Ternyata, bisa, lho, umrah tanpa memakai jasa travel Dengan biaya yang jauh lebih murah. Bagaimana caranya?
Tiada henti syukur saya dan suami panjatkan bahwa kami berdua diberi kesempatan mengunjungi tanah kelahiran Rasulullah SAW beserta rumah-Nya yang mulia di bulan yang istimewa.

Pekan pertama di bulan Ramadan 2024 kami melakukan umrah mandiri. Apakah umrah mandiri itu? Sebagian orang menyebutnya sebagai umrah backpaker, yaitu perjalan umrah yang kami 90% kami urus sendiri. Kok, hanya 90%? Ya karena 10%-nya kami menggunakan travel, yaitu untuk mengurus visa umroh. Kami mengurus visa umroh melalui kenalan saya di grup umroh mandiri dan visa kami dikeluarkan oleh salah satu travel di Bekasi.
Bagaimana persiapan umroh mandiri?
Yang pertama tentu tiket pesawat. Saya membeli tiket promo Saudia sejak Juli 2023 seharga 4.8jt PP/orang. Sayang sekali karena kurang teliti, tiket tersebut di-jadwal ulang oleh maskapai dan kami tidak berhasil mengurusnya. Alhamdulillah uang dikembalikan utuh tapi kami mesti berjuang membeli tiket pengganti yang akhirnya kami putuskan naik Scoot saat berangkat dari Jakarta ke Jeddah dan Etihad saat kembali ke Indonesia.
Singkat cerita, Alhamdulillah perjalanan lancar dari Jakarta transit ke Singapura lanjut ke bandara King Abdul Azis, Jeddah. Dari bandara Jeddah kami naik kereta Al Haramain High Speed Railway (Alhamdulillah dapat rezeki harga tiket diskon 50% yg seharusnya 69 Saudi Arabia Riyal/SAR jadi 34.5 SAR saja) ke stasiun Jeddah. Dari stasiun Jeddah kami naik shuttle bus (nomr 7A) dengan membayar 4 SAR.
Karena sedang banyak pembangunan di sekitar Masjidil Haram, jadi saat turun dari bus kami lanjutkan dengan jalan kaki kurang lebih 20 menit untuk sampai di Masjidil Haram/Al Haram.
Saat itu jam 02.00 dini hari namun Al Haram tampak ramai. Lautan manusia berbaju putih-putih. Para petugas yang berbaju loreng menjaga pintu-pintu masuk Al Haram. Begitu melihat Al Haram, saya tidak bisa melukiskan perasaan. Haru, bahagia, ditimpali rasa sedikit tak percaya bahwa kami bisa sampai di tanah ini. Masya Allah, hanya dengan kuasa-Nya lah kami bisa sampai di sini.








Di Makkah, kami menyewa apartemen di kawasan Ajyad. Karena datang setelah tengah malam kami memutuskan langsung melakukan prosesi umrah. Oya kami mengambil miqat si pesawat saat melewati Yalamlam. Suami sudah memakai baju ihram sejak di Singapura. Pilot mengumumkan saat pesawat melewati Yalamlam, jadi jamaah yang mau miqot bisa berniat ihram.
Oya sebelumnya kami menitipkan barang terlebih dahulu di salah satu kios di Safwa shopping centre/Al Safwa tower. Lalu kami melakukan proses umrah yakni tawaf, dilanjutkan dengan sai, dan diakhiri dengan tahalul yang ditandai dengan mencukur rambut. Alhamdulillah beberapa menit sebelum Subuh kami menyelesaikan prosesi umrah.
Usai shalat Subuh kami berjalan-jalan di sekitar Al Haram, mengenali pintu-pintunya dan menikmati suasana. Masya Allah, gambar masjid yang biasanya saya lihat di foto atau video sekarang terpampang di depan mata. Orang-orang lalu lalang, memakai pakaian yang umumnya sama, baju ihram putih-putih dan gamis bagi para wanita. Kulit mereka berbeda warna, paras wajahnya juga mewakili banyak ras/suku bangsa tapi identitas kami semua SAMA yaitu seorang Muslim yang ingin menyempurnakan ibadah dengan umrah/haji kecil.
Sekitar jam 8 pagi, kami menuju apartemen. Badan mulai terasa penat. Satu-satunya yang saya inginkan saat ini adalah tidur. Apartemen kami sederhana, dengan 3 kasur (kami hanya huni berdua) dan kamar mandi tepat di samping kamar. Kami langsung tidur sampai waktu shalat Dhuhur.
Kami menghabiskan 4 hari di Makkah. Jadwal harian kami, Sahur di apartemen lalu shalat Shubuh di Al Haram hingga waktu Syuruq. Lalu kami kembali ke apartemen dan istirahat sampai Ashar. Laku Ashar, Magrib (sekaligus buka puasa) lanjut tarawih di Al Haram san kembali ke apartemen sekitar jam 12 tengah malam. Hari kedua kami melakukan ziarah/city tour, mengunjungi Jabal Nur (Gua Hira) dan musium Wahyu, Jabal Tsur (gua tempat Rasullah SAW bersembunyi dari kejaran kaum Qurays sebelum hijrah ke Madinah), Jabal Rahmah, Arafah, dan mina. Dalam perjalanan umrah ini saya sengaja membawa dan membaca kembali Shirah Nabawiyah/sejarah Rasulullah jadi saat pemandu menceritakan terkait tempat-tempat bersejarah tersebut kita bisa lebih memaknainya.
Hari ke-4 saatnya tawaf wada,’ sedih sekali akan meninggalkan Al Haram dan tidak tahu kapan kami akan kembali ke sini. Tidak bosan-bosannya kami berdoa agar Allah berkenan memanggil kami untuk berkunjung kembali untuk melaksanakan ibadah haji.
Hari berikutnya kami menuju Madinah, naik mobil van berisi 7 orang dari berbagai negara. Kami membayar 70 SAR per orang. Di sepanjang perjalanan kami melewati gurun pasir, dengan onta dan kambing/domba gurun. Sedikit sekali terlihat rumah/bangunan. Gurunnya berwarna cokelat, tampak tandus dan kering. Di beberapa tempat terlihat rumpun hijau yang biasanya karena ada ada oase/sumber air. Saya membayangkan jalan gurun itu yang dahulu dilalui Rasulullah SAW dan para sahabat. Saat ini jalannya sudah mulus dan hanya membutuhkan sekitar 5-6 jam dari Makkah ke Madinah. Dulu membutuhkan waktu berhari-hari, juga mesti menghadapi badai gurun, dll.
Kami hanya berhenti sekali di sebuah masjid untuk melaksanakan shalat Dhuhur. Kami berdua turun di depan Masjid Quba karena hotel yang kami sewa berada sekitar 5 menit jalan kaki sari Masjid Quba. Setelah sampai di hotel, kami check in, istirahat sebentar lalu menuju Masjid Nabawi.
Lanjut ke bagian 2..