Merawat Orangtua

sumber; pixabay

“Kapan, Bu, kembali ke Cikarang? Betah banget di kampung?”

Beberapa tetangga dan teman baik berkali menanyakan pertanyaan tersebut. Kami sekeluarga memang sudah hampir dua bulan tinggal di desa kelahiran saya, Banyuwangi, Jawa Timur. Kami yang sebelumnya tidak berencana mudik lebaran, mendadak mudik, karena ibuku terkena stroke. Sekitar 10 hari menjelang lebaran lalu kami tes rapid untuk memastikan non-reaktif covid, menembus beberapa check point hingga alhamdulillah sampai rumah. Setibanya di sini, kami melakukan karantina 14 hari, hanya aku yang bisa menemui ibu dengan menggunakan peralatan APD lengkap.

Alhamdulillah masa karantina sudah berlalu, kami bisa beraktivitas seperti biasa. Kesehatan ibu berangsur membaik. Tangan dan kaki kiri yang sebelumnya kaku, perlahan sudah bisa digerakkan. Awalnya Ibu sama sekali tidak bisa berjalan, kini pelan-pelan beliau bisa melangkah dengan bantuan. Kekuatan tangan dan kaki menguat tapi beliau belum bisa memegang sesuatu dalam waktu lama atau berjalan sendiri.

“Ojo balik, sik, yo!” (Jangan pulang dulu, ya!), pesan Ibu beberapa kali padaku.

Rupanya keramaian bocah-bocah bermain menjadi obat tersendiri buat beliau. Ditemani dua anak (aku dan mbakku yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Ibu) menjadi hal yang inginkan di kala sakit begini. Syukurnya suamiku juga masih kerja dari rumah, anak-anak kemungkinan besar juga tetap belajar dari rumah jadi kami masih bisa ‘berlibur’ di sini.

Selama merawat ibu, banyak hal yang kupikirkan. Melihat rambut beliau yang memutih, aku membayangkan apakah kelak rambutku juga akan seputih itu? Mendampingi beliau makan, kesulitan mengunyah jenis makanan tertentu, aku bertanya-tanya, apakah ada masanya aku akan seperti ini juga? Menyaksikan beliau yang kadang tidak sabaran, tidak konsisten (kadang pagi menyampaikan sesuatu, sorenya beliau menyatakan hal yang 100% berkebalikan), frustasi (marah sampai menangis), seakan umur beliau mengerut dan kembali seperti anak usia balita.

Di sini, di Indonesia, lansia seperti ibuku tidak bisa melakukan apa-apa jika tidak didampingi anak atau pengasuh. Beliau membutuhkan bantuan untuk hampir semua aktivitas keseharian. Mobilitas beliau juga terbatas, dari kamar tidur ke kamar mandi, ke ruang tengah, dapur, halaman, paling jauh menyeberang ke toko depan rumah menggunakan kursi roda.

Aku ingat teman-teman di Amerika yang sudah sepuh. Sebagian dari mereka tinggal sendiri, masih menyetir mobil sendiri, bisa belanja dan ke mana-mana sendiri. Padahal usia mereka kuperkirakan sekitar 70-80 tahunan. Kadang kalau pas belanja di Walmart, aku ketemu sama ibu/bapak yang juga sudah sepuh, naik kursi roda otomatis yang bisa jalan sendiri. Ada juga fasilitas mobil/van yang secara khusus disediakan pemerintah untuk mereka yang berkebutuhan khusus.

Ada satu teman lansia di Amerika yang dua tahun lalu harus menjalani operasi di Rumah Sakit setelah sebelumnya ditemukan colaps oleh tetangganya. Pak H, nama si bapak ini, tinggal sendiri. Beruntung ada tetangganya yang menengoknya pagi itu dan menemukan dia terkapar sakit. Si tetangga lalu menelepon 911, dalam waktu singkat tenaga kesehatan datang dan pak H segera dilarikan ke rumah sakit. Ternyata dia harus menjalani operasi. Usai operasi pak H tidak bisa pulang ke rumah karena dia membutuhkan bantuan melakukan aktivitas keseharian. Makanya dia dikirim ke eldery nursing house atau rumah perawatan khusus lansia dan tinggal di sana sekitar 2.5 bulan. Setelah dinyatakan sehat Pak H pun pulang ke rumah dia sendiri dan ditemani sepupu dia selama seminggu. Setelahnya dan hingga sekarang dia kembali tinggal sendiri. Seperti ini gambaran seorang lansia di Amerika yang menjalani perawatan kesehatan.

Teman-teman lansia yang kukenal di Amerika cenderung aktif berkegiatan. Ada yang tergabung dalam klub berkebun, kelompok membaca buku di perpustakaan, merajut dan pengajar bahasa Inggris. Kebanyakan mereka menjadi volunteer atau bekerja secara sukarela. Di salah satu mall tempat aku kerja saat masih tinggal di Norfolk, punya kegiatan rutin pekanan untuk lansia. Tiap kamis para lansia itu bertemu di foodcourt untuk makan dan bermain kartu, tebak kata, dan permaian lainnya.

Lansia yang aktif, cenderung lebih sehat.

Ini pula yang kulihat pada ibuku. Saat masih sehat beliau aktif membina pengajian, menjadi pengurus koperasi, dan mengajar senam tera. Badan beliau sehat (dibanding para lansia yang berusia sebaya) dan masih kuat melakukan perjalaan ke mana-mana, termasuk mengikuti Muktamar Muhammadiyah ke Makassar pada 2015. Saat mulai jatuh sakit pada tahun 2016 dan tidak lagi bisa melakukan banyak kegiatan, kesehatan beliau juga menurun drastis. Apalagi setelah terkena stroke kemarin, perasaan beliau sangat down bahkan sempat bilang bahwa mungkin usia beliau tidak lama dan sudah siap dipanggil kapan saja.

Perasaan tidak berguna, merasa membebani orang lain, bosan dan putus asa menjadi ancama serius yang bisa secara cepat menurunkan kesehatan lansia. Makanya selama menjaga ibu, aku dan kakak berusaha sebisa mungkin menyemangati beliau. Misalnya saat ibu mengeluh mengenai tangan dan kakinya yang tidak kunjung bisa digerakkan secara normal, aku akan mengingatkan bahwa dibanding kondisi beliau saat pertama aku datang, saat ini sudah banyak sekali perkembangan. Yang awalnya untuk miring ke kiri saja tidak bisa, sekarang beliau bebas miring ke kanan, kiri, bahkan bangun sendiri dari posisi tidur ke duduk. Lalu aku ingatkan juga kalau sebelumnya Ibu sama sekali tidak bisa berjalan, sekarang sudah bisa jalan 90% dan hanya butuh sedikit bantuan. Demikian juga porsi makan beliau yang sebelumnya hanya 3-5 suap, sekarang sudah porsi orang normal. Selera makan beliau juga sudah kembali normal. Mendengar ‘pemaparan’ perkembangan tersebut, biasanya ibu jadi kembali bersemangat.

Untuk menghindari kebosanan, ibu rutin latihan jalan kaki, kadang menggunakan kursi roda. Saat di kamar aku putarkan pengajian di youtube atau murottal. Jam-jam tertentu beliau juga mendengarkan berita di televisi. Kebahagiaan beliau yang paling besar, saat mendengarkan cucu-cucu bermain. Momen pekanan yang selalu beliau tunggu, tiap malam Rabu, saat para tetangga datang ke rumah ini untuk mengikuti pengajian. Setiap malam Rabu ruang tengah di rumah kami menjadi tempat pengajian ibu-ibu RT kami. Pesertanya 10-25 orang. Selama masa pandemi pengajian libur, baru kembali digelar paska lebaran dengan tetap mengikuti protokol kesehatan. Beliau juga tampak gembira saat dikunjungi saudara dan tetangga.

Merawat orangtua, gampang-gampang susah. Kalau kondisi orangtua masih relatif ‘sehat’ seperti ibuku, mestinya lebih mudah. Meski begitu, kondisi psikologisku naik turun. Tidak terbayang teman-teman yang merawat orangtua dengan kondisi yang lebih berat.

Hal yang harus selalu kita ingat, Allah memerintahkan kita semua untuk berbuat baik/berbakti pada orangtua. Mohon pada Allah agar kita selalu diberi kesabaran. Sabar, sabar dan sabar terus. Tahan lidah untuk membantah, berkata agak keras bahkan mengomel. Tutup mulut rapat-rapat saat orangtua yang kita rawat melakukan hal yang mengesalkan. Lebih baik diam daripada kita menyampaikan sesuatu yang bisa menyakiti hati orangtua.

Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’

(QS Al-Israa’ : 23-24).

Masa merawat orangtua biasanya tidak lama dibandingkan dengan masa mereka merawat kita. Jika ternyata Allah takdirkan orangtua berumur panjang dan kita berkesempatan merawat mereka, ingat selalu, bahwa ini bisa menjadi ‘tiket’ kita ke surga. Sebagaimana Sabda Rasulullah Saw, ”Celaka seseorang itu (diulang tiga kali), sahabat bertanya: siapa yang celaka wahai Rasulullah? Beliau menjawab: orang yang mendapati salah satu orang tuanya atau dua-duanya dalam keadaan tua, kemudian (anak tersebut) tidak masuk surga”. (HR Muslim No: 2551).

Yuk, saling menguatkan dan mendoakan agar kita diberi kemudahan merawat orangtua kita!

Para Pejuang Nafkah

Maaf jika ilustrasi kurang sesuai (gambar milik kompas.com)

Tiap sepedaan pagi aku bertemu dengan seorang bapak yang ‘menggelar’ jualan di atas motornya di pinggir jalan berupa pertalite seharga Rp 9000. Aku hitung hanya ada 12 botol. Misal semua laku dengan keuntungan Rp 3000 per botol, maka dia akan pulang dengan membawa uang sejumlah Rp 36000.

Di jalan yang lain aku papasan sama aki-aki yang umurnya kukira-kira 65 an tahun berjualan kangkung dan kemangi. Anggap aja beliau membawa 50 ikat dan kalau seikat untungnya Rp 1000 maka beliau akan pulang dengan membawa uang Rp 50 ribu.

Ada juga anak kecil berusia kurang lebih 13 tahun, berjalan mendorong gerobak dengan adik perempuannya yang 2-3 tahun lebih muda. Si bocah ini pada hari-hari biasa mengumpulkan plastik dan botol bekas tapi selama bulan Ramadhan kulihat mereka berjualan kangkung juga. Waktu papasan kemarin kuperkirakan kangkung yang mereka bawa tak lebih dari 30 ikat. Kalau dihitung dengan keuntungan yang sama dengan aki sayur di atas, setelah berjalan mendorong gerobak sekitar 2-3 jam -kalau dagangan habis- dia akan mendapat uang sekitar Rp 50-an ribu.

Mereka bertiga hanya contoh saja, aku yakin ada ratusan, ribuan atau bahkan jutaan orang di negeri ini yang tiap hari ke luar rumah, bergelut dengan keringat dan panas matahari untuk menyambung hidup. Jumlah uang yang mereka hasilkan sepertinya tidak besar dan mungkin kita bertanya-tanya, apa, ya, cukup uang segitu untuk menyambung hidup? Bahkan mungkin bagi sebagian orang akan menganggap, “Rugi bener, tenaga yang dikeluarkan enggak sebanding dengan uang yang didapat!”

Tapi buatku pribadi mereka adalah pejuang-pejuang nafkah yang luar biasa. Mereka memilih bergerak, berusaha, berikhtiar menjemput rezeki daripada mengangur atau menadahkan tangan di depan toko atau pasar. Tak peduli seberat apa pun, secapek apapun, mereka berjuang memberi makan anggota keluarga dengan halal. Dan jangan dikira sia-sia, justru kunci rezeki itu ketika kita menunjukkan pada Allah kesungguhan menjemputnya. Mungkin sepintas jumlahnya tak seberapa, tapi keberkahan tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah berlimpah. Dan kita semua perlu ingat bahwa rezeki itu tidak selalu berupa uang, bisa juga berbentuk kesehatan, rumah tangga yang tenteram, anak-anak sholeh sholehah, tetangga yang baik dan masih banyak lagi.

Mari, angkat topi untuk para pejuang nafkah. Tetap semangat berjuang!

Mengenali Emosi (2)

daniel
source: warnertheatredc.com

Film Daniel Tiger’s Neighborhood yang kurekomendasikan kemarin berbahasa Inggris. Mungkin bagi sebagian orang akan sulit memahaminya. Karena itu berikut aku rangkum beberapa episode mengenal emosi. Semoga bisa memberikan inspirasi pada para guru dan orangtua.

Tema: Frustasi

Ada sekitar tiga atau empat cerita dengan tema ini. Beberapa cerita yang kuingat:

  1. Daniel tidak bisa menemukan mainan yang dia inginkan. Dia marah dan mau menangis.
  2. Daniel kecewa karena Prince Wednesday (PW) nggak bisa datang ke rumahnya, terus pas dia main terompet, terompetnya rusak lalu dia ingin ke toko musik untuk memperbaikinya. Ibunya memberi tahu kalau toko musik tutup hari itu.
  3. Daniel sedang membangun benteng mainan dengan Tiggy (boneka harimau warna biru kesayangan Daniel). Dia ingin meletakkan Tiggy di atas benteng, tapi berkali-kali Tiggy merosot.

Lalu Ibu Daniel menjelaskan kalau perasaan kesal karena tidak bisa menemukan sesuatu, atau kecewa karena kondisi yang terjadi berbeda dengan yang kita inginkan, disebut FRUSTATED arau FRUSTASI.

Theme song dalam topik ini: “When you’re feeling frustrated, take a step back, and ask for help.” (kalau kamu merasa frustasi, berhenti sebentar, dan minta bantuan).

Theme song ini membantu anak untuk mencari penyaluran atau penyelesaian atas emosi yang dialaminya. Dalam cerita pertama, Ibu Daniel (atau Ibu Gurunya aku lupa konteks cerita tersebut di sekolah atau di rumah) meminta Daniel mengingat-ingat KAPAN dan DIMANA dia terakhir menggunakan mainan tersebut. Setelah ingat, mereka bersama-sama mencari mainan di tempat tersebut. Dalam cerita kedua dan ketiga, Ibu Daniel mengajak Daniel berpikir apa yang bisa dilakukan sebagai ganti kondisi yang tidak dia inginkan (PW tidak datang, terompet rusak, toko musik tutup, Tiggy tidak bisa duduk di benteng). Daniel memilih main sendiri dengan mainan yang lain, dan khusus untuk Tinggi, Daniel menemukan balok dengan lekukan yang bisa menjaga Tiggy agar tidak merosot.

Tema: Jealous (Cemburu)

Cerita:

  1. Daniel sedang main dengan Owl. Daniel suka sekali dengan mainan kaca pembesar milik Owl. Dia ingin memegang terus, tidak mau berbagi bahkan dia pingin membawanya pulang.
  2. Kakek Daniel berkunjung, lalu dia main bersama Daniel (D) dan Katerina (K). Saat membaca buku dan main bersama, K duduk di dekat Kakek dan saat pesawat mainan K rusak, kakek membantunya. Daniel merasa K merebut perhatian kakeknya.

Sama seperti topik sebelumnya, saat Daniel marah, tokoh dewasa di episode tersebut (ayah Owl dan Kakek Daniel) menjelaskan kalau perasaan ingin mempunyai sesuatu milik orang lain disebut jealous atau CEMBURU.

Theme Song episode ini: “When you feel jealous, talk about it and we’ll figure something out.” (Kalau kamu merasa cemburu, sampaikan, nanti kita cari jalan keluarnya)

Beberapa contoh solusi dari permasalahan di atas, adalah ayah Owl mengingatkan, “Kalau ingin meneliti alam tidak harus, lho, pakai kaca pembesar. Pakai mata kita juga bisa,” kurang lebih begitu. Lalu soal kecemburuan D kepada K, Kakek pindah duduk ke tengah, jadi baik D maupun K ada di samping kanan dan kiri Kakek. Kakek juga minta pendapat D untuk memperbaiki pesawat K yang rusak. Jadi D merasa senang bisa membantu K dan tidak lagi merasa kalau Kakek lebih memperhatikan K daripada dirinya.

Tema: Empati

Cerita: Cissy kehilangan gelangnya saat main bersama Daniel. Daniel awalnya tidak peduli dan ingin tetap bermain. Lalu Ibu Guru mendekati Daniel dan bertanya, “Kamu pernah enggak kehilangan sesuatu dan bagaimana rasanya?” Daniel menjawab, “Pernah, saat itu aku kehilangan Tiggy. Rasanya sedih sekali.” Ibu Guru lantas menyampaikan bahwa perasaan seperti itu juga yang sedang dialami Cissy saat kehilangan gelangnya.

Theme song: “Thing about how someone else’s feeling” (pikirkan mengenai apa yang orang lain rasakan) Ini yang disebut Empati,

Di akhir cerita, Daniel membatu Cissy mencari gelangnya. Setelah ketemu, mereka melanjutkan main kembali.

Selain itu beberapa topik menarik dari film ini yang menurutku penting untuk diajarkan pada anak-anak usia dini adalah:

  1. When something seems bad, turn it around, and find something good. Jika sesuatu terlihat buruk, coba lihat lagi , temukan sesuatu yang bagus. Contoh kasus: Setitik tinta tumpah saat menggambar, titik tersebut bisa diubah menjadi gambar tambahan.
  2. When we do something new, let’s talk about what we’ll do. Biasanya anak takut saat akan melakukan hal baru. Coba bicarakan apa yang akan dilakukan, biasanya anak menjadi lebih berani,
  3. Making something is one way to say, “I love you.” Ini juga jarang diajarkan di sekolah kita, menyampaikan rasa sayang ke ayah, ibu, guru, teman-teman. Cara menyampaikan rasa sayang itu macam-macam; bisa dengan memeluk, memberikan makanan, membuat kartu, dll.
  4. You can take a turn, and then I’ll get it back. Saat bermain bersama, kadang anak rebutan. Karenanya anak mesti melajar berbagi dengan cara bermain bergantian. “Sekarang giliranmu, setelah itu giliran aku yang memakai,” begitu kurang lebihnya.
  5. When you wait, you can play, sing or imagine anything. Ini juga menurutku penting banget, yaitu mengajarkan anak agar sabar ketika menanti sesuatu. Caranya gimana? “Ketika kamu menunggu, kamu bisa bermain, menyanyi atau berkhayal.” Ini sudah sering kucoba dan cukup sukses membuat anak tidak rewel ketika menunggu sesuatu.
  6. If you cannot do it alone, work together. Mengajarkan anak bekerja bersama-sama.
  7. Saying, “I’m sorry.” is the first step. Then how can I help? Mengajarkan ke anak, kalau kita melakukan kesalahan, meminta maaf itu baru langkah pertama. Selanjutnya, kita mesti bertanggungjawab. Misal merusakkan ya memperbaiki. Kalau menghilangkan sesuatu ya mengganti. Ini prinsip dasar yang berlaku di mana saja.

Mengenali emosi serta mengajarkan karakter-karakter dasar seharusnya menjadi fokus utama pada pendidikan usia dini. Hal-hal tersebut akan menjadi dasar terbangunnya kebiasaan yang dapat menjelma menjadi sifat.

Jika kamu punya metode menarik lain untuk membantu anak mengenal emosi dan menumbuhkan karakter positik, berbagi, yuk!

 

Mengenali Emosi

Sepekan terakhir aku mengikuti training Disiplin Positif (DP) yang diadakan sekolahnya Sofie (insya Allah) yaitu Peacesantren Welas Asih (PWA). Nah, materi hari ini membahas tentang Prinsip DP ke-6 yaitu MENGENDALIKAN DIRI bukan mengendalikan orang lain. Untuk bisa mengendalikan diri, kita mesti mengenali emosi kita sendiri. Saat kita mampu mengenali emosi seharusnya kita mampu mengendalikannya.

Membahas tentang emosi, aku jadi teringat film anak-anak yang sering banget ditonton Lili saat usia 2-5 tahun yaitu Daniel Tiger’s Neighborhood. Film ini sangat bagus untuk mengajarkan anak-anak mengenali dan menyikapi emosinya. Topik ini juga menjadi PELAJARAN DASAR dan WAJIB yang diajarkan di Pre-K/ Pre Kindergarden (semacam PAUD di Indonesia).

Lalu bagaimana mengenalkan emosi dan cara menyikapinya pada ANAK usia 3-4 tahun? Ternyata tidak susah lho.

Caranya, dengan memberi nama pada emosi tersebut, memahami dan mengatasinya. Ini contohnya, dalam episode Daniel Feels Sad ada theme song-nya:

“It’s okay to feel sad sometimes, little by little you’ll feel better again!” (Nggak apa-apa kalau sesekali merasa sedih, nanti sedikit demi sedikit kamu akan merasa lebih baik).

lalu ada pesan juga yang disampaikan melalui lagu:

“Asking a question about what happens, it may help!”  (Menanyakan mengenai apa yang sedang terjadi, itu mungkin membantu).

Ceritanya ikannya Daniel mati. Dia awalnya belum tahu apa arti ‘mati’. Ayahnya  menjelaskan kalau mati itu artinya ‘tidak bernafas’. Lalu Daniel tanya lagi, “Bisa nggak nanti dia bangun dan main lagi?” Ayahnya menjawab, “tidak bisa.” Terus Daniel menangis. Itu yang disebut sad atau sedih.

Lalu bagaimana cara mengatasi rasa sedih? Di episode ini Daniel mengatasi rasa sedihnya dengan menggambar ikan untuk mengenang ikannya yang mati.

Sederhana, kan? Tapi ini bagus sekali untuk dipraktekkan ke anak. Lili karena sudah terlatih di sekolah dan sering menonton Daniel Tiger’s jadi dia sudah biasa melakukan hal ini. Setiap kali dia sedih, dia akan menyampaikan kalau sedang sedih lalu dia melakukan sesuatu. Seeprti saat bangun tidur beberapa hari yang lalu dan kucingnya tidak ada di garasi depan. Dia merasa sedih lalu dia menggambar kucingnya dan memajangnya agar kalau dia kangen, dia bisa lihat gambar kucingnya tersebut. Demikian juga saat dia sedih tidak bisa mengunjungi sepupunya di Banyuwangi karena virus corona, dia lalu membuat kartu bergambar dia dan sepupunya sedang main bersama, disertai tulisan “I miss you.”

Episode mengenai Daniel “Gets Mad” juga menarik. Lagunya begini:

“When you feel so mad that you want to roar, take a deep breath, and count to four. 1..2..3..4…”

(Saat kamu sangat marah dan ingin berteriak, tarik nafas dalam-dalam dan hitung 1..2..3..4..)

Setelah itu pikirkan untuk melakukan sesuatu sebagai gantinya.

Dalam episode ini Daniel dan Pince Wednesday ingin main ke pantai tapi tiba-tiba hujan jadi mereka tidak bisa main. Awalnya Daniel sangat marah, lalu setelah mendengar nasehat ibunya, dia lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghitung 1-4. Setelah itu dia merasa mendingan tapi masih sedikit marah. Lalu ibunya meminta dia berpikir untuk melakukan sesuatu sebagai gantinya. Mereka memutuskan bermain pasir di dalam rumah.

Selain itu masih ada episode-episode lain mengenai emosi seperti rasa frustated (frustasi), jealous (cemburu), scar (takut), left-out (tersisih) dsb.

 

Selain mengajarkan anak mengenali emosinya, ada pesan-pesan lain yang disampaikan melalui film ini. Misalnya,

“When something seems bad, turn it around, and find something good.”(Kalau kamu menemui sesuatu yang buruk, pikirkan bagaimana mengubahnya jadi sesuatu yang baik)

“Use the words” yang artinya gunakan kata-kata atau bahasa singkatnya, “Ngomong, dong! Karena kalau hanya teriak, nangis, marah, ayah/ibu/kakak/teman/ibu guru tidak bisa membantumu!” kurang lebih begitu.

AKu pikir pesan-pesan itu tidak hanya untuk anak-anak usia PAUD karena banyak banget orang dewasa di sekitar kita yang tidak mampu mengenali, memahami dan mengartikulasikan emosi secara tepat. Kita tidak diajari untuk itu. Umumnya kita hanya diminta untuk patuh, nurut, nggak membantah orangtua. Kalau ada rasa sedih, kesal, kecewa kita diminta menahan, jangan diluapkan tapi juga tidak diselesaikan. Jadi tidak heran kalau banyak orang dewasa yang tidak mampu mengendalikan emosinya. Ini menyedihkan sekali.

Hampir mustahil menjadi disiplin tanpa kemampuan mengendalikan emosi. Karena disiplin butuh kemampuan untuk menundukkan diri sendiri. Dan itu hanya bisa dicapai ketika kita paham emosi-emosi apa yang melingkupi kita dan bagaimana mengatasinya.

Jadi, ayo kenali emosi kita masing-masing!

Berkemah di Cipamingkis

Desember 2019 merupakan pengalaman kedua kami berkemah di Cipamingkis, Jonggol, Bogor, Jawa Barat. Kali ini yang mengikuti kemah cukup banyak sekitar 200 keluarga dengan total peserta hingga 400 orang. Ada enak enggak enaknya, sih, berkemah bersama banyak orang seperti itu.

Enaknya, rame! Bisa kenalan denganbanyak orang. Kegiatan-kegiatan juga diikuti banyak orang. Nggak enaknya, terlalu banyak orang. Jadi tidak bisa mengenal masing-masing dengan lebih dekat. Jarak antar tenda juga jadi terlalu padat. Kurang teratur.

Aku pribadi lebih suka berkemah dengan jumlah orang yang terbatas. Dengan 10 keluarga sepertinya sudah lebih dari cukup. Jadi tempatnya lebih longgar. Rasa kekeluargaannya juga jadi lebih erat. Semoga nanti kalau pandemi corona sudah berakhir, kami sekeluarga bis aberkemah lagi.

Lalu gimana fasilitas di Camping Ground Cipamingkis ini?

Fasilitasnya cukup banyak. Ada dua kolam renang dan area bermain berupa jembatan yang mengubungkan beberapa pohon berpagar jaring. Pemandangannya bagus. Air terjunnya tidak terlalu tinggi. Perjalanan menuju air terjun lumayan jauh dengan medan mendaki. Kalau harus menggendong balita cukup melelahkan.

Ada banyak toilet. Warung makan dan penjual cemilan tersebar di dekat pintu masuk dan di area menuju air terjun. Ada taman-taman yang luas buat piknik. Juga beberapa spot yang menarik untuk berfoto.

 

Kegiatan Keluarga Saat Karantina Pandemi Corona

Apa kabar teman-teman?

Pekan ini merupakan pekan ke-empat masa karantina akibat penyebaran virus corona. Sekolah libur (lebih tepatnya belajar dari rumah), para pekerja bekerja dari rumah (ada juga yang masih masuk kerja), masjid tidak lagi menyelenggarakan shalat berjamaah dan kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang ditunda atau dibatalkan. Banyak yang mulai capek dan bosan di rumah. Mayoritas pasti bertanya-tanya, sampai kapan kondisi seperti ini terjadi? Banyak yang masih berharap kondisi sudah kembali ‘normal’ saat Ramadhan dan Idul Fitri. Tapi menurut para ahli, puncak pandemi bahkan belum terjadi. Entah kapan kondisi ini akan berakhir.

Kami juga sebetulnya sudah bosan di rumah, aku terutama yang pada dasarnya memiliki sifat ekstrovert. Sesekali aku masih ke luar rumah untuk belanja kebutuhan harian (tentu dengan memakai perlengkapan pengaman termasuk masker). Kadang masih ikut ngobrol dengan tetangga dengan tetap menjaga jarak aman. Ya hanya dua aktivitas itu saja yang terhitung kegiatan luar rumah yang kadang masih kulakukan.

Lalu apa kegiatan kami sehari-hari? masak, bersih-bersih rumah, baca buku, nonton film, nonton dram korea dan main game board seperti scrabble, ular tangga, ludo, checker, catur, dakon, dan monopoly. Hampir tiap malam kami main sekeluarga. Lili senang sekali main monopoli dan dakon. Sofie suka main scrabble dan checker. Sayangnya Ihsan masih kecil jadi belum bisa diajak main bareng. Kalau kami pas main sekeluarga, Ihsan akan main sendiri (atau nggangguin :D) kadang nonton channel anak.

Bagaimana dengan gadget? Ini tentu tak bisa dihindarkan. Lili suka main game di hp, Ihsan mulai kenal youtube. Tiap hari mereka minta pake hp juga. Kalau tidak segera diantisipasi ada kecenderungan kecanduan juga. Makanya kami berusaha membuat kegiatan bersama.

Selain main bareng, anak-anak juga mulai kuajak masak bersama. Pas kapan itu kami bikin dumpling. Juga masak chicken katsu sama-sama. Habis makan Lili nyuci piring sendiri habis itu dilanjutkan oleh Ihsan :D. Kemarin aku ajak Ihsan bermain dengan lem dan menempel gambar. Ternyata dia betah juga berjam-jam asyik mengusap lem dan menempel kertas.

Bagi Sofie, masa karantina ini bisa dikatakan tidak mempengaruhi dia sama sekali. Sehari-hari bocah itu  memang cenderung introvert, tidak suka beraktivitas di luar rumah. Dia juga homeschooler jadi sudah biasa dengan kelas online dan ujian menggunakan laptop dengan sambungan internet.

Jadi apa kegiatanmu teman?

 

 

 

Melawan Corona

COVID-19 saccountynet
sumber gambar: saccounty.net

Beberapa hari terakhir corona virus (covid 19) menjadi topik perbincangan di MANA SAJA, baik di dunia nyata maupun maya. Khususnya setelah Presiden RI Joko Widodo mengumumkan ditemukannya 2 pasien positif corona pada hari Selasa, 3 Maret 2020. Aku ingat banget tanggalnya karena hari itu pas sehari sebelum field trip+porseni sekolahnya Lili. Kami sempat khawatir tapi karena sekolah tidak membatalkan acara, kami berangkat juga. Alhamdulillah semua sehat sepulang dari sana.

Makin ke sini pemberitaan mengenai covid 19 makin gencar, seiring dengan meningkatnya jumlah pasien positif corona. Banyak yang menyayangkan lambatnya respon pemerintah pusat yang beralasan ingin menghindarkan kepanikan di masyarakat. Tapi, ya, masyarakat terlanjut panik. Kondisi tersebut malah seakan menjadi ladang subur tersebarnya info-info yang tidak jelas alias hoax.

Tapi, alhamdulillah, melalui program televisi Mata Najwa, publik mulai tahu bahwa ada pimpinan-pimpinan daerah yang gerak cepat. Pak Anies Baswedan dan Ridwan Kamil (Kang Emil) memberikan contoh pemimpin yang mampu bertindak cepat meski dengan segala keterbatasan. Warga masyarakat yang meskipun tidak berada di wilayah Jakarta dan Jawa Barat pasti menangkap isi pesan mereka berdua: bahwa  kita TIDAK BOLEH MAIN-MAIN berhadapan dengan virus ini.

Hari terus berlalu, pemerintah pusat masih bertahan dengan metode awal mereka melawan corona. Dengan operasi SENYAP melibatkan intelejen. Namun menariknya para pimpinan daerah makin percaya diri untuk melakukan terobosan. Dimulai dengan keputusan Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo yang meliburkan sekolah selama dua minggu untuk mencegah peredaran covid 19, diikuti Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Depok, Banten dan semoga diikuti oleh daerah lain. Kampus-kampus juga mengambil kebijakan untuk meniadakan kelas tatap muka dan menggantinya dengan pertemuan online.

Mereka yang libur disarankan tidak bepergian atau pulang kampung. Kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang sebaiknya dibatalkan atau ditunda. Aktivitas cuci tangan menggunakan sabun digalakkan lagi.

Berita yang gencar, informasi yang di-update terus menerus mungkin membuat sebagian orang takut, TAPI sejatinya hal itu bisa dipandang sebagai sesuatu yang POSITIF. Kita semua mesti tahu dan aware dengan penyebaran virus corona ini. Meliburkan anak sekolah merupakan kebijakan penting dan TERBAIK untuk saat ini. Anak-anak bisa menjadi carier atau pembawa virus. Mereka mungkin tidak sakit tapi berpotensi sebagai PEMBAWA dan PENYEBAR virus ke orang dewasa.

Tapi bagaimana dengan aktivitas sehari-hari kita? Apakah aman belanja ke pasar atau beli makan di warung? Bisakan virusnya ‘terbang’ dan nemplok di badan kita? Kalau sekolah libur anak-anak mau ngapain? Apakah kita harus melarang mereka main di luar?

Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu menggayuti banyak orang saat ini. Sebenarnya sudah banyak yang membahas APA YANG HARUS DILAKUKAN saat ini, untuk melawan virus corona, namun menurutku tetap penting melakukan hal-hal di bawah ini:

  1. Usahakan untuk lebih banyak di rumah, tidak bepergian atau mengikuti kegiatan-kegiatan yang menghadirkan orang banyak. Jangan PULANG KAMPUNG kecuali memang darurat atau penting banget. Kita mungkin sehat, tapi kita tidak tahu apakah badan kita ini carier atau PEMBAWA virus atau tidak kasihan. Kalau ternyata kita carier virus, kasihan bapak/ibu yang sudah sepuh dan bisa tertular.
  2. Anak-anak sebisa mungkin diajak melakukan kegiatan di rumah, main bareng dengan kakak atau adik. Bisa beli mainan manik-manik buat tambahan kegiatan di rumah (seperti gambar di bawah ini)

    Bisa mewarnai, menggambar, melukis dan berbagai aktivitas lain. Main game di hp atau menonton video tentu tidak bisa dihindarkan, tapi, kita sebagai orangtua juga mesti menyiapkan berbagai kegiatan alternatif biar si kecil tidak bosan. Apa tidak boleh sama sekali main di luar? Aku pribadi, sih, mengambil kebijakan untuk Lili dan Ihsan boleh main ke luar atau ke rumah teman. Syaratnya, tidak lama-lama dan tiap masuk rumah harus langsung CUCI TANGAN menggunakan sabun.

  3. Perlukan menyetok makanan? Setiap ibu rumah tangga pasti punya pertimbangan masing-masing, kalau, aku, cukup menyetok beberapa jenis makanan tapi tidak usah terlalu banyak. JANGAN MENIMBUN. Belanja yang biasanya harian mungkin bisa diagendakan jadi per tiga hari, beberapa makanan yang tidak musah basi seperti beras, telur, minyak, dan lain-lain mungkin bisa stok seminggu atau 2 minggu ke depan. Kita enggak tahu kondisi ke depan, tapi kalau memang kondisi memburuk dan sampai lockdown misalnya, ya minimal kita bisa bertahan dengan stok makanan di rumah.
  4. Jika merasa sakit batuk, pilek, apalagi sesak nafas, tolong PAKAI MASKER, baik di dalam rumah apalagi ke luar rumah. Memakai masker memang tidak nyaman, tapi ini cara paling efektif untuk menjaga orang-orang tercinta di sekitar kita agar tidak tertular.
  5. Biasakan semua anggota keluarga untuk CUCI TANGAN dengan sabun setiap kali masuk rumah. Ini kebiasaan yang bagus banget, insyaAllah kalau sudah menajdi kebiasaan tidak hanya kita terhindar dari corona namun juga penyakit-penyakit lain yang disebabkan oleh virus.
  6. Dan yang tidak kalah penting dan bahkan utama bagi kita semua, banyak BERDOA, berpikir POSITIF dan saling MEMBANTU. Jika punya masker lebih dan stok handsanitizer menumpuk PLEASE BANTU oranglain yang membutuhkan. Tidak turut menyebar berita-berita hoax merupakan salah satu cara membangun pikiran positif juga.

Jadi, yuk, bersama kita lawan virus corona ini. Mari belajar dari Singapura, Korsel, Italia, Perancis dan Wuhan yang saling menyemangati untuk melalui ujian ini BERSAMA-SAMA. Hindari memancing keributan. Kalau ada teman yang panik berlebihan, tenangkan dengan informasi yang akurat. InsyaAllah dengan kebijakan-kebijakan yang saat ini ada, seperti berdiam diri di rumah, meliburkan sekolah, membatasi aktivitas di luar, dan mempersering cuci tangan, kita bisa menahan laju perkembangan virus coorona. Kita optimalkan IKHTIAR sebelum TAWAKKAL kepada Allah Swt.

 

Seorang Anak Perempuan dan Ibunya

Terinspirasi dari kisah nyata.

Pada suatu hari si anak perempuan (yang sudah menjadi istri dan ibu) berjalan-jalan bersama suami dan anak-anaknya. Karena ibunya sudah cukup tua dan tidak ada yang menjaga di rumah, diajaklah sang Ibu pergi bersama mereka. Saat tiba di lokasi dan tengah asyik menikmati pemandangan di tempat wisata, si ibu berbisik ke telinga anaknya, “Ibu pingin pipis.”

Sang anak pun membawa ibunya ke kamar mandi, sayang antrinya panjang sekali. Dengan sabar si ibu dan anak tersebut menunggu sampai tiba giliran ibu tersebut. Si anak menunggu di luar. Ternyata si ibu menghabiskan waktu lebih lama dari biasanya, si anak mengetuk pintu yang ternyata tidak terkunci. Masuklah dia dan terkejut melihat baju dan lantai kamar mandi penuh dengan, maaf, kotoran sang ibu.

“Aku nggak terasa ingin buang air besar, perutku juga tidak mulas, nggak tahu kok seperti ini,” ibu itu berkata lirih.

Mukanya menunduk, malu dan merasa bersalah.

“Nggak apa-apa, Ibu. Ibu tenang saja, mari kita bereskan sama-sama,” ujarnya.

“Tapi orang-orang pada ngantri di luar. Mereka pasti marah karena Ibu lama di kamar mandi,” jawab ibu tersebut masih merasa khawatir.

“Nggak apa-apa, namanya juga kamar mandi umum. Ya, siapa saja harus mau antri,” ucap si anak menenangkan ibunya sambil mengambil penyemprot air dan berusaha membersihkan semua sisa kotoran di sebagian baju ibunya serta lantai kamar mandi.

Saat akhirnya mereka selesai dan melangkan ke luar kamar mandi, antrian di depan kamar mandi mereka kosong. Rupanya mereka yang sebelumnya mengantri pindah berderet di depan kamar mandi sebelah. Si ibu kembali menunduk malu, dia merasa semua mata menatap kepadanya. Sebagian bahkan menutup hidung mereka. Si anak menggenggam erat telapak tangan ibunya, menyalurkan kekuatan, dan seakan menyampaikan, “Tidak apa-apa, Ibu. Semua akan baik-baik saja!”

Hari itu pun berlalu. Malamnya sebelum tidur, saat si anak menghampiri ibunya di kamar, dia berkata, “Terimakasih atas apa yang kamu lakukan hari ini , ya. Ibu sebenarnya malu sekali. Ini tidak pernah terjadi pada Ibu, sebelumnya.”

Si anak hanya mengangguk dan memeluk ibunya. Saat di kamar mandi, dia tiba-tiba menangis. Sejujunya, saat di toilet tadi siang dan menyaksikan ibunya, dia hampir saja mengomeli ibunya. Tapi tiba-tiba dia ingat putri kecilnya yang kini telah remaja. Tidak sekali dua kali bocah yang masih memakai popok itu ‘kecelakaan’ yakni buang air kecil dan air besar di lantai, kadang juga di kamar mandi umum seperti yang terjadi hari ini.

Hari itu, seperti ada yang membisikkan di telinganya, ‘Kalau dengan anakmu kamu mau sabar kenapa dengan ibumu kamu tidak mampu sabar?’

Bersyukur, dia masih ingat. Tak bisa dia bayangkan jika dia terbawa emosi dan turut memarahi ibunya. Sudah malu, khawatir dan merasakan luka hati karena dimarahi anak sendiri. Alangkah sedih ibunya!

Cerita ini mengingatkanku kita semua, khususnya buat aku sendiri bahwa orangtua khususnya ibu kita bisa jadi sudah lemah, tidak berdaya dan bahkan pikun, tapi beliau memiliki ‘kekuatan’ yang luar biasa besar. Kekuatan apa yang kumaksudkan? Tentu bukan kekuatan fisik, namun kekuatan doa. Doa-doa ibu menjadi salah satu dari beberapa doa yang mustajab atau mendapat prioritas untuk dikabulkan Allah. Merawat mereka juga menjadi salah satu ‘tiket’ masuk syurga sebagaimana hadits Rasulullah Saw:

”Celaka seseorang itu(diulang tiga kali), sahabat bertanya: siapa yang celaka wahai Rasulullah? Beliau menjawab: orang yang mendapati salah satu orang tuanya atau dua-duanya dalam keadaan tua, kemudian (anak tersebut) tidak masuk surga”. (HR Muslim) No: 2551)

Jadi, yuk, rawat orangtua kita, khususnya ibu yang sudah sepuh. Semoga Allah mencatatnya sebagai amal, syukur-syukur kalau menjadi jalan kita ke syurga!

Seni Berbakti

berbakti
Sumber foto: https://www.kompasiana.com/aamirdarwis/5a595e1acf01b452892e6352/temukan-keridhoan-allah-dengan-berbakti-pada-orangtua?page=all

 

“Gimana aku bisa berbakti, kalau Ibuku nggak pernah sayang ke aku sejak kecil?”

Seorang teman mengeluhkan kondisinya merawat ibunya yang sakit, sementara semasa kecil dia nyaris tidak pernah diasuh ibunya sendiri. Perceraian sejak dia belia, ibu yang harus banting tulang dan tinggal di luar kota, membuat dia hanya memiliki masa kecil bersama neneknya. Setelah dia besar dan memiliki keluarga sendiri, ibunya jatuh sakit. Dia memutuskan merawat ibunya. Tapi setiap hari dia ‘tersiksa’, perasaan sayang pada ibu yang melahirkannya tak kunjung tumbuh. Dia merawat ibunya karena menjalankan bakti sebagai anak ke orangtua.

Teman yang lain bercerita kalau ibunya selalu saja menuntut dikirimi uang. Berapapun selalu kurang. Setiap bulan dia sudah ‘menjatah’ ibunya Rp 5 juta, tapi selalu ada kebutuhan mendadak, jadi seringkali jumlah tersebut membengkak hingga dua kali lipat. Untung dia bekerja sebagai burun migran yang gaji yang jika dikonversi ke mata uang rupiah jumlahnya lumayan. Tapi dengan pengeluaran yang demikin tiap bulan, pengelolaan keuangan dia morat marit juga.

“Kadang aku juga heran, kenapa, ya, mamakku selalu butuh uang. Kalau aku tanya untuk apa, ya, selalu saja ada kebutuhan ini dan itu. Mintanya juga sering sambil nangis, jadi aku enggak tega. Akhirnya aku berpikir, ‘Ah, mumpung orangtua masih hidup. Tidak apa-apa, lah, aku kerja keras buat mereka. Nanti kalau orangtua sudah meninggal, kita, kan, juga tidak bisa ngasih apa-apa lagi’, “tuturnya.

Kalau mendengar cerita-cerita seperti itu, aku sering kagum. Kalau kita berbakti pada orangtua karena mereka memang mengurus kita dengan baik, itu, sih memang seharusnya begitu. Tapi mereka yang tidak merasakan kasih sayang dan ‘merasa’ tidak diurus orangtua tapi masih berbakti di kala orangtuanya renta, ini luar biasa.

Tapi mungkin itu juga rahasia yang membuat dua temanku mendapat ‘ganjaran’ tunai di dunia. Teman yang pertama, sukses dan bahagia. Kariernya moncer, belum lama dia juga mendapat beasiswa S2. Anaknya sehat dan cerdas. Di usia yang cukup muda dia dan suaminya sudah memiliki rumah sendiri.

Teman kedua, menikah dengan Warga Negara Asing (WNA). Dia yang sebelumnya dipandang sebelah mata karena seorang buruh migran, kini tidak lagi. Kalau bepergian, suaminya tak segan membelikan tiket kelas bisnis untuk istrinya. Karena secara finansial sudah di-support suaminya, dia lebih santai bekerja. Meski begitu, setiap bulan (nyaris) semua gajinya dia kirimkan untuk ibunya di Indonesia.

“Jika kariermu lambat atau bisnismu tidak kunjung sukses, lihatlah bagaimana baktimu pada orangtua, khususnya ibumu,” nasehat seorang teman yang juga pengusaha sukses di Indonesia.

Ibu kita, walaupun renta dan kelihatan tidak berdaya itu, memiliki andil besar dalam terkabulnya doa-doa. Keistimewaan ini tidak dimiliki sembarang orang, bahkan ayah kita. Selama beliau masih hidup, tak peduli seberapa usianya, jika beliau mengangkat tangan untuk berdoa, apabila Allah berkenan, akan mudah dikabulkan.

Maka, sayangi orangtua kita. Ibu kita, sudah berkorban banyak. Kalau kata Ibu Iim Fahima di salah satu twit-nya, Ibu Rumah Tangga yang sehari-hari kelihatannya ‘hanya’ kerja di rumah, berkorban besar, yaitu harga dirinya. Mereka yang sebetulnya bisa sekolah tinggi, membangun karier, dan melakukan banyak hal, memilih menjadi full time Mom untuk membersamai buah hati setiap saat. Ibu yang bekerja juga tidak kurang kerja kerasnya, bahkan dobel, untuk memastikan urusan rumah beres saat ditinggal kerja.

Jika ada orangtua, khususnya ibu yang akhirnya menyerahkan anak mereka untuk diasuh orang lain, biasanya karena ada kondisi-kondisi yang tidak bisa mereka atasi. Karena sejatinya tidak ada ibu yang tidak ingin membersamai anaknya, kecuali memang ada kondisi khusus atau sang ibu mengalami masalah psikologis.

Cara para ibu mengekspresikan rasa sayang juga berbeda-beda. Mungkin ada dari kita yang merasa ibu kita dulu demikian galak, yakinlah sebenarnya mereka tidak mau begitu. Tapi entah kenapa ekspresi galak itu yang keluar. Mungkin karena mereka tidak tahu cara lain untuk mengekspresikan rasa frustasi. Bisa juga karena mereka trauma dengan kegalakan orangtua mereka yang malah berimbas pada pengulangan sikap yang sama.

Kalau saat ini kita sukses, ingat selalu ada ibu yang tidak pernah berhenti mendoakan kita. Kita bisa menjadi kita saat ini karena sejak kecil menyantap makanan terbaik yang diramu bersama doa-doa dan harapan ibu kita. Kita jadi pintar karena ibu kita sabar mendidik dan mendampingi proses tumbuh kembang kita.

Dan yang mereka pinta sebetulnya tidak banyak. Rajin berkabar, sesekali menengok beliau.  Sebagian orangtua merasa cukup secara finansial dan tidak mengharap bantuan keuangan dari anak-anak, tapi akan menyenangkan kalau kita tetap menyisihkan uang, sesedikit apapun untuk mereka. Memberi hadiah biasanya menghadirkan senyum. Namun yang lebih utama adalah perhatian dan rasa sayang yang tulus.

Jaga ucapan kita, jangan sampai meninggi apalagi membentak saat berbicara dengan mereka. Dengarkan nasehatnya, ikuti petuahnya. Kalau berbeda pendapat, menurutku lebih baik diam, meskipun tidak harus juga menuruti semua pendapat yang tidak kita sepakati. Itulah seni berbakti, tidak selalu harus menuruti tapi juga tidak menentang secara terang terangan.

Dan yang utama, berdoa dan mohon agar diberikan kesabaran dalam berbakti. Ada masanya kita dipisahkan oleh Allah dengan orangtua. Kadang kita yang ‘pergi’ duluan, adakalanya mereka yang meninggalkan kita. Jangan sampai ketika mereka dipanggil Allah, kita menangis dan berujar, andaikan dulu aku begini dan begitu.

Semoga Allah berikan kemudahan pada kita semua untuk berbakti pada kedua orangtua!

“Kebodohan” Orang Baik

“Kok, mau aja, sih, dibodohin! Suami jelas-jelas selingkuh, kok, ya, istrinya masih aja setia!”

“Bodoh, banget, ya, masak dia kerja capek-capek, eh uangnya dibuat foya-foya sama orangtua, adik dan kakaknya. Dia, sih, sebenarnya tahu, tapi, kok, ya, masih aja kirim duit buat keluarganya!”

“Dia, kan, sudah berkali-kali mengingkari janji, kamu, kok, mau, sih minjemin uang ke dia?”

“Jadi, orang, jangan terlalu baik! Nanti kamu dimintai tolong terus menerus, lho.”

Akrab, nggak dengan ucapan-ucapan seperti itu? Sebagai subyek yang mengucapkan, atau obyek yang menerima omelan?

Sepanjang kehidupan berumah tangga, aku pernah 3 kali meminjamkan uang dalam jumlah yang cukup besar buatku, di kala itu. Yang pertama, adiknya teman yang menjualkan baju sejumlah kurang lebih Rp 2 juta. Dia mengaku dibohongi pembelinya dan tidak bisa membayar utangnya. Yang kedua, orang yang membantuku mengelola bisnis meminjam uang untuk biaya nikah sejumlah Rp 5 juta. Bisnis kami tidak berlanjut, dia mengaku pengangguran dan tidak bisa membayar utang. Dan ketiga, orang yang meminjam uang untuk modal usaha, sejumlah Rp 5 juta yang ternyata bermasalah salam mengelola keuangan jadi usahanya bangkrut. Selain ketiga orang itu ada sejumlah orang yang juga mengemplang pinjaman karena berbagai alasan, dengan angka pinjaman antara Rp 100 ribu sampai sejuta rupiah.

“Kita harus galak ke peminjam uang, Mbak! Kalau enggak keenakan mereka, dong, pinjam uang, kok, nggak dibalikin!” saran seorang teman.

Tapi entah kenapa aku tidak tega menagih terus menerus. Kalau sekali dua tiga kali aku tagih, ternyata peminjam tidak membayar, bahkan ada yang sampai kucing kucingan denganku, sampai takut berpapasan karena punya utang, kok, aku jadi tidak tega menagihnya. Apakah ini termasuk kebodohan? Entahlah.

Tapi yang kurasakan, rezeki yang diberikan Allah jauh lebih besar dari utang-utang yang tidak terbayarkan tersebut. Awalnya memang susah mengikhlaskan, aku coba aja lupakan dan tetap menjalin hubungan baik dengan orang-orang yang berutang tersebut, lama-lama jadi biasa aja. Aku anggap saja uang yang dipinjam tersebut memang rezeki si orang itu, melalui aku. Dan ajaibnya, justru Allah kembalikan dalam jumlah yang lebih besar dari arah yang tidak disangka-sangka.

Kasus kedua, seorang teman baikku tanpa sengaja menemukan hp suaminya yang mengirim pesan mesra pada perempuan lain. Dia langsung gemetar dan sambil menangis mengonfirmasi pesan itu ke suaminya.

Apa yang terjadi?

Suaminya malah marah dan menyalahkan teman tersebut. Dia bilang istrinya menuduh tanpa alasan dan dia sakit hati. Sejak detik itu sampai kini (sudah nyaris lima tahun) suami istri itu nyaris tidak pernah komunikasi. Maksudnya gimana? Ya, mereka masih tinggal bersama, si istri tiap hari memasak, membersihkan rumah, mencucikan dan menyertrika baju suaminya serta merawat anak mereka satu-satunya. Sang suami menghabiskan hampir 14 jam di kantor, sampai rumah langsung memasang headset di telinganya untuk menonton film atau entah melakukan apa dengan laptopnya. Dia makan masakan istrinya, tiap bulan dia memberi nafkah pada istrinya, kadang dia ikut mengurus sekolah anaknya, tapi ya begitu saja. Mereka hanya bicara, lebih tepatnya sang suami hanya merespon istrinya kalau memang ada masalah penting saja. Selebihnya mereka seperti orang asing. Padahal sang suami juga tidak memiliki wanita lain, tapi dia tetap memperlakukan istrinya seperti itu. Sang istri sempat tertekan dan frustasi sampai-sampai tekanan darahnya meningkat. Tapi kemudian dia ‘berdamai’ dengan kondisi tersebut. Dia sibukkan diri dengan belajar berbagai hal baru, dia juga mulai bekerja dari rumah, dengan tetap memenuhi semua kewajibannya sebagai istri.

“Suamiku, sepupuku. Kalau kami bercerai, rusak hubungan keluarga besar kami. Belum lagi bercerai adalah aib di daerah asal kami,” ujarnya.

“Aku kasihan sama anakku kalau kami bercerai. Walaupun suamiku bersikap seperti itu ke aku tapi setidaknya dia bersikap normal ke anakku. Jadi aku memilih bertahan!” ucapnya kali lain.

“Aku masih punya harapan ke suamiku. Dahulu dia orang yang sangat baik dan taat kepada Allah. Aku berdoa semoga dia kembali menjadi baik tapi kalaupun tidak semoga ini menjadi amalku untuk bekal di akhirat!” jawabnya saat aku menanyakan kenapa dia masih bertahan dalam pernikahan.

Apakah sahabatku itu bodoh? Mungkin sebagian orang menganggap demikian. Awalnya aku pun merasa sangat sayang dengan keputusannya bertahan. Dia masih muda, jika bercerai mungkin dia bisa menemukan pasangan lain dan bisa bahagia. Setidaknya jika dia menggertak suaminya untuk bercerai, mungkin saja suaminya berpikir ulang dan tidak berbuat seenaknya seperti sekarang. Tapi melihatnya kukuh dan pelan-pelan menata hidupnya kembali, aku seperti melihat setitik cahaya.

Alih-alih putus asa dia malah jadi makin pintar karena mengisi waktunya dengan belajar banyak hal. Pergaulannya juga meluas karena dia mengalihkan kesedihannya dengan aktif berkegiatan serta mengenal banyak teman baru. Ditambah lagi, tabungannya sedikit demi sedikit bertambah dengan menerima jahitan di rumah.

Mungkin suaminya tidak berubah. Bisa jadi suatu saat akhirnya mereka bercerai. Atau bisa jadi akhirnya suaminya sadar dan mereka menemukan kebahagiaan dalam pernikahan. Tapi yang jelas, aku salut dengan pilihan sikap sahabatku itu dalam menghadapi masalah tersebut. Dan pastinya tidak ada kebaikan yang sia-sia, jikalau suaminya tidak membalas kebaikan temanku itu, Allah pasti akan membalasnya dengan kebaikan yang lebih besar.

Kita sering melihat orang lain itu naiv dan bodoh, mau saja diakali, dibohongi dan tetap berbuat baik. Padahal bisa jadi mereka justru orang pintar. Mereka menggunakan kondisi yang tidak menguntungkan tersebut sebagai sarana berbuat kebaikan serta meningkatkan kualitas diri.

Dan jangan salah, Allah menjadi ‘tangan kanan’ bagi orang yang terzalimi.

“Dan berhati-hatilah terhadap orang yang terzalimi karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR Bukhari Muslim).

Jadi yang perlu khawatir justru orang yang berbuat zalim. Bisa jadi sekarang mereka berjaya tapi Allah tidak pernah tidur. Akan ada saat dia jatuh, yang seringnya membawa kesengsaraan baik di dunia ataupun akhirat.

Jadi, buat kalian yang sedang sedih, memiliki masalah yang berat, dalam kondisi terzalimi, jangan takut dan khawatir. Pikirkan langkah terbaik dan lakukan! Tetaplah berbuat kebaikan dan yakin Allah tidak tidur. Akan ada saat dimana Allah menghapus luka-luka dan airmata. Ikhlaskan semua karena Allah. Kalau tidak mendapat ganti di dunia, insyaAllah ada balasan terbaik di akherat!