Pasien Rewel… atau Cerdas?

Dua hari terakhir Ibuku masuk rumah sakit lagi karena gejala stroke yang berulang. Tiga pekan terakhir tekanan darah beliau memang cenderung tinggi. Terapi obat juga sempat terhenti karena kami mengira setelah obatnya habis tidak perlu menebus obat lagi. Belakangan kami baru sadar kalau penderita darah tinggi perlu rutin minum obat.

Singkat cerita, stroke Ibu kambuh dan segera kami larikan ke UGD RS AH. Sampai di sana beliau segera diperiksa dan diputuskan opname. Kami pun mengurus administrasi, menemani ibu rontgen, baru masuk kamar. Sesiangan itu kami menunggu visit dokter spesialis saraf yang datang sekitar pukul 2 siang dengan waktu kunjungan kirang dari 5 menit. Aku masih syok saat ibu dokter berlalu sementara aku belum puas konsultasi.

‘Ah biasa memang kalau di RS itu dokter yang berkunjung cepat sekali,” ujar kakakku.

Kebetulan setelah itu sepupuku yang juga berprofesi sebagai dokter menelpon san menanyakan perkembangan kesehatan ibu. Aku langsung komplain mengenai kunjungan dokter yang sangat singkat dan kurangnya waktu untuk konsultasi. Dia menyatakan semasa pandemi ini memang ada kecenderungan dokter spesialis membatasi kunjungan bahkan ada yang tidak mau menyentuh pasien sama sekali. Dia menghibur dengan menyampaikan kalau minimal Ibu sudah mendapat injeksi obat. Aku lalu bertanya-tanya kapan Ibu mendapat injeksi obat karena merasa tidak mendapat informasi apapun. Di akhir pembicaraan sepupuku tersebut menjanjikan akan mengontak bagian manajemen RS agar kami mendapat informasi lebih lanjut.

Sorenya, ada perawat yang datang ke ruangan dan menjelaskan penanganan yang sudah diberikan. Mulai dari injeksi obat saat Ibu masuk UGD, obat yang diberikan siang hari dan lain-lain. Si Mbak perawat juga menyatakan kalau kami bisa konsultasi dengan dokter spesialis kunjungan esok.

Pagi ini ketika perawat datang untuk memberikan obat injeksi aku berinisiatif bertanya jenis dan tujuan pemberian obat tersebut. Juga apa standar menilai ibu sduah ada peningkatan yang menjadi patokan kapan beliau bisa pulang.

“Dokter yang akan memutuskan kapan pasien boleh pulang, Bu!” jawab perawat singkat, menjawab pertanyaanku yang terakhir.

Aku juga kembali menanyakan kesempatan berkonsultasi dengan dokter spesialis, jawabnya, “Kalau ingin konsultasi, sebaiknya Ibu bertemu dokter di ruang depan karena terkadang dokter tidak ingin menjelaskan kondisi di depan pasien,” jawabnya.

Hari itu saat bagian gizi mengantarkan makanan aku juga bertanya, apakah bisa bubur nasi yang dihidangkan diganti dengan nasi biasa, ternyata bisa. Siangnya ketika dokter spesialis berkunjung, beliau benar meluangkan waktu buatku untuk berkonsultasi. Bahkan ketika ibu menyatakan ingin segera pulang, beliau merespon secara positif dengan memastikan bahwa keluhan-keluhan kemarin sudah hilang sehingga Ibu bisa pulang.

Dan, benar, sore tadi ibu sudah boleh pulang. Kami sekeluarga tentu senamg sekali.

Namun selama dua hari di RS ini aku berefleksi, ‘Kenapa, ya, kita ini kalau dirwat di RS tidak pernah mendapat penjelasan, apa penanganan yang dilakukan, jenis obat yang diberikan dan kondisi seperti apa yang diharapkan bisa dicapai?”

Untuk kasus ibuku, sebenarnya informasi yang kubutuhkan sederhana saja. Kubayangkan, saat masuk UGD, perawat atau dokter akan memperkenalkan diri sebelum menanyakan gejala-gejala. Ini penting buat keluarga pasien untuk mengetahui otoritas orang yang menangani keluarga kita. Lalu setelah mendengar penuturan kami dan memutuskan, “pasien ini perlu dirawat ya pak/bu!” aku berharap dokter tersebut akan menjelaskan penanganan apa yang akan diberikan. Misalnya setelah ini pasien akan diberikan injeksi obat X untuk mencegah kerusakan yang lebih parah (misalnya). Setelah itu pasien akan dirontgen untuk mengetahui bla bla. Lalu pasien akan diperiksa dokter spesialis dan akan diberikan informasi lebih lanjut. Harapanku juga dokter spesialis setelah memeriksa akan memberikan informasi sesuai kondisi pasien maka akan diberikan penanganan ini dan itu, obat X dan Y sampai kondisi tertentu sehingga pasien bisa pulang atau perlu penanganan lebih lanjut.

Apakah keinginan tersebut terlalu muluk, pertanda pasien rewel..atau cerdas?

Mengenali Emosi

Sepekan terakhir aku mengikuti training Disiplin Positif (DP) yang diadakan sekolahnya Sofie (insya Allah) yaitu Peacesantren Welas Asih (PWA). Nah, materi hari ini membahas tentang Prinsip DP ke-6 yaitu MENGENDALIKAN DIRI bukan mengendalikan orang lain. Untuk bisa mengendalikan diri, kita mesti mengenali emosi kita sendiri. Saat kita mampu mengenali emosi seharusnya kita mampu mengendalikannya.

Membahas tentang emosi, aku jadi teringat film anak-anak yang sering banget ditonton Lili saat usia 2-5 tahun yaitu Daniel Tiger’s Neighborhood. Film ini sangat bagus untuk mengajarkan anak-anak mengenali dan menyikapi emosinya. Topik ini juga menjadi PELAJARAN DASAR dan WAJIB yang diajarkan di Pre-K/ Pre Kindergarden (semacam PAUD di Indonesia).

Lalu bagaimana mengenalkan emosi dan cara menyikapinya pada ANAK usia 3-4 tahun? Ternyata tidak susah lho.

Caranya, dengan memberi nama pada emosi tersebut, memahami dan mengatasinya. Ini contohnya, dalam episode Daniel Feels Sad ada theme song-nya:

“It’s okay to feel sad sometimes, little by little you’ll feel better again!” (Nggak apa-apa kalau sesekali merasa sedih, nanti sedikit demi sedikit kamu akan merasa lebih baik).

lalu ada pesan juga yang disampaikan melalui lagu:

“Asking a question about what happens, it may help!”¬† (Menanyakan mengenai apa yang sedang terjadi, itu mungkin membantu).

Ceritanya ikannya Daniel mati. Dia awalnya belum tahu apa arti ‘mati’. Ayahnya¬† menjelaskan kalau mati itu artinya ‘tidak bernafas’. Lalu Daniel tanya lagi, “Bisa nggak nanti dia bangun dan main lagi?” Ayahnya menjawab, “tidak bisa.” Terus Daniel menangis. Itu yang disebut sad atau sedih.

Lalu bagaimana cara mengatasi rasa sedih? Di episode ini Daniel mengatasi rasa sedihnya dengan menggambar ikan untuk mengenang ikannya yang mati.

Sederhana, kan? Tapi ini bagus sekali untuk dipraktekkan ke anak. Lili karena sudah terlatih di sekolah dan sering menonton Daniel Tiger’s jadi dia sudah biasa melakukan hal ini. Setiap kali dia sedih, dia akan menyampaikan kalau sedang sedih lalu dia melakukan sesuatu. Seeprti saat bangun tidur beberapa hari yang lalu dan kucingnya tidak ada di garasi depan. Dia merasa sedih lalu dia menggambar kucingnya dan memajangnya agar kalau dia kangen, dia bisa lihat gambar kucingnya tersebut. Demikian juga saat dia sedih tidak bisa mengunjungi sepupunya di Banyuwangi karena virus corona, dia lalu membuat kartu bergambar dia dan sepupunya sedang main bersama, disertai tulisan “I miss you.”

Episode mengenai Daniel “Gets Mad” juga menarik. Lagunya begini:

“When you feel so mad that you want to roar, take a deep breath, and count to four. 1..2..3..4…”

(Saat kamu sangat marah dan ingin berteriak, tarik nafas dalam-dalam dan hitung 1..2..3..4..)

Setelah itu pikirkan untuk melakukan sesuatu sebagai gantinya.

Dalam episode ini Daniel dan Pince Wednesday ingin main ke pantai tapi tiba-tiba hujan jadi mereka tidak bisa main. Awalnya Daniel sangat marah, lalu setelah mendengar nasehat ibunya, dia lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghitung 1-4. Setelah itu dia merasa mendingan tapi masih sedikit marah. Lalu ibunya meminta dia berpikir untuk melakukan sesuatu sebagai gantinya. Mereka memutuskan bermain pasir di dalam rumah.

Selain itu masih ada episode-episode lain mengenai emosi seperti rasa frustated (frustasi), jealous (cemburu), scar (takut), left-out (tersisih) dsb.

 

Selain mengajarkan anak mengenali emosinya, ada pesan-pesan lain yang disampaikan melalui film ini. Misalnya,

“When something seems bad, turn it around, and find something good.”(Kalau kamu menemui sesuatu yang buruk, pikirkan bagaimana mengubahnya jadi sesuatu yang baik)

“Use the words” yang artinya gunakan kata-kata atau bahasa singkatnya, “Ngomong, dong! Karena kalau hanya teriak, nangis, marah, ayah/ibu/kakak/teman/ibu guru tidak bisa membantumu!” kurang lebih begitu.

AKu pikir pesan-pesan itu tidak hanya untuk anak-anak usia PAUD karena banyak banget orang dewasa di sekitar kita yang tidak mampu mengenali, memahami dan mengartikulasikan emosi secara tepat. Kita tidak diajari untuk itu. Umumnya kita hanya diminta untuk patuh, nurut, nggak membantah orangtua. Kalau ada rasa sedih, kesal, kecewa kita diminta menahan, jangan diluapkan tapi juga tidak diselesaikan. Jadi tidak heran kalau banyak orang dewasa yang tidak mampu mengendalikan emosinya. Ini menyedihkan sekali.

Hampir mustahil menjadi disiplin tanpa kemampuan mengendalikan emosi. Karena disiplin butuh kemampuan untuk menundukkan diri sendiri. Dan itu hanya bisa dicapai ketika kita paham emosi-emosi apa yang melingkupi kita dan bagaimana mengatasinya.

Jadi, ayo kenali emosi kita masing-masing!

Belajar dari Perbedaan

Suatu hari di bulan Desember, Liliana pulang sekolah dan langsung tanya, “Mommy, do you know what my favorite holiday?”

“Ibu tidak tahu, sayang, what’s your favorite holiday?” Jawabku

“My favorite holiday is Christmas!” Jawabnya ceria.

Lalu kutanya lagi kenapa dia suka natal, jawabnya karena banyak makanan, permen, cokelat dan hadiah-hadiah.

“We have a huge Christmas tree at school, Mommy with a lot of ornaments,” tambahnya.

Memang di sini, sejak akhir November suasana natal sudah terasa, terlihat dari pohon natal di mana-mana, juga lagu-lagu bertema Christmas. Salah satu topik yang dibahas di kelasnya Lili juga mengenai mengenal beragam holiday, khususnya yang dirayakan pada bulan Desember.

“I know you like Christmas, Liliana, but we don’t celebrate Christmas, because we’re moslem,” kataku sambil jongkok biar bisa berhadapan dengannya.

“So, what will we celebrate if we don’t celebrate Christmas?” sambung Liliana yang terlihat sedih.

“We celebrate Ramadan and Eid Fitr. We did stay in the masjid to have iftar or dinner together, remember? When we were stay along the nigh in the masjid for eating, praying and you were playing with your friend?”

“Oh yea, I remembered, Mommy. It kind of fun too. But what we will do at Christmas?”

“During Christmas we will going to New Jersey, Liliana. We’re going to Indonesian conference. You’ll meet a lot of friend over there. You’re going to field trip too!”

“Field trip, wow, where am I going on field trip Mommy?” Matanya membesar penasaran.

“It kind of game Centre!” jawabku

“Woo, I can’t wait to go over there,” jawab Liliana lagi.

Percakapan selesai.

Beberapa hari kemudian, saat pulang sekolah Liliana laporan lagi. “Mommy, today my teacher asked me, ‘Liliana are you celebrate Christmas?’, and I said, ‘No, Mrs Gortz, I’m not because I’m a moslem’.”

“That’s great, Sayang!” Pujiku

“But, Mommy, actually I’m still like Christmas,” Jawabnya sedikit murung.

Aku peluk dia. Lalu kududukkan dia di pangkuanku. Aku jelaskan bahwa boleh saja Liliana suka Christmas karena merayakan natal memang terlihat menyenangkan dengan aktivitas menghias pohon natal, menyiapkan kue dan berbagi permen, apalagi mendapat banyak hadiah. Siapa, sih, yang tidak suka hadiah. Tapi, kita tidak merayakannya, tegasku. Kenapa? Karena Christmas milik orang Kristen sedangkan kita Muslim dan kita punya hari raya sendiri. Kita hormati teman dan tetangga kita yang merayakannya, tapi kita tidak merayakannya. Kita bisa beli permen, kue-kue dan hadiah setiap saat tanpa harus merayakan natal.

Liliana balik memelukku erat. Di usianya yang menjelang 5 tahun, dia memang lagi suka-sukanya mengekspresikan perasaan, termasuk kesukaannya memelukku setiap pulang sekolah.

Mungkin dia belum bisa memahami sepenuhnya penjelasan dan aku juga tidak memaksakan dia harus paham sekarang. Tahun ini pertama kalinya dia masuk sekolah. Ada banyak hal baru yang dia pelajari. Tak mudah juga menjadi minoritas muslim yang memiliki identitas berbeda dengan kebanyakan teman dan guru-gurunya di sekolah. Justru dengan perbedaan ini aku berharap dia belajar mengenal diri dan lingkungannya.

Hal-hal seperti ini menjadi tantangan orangtua dalam membesarkan anak di Amerika Serikat. Tidak mudah membangun identitas muslim namun juga berharap mereka bisa beradaptasi baik dengan lingkungan mereka. Namun, aku yakin, sih, dengan pendampingan orangtua, kesediaan untuk selalu berdiskusi, kebersamaan menjalankan ibadah dan nilai keislaman, pemahaman itu akan hadir dengan sendirinya.

Hal-hal ‘Kecil’ dalam Hidup

Pernah, nggak, sih, kepikiran bahwa ada banyak hal-hal dalam hidup ini yang sepertinya ‘kecil’ tapi penting? Aku, terus terang agak jarang. Seringnya hal-hal ‘kecil’ ini muncul, mendadak, tiba-tiba dan ujung-ujungnya menghadirkan pikiran, “Kok, selama ini nggak kepikiran, sih?”

Seperti, suatu ketika Sofie minta tolong aku membukakan botol air minum kemasan. Saat aku lagi repot, dia minta tolong Mas Sigit, eh, kok, ya, kebetulan Mas Sigit lagi ribet ngerjain sesuatu. Aku baru kepikiran, “Ini bocah udah berapa tahun sih, usianya, masak buka botol air minum sendiri saja belum bisa?”

Lain waktu, aku lihat si bocah (Sofie), lagi asyik baca buku atau main komputer dan terlihat kukunya panjang-panjang serta hitam. Spontan aku bilang, “Sofie, mbok, ya, kamu potong kuku! Itu sudah panjang-panjang dan hitam.” Lalu aku sodorkan gunting kuku, dan apa yang terjadi?

Dia tidak bisa potong kuku sendiri!

Selain dua hal itu, masih panjang deretan hal-hal ‘kecil’ yang dalam pikiranku dia mestinya sudah bisa melakukan sendiri di usia 10 jelang 11 tahun (waktu itu). Namun kenyataannya, dia masih kesulitan. Termasuk menyisir rambutnya sendiri (karena terbiasa pake jilbab jadi dia tidak merasa perlu merapikan rambutnya), mengunci rambut (katanya sakit kalau rambutnya dikuncir), membuka kaleng, menuang saus botol ke mangkuk kecil, memegang mangkuk panas dari microwave, menyapu, mengepel, oh my…kenapa daftarnya jadi panjang begini…

Singkat cerita, sebagai ibu-ibu aku bereaksi dengan sikap yang ‘normal’ tapi sebetulnya tidak tepat, yakni ngomel-ngomel sambil sedikit menyalahkan dia. “Masak melakukan hal-hal ‘kecil’ begitu saja nggak bisa, sih, Sofie?”

Kadang aku ‘paksa’ dia melakukan semua hal ‘kecil’ itu secara tidak langsung. Contohnya dengan tidak mau membantu dia membuka botol air minum, biar dia berusaha sendiri. Biar saja dia kehausan, kalau tidak mau berusaha, begitu pikirku.

Tapi lama-lama aku pikir ini bukan cara yang tepat. Terbukti dengan tidak banyaknya peningkatan Sofie mengatasi hal-hal tersebut. Dia juga sering tampak frustasi karena merasa tidak mampu melakukan hal-hal ‘kecil’ itu.

Lalu aku coba cara lain. Kami jadwalkan latihan buat dia. Aku beri waktu dengan memberikan sedikit bantuan, misalnya memberikan minyak rambut sehingga rambut kriwilnya jadi lebih mudah disisir. Demikian juga kami berlatih mengunci rambut. Kuajari teorinya dan dia pelan-pelan praktek sendiri. Saat dia tetap tidak suka mengunci rambut sementara aku pingin rambutnya terlihat rapi, kami menemukan jalan tengah dengan memotong pendek rambutnya.

Demikian juga dengan potong kuku, membuka botol air minum, menuangkan saus dengan rapi, mencuci mangkuk, piring dan gelas punya dia sendiri, dll. Bahkan akhirnya dia bisa mencuci baju menggunakan tangan dia sendiri, dan beberapa waktu lalu dia belajar menjahit (setelah kami beradu argumen hampir setengah jam).

Anakku yang ini memang butuh alasan yang ‘jelas’ untuk melakukan segala sesuatu. Seperti saat aku meminta dia belajar naik sepeda, dia bersikeras, “I’m not an outdoor person Mommy! I won’t enjoy riding bicycle or other activities outside!” Intinya dia bilang tidak mau belajar naik sepeda karena tidak suka kegiatan di luar rumah dan dia tidak menikmati sepedaan seperti sebagian teman-temannya suka bersepeda.

Setelah panjang lebar beradu argumen, akhirnya aku bilang, “Kamu tahu Sofie? Bersepeda adalah kemampuan dasar yang perlu kamu miliki yang tidak hanya berguna untuk main tapi juga untuk keselamataan. Bayangkan jika kamu berada dalam suatu kondisi darurat, di sana tidak ada ayah dan ibu, kamu tidak bisa menyetir dan kamu butuh segera lari. Kalau kamu berjalan dan berlari, kamu tidak punya cukup waktu, sementara di sana ada sepeda. Dalam kondisi seperti ini kemampuan bersepeda menjadi penting untuk menyelamatkanmu.”

Akhirnya dia menganguk, “Okay Mommy, I will do it!”

Demikian juga pas aku membujuk dia belajar menjahit. Awalnya dia jelas-jelas menolak. Hingga aku coba jelaskan bahwa kemampuan menjahit penting karena menutup aurat adalah hal mendasar dalam agama kita. Kalau kamu bisa menjahit, kamu bisa memperbaiki bahkan membuat baju sendiri. Lita tidak tahu di masa depan, bisa jadi kemampuan ini membantumu untuk survive, dalam kondisi yang mungkin sekarang tidak bisa kita bayangkan. Alhamdulillah dia setuju dan mau belajar menjahit.

Aku tahu setiap anak berbeda, demikian juga anak perempuanku yang ini. Dia agak kurang terampil dan mungkin butuh waktu lebih lama untuk belajar sesuatu dibanding anak-anak lain yang mungkin bisa melakukannya secara spontan. Tapi aku bersyukur, Allah berikan kesadaran buatku, sebagai ibunya untuk menyadari akan pentingnya hal-hal ‘kecil’ ini. Dan syukurlah juga, dia mau mendengarkan dan mulai belajar, melakukan hal-hal tersebut.

Karena itu melalui tulisan ini aku hendak mengapresiasi pencapaian-pencapaian yang menurutku cukup besar untuk Sofie. Di usianya 11 tahun dia bisa membuka botol air minum sendiri, memotong kuku, menyisir rambut, mengunci rambut, sikat gigi dengan benar, mandi dan bersuci, mencuci baju dengan tangannya sendiri, membuat makanan sederhana, membuat teh, menata baju di lemarinya sendiri, menjahit sederhana.

Hal yang saat ini sedang on going atau dalam proses adalah belajar merajut, menyapu, mengepel, mem-vacuum rumah, dan mungkin memasak dan membuat kue sederhana.

Aku tidak tahu akan jadi apa Sofe saat besar nanti, tapi aku ingin memastikan dia bisa mandiri memenuhi kebutuhannya sendiri. Hal-hal itu mungkin kecil saat ini tapi aku yakin dari hal kecil itu akan menempa dia menjadi orang besar. “Ayah dan Ibu tidak akan selalu disampingmu Sofie karena itu kamu harus bisa mandiri!”

Tahu nggak sih, menuliskan hal ini saja membuatku terharu. Betapa mendidik anak itu sebuah proses jangka panjang, yang mungkin tidak akan pernah selesai bahkan ketika si anak sudah beranjak dewasa. Kadang aku khawatir jika tidak menyiapkan dia dengan baik dan ada hal yang terlupa diajarkan dan diingatkan sedari kecil. Tapi, ya, kita, manusia. Pasti akan ada hal yang terlewat dan terlupa. Kadang juga dia harus belajar dari pengalaman pahit untuk menjadi lebih baik.

Jadi, terus belajar ya Sofie. Ibu selalu berdoa buatmu!

Liliana’s Winter Party

Sebelum libur musim dingin, sekolah di sini biasa mengadakan Winter Party. Acaranya bertepatan dengan hari terakhir sekolah sebelum libur Natal dan Tahun Baru. Waktunya sama untuk semua kelas namun bentuk kegiatannya bervariasi tergantung kelas masing-masing.

Untuk kesuksesan pesta, orangtua turut berkontribusi dengan menyumbang berbagai perlengkapan dan makanan ringan. Bekerjasama dengan guru kelas, kami orangtua merancang kegiatan yang menarik buat anak-anak.

Berikut foto-fotonya:

Kilas Balik 2018

Alhamdulillah menyongsong tahun baru 2019. Sudah sekitar 3 bulan tidak update blog. Apa saja, ya, yang sudah kulakukan selama 2018?

1. Januari menjadi saat membahagiakan buat kami, karena Allah memberikan tambahan amanah anak laki-laki. Ihsan Khalil Rahman, lahir tanggal 10 Januari 2018. Satu-satunya anggota keluarga yang punya kewarganegaraan ganda, Indonesia dan Amerika Serikat (setidaknya sampai umur 18 tahun).

2. Mei 2018, alhamdulillah Sofie bisa puasa full sebulan penuh! (Bukan benar-benar sebulan sebenarnya karena dia sakit 2 hari tapi selebihnya dia puasa penuh). Untuk anak seusia dia yang besar di Amerika Serikat dengan lingkungan non muslim dan setiap hari bersekolah di musim panas, sangat tidak mudah untuk berpuasa. Karena itu kupikir ini pencapaian yang perlu diapresiasi.

3. Juli 2018, ada banyak kegiatan asyik yang kami lakukan bulan ini. Kami kemping sekeluarga di Camp Ground Chesapeak. Juga mengunjungi air terjun Niagara di Buffalo yang menjadi salah satu destinasi paling menyenangkan tahun ini.

4. Agustus 2018 kami mengunjungi Taman Nasional Yellowstone yang merupakan Taman Nasional pertama di Amerika. Di sana kami melihat bison, kawah panas, The Grand Canyon of Yellowstone dan masih banyak lagi.

5 September 2018, Lili (yang sekarang tidak mau dipanggil ‘Lili’, maunya ‘Liliana’) mulai masuk Pre-K (Pre Kindergarten atau PAUD). Dia sangat menikmati sekolah dan teman-teman barunya.

6. November 2018, Ihsan berusia 10 bulan dan mulai jalan sendiri.

7. Desember 2018, kami mengikuti Muktamar IMSA MISG di New Jersey yang sangat berkesan.

Demikian sedikit kilas balik 2018. Semoga di tahun 2019 ini Allah berikan kemudahan untuk melakukan lebih banyak kebaikan.

Featured

Selamat Datang

Apa kabar teman-teman?

Terimakasih sudah mampir ke blog ini. Meskipun blog ini terbilang baru tapi tulisan-tulisan yang ada merupakan rekapan dari blog-blog sebelumnya. Aku sendiri suka menulis sejak kuliah di UGM antara tahun 2000-2005 dan memulai aktivitas blogging sejak 2008, sebelum mulai bekerja di majalah Ummi tahun 2009.

Menulis menjadi cara yang efektif untuk berbagi cerita dan pengalaman. Dengan menulis kita merekam kejadian, menyajikannya secara sistematis hingga memudahkan pembaca untuk menangkap apa yang kita sajikan. Butuh kemampuan khusus untuk bisa menyarikan sebuah kejadian yang sepintas sederhana menjadi bermakna. Namun kemampuan khusus itu akan terbangun dengan sendirinya jika kita belajar dan terus berlatih.

Jadi, aku percaya bahwa menulis tidak mensyaratkan bakat yang dibawa sejak lahir. Kemampuan ini lebih pada kemauan memulai dan berlatih terus menerus. Aku sendiri memberanikan menyebut diri sebagai penulis, bukan karena memang sudah menjadi penulis jempolan, namun lebih pada upaya menyemangati diri untuk terus menulis. Dengan harapan tulisan-tulisan tersebut membawa kebaikan yang menjelma sebagai amal kebaikan.

Selamat membaca, dan semoga ada hikmah yang bisa dipetik dari tulisan-tulisan di sini!