pengajian di youtube atau murottal. Jam-jam tertentu beliau juga mendengarkan berita di televisi. Kebahagiaan beliau yang paling besar, saat mendengarkan cucu-cucu bermain. Momen pekanan yang selalu beliau tunggu, tiap malam Rabu, saat para tetangga datang ke rumah ini untuk mengikuti pengajian. Setiap malam Rabu ruang tengah di rumah kami menjadi tempat pengajian ibu-ibu RT kami. Pesertanya 10-25 orang. Selama masa pandemi pengajian libur, baru kembali digelar paska lebaran dengan tetap mengikuti protokol kesehatan. Beliau juga tampak gembira saat dikunjungi saudara dan tetangga.

Merawat orangtua, gampang-gampang susah. Kalau kondisi orangtua masih relatif ‘sehat’ seperti ibuku, mestinya lebih mudah. Meski begitu, kondisi psikologisku naik turun. Tidak terbayang teman-teman yang merawat orangtua dengan kondisi yang lebih berat.

Hal yang harus selalu kita ingat, Allah memerintahkan kita semua untuk berbuat baik/berbakti pada orangtua. Mohon pada Allah agar kita selalu diberi kesabaran. Sabar, sabar dan sabar terus. Tahan lidah untuk membantah, berkata agak keras bahkan mengomel. Tutup mulut rapat-rapat saat orangtua yang kita rawat melakukan hal yang mengesalkan. Lebih baik diam daripada kita menyampaikan sesuatu yang bisa menyakiti hati orangtua.

Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’

(QS Al-Israa’ : 23-24).

Masa merawat orangtua biasanya tidak lama dibandingkan dengan masa mereka merawat kita. Jika ternyata Allah takdirkan orangtua berumur panjang dan kita berkesempatan merawat mereka, ingat selalu, bahwa ini bisa menjadi ‘tiket’ kita ke surga. Sebagaimana Sabda Rasulullah Saw, ”Celaka seseorang itu (diulang tiga kali), sahabat bertanya: siapa yang celaka wahai Rasulullah? Beliau menjawab: orang yang mendapati salah satu orang tuanya atau dua-duanya dalam keadaan tua, kemudian (anak tersebut) tidak masuk surga”. (HR Muslim No: 2551).

Yuk, saling menguatkan dan mendoakan agar kita diberi kemudahan merawat orangtua kita!

Para Pejuang Nafkah

Maaf jika ilustrasi kurang sesuai (gambar milik kompas.com)

Tiap sepedaan pagi aku bertemu dengan seorang bapak yang ‘menggelar’ jualan di atas motornya di pinggir jalan berupa pertalite seharga Rp 9000. Aku hitung hanya ada 12 botol. Misal semua laku dengan keuntungan Rp 3000 per botol, maka dia akan pulang dengan membawa uang sejumlah Rp 36000.

Di jalan yang lain aku papasan sama aki-aki yang umurnya kukira-kira 65 an tahun berjualan kangkung dan kemangi. Anggap aja beliau membawa 50 ikat dan kalau seikat untungnya Rp 1000 maka beliau akan pulang dengan membawa uang Rp 50 ribu.

Ada juga anak kecil berusia kurang lebih 13 tahun, berjalan mendorong gerobak dengan adik perempuannya yang 2-3 tahun lebih muda. Si bocah ini pada hari-hari biasa mengumpulkan plastik dan botol bekas tapi selama bulan Ramadhan kulihat mereka berjualan kangkung juga. Waktu papasan kemarin kuperkirakan kangkung yang mereka bawa tak lebih dari 30 ikat. Kalau dihitung dengan keuntungan yang sama dengan aki sayur di atas, setelah berjalan mendorong gerobak sekitar 2-3 jam -kalau dagangan habis- dia akan mendapat uang sekitar Rp 50-an ribu.

Mereka bertiga hanya contoh saja, aku yakin ada ratusan, ribuan atau bahkan jutaan orang di negeri ini yang tiap hari ke luar rumah, bergelut dengan keringat dan panas matahari untuk menyambung hidup. Jumlah uang yang mereka hasilkan sepertinya tidak besar dan mungkin kita bertanya-tanya, apa, ya, cukup uang segitu untuk menyambung hidup? Bahkan mungkin bagi sebagian orang akan menganggap, “Rugi bener, tenaga yang dikeluarkan enggak sebanding dengan uang yang didapat!”

Tapi buatku pribadi mereka adalah pejuang-pejuang nafkah yang luar biasa. Mereka memilih bergerak, berusaha, berikhtiar menjemput rezeki daripada mengangur atau menadahkan tangan di depan toko atau pasar. Tak peduli seberat apa pun, secapek apapun, mereka berjuang memberi makan anggota keluarga dengan halal. Dan jangan dikira sia-sia, justru kunci rezeki itu ketika kita menunjukkan pada Allah kesungguhan menjemputnya. Mungkin sepintas jumlahnya tak seberapa, tapi keberkahan tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah berlimpah. Dan kita semua perlu ingat bahwa rezeki itu tidak selalu berupa uang, bisa juga berbentuk kesehatan, rumah tangga yang tenteram, anak-anak sholeh sholehah, tetangga yang baik dan masih banyak lagi.

Mari, angkat topi untuk para pejuang nafkah. Tetap semangat berjuang!

Mengenali Emosi (2)

daniel
source: warnertheatredc.com

Film Daniel Tiger’s Neighborhood yang kurekomendasikan kemarin berbahasa Inggris. Mungkin bagi sebagian orang akan sulit memahaminya. Karena itu berikut aku rangkum beberapa episode mengenal emosi. Semoga bisa memberikan inspirasi pada para guru dan orangtua.

Tema: Frustasi

Ada sekitar tiga atau empat cerita dengan tema ini. Beberapa cerita yang kuingat:

  1. Daniel tidak bisa menemukan mainan yang dia inginkan. Dia marah dan mau menangis.
  2. Daniel kecewa karena Prince Wednesday (PW) nggak bisa datang ke rumahnya, terus pas dia main terompet, terompetnya rusak lalu dia ingin ke toko musik untuk memperbaikinya. Ibunya memberi tahu kalau toko musik tutup hari itu.
  3. Daniel sedang membangun benteng mainan dengan Tiggy (boneka harimau warna biru kesayangan Daniel). Dia ingin meletakkan Tiggy di atas benteng, tapi berkali-kali Tiggy merosot.

Lalu Ibu Daniel menjelaskan kalau perasaan kesal karena tidak bisa menemukan sesuatu, atau kecewa karena kondisi yang terjadi berbeda dengan yang kita inginkan, disebut FRUSTATED arau FRUSTASI.

Theme song dalam topik ini: “When you’re feeling frustrated, take a step back, and ask for help.” (kalau kamu merasa frustasi, berhenti sebentar, dan minta bantuan).

Theme song ini membantu anak untuk mencari penyaluran atau penyelesaian atas emosi yang dialaminya. Dalam cerita pertama, Ibu Daniel (atau Ibu Gurunya aku lupa konteks cerita tersebut di sekolah atau di rumah) meminta Daniel mengingat-ingat KAPAN dan DIMANA dia terakhir menggunakan mainan tersebut. Setelah ingat, mereka bersama-sama mencari mainan di tempat tersebut. Dalam cerita kedua dan ketiga, Ibu Daniel mengajak Daniel berpikir apa yang bisa dilakukan sebagai ganti kondisi yang tidak dia inginkan (PW tidak datang, terompet rusak, toko musik tutup, Tiggy tidak bisa duduk di benteng). Daniel memilih main sendiri dengan mainan yang lain, dan khusus untuk Tinggi, Daniel menemukan balok dengan lekukan yang bisa menjaga Tiggy agar tidak merosot.

Tema: Jealous (Cemburu)

Cerita:

  1. Daniel sedang main dengan Owl. Daniel suka sekali dengan mainan kaca pembesar milik Owl. Dia ingin memegang terus, tidak mau berbagi bahkan dia pingin membawanya pulang.
  2. Kakek Daniel berkunjung, lalu dia main bersama Daniel (D) dan Katerina (K). Saat membaca buku dan main bersama, K duduk di dekat Kakek dan saat pesawat mainan K rusak, kakek membantunya. Daniel merasa K merebut perhatian kakeknya.

Sama seperti topik sebelumnya, saat Daniel marah, tokoh dewasa di episode tersebut (ayah Owl dan Kakek Daniel) menjelaskan kalau perasaan ingin mempunyai sesuatu milik orang lain disebut jealous atau CEMBURU.

Theme Song episode ini: “When you feel jealous, talk about it and we’ll figure something out.” (Kalau kamu merasa cemburu, sampaikan, nanti kita cari jalan keluarnya)

Beberapa contoh solusi dari permasalahan di atas, adalah ayah Owl mengingatkan, “Kalau ingin meneliti alam tidak harus, lho, pakai kaca pembesar. Pakai mata kita juga bisa,” kurang lebih begitu. Lalu soal kecemburuan D kepada K, Kakek pindah duduk ke tengah, jadi baik D maupun K ada di samping kanan dan kiri Kakek. Kakek juga minta pendapat D untuk memperbaiki pesawat K yang rusak. Jadi D merasa senang bisa membantu K dan tidak lagi merasa kalau Kakek lebih memperhatikan K daripada dirinya.

Tema: Empati

Cerita: Cissy kehilangan gelangnya saat main bersama Daniel. Daniel awalnya tidak peduli dan ingin tetap bermain. Lalu Ibu Guru mendekati Daniel dan bertanya, “Kamu pernah enggak kehilangan sesuatu dan bagaimana rasanya?” Daniel menjawab, “Pernah, saat itu aku kehilangan Tiggy. Rasanya sedih sekali.” Ibu Guru lantas menyampaikan bahwa perasaan seperti itu juga yang sedang dialami Cissy saat kehilangan gelangnya.

Theme song: “Thing about how someone else’s feeling” (pikirkan mengenai apa yang orang lain rasakan) Ini yang disebut Empati,

Di akhir cerita, Daniel membatu Cissy mencari gelangnya. Setelah ketemu, mereka melanjutkan main kembali.

Selain itu beberapa topik menarik dari film ini yang menurutku penting untuk diajarkan pada anak-anak usia dini adalah:

  1. When something seems bad, turn it around, and find something good. Jika sesuatu terlihat buruk, coba lihat lagi , temukan sesuatu yang bagus. Contoh kasus: Setitik tinta tumpah saat menggambar, titik tersebut bisa diubah menjadi gambar tambahan.
  2. When we do something new, let’s talk about what we’ll do. Biasanya anak takut saat akan melakukan hal baru. Coba bicarakan apa yang akan dilakukan, biasanya anak menjadi lebih berani,
  3. Making something is one way to say, “I love you.” Ini juga jarang diajarkan di sekolah kita, menyampaikan rasa sayang ke ayah, ibu, guru, teman-teman. Cara menyampaikan rasa sayang itu macam-macam; bisa dengan memeluk, memberikan makanan, membuat kartu, dll.
  4. You can take a turn, and then I’ll get it back. Saat bermain bersama, kadang anak rebutan. Karenanya anak mesti melajar berbagi dengan cara bermain bergantian. “Sekarang giliranmu, setelah itu giliran aku yang memakai,” begitu kurang lebihnya.
  5. When you wait, you can play, sing or imagine anything. Ini juga menurutku penting banget, yaitu mengajarkan anak agar sabar ketika menanti sesuatu. Caranya gimana? “Ketika kamu menunggu, kamu bisa bermain, menyanyi atau berkhayal.” Ini sudah sering kucoba dan cukup sukses membuat anak tidak rewel ketika menunggu sesuatu.
  6. If you cannot do it alone, work together. Mengajarkan anak bekerja bersama-sama.
  7. Saying, “I’m sorry.” is the first step. Then how can I help? Mengajarkan ke anak, kalau kita melakukan kesalahan, meminta maaf itu baru langkah pertama. Selanjutnya, kita mesti bertanggungjawab. Misal merusakkan ya memperbaiki. Kalau menghilangkan sesuatu ya mengganti. Ini prinsip dasar yang berlaku di mana saja.

Mengenali emosi serta mengajarkan karakter-karakter dasar seharusnya menjadi fokus utama pada pendidikan usia dini. Hal-hal tersebut akan menjadi dasar terbangunnya kebiasaan yang dapat menjelma menjadi sifat.

Jika kamu punya metode menarik lain untuk membantu anak mengenal emosi dan menumbuhkan karakter positik, berbagi, yuk!