Seorang Anak Perempuan dan Ibunya

Terinspirasi dari kisah nyata.

Pada suatu hari si anak perempuan (yang sudah menjadi istri dan ibu) berjalan-jalan bersama suami dan anak-anaknya. Karena ibunya sudah cukup tua dan tidak ada yang menjaga di rumah, diajaklah sang Ibu pergi bersama mereka. Saat tiba di lokasi dan tengah asyik menikmati pemandangan di tempat wisata, si ibu berbisik ke telinga anaknya, “Ibu pingin pipis.”

Sang anak pun membawa ibunya ke kamar mandi, sayang antrinya panjang sekali. Dengan sabar si ibu dan anak tersebut menunggu sampai tiba giliran ibu tersebut. Si anak menunggu di luar. Ternyata si ibu menghabiskan waktu lebih lama dari biasanya, si anak mengetuk pintu yang ternyata tidak terkunci. Masuklah dia dan terkejut melihat baju dan lantai kamar mandi penuh dengan, maaf, kotoran sang ibu.

“Aku nggak terasa ingin buang air besar, perutku juga tidak mulas, nggak tahu kok seperti ini,” ibu itu berkata lirih.

Mukanya menunduk, malu dan merasa bersalah.

“Nggak apa-apa, Ibu. Ibu tenang saja, mari kita bereskan sama-sama,” ujarnya.

“Tapi orang-orang pada ngantri di luar. Mereka pasti marah karena Ibu lama di kamar mandi,” jawab ibu tersebut masih merasa khawatir.

“Nggak apa-apa, namanya juga kamar mandi umum. Ya, siapa saja harus mau antri,” ucap si anak menenangkan ibunya sambil mengambil penyemprot air dan berusaha membersihkan semua sisa kotoran di sebagian baju ibunya serta lantai kamar mandi.

Saat akhirnya mereka selesai dan melangkan ke luar kamar mandi, antrian di depan kamar mandi mereka kosong. Rupanya mereka yang sebelumnya mengantri pindah berderet di depan kamar mandi sebelah. Si ibu kembali menunduk malu, dia merasa semua mata menatap kepadanya. Sebagian bahkan menutup hidung mereka. Si anak menggenggam erat telapak tangan ibunya, menyalurkan kekuatan, dan seakan menyampaikan, “Tidak apa-apa, Ibu. Semua akan baik-baik saja!”

Hari itu pun berlalu. Malamnya sebelum tidur, saat si anak menghampiri ibunya di kamar, dia berkata, “Terimakasih atas apa yang kamu lakukan hari ini , ya. Ibu sebenarnya malu sekali. Ini tidak pernah terjadi pada Ibu, sebelumnya.”

Si anak hanya mengangguk dan memeluk ibunya. Saat di kamar mandi, dia tiba-tiba menangis. Sejujunya, saat di toilet tadi siang dan menyaksikan ibunya, dia hampir saja mengomeli ibunya. Tapi tiba-tiba dia ingat putri kecilnya yang kini telah remaja. Tidak sekali dua kali bocah yang masih memakai popok itu ‘kecelakaan’ yakni buang air kecil dan air besar di lantai, kadang juga di kamar mandi umum seperti yang terjadi hari ini.

Hari itu, seperti ada yang membisikkan di telinganya, ‘Kalau dengan anakmu kamu mau sabar kenapa dengan ibumu kamu tidak mampu sabar?’

Bersyukur, dia masih ingat. Tak bisa dia bayangkan jika dia terbawa emosi dan turut memarahi ibunya. Sudah malu, khawatir dan merasakan luka hati karena dimarahi anak sendiri. Alangkah sedih ibunya!

Cerita ini mengingatkanku kita semua, khususnya buat aku sendiri bahwa orangtua khususnya ibu kita bisa jadi sudah lemah, tidak berdaya dan bahkan pikun, tapi beliau memiliki ‘kekuatan’ yang luar biasa besar. Kekuatan apa yang kumaksudkan? Tentu bukan kekuatan fisik, namun kekuatan doa. Doa-doa ibu menjadi salah satu dari beberapa doa yang mustajab atau mendapat prioritas untuk dikabulkan Allah. Merawat mereka juga menjadi salah satu ‘tiket’ masuk syurga sebagaimana hadits Rasulullah Saw:

”Celaka seseorang itu(diulang tiga kali), sahabat bertanya: siapa yang celaka wahai Rasulullah? Beliau menjawab: orang yang mendapati salah satu orang tuanya atau dua-duanya dalam keadaan tua, kemudian (anak tersebut) tidak masuk surga”. (HR Muslim) No: 2551)

Jadi, yuk, rawat orangtua kita, khususnya ibu yang sudah sepuh. Semoga Allah mencatatnya sebagai amal, syukur-syukur kalau menjadi jalan kita ke syurga!

Seni Berbakti

berbakti
Sumber foto: https://www.kompasiana.com/aamirdarwis/5a595e1acf01b452892e6352/temukan-keridhoan-allah-dengan-berbakti-pada-orangtua?page=all

 

“Gimana aku bisa berbakti, kalau Ibuku nggak pernah sayang ke aku sejak kecil?”

Seorang teman mengeluhkan kondisinya merawat ibunya yang sakit, sementara semasa kecil dia nyaris tidak pernah diasuh ibunya sendiri. Perceraian sejak dia belia, ibu yang harus banting tulang dan tinggal di luar kota, membuat dia hanya memiliki masa kecil bersama neneknya. Setelah dia besar dan memiliki keluarga sendiri, ibunya jatuh sakit. Dia memutuskan merawat ibunya. Tapi setiap hari dia ‘tersiksa’, perasaan sayang pada ibu yang melahirkannya tak kunjung tumbuh. Dia merawat ibunya karena menjalankan bakti sebagai anak ke orangtua.

Teman yang lain bercerita kalau ibunya selalu saja menuntut dikirimi uang. Berapapun selalu kurang. Setiap bulan dia sudah ‘menjatah’ ibunya Rp 5 juta, tapi selalu ada kebutuhan mendadak, jadi seringkali jumlah tersebut membengkak hingga dua kali lipat. Untung dia bekerja sebagai burun migran yang gaji yang jika dikonversi ke mata uang rupiah jumlahnya lumayan. Tapi dengan pengeluaran yang demikin tiap bulan, pengelolaan keuangan dia morat marit juga.

“Kadang aku juga heran, kenapa, ya, mamakku selalu butuh uang. Kalau aku tanya untuk apa, ya, selalu saja ada kebutuhan ini dan itu. Mintanya juga sering sambil nangis, jadi aku enggak tega. Akhirnya aku berpikir, ‘Ah, mumpung orangtua masih hidup. Tidak apa-apa, lah, aku kerja keras buat mereka. Nanti kalau orangtua sudah meninggal, kita, kan, juga tidak bisa ngasih apa-apa lagi’, “tuturnya.

Kalau mendengar cerita-cerita seperti itu, aku sering kagum. Kalau kita berbakti pada orangtua karena mereka memang mengurus kita dengan baik, itu, sih memang seharusnya begitu. Tapi mereka yang tidak merasakan kasih sayang dan ‘merasa’ tidak diurus orangtua tapi masih berbakti di kala orangtuanya renta, ini luar biasa.

Tapi mungkin itu juga rahasia yang membuat dua temanku mendapat ‘ganjaran’ tunai di dunia. Teman yang pertama, sukses dan bahagia. Kariernya moncer, belum lama dia juga mendapat beasiswa S2. Anaknya sehat dan cerdas. Di usia yang cukup muda dia dan suaminya sudah memiliki rumah sendiri.

Teman kedua, menikah dengan Warga Negara Asing (WNA). Dia yang sebelumnya dipandang sebelah mata karena seorang buruh migran, kini tidak lagi. Kalau bepergian, suaminya tak segan membelikan tiket kelas bisnis untuk istrinya. Karena secara finansial sudah di-support suaminya, dia lebih santai bekerja. Meski begitu, setiap bulan (nyaris) semua gajinya dia kirimkan untuk ibunya di Indonesia.

“Jika kariermu lambat atau bisnismu tidak kunjung sukses, lihatlah bagaimana baktimu pada orangtua, khususnya ibumu,” nasehat seorang teman yang juga pengusaha sukses di Indonesia.

Ibu kita, walaupun renta dan kelihatan tidak berdaya itu, memiliki andil besar dalam terkabulnya doa-doa. Keistimewaan ini tidak dimiliki sembarang orang, bahkan ayah kita. Selama beliau masih hidup, tak peduli seberapa usianya, jika beliau mengangkat tangan untuk berdoa, apabila Allah berkenan, akan mudah dikabulkan.

Maka, sayangi orangtua kita. Ibu kita, sudah berkorban banyak. Kalau kata Ibu Iim Fahima di salah satu twit-nya, Ibu Rumah Tangga yang sehari-hari kelihatannya ‘hanya’ kerja di rumah, berkorban besar, yaitu harga dirinya. Mereka yang sebetulnya bisa sekolah tinggi, membangun karier, dan melakukan banyak hal, memilih menjadi full time Mom untuk membersamai buah hati setiap saat. Ibu yang bekerja juga tidak kurang kerja kerasnya, bahkan dobel, untuk memastikan urusan rumah beres saat ditinggal kerja.

Jika ada orangtua, khususnya ibu yang akhirnya menyerahkan anak mereka untuk diasuh orang lain, biasanya karena ada kondisi-kondisi yang tidak bisa mereka atasi. Karena sejatinya tidak ada ibu yang tidak ingin membersamai anaknya, kecuali memang ada kondisi khusus atau sang ibu mengalami masalah psikologis.

Cara para ibu mengekspresikan rasa sayang juga berbeda-beda. Mungkin ada dari kita yang merasa ibu kita dulu demikian galak, yakinlah sebenarnya mereka tidak mau begitu. Tapi entah kenapa ekspresi galak itu yang keluar. Mungkin karena mereka tidak tahu cara lain untuk mengekspresikan rasa frustasi. Bisa juga karena mereka trauma dengan kegalakan orangtua mereka yang malah berimbas pada pengulangan sikap yang sama.

Kalau saat ini kita sukses, ingat selalu ada ibu yang tidak pernah berhenti mendoakan kita. Kita bisa menjadi kita saat ini karena sejak kecil menyantap makanan terbaik yang diramu bersama doa-doa dan harapan ibu kita. Kita jadi pintar karena ibu kita sabar mendidik dan mendampingi proses tumbuh kembang kita.

Dan yang mereka pinta sebetulnya tidak banyak. Rajin berkabar, sesekali menengok beliau.  Sebagian orangtua merasa cukup secara finansial dan tidak mengharap bantuan keuangan dari anak-anak, tapi akan menyenangkan kalau kita tetap menyisihkan uang, sesedikit apapun untuk mereka. Memberi hadiah biasanya menghadirkan senyum. Namun yang lebih utama adalah perhatian dan rasa sayang yang tulus.

Jaga ucapan kita, jangan sampai meninggi apalagi membentak saat berbicara dengan mereka. Dengarkan nasehatnya, ikuti petuahnya. Kalau berbeda pendapat, menurutku lebih baik diam, meskipun tidak harus juga menuruti semua pendapat yang tidak kita sepakati. Itulah seni berbakti, tidak selalu harus menuruti tapi juga tidak menentang secara terang terangan.

Dan yang utama, berdoa dan mohon agar diberikan kesabaran dalam berbakti. Ada masanya kita dipisahkan oleh Allah dengan orangtua. Kadang kita yang ‘pergi’ duluan, adakalanya mereka yang meninggalkan kita. Jangan sampai ketika mereka dipanggil Allah, kita menangis dan berujar, andaikan dulu aku begini dan begitu.

Semoga Allah berikan kemudahan pada kita semua untuk berbakti pada kedua orangtua!

“Kebodohan” Orang Baik

“Kok, mau aja, sih, dibodohin! Suami jelas-jelas selingkuh, kok, ya, istrinya masih aja setia!”

“Bodoh, banget, ya, masak dia kerja capek-capek, eh uangnya dibuat foya-foya sama orangtua, adik dan kakaknya. Dia, sih, sebenarnya tahu, tapi, kok, ya, masih aja kirim duit buat keluarganya!”

“Dia, kan, sudah berkali-kali mengingkari janji, kamu, kok, mau, sih minjemin uang ke dia?”

“Jadi, orang, jangan terlalu baik! Nanti kamu dimintai tolong terus menerus, lho.”

Akrab, nggak dengan ucapan-ucapan seperti itu? Sebagai subyek yang mengucapkan, atau obyek yang menerima omelan?

Sepanjang kehidupan berumah tangga, aku pernah 3 kali meminjamkan uang dalam jumlah yang cukup besar buatku, di kala itu. Yang pertama, adiknya teman yang menjualkan baju sejumlah kurang lebih Rp 2 juta. Dia mengaku dibohongi pembelinya dan tidak bisa membayar utangnya. Yang kedua, orang yang membantuku mengelola bisnis meminjam uang untuk biaya nikah sejumlah Rp 5 juta. Bisnis kami tidak berlanjut, dia mengaku pengangguran dan tidak bisa membayar utang. Dan ketiga, orang yang meminjam uang untuk modal usaha, sejumlah Rp 5 juta yang ternyata bermasalah salam mengelola keuangan jadi usahanya bangkrut. Selain ketiga orang itu ada sejumlah orang yang juga mengemplang pinjaman karena berbagai alasan, dengan angka pinjaman antara Rp 100 ribu sampai sejuta rupiah.

“Kita harus galak ke peminjam uang, Mbak! Kalau enggak keenakan mereka, dong, pinjam uang, kok, nggak dibalikin!” saran seorang teman.

Tapi entah kenapa aku tidak tega menagih terus menerus. Kalau sekali dua tiga kali aku tagih, ternyata peminjam tidak membayar, bahkan ada yang sampai kucing kucingan denganku, sampai takut berpapasan karena punya utang, kok, aku jadi tidak tega menagihnya. Apakah ini termasuk kebodohan? Entahlah.

Tapi yang kurasakan, rezeki yang diberikan Allah jauh lebih besar dari utang-utang yang tidak terbayarkan tersebut. Awalnya memang susah mengikhlaskan, aku coba aja lupakan dan tetap menjalin hubungan baik dengan orang-orang yang berutang tersebut, lama-lama jadi biasa aja. Aku anggap saja uang yang dipinjam tersebut memang rezeki si orang itu, melalui aku. Dan ajaibnya, justru Allah kembalikan dalam jumlah yang lebih besar dari arah yang tidak disangka-sangka.

Kasus kedua, seorang teman baikku tanpa sengaja menemukan hp suaminya yang mengirim pesan mesra pada perempuan lain. Dia langsung gemetar dan sambil menangis mengonfirmasi pesan itu ke suaminya.

Apa yang terjadi?

Suaminya malah marah dan menyalahkan teman tersebut. Dia bilang istrinya menuduh tanpa alasan dan dia sakit hati. Sejak detik itu sampai kini (sudah nyaris lima tahun) suami istri itu nyaris tidak pernah komunikasi. Maksudnya gimana? Ya, mereka masih tinggal bersama, si istri tiap hari memasak, membersihkan rumah, mencucikan dan menyertrika baju suaminya serta merawat anak mereka satu-satunya. Sang suami menghabiskan hampir 14 jam di kantor, sampai rumah langsung memasang headset di telinganya untuk menonton film atau entah melakukan apa dengan laptopnya. Dia makan masakan istrinya, tiap bulan dia memberi nafkah pada istrinya, kadang dia ikut mengurus sekolah anaknya, tapi ya begitu saja. Mereka hanya bicara, lebih tepatnya sang suami hanya merespon istrinya kalau memang ada masalah penting saja. Selebihnya mereka seperti orang asing. Padahal sang suami juga tidak memiliki wanita lain, tapi dia tetap memperlakukan istrinya seperti itu. Sang istri sempat tertekan dan frustasi sampai-sampai tekanan darahnya meningkat. Tapi kemudian dia ‘berdamai’ dengan kondisi tersebut. Dia sibukkan diri dengan belajar berbagai hal baru, dia juga mulai bekerja dari rumah, dengan tetap memenuhi semua kewajibannya sebagai istri.

“Suamiku, sepupuku. Kalau kami bercerai, rusak hubungan keluarga besar kami. Belum lagi bercerai adalah aib di daerah asal kami,” ujarnya.

“Aku kasihan sama anakku kalau kami bercerai. Walaupun suamiku bersikap seperti itu ke aku tapi setidaknya dia bersikap normal ke anakku. Jadi aku memilih bertahan!” ucapnya kali lain.

“Aku masih punya harapan ke suamiku. Dahulu dia orang yang sangat baik dan taat kepada Allah. Aku berdoa semoga dia kembali menjadi baik tapi kalaupun tidak semoga ini menjadi amalku untuk bekal di akhirat!” jawabnya saat aku menanyakan kenapa dia masih bertahan dalam pernikahan.

Apakah sahabatku itu bodoh? Mungkin sebagian orang menganggap demikian. Awalnya aku pun merasa sangat sayang dengan keputusannya bertahan. Dia masih muda, jika bercerai mungkin dia bisa menemukan pasangan lain dan bisa bahagia. Setidaknya jika dia menggertak suaminya untuk bercerai, mungkin saja suaminya berpikir ulang dan tidak berbuat seenaknya seperti sekarang. Tapi melihatnya kukuh dan pelan-pelan menata hidupnya kembali, aku seperti melihat setitik cahaya.

Alih-alih putus asa dia malah jadi makin pintar karena mengisi waktunya dengan belajar banyak hal. Pergaulannya juga meluas karena dia mengalihkan kesedihannya dengan aktif berkegiatan serta mengenal banyak teman baru. Ditambah lagi, tabungannya sedikit demi sedikit bertambah dengan menerima jahitan di rumah.

Mungkin suaminya tidak berubah. Bisa jadi suatu saat akhirnya mereka bercerai. Atau bisa jadi akhirnya suaminya sadar dan mereka menemukan kebahagiaan dalam pernikahan. Tapi yang jelas, aku salut dengan pilihan sikap sahabatku itu dalam menghadapi masalah tersebut. Dan pastinya tidak ada kebaikan yang sia-sia, jikalau suaminya tidak membalas kebaikan temanku itu, Allah pasti akan membalasnya dengan kebaikan yang lebih besar.

Kita sering melihat orang lain itu naiv dan bodoh, mau saja diakali, dibohongi dan tetap berbuat baik. Padahal bisa jadi mereka justru orang pintar. Mereka menggunakan kondisi yang tidak menguntungkan tersebut sebagai sarana berbuat kebaikan serta meningkatkan kualitas diri.

Dan jangan salah, Allah menjadi ‘tangan kanan’ bagi orang yang terzalimi.

“Dan berhati-hatilah terhadap orang yang terzalimi karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR Bukhari Muslim).

Jadi yang perlu khawatir justru orang yang berbuat zalim. Bisa jadi sekarang mereka berjaya tapi Allah tidak pernah tidur. Akan ada saat dia jatuh, yang seringnya membawa kesengsaraan baik di dunia ataupun akhirat.

Jadi, buat kalian yang sedang sedih, memiliki masalah yang berat, dalam kondisi terzalimi, jangan takut dan khawatir. Pikirkan langkah terbaik dan lakukan! Tetaplah berbuat kebaikan dan yakin Allah tidak tidur. Akan ada saat dimana Allah menghapus luka-luka dan airmata. Ikhlaskan semua karena Allah. Kalau tidak mendapat ganti di dunia, insyaAllah ada balasan terbaik di akherat!

13 years and more (insyaAllah)

4 Januari lalu merupakan ulang tahun pernikahan kami ke-13. Tidak terasa, waktu berjalan cepat. Dari berdua, jadi berlima. Si Sulung yang dulu ditimang, sekarang tingginya sudah melebihi ibunya. Si nomor dua yang kemarin-kemarin masih manut-manut saja, sekarang sudah bisa bilang, ” I feel left out, Mommy!”

Hal yang selalu kusyukuri, baik dalam perjalanan rumah tangga ini maupun kehidupanku secara keseluruhan, adalah karunia Allah berupa ‘rasa cukup’. Rasa cukup itu membuatku bersyukur dengan segala yang Allah berikan dan tidak pingin sesuatu milik orang lain. Rasa cukup itu pula yang membuatku seakan ingin bilang bahwa aku senang menjadi diriku sendiri dan kalau sleandainya Allah beri kesempatan untuk dilahirkan kembali dan memilih menjadi siapapun, maka aku akan memilih untuk menjadi diriku yang sekarang.

Demikian juga dengan pernikahan dan rumah tangga ini, rasanya semuanya berjalan indah-indah saja. Bertemu pertama kali dengan mas suami (tentu waktu itu masih orang lain) tahun 2001 dalam sebuah acara di Magelang. Kenal lebih intens tahun 2002-2004 dalam komunitas Al Manar UGM. Sempat putus komunikasi lalu sambung lagi masa-masa gempa Jogja 2006. Dan, menikah awal tahun 2007.

Lalu kami tinggal di Palu, Sulteng dan punya bayi perempuan pada November 2007. Selama tinggal di Palu, kami merasakan suka duka dalam proses saling memahami. Setiap pasangan yang baru menikah pasti mengalami susah senangnya mengenal karakter asli masing-masing. Berkompromi dengan kekurangan pasangan dan berjuang menemukan pola komunikasi yang baik, agar pesan sampai tanpa harus menyinggung perasaan. Di sini juga kami merasakan uang tabungan yang selalu habis terkuras tiap tahun pas pulang kampung saat lebaran 🙂 Jadi tiap habis lebaran serasa disapa oleh petugas pom bensin, “mulai dari nol, ya!” ^_^

Dua setengah tahun kemudian mas suami mendapat beasiswa ke Belanda, aku nangis seneng juga sedih. Seneng karena ini mimpi dia sejak lama, sedih karena nggak bisa ikut alias mesti pisah lama. Mas suami sadar sekali kalau istrinya ini nggak suka jauhan sama dia, makanya dia cari program yang singkat. Dan atas pertolongan Allah program S2 dia bisa kelar kurang dari setahun.

Tahun 2009-2014 kami tinggal di Jakarta. Aku kerja di majalah Ummi (yang ini merupakan awal karierku di bidang penulisan) dan dia ngajar serabutan di banyak universitas sampai akhirnya menetap mengajar di Universitas Presiden. Di Jakarta kami merasakan ngekos satu kamar yang sempit dan panas. Selama setahun ditinggal mas suami ke Belanda, aku pernah tinggal di kost yang jauh dari kantor, dan kalau malam berisik banget. Kadang ada anak-anak kecil yang iseng ngetok-ngetok pintu. Tiap hari aku berangkat ke kantor bawa bocah usia 2,5 tahun (karena waktu itu belum dapat ART). Berangkat sepagi mungkin dan pulang paling malam. Itu satu-satunya cara ‘membunuh’ waktu. Kadang pas malam, setelah si bocah tidur, aku nyuci baju sambil nangis karena kangen sama mahasiswa S2 yang lagi sekolah di Belanda itu.

Keadaan sedikit membaik saat aku punya ART terbaik sepanjang perjalanan rumah tangga, bernama Mbak Wati. Aku juga sudah pindah ke kontrakan dekat kantor, yang sebenarnya tingkat kenyamanannya juga sangat rendah karena hampir ambruk dan banyak tikus. Ngontrak dengan teman terbaik bernama Esti, yang sayangnya cuma bertahan beberapa bulan dan kembali mesti tinggal sendiri. ART terbaik itu juga cuma bertahan beberapa bulan karena mesti pulang kampung, menikah dan tak kembali ke ibu kota.

Masa-masa mas suami sekolah di Belanda itu rasanya jadi waktu paling berat buatku. Tapi alhamdulillah semua terlampaui dan mas suami bisa kembali dengan selamat (dan sukses). Tampak keren dengan ijazah S2 dari luar negeri tapi belum punya pekerjaan di Indonesia. Hehe. Mulailah babak baru pencarian pekerjaan. Mengajar bahasa Inggris di LIA, juga mengajar HI di Universitas Budi Luhur, Paramadina, UIN, juga di UPN Jakarta. Akhirnya menetap mengajar di Universitas Presiden, Cikarang. Tiap hari mas suami berangkat pagi-pagi, kadang naik kendaraan umum, pernah juga naik motor, pulang sore kadang malam hari. Capek dengan kemacetan jalan di Jakarta, tapi alhamdulillah kehidupan kami terus berjalan. Tiap akhir pekan kami sekolah Qur’an dan menambah hafalan di Al Hikmah, Mampang. Mas suami juga masih sempat ikut kelas Bahasa Arab di masjid Al Manar, Utan Kayu, Jakarta Timur, dekat kantor Ummi. Tempat kost kami juga sudah lebih nyaman, meskipun rumah tua tapi lumayan luas dengan ongkos yang terjangkau.

Lalu mas suami mendaftar beasiswa ke Amerika, alhamdulillah diterima. Mulailah kami LDR lagi selama 5 bulan, pas kebetulan aku hamil anak kedua yang jadwal lahirnya kok, ya, barengan sama jadwal mas suami berangkat ke Amerika. Alhamdulillah Allah mengaturnya dengan baik, suami sempat tertunda berangkat yang sisi positifnya jadi bisa mendampingi aku melahirkan tapi negatifnya proses ngurus pemberangkatan yang berbelit-belit (bahkan nyaris tidak bisa berangkat). Dan aku menunggu di Indonesia, tepatnya di kota kelahiranku di Banyuwangi sambil mendampingi bayi yang lahir tepat di hari terakhir Ramadhan tahun 2014 serta bocah perempuan usia 7 tahun yang mulai masuk SD.

Lima bulan yang sepertinya tidak lama, kala itu, saat menjalaninya, waktu berjalan seperti keong, lama sekali 🙂 Dan tak terkira bahagia ketika akhirnya kami bisa bersama menginjakkan kaki ke kota New York City yang gemerlap. Seperti mimpi bisa menginjakkan kaki di kota yang rasa-rasanya dikenal orang sedunia raya. Dan lima tahun berlalu nyaris seperti kedipan mata. Begitu cepat.

Pengalaman yang sungguh berkesan tinggal hampir selama lima tahun di Norfolk, Virginia. Banyak susahnya juga, kondisi finansial yang terbatas, pernah juga kami berutang yang sepertinya tidak akan terbayar sampai kami kembali ke Indonesia. Alhamdulillah atas pertolongan Allah, lunas juga. Mas suami beberapa kali sakit, sepertinya karena tekanan mengerjakan disertasi. Aku juga sempat bekerja sebagai babysitter, petugas cleaning service dan terakhir menjadi penjaga toko di mall. Tapi pengalaman senangnya terasa lebih banyak. Mengenal banyak orang dari berbagai negara di seluruh dunia, mengecap makanan dari berbagai bangsa, dan buatku pribadi: menjadi lancar berbahasa Inggris dan menyetir mobil sendiri.

Si Sulung belajar membaca dalam bahasa Inggris. Dia juga merasakan belajar SD kelas 1-kelas 5 (kelas terakhir Elementary School di US) di sana. Si nomor dua sempat merasakah sekolah setahun di Amerika. Dan setahun terakhir sebelum kami balik Indonesia, Allah kasih bonus bayi laki-laki ganteng, Alhamdulillah.

Di Amerika kami bergabung dengan IMSA (Indonesian Muslim Society of America) yang memberikan pengalaman luar biasa. Tiap tahun (kecuali tahun 2014 karena aku lagi hamil besar) kami menghadiri Muktamar IMSA yang menjadi ajang pertemuan diaspora muslim Indonesia dari seluruh penjuru Amerika dan Canada. Teman-teman IMSA juga yang selalu berbaik hati menyambut kami yang sering numpang istirahat dan menginap kala melakukan perjalanan lintas negara bagian di Amerika.

Di Amerika kami bertemu orang-orang baik, dari berbagai agama, ras dan bangsa. Kami dua kali mendapat hibah mobil gratis. Kami mendapat selimut-selimut hangat yang dibuat sendiri oleh sekelompok lansia di sebuah gereja. Kami mendapat kiriman makanan hampir tiap hari selama sebulan dari komunitas masjid dekat kami tinggal selama proses pemulihan paska melahirkan, juga dari teman-teman Indonesia di VA dan para tetangga serta teman-teman Amerika. Tidak sekali teman-teman Amerika yang mayoritas beragama Kristen mengantar kami ke sana kemari mengurus banyak hal (saat kami belum punya mobil). Begitu berlimpah nikmat yang Allah berikan hingga rasanya tak pernah cukup rasa syukur itu aku panjatkan.

Saat harus kembali ke Indonesia 6 bulan yang lalu, rasa beratnya melebihi perasaan saat meninggalkan Indonesia lima tahun yang lalu. Norfolk, VA sudah seperti kampung halaman kedua buatku. Ada orang-orang yang kami cintai di sana. Ada tempat-tempat yang kami menitipkan kenangan. Semoga Allah ijinkan kami menjejakkan kaki lagi ke sana, entah sekadar berkunjung atau menetap lagi.

Hal yang selalu kusyukuri dari perjalanan rumah tangga ini adalah pasangan yang menjelma menjadi sahabat baik. Dia orang paling mengerti diriku, bahkan melebihi kedekatanku dengan semua teman dekat yang pernah kumiliki. Di depannya aku bisa menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi. Jika aku malu, takut, sedih, khawatir, tanpa ragu dan malu aku bisa bercerita dan dia selalu bisa menjadi tempat bersandar. I love him more saat menuliskan deskripsi ini.

Dari sepanjang perjalanan berumahtangga aku bertemu dengan banyak orang dan pasangan lain. Dan tidak semua rumah tangga diberikan ‘rezeki’ berupa ‘teman baik’ ini. Banyak pasangan yang ketika istri atau suaminya melakukan kesalahan, suami atau istrinya ikut menyalahkan. Banyak juga istri atau suami yang tidak bisa jujur menjadi diri sendiri di depan pasangan karena berbagai alasan. Karena itu, menurutku, menjadi rezeki luar biasa kalau Allah jadikan pasangan kita sebagai teman baik yang selalu mengerti. Teman baik tidak berarti selalu membenarkan, tapi dia bisa mengajak pada kebaikan tanpa kita merasa disalahkan. Teman baik membuat nyaman bercerita karena kita percaya rahasia kita aman dan dia memahami karakter serta sifat-sifat kita.

Aku melihat banyak pasangan juga seperti ini. Mereka saling mendukung dan memahami. Tapi tak sedikit juga yang sebaliknya. Yang jika melihat suami atau istrinya salah dia yang teriak paling keras menyalahkan, semoga teman-teman yang membaca postingan ini tidak termasuk didalamnya.

Ada banyak cerita dari 13 tahun perjalanan kami. Dari kurus kami menggendut berdua 🙂 lalu olahraga bareng, diet bareng, timbangan sedikit bergeser ke kiri walaupun kemudian gendut lagi, begitu saja naik turun. Di awal rumah tangga mas suami tidak terlalu suka pedas, sekarang ketularan doyan pedas bahkan nggak lengkap lagi makan kalau tidak ada cabe ^_^ Dari hobi tidur ketika libur sekarang mas suami ikutan suka jalan-jalan, dan beberapa kali mendaki gunung berdua, termasuk mewujudkan salah satu keinginan terpendamku yakni menaklukkan Mahameru. Terimakasih sudah sabar menemani ^_^

Tiap kali kami jalan-jalan, ada saja hal yang bikin diem-dieman. Kadang negosiasi masalah pilihan tempat menginap dan destinasi yang nggak kelar-kelar. Maklumlah, kami keluarga mahasiswa PhD yang dompetnya pas-pasan tapi ingin menjelajahi seluruh penjuru Amerika. Kadang, ya, enggak tau apa sebabnya. Tapi tak lama kami ketawa-tawa lagi. Saat mengunjungi sebuah tempat wisata, mas suami paling sabar menenangkan anak-anak, ngajak main, nungguin anak-anak sementara sang istri ke sana ke sini ambil foto dan nyoba segala macam wahana. Dia juga suka nyetir dan tidak mau digantiin karena kalau jadi penumpang suka mabuk. Hehe.

Masih banyak hal lain yang rasanya tidak akan pernah cukup ditulis satu-satu. Yang jelas di ulang tahun pernikahan ke-13 ini aku ingin kembali mengingatkan diri sendiri untuk lebih banyak bersyukur dan bersandar hanya pada-Nya. Banyak hal -yang biasanya berkaitan dengan uang/finansial- sebelumnya samar dan kalau pakai perhitungan manusia seperti meragukan, tapi ketika kita jalani dengan niat baik, selalu Allah kasih jalan. Tidak terhitung banyaknya doa-doa yang dikabulkan-Nya.

Tiga belas tahun masih terbilang muda, namun insyaAllah kami siap menapaki tahun-tahun ke depan. Mohon doanya agar kami selalu bisa menebar kebaikan, di mana pun Allah tempatkan kami sekeluarga.

 

 

 

Solichah Indah Setyani: Hijaukan Lingkungan, Ajak Masyarakat Kelola Sampah

“Saya baru masuk rumah, Mbak, silakan masuk dulu, ya. Maaf saya tinggal mandi dan shalat Ashar dulu,” kata Ninik, panggilan akrab Solichah Indah Setyani saat saya kontak melalui ponsel, sore itu.

Kami memang sudah janjian ketemu di rumah beliau. Bu Ninik sendiri baru pulang dari sebuah acara di Ciater, makanya beliau meminta waktu untuk membersihkan diri dan beribadah sebelum kami memulai wawancara.

Saat memasuki halaman rumah beliau, saya langsung ‘disambut’ dengan taman yang hiajau, asri dan teduh. Ada pohon besar di halaman rumah. Terdapat juga kolam ikan yang dipenuhi ikan mas kecil-kecil yang berenang ke sana-kemari.

Ninik dikenal sebagai pionir penghijauan dan pengelolaan sampah di Kelurahan Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan. Kampung yang awalnya kekeringan di musim kemarau dan banjir ketika musim hujan berubah menjadi hijau dan segar. Tidak hanya rumah warga yang hijau, masyarakat juga menanami lahan-lahan kosong dan tepi kali. Keberhasilan membangun kampung hijau mangantarkan Rawajati memenangkan berbagai penghargaan kampung hijau mulai dari tingkat RT, RW, DKI dan nasional.

DSCN9058

Selanjutnya Ninik menginisiasi pengelolaan sampah. Dimulai dengan pemilahan sampah organik dan unorganik, lalu pengelompokkan sampah yang bisa dijual. Saat itulah Ninik menggagas ide Tabungan Sampah Kering (TASAKE) yang menjadi cikal bakal berdirinya Bank Sampah Induk Gesit (BSIG) pada Februari 2017. BSIG kini membawahi 392 bank sampah unit di seluruh wilayah Jakarta Selatan.

sumber beritajakarta id
Peresmian BSIG, sumber foto: beritajakarta.id

 

Sukses membawa kampung Rawajati ke kancah nasional, Ninik pun diminta menyebarluaskan idenya. Dia menjadi pembicara di berbagai forum yang membahas mengenai kampung hijau dan pengelolaan sampah. Hampir semua provinsi di seluruh wilayah Indonesia pernah dia kunjungi dengan misi tersebut. Selain itu kampung Rawajati juga dikunjungi ribuan orang, baik pengunjung lokal maupun internasional. Mereka datang untuk belajar demi mengembangkan proyek serupa di wilayah masing-masing.

Berawal dari Program PKK

Memulai aksinya sejak 2001, Ninik awalnya hanya membuat program PKK. “Saya berasal dari Temanggung yang bersih dan hijau. Saat baru terpilih jadi ketua PKK dan membuat program bersama para pengurus, saya katakan ‘Mau enggak ibu-ibu, kalau wilayah kita hijau dan bersih?’ Ternyata mereka menyambut usulan tersebut dengan semangat,” tutur perempuan kelahiran 13 Agustus 1961 ini.

Selama kurang lebih 6 bulan Ninik bersama Ketua RW dan pengurus PKK mematangkan ide penghijauan tersebut. Mereka menyatakan komitmen bersama untuk menghijaukan kampung juga mengunjungi beberapa tempat untuk study banding. Dalam rentang waktu tersebut mereka juga telah memulai dengan menanami lahan di sekitar rumah masing-masing.

Setelah rencana lebih matang dan rumah masing-masing pengurus terlihat hijau, mereka melakukan sosialisasi ke seluruh wilayah RW 03 Kelurahan Rawajati. “Di wilayah kami ada 10 RT. Alhamdulillah semua menyambut baik ide ini, apalagi sudah ada contoh dari para pengurus PKK yang telah menghijaukan rumah masing-masing,” ucap istri dari Nuryanto ini.

Selain menanami lahan sekitar rumah, Ninik juga mengajak warga menghijaukan lahan-lahan kosong termasuk pinggir kali. Siapa yang bertugas menanami tempat-tempat tersebut?

“Kami membuat tiga kelompok tani yaitu Benih Tani, Kembang Jati dan Anggrek. Kelompok ‘Benih Jati’ yang bertugas menanami lahan-lahan kosong tersebut. Anggotanya didominasi para pensiunan. Meskipun usia mereka 60-an tahun (kala itu dan saat ini sekitar 70-80 tahun) mereka sehat, kuat dan rajin menghijaukan lahan sekitar RW kami,” tambah Ninik seraya menambahkan informasi bahwa tiga kelompok tani tersebut lantas bergabung menjadi gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Jati Mandiri dan berhasil menyabet penghargaan sebagai Gapoktan Teladan 2017.

Setelah memiliki gapoktan, Kampung Rawajati mendapat banyak bantuan dari pemerintah. Di antaranya mendapat bibit gratis serta modal untuk mendirikan Koperasi Tani pada 2010. Berawal dari hibah dana dari Departemen Pertanian RI sejumlah Rp 150 juta tersebut Koperasi Tani Jati Mandiri berkembang pesat. Saat ini uang yang berputar di Koperasi Tani sudah mencapai Rp 3 miliar. Modalnya pun sudah berlipat menjadi Rp 400 juta.

Segala upaya yang dilakukan Ninik tidak sia-sia. Pada 2004 Kelurahan Rawajati memenangkan penghargaan sebagai Kampung Agrowisata tingkat DKI Jakarta. Setahun kemudian mereka juga menggondol juara pertama Kampung Agrowisata tingkat nasional.

sataywinnie3
Asrinya kampung Rawajati, sumber foto: satyawinnie.com

Mengelola Sampah Mandiri

“Saya sebenarnya sudah konsen masalah pengelolaan sampah ini di awal menjadi ketua PKK pada 2001. Namun saya pikir kalau langsung mengajak masyarakat mengelola sampah, mereka akan menolak. Sampah kan identik dengan hal yang kotor, tidak banyak orang suka bersinggungan dengannya. Kesadaran masyarakat akan pentingnya mengelola sampah saat itu juga belum ada, makanya saya memilih memulai program penghijauan,” papar Ninik.

Lalu sejak kapan Ninik memulai program pengelolaan sampah? “Saat masyarakat mulai kesulitan menemukan media tanam sekitar tahun 2003,” jawabnya. Awalnya masyarakat menanam dengan memanfaatkan tanah yang ada di sekitar. Lama-lama semua lahan sudah tertutup tanaman dan pot, sementara program penghijauan masih terus berjalan. Ketika itulah muncul keinginan untuk membuat kompos. Ninik menangkap kebutuhan tersebut sebagai peluang mengajak masyarakat mulai mengelola sampah secara mandiri.

Ninik lalu mengundang praktisi yang mengajarkan membuat kompos. Mereka memulai program memilah sampah, sampah organik diolah menjadi kompos, sampah non organik dijual ke bank sampah. Perlahan masyarakat merasakan keuntungan memilah sampah. Mereka jadi punya stok kompos, jumlah sampah berkurang dan mereka mendapat uang.

“Setiap orang yang ingin menyetor sampah mendapat buku tabungan sampah kering (TASAKE). Setiap kali setor, sampah mereka dihitung lalu dibeli, uangnya mereka tabung. Dengan begini orang merasakan manfaat uangnya. Biasanya masyarakat mengambil tabungan mereka menjelang lebaran atau ketika anak hendak masuk sekolah,” tutur ibu tiga anak ini.

Hasil TASAKE ini lumayan. Ada salah satu nasabah yang tinggal di sebelah masjid dan rajin mengumpulkan sampah, khususnya botol dan gelas air kemasan. Dalam waktu satu tahun tabungannya sejumlah Rp 6 juta.

20191110_171208 (1)

Sampah-sampah kering yang dikumpulkan oleh bank sampah lalu didistribusikan ke pabrik dan tempat-tempat lain yang menerima pembelian sampah. Lalu timbul kendala yakni harga sampah yang berbeda, misalnya ada yang membeli 1 kg koran Rp 1000, ada juga yang hanya Rp 500. Muncul keinginan mendirikan bank sampah induk yang diwujudkan dengan pendirian Bank Sampah Induk Gesit (BSIG) diresmikan dua tahun yang lalu.

sumber saytawinnie
sumber foto: setyawinnie.com

BSIG hingga Oktober 2019 memiliki 392 nasabah unit. Nasabah unit ini merupakan bank-bank sampah kecil tempat masyarakat menyetorkan sampah kering mereka. Umumnya bank sampah unit ini dikelola oleh instansi, sekolah dan masyarakat.

Dengan pengelolaan sampah mandiri seperti yang dilakukan warga Kelurahan Rawajati, 90% sampah sudah dikelola sendiri. Sejumlah 60% sampah organik diolah menjadi kompos atau dimasukkan lobang biopori, semetara 30% sampah non organik didaur ulang dan disetorkan melalui bank sampah. Tapi, tambah Ninik, masih ada sekitar 10% residu sampah, seperti ranting-ranting pohon, diapers, baju-baju atau kain rusak, termasuk kasur bekas dan furnitur lain.yang tidak bisa mereka kelola. Residu ini yang perlu dikelola oleh pemerintah.

Delapan belas tahun berkecimpung di dunia penghijauan dan pengelolaan sampah, termasuk menjadi ketua PKK, ketua Gapoktan Jati Mandiri dan ketua BSIG, Ninik tidak mendapat gaji sepeserpun. Meskipun begitu dia mengaku mendapat banyak hal yang jauh lebih berharga dibanding uang.

“Yang jelas saya senang keinginan menjadikan kelurahan Rawajati sebagai kampung wisata terpenuhi. Mimpi saya memiliki lingkungan yang hijau, bersih dan indah juga sudah tercapai. Ke depan, saya ingin terus mengkampanyekan gaya hidup zero waste yang bisa diawali dengan memroduksi atau menyantap makanan secukupnya dan mengolah sisa makanan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Saya yakin jika semua orang mau peduli, kita bisa ciptakan kehidupan yang lebih baik,” pungkasnya.

Berkemah di Curug Cijalu

Weekend kemarin kami sekeluarga berkemah di di Curug Cijalu, Subang. Lokasinya dekat sekali dengan Purwakarta. Kami berkemah bersama komunitas Kemah Keluarga Indonesia (K3i).

Lokasinya seger. Tenda kami dikelilingi pohon pinus yang menjulang tinggi. Kalau melihat sekeliling, seakan kita di dalam ceruk yang dipagari pepohonan yang tumbuh diatas tebing rendah.

Di lokasi perkemahan disediakan kamar mandi dan mushola. Juga ada penjual makanan yang tidak jauh dari tenda kami. Air mudah diakses. Semalam juga tidak ada nyamuk.

Hanya berjalan kurang lebih 500 m, kita akan sampai di Curug Cijalu. Jalannya naik turun berupa jalanan berbatu. Airnya segar, pemadangannya indah. Langitnya biru cerah menambah indah suasana.

Alhamdulillah hapeku tidak ada sinyal, tidak ada listrik juga buat nge charge hp. Jd hp kami matikan, anak-anak main dengan apa yang ada.

Kelebihan kemah bersama komunitas ada teman-teman baru. Kadang anak-anak cocok kadang juga enggak. Seharian pas hari Sabtu kami jalan-jalan mengelilingi area perkemahan, ke air terjun, lihat pohon, kayu, main denga semua yang ada. Malamnya mengelilingi api unggun bersama. Lili dan Sofie senang sekali berbagi marshmallow untuk dipanggang.

O iya pas Sabtu siangnya ada acara sharing dari om Chepy, pendiri K3I mengenai macam-macam tenda dan flysheet. Jadi, jangan khawatir kalau belum pernah camping. Sewa atau pinjam alat aja atau bahkan bawa aja seadanya yang ada di rumah. Nanti pelan-pelan belajar dan kalau ada dana bisa nyicil beli satu-satu. Kami jg blm punya alat apa2. Perlengkapan berkemah saat di US kami tinggal di sana semua ☺

Hari minggunya kami senam sama-sama setelah itu ada game, jalan lagi ke air terjun, main air lalu masak dan makan sama-sama. Begitu saja, sih, kegiatannya. Main, jalan-jalan, nasak, makan. Awalnya sih si Sofie malam berkemah tapi setelah merasakan pengalaman di sana, dia menikmati juga. Kalau Lili memang sudah suka berkemah dan sejak berangkat sudah tidak sabar tiba dia sana.

 

jalan-jalan ke Bali

Hari Pertama: Penuh Drama 🙂

Hari pertama diawali dengan serangkaian drama ☺ Supir gocar yg lupa isi kartu tol dan kehabisan bensin. Kena macet di tol karena ada kecelakaan. Baru pertama coba pindah destinasi ke stasiun Tambun (dan ternyata, bisa!). Mengejar kereta comuter ke Manggarai yang pas banget datang (kalau kami telat 5 menit aja, kami mesti nunggu kereta sejam kemudian dan mungkin akan terlambat mengejar pesawat).

Di kereta komuter, Ihsan muntah. Padahal jarang banget bocah itu mabuk. Untung tidak lama kemudian kami sampai Manggarai, segera mengejar kereta bandara. Hanya ada waktu 45 an menit, mesti nyebrang dan jalan kurang lebih 15 menit. Gak sempat beli makan (padahal Lili kelaparan), untung sempat makan roti dan air putih. Alhamdulillah kereta sepi, proses beli tiket dll berjalan lancar. Tak lama kami sudah duduk manis di kereta.

Kereta bandaranya sangat menyenangkan angkan. Bersih, rapi, cepat. Anak-anak senang sekali. Ihsan sudah ganti baju dan mengeksplorasi kereta dengan penuh semangat. Waktu sejam menuju bandara terasa sangat cepat. Tidak terasa kami sudah sampai.Turun dari kereta bandara, kami masih naik skytrain. Seneng, deh, bandara Soeta sekarang tidak beda dengan bandara2 besar dunia lainnya. Dari stasiun bandara naik skytrain ke terminal 2, check in bagasi, dan..akhirnya sempat juga makan siang. Usai makan siang, dah dipanggil naik pesawat. Baru sadar kalau kemungkinan sampai Bali dah waktu Magrib, kami memutuskan shalat di pesawat. Alhamdulillah penerbangan tepat waktu dan kami sampai bandara Ngurah Rai pas senja hari.Melakukan perjalanan selalu penuh kejutan. Apalagi bersama-sama krucil-krucil. Tak heran kalau banyak orangtua enggan karena kesannya repot dan capek. Tapi buat kami, ini salah satu ‘sekolah’ buat anak-anak. Mencoba aneka jenis transportasi, merasakan jalan kaki, jauh, capek, lapar yang artinya mesti berlatih sabar. Saling membantu, saling tenggang rasa kalau salah satu anggota keluarga sedih, capek, sakit. Saling menghibur mengusir kebosanan. Hal-hal itu yang bikin jalan-jalan seperti candu 😊 Belum selesai perjalanan yang ini, rasanya dah ingin merencanakan perjalanan yang akan datang 😀

Hari Kedua: Pantai Sanur

Hari kedua, aku dan anak-anak mengunjungi teman masa kecil sekaligus tetangga mepet rumah di Banyuwangi, Ida Nurjannah. Selama hampir 23 tahun kami hanya bertemu sesekali kalau pas kebetulan lebaran sama-sama pulang ke Banyuwangi. Tapi setiap lebaran aku selalu sempatkan mengunjungi Ibunya Ida di rumah beliau.Uniknya anak pertama Ida usianya hanya selisih 2 hari dengan Sofie. Anak kedua dia juga hanya selisih 6 bulan dengan Lili. Sebuah kebetulan yang tidak disengaja, orang kami nggak pernah janjian hamil, hehe.

Sesaat setelah bertemu, anak pertama Ida, Azka, sudah menunjukkan karakter yang luar biasa sebagai kakak. Dia menjemput kami di depan gang dan langsung menyambut Lili dan Ihsan. Selama kami berkunjung Azka juga sabar melayani Aufa, adiknya dan membantu ibunya ini dan itu. Saat kami bersiap ke Pantai Sanur, sore harinya, Azka tidak segan menuntun Lili dan Ihsan.

“Aku suka rambut Lili, bagus keritingnya,” ucap Azka.

Aku suka sekali dengan karakter bocah 11 tahun ini yang lugas tapi sopan. Sesekali dia bilang, “Aku tidak bisa bahasa Inggris, jadi nggak tahu mau ngomong apa.” ☺ Beberapa kali dia juga tanya arti beberapa kata dalam bahasa Inggris.

Kami menghabiskan kurang lebih 2 jam di rumah Ida, sebelum ke pantai Sanur. Bertemu teman lama selalu menyenangkan. Kami saling bercerita, tentang masa kecil, saat masih sekolah, perjuangan para lajang dan pahit getir membangun rumah tangga di awal-awal pernikahan. Alhamdulillah Ida dan suaminya memiliki usaha sendiri, yaitu, mengemas dan menjual oleh-oleh khas Bali. Yang berencana ke Bali dan males repot-repot cari oleh-oleh bisa kontak fb yang kumention di atas ya.

Sorenya kami ke Pantai Sanur. Pantainya, sih, tidak terlalu istimewa. Tapi mengisi waktu bersama teman, melihat anak-anak main bersama seperti sedang melihat masa depan. Bahwa anak-anak ini kelak akan dewasa dan mereka akan meniti jalan masing-masing yang mungkin berbeda. Tapi menjaga persahabatan, saling silaturahmi tidak pernah membuat rugi. Dengan berkunjung kita bisa saling belajar dan berbagi pengalaman. Dengan begitu kita bisa lebih bersyukur dan saling menyemangati. Ini juga mutiara yang selalu aku cari dari setiap perjalanan.

Terimakasih Ida yang sudah menjamu dengan sangat baik dan memberi banyak oleh-oleh (termasuk boneka hello kitty buat Lili). Semoga rezeki makin banyak dan berkah!

Hari Ketiga: Pantai Kuta

Salah satu ikon kota Bali ini sebenarnya tidak kumasukkan ke daftar tempat yang ingin kukunjungi. Mengapa? Pengalaman saat terakhir aku singgah ke pantai ini, suasananya terlalu ramai dan pemandangannya kurang eksotik. Tapi, kemarin, tanpa sengaja, kami malah menghabiskan seharian di sini.

Ceritanya, saat browsing tempat menarik untuk dikunjungi di sekitar Jimbaran, tanpa sengaja aku menemukan info soal BSTS (Bali Sea Turtle Society), semacam komunitas konservasi penyu. Mereka punya jadwal melepas tukik secara rutin yang biasanya diinformasikan melalui FB mereka. Ndilalah (apa ya bahasa Indonesianya 😀 ) kok, ya, jadwal terbaru mereka melepas tukik adalah tgl 23 Oktober atau sehari setelah aku tahu info soal BSTS ini.Lalu aku cari-cari info mengenai komunitas ini, apa yang mereka lakukan dan kapan jadwal pelepasan tukik lagi. Lha, kok, nggak ada info yang jelas. Si Sofie dah terlanjur kukabari soal komunitas ini, dan sebagai pecinta hewan, sudah kuduga kalau dia bersikukuh ingin ke sana. Aku coba telpon ke nomor hp yang tertera, tidak ada yang mengangkat. Aku juga kirim pesan, tidak dibalas. Ya udahlah tetap kujadwalkan ke sana, dengan asumsi meskipun mereka tidak ada jadwal melepas tukik, pastinya mereka punya kandang penyu atau minimal pusat informasi mengenai konservasi penyu yang sudah mereka lakukan.

Dengan semangat 45 kami menuju ke sana yang dalam proses perjalanan kembali terjadi ‘drama’. Hehe. Tas ranselnya Sofie ketinggalan di mobil grab yang kami naiki. Pas aku telpon si pengemudi, dia bersikeras sampai bersumpah kalau tidak ada barang yang tertinggal. Oke telpon kututup baik-baik lalu kuminta Sofie merunut kejadian pagi itu, dan dia tetap bersikukuh kalau tas dia ada di bagasi mobil grab. Aku pun kembali menelpon si pengemudi, kujelaskan pelan-pelan, dia baru sadar kalau yang aku cari itu tas ransel. Dia mengira aku mencari mobil mainannya Ihsan 😧 (siapa juga yang mencari mainan, kesel banget sebenarnya tapi ya kutahan-tahan, orang bukan dia yang salah)

Singkat kata, masalah ransel dah beres, aku baru tahu kalau si BSTS ini tempatnya di pinggir pantai Kuta. Dan tidak ada kantornya, cuma semacam halaman kecil dengan patung penyu raksasa, sebuah pos gardu dan bedeng-bedeng (bangunan semi permanen seperti yang biasa dipakai tukang bangunan). Bertanyalah aku ke seorang wanita di dalam pos gardu. Dia bilang hari ini tidak ada pelepasan tukik, nggak ada display tukik dan tidak ada apapun yang bisa dilihat. Kecewalah kami. Aku beri masukan ke petugas tersebut, setidaknya kasihlah informasi yang jelas di website atau FB mereka (katanya mereka punya IG juga tapi dari googling aku cuma diarahkan ke FB mereka), atau kalau ada orang yang tanya tolong direspon, biar nggak ada yang kecewa seperti yang kami alami.

(Sekitar 30 menit aku meninggalkan post BSTS itu pesan yang kukirim via wa ke non hp yang tertera di FB BSTS dibalas. Kuranglebih isinya mereka komunitas yang hanya menetaskan dan melepaskan tukik ke laut. Tidak ada display tukik dan mereka tidak punya jadwal tetap karena proses menetasnya tukik juga tidak pasti. Aku pun mengucap terimakasih atas info tersebut)

Gagal sudah rencana melihat penyu. Sebetulnya rencanaku hari ini, setelah ke BSTS, kami mau ke Pantai Melasti yang kabarnya mirip pantai Pandawa. Membandingkan pantai Pandawa dan Padang-padang yang aku kunjungi 2014 lalu dengan Kuta rasanya Kuta jadi kurang menarik. Dua pantai yang kusebut itu memiliki pemandangan yang lebih alami, air lautnya pun berwarna toska bening. Tapi melihat anak-anak yang sudah tidak sabar pingin main pasir dan air, ya sudahlah sepertinya aku mesti merelakan untuk tidak ke Pantai Melasti. Tapi sebelum memutuskan, aku ajak Sofie musyawarah dulu, kujelasan kalau sebenarnya Ibu pingin kita ke pantai lain tapi itu akan butuh waktu ke sana. Kata dia, “Kenapa kita nggak main di pantai ini aja?”
Aku jelaskan, kalau main di pantai ini dia mesti hati-hati karena ombaknya besar. Dan, karena Ihsan rewel karena ngantuk, Ibu nggak bisa menemani ke pantai, yang artinya dia harus tanggungjawab jaga adiknya.
“I can do that,” jawabnya.

Okelah, jadinya kami main di Kuta hampir seharian. Pantai Kuta ini agak berbeda dengan Pantai Sanur yang sehari sebelumnya kami juga kunjungi. Di Pantai Sanur lebih berpasir, sedangkan di Kuta, alas tempat anak-anak berenang dipenuhi pasir berbatu dan potongan karang. Efeknya apa? Baju renang anak-anak tidak dipenuhi pasir sebagaimana saat renang di Pantai Sanur. Hal sepele seperti ini menjadi penting buat ibu-ibu seperti aku 😊

Hampir 3 jam, dua bocah itu main pasir dan berenang. Satu setengah jam pertama Ihsan tidur, setengah jam terakhir baru dia bergabung main pasir dan mengumpulkan kerang. Menjelang jam 4 sore kami bersiap pulang. Melihat Lili ngantuk dan capek, kebetulan, kok, ya aplikasi grab lagi ngadat kuputuskan naik taxi ke hotel. Begitu taxi jalan aq tanya, kok argo nggak hidup, kata supirnya lagi rusak. Lha, terus gimana tau biayanya, kata supirnya ongkosnya Rp 270 ribu! What??? Tadi aja pas berangkat aq cuma bayar Rp 47 ribu masak pulangnya segitu mahal. Kata dia, jalannya muter dan macet. Aq tegas aja bilang kalau aku nggak mau bayar segitu dan memilih turun. Dia coba merayu dengan menurunkan harga mulai 250, 200, sampai terakhir 150. Aku bilang, aku cuma mau bayar maksimal 90ribu dan dia nggak mau. Aku bersikukuh turun dan dia kukasih 10ribu (karena kami sudah jalan sekitar 300m). Turun dari taxi, aq coba pake grab lagi dan alhamdulillah langsung dapat. Mau tahu berapa ongkosnya? 76 ribu rupiah!

Pengalaman berharga, ya. Alhamdulillah kami sampai di hotel dengan lancar dan selamat. Dan Lili tidur selama perjalanan ke hotel. Rupanya dia capek banget. Senang melihat anak-anak puas bermain meskipun kami tidak jadi mengunjungi Pantai Melasti. Semoga lain waktu bisa ke sana!