Melawan Rasa Takut

sumber gambar: dreamstime.com

“I learned that courage was not the absence of fear, but the triumph over it. The brave man is not he who does not feel afraid, but he who conquers that fear.

Nelson Mandela

Umumnya manusia memiliki ketakutan akan sesuatu. Jenis ketakutan itu berkembang sesuai usia dan pengalaman yang dihadapinya. Bayi biasanya merasa tidak aman jika berada di lingkungan asing. Misalnya dia biasa tinggal di rumah yang tenang, tidak banyak suara, saat dibawa ke tempat yang ramai dan bising si bayi akan menangis karena merasa takut dan tidak aman. Penelitian yang dilakukan Andy Field dari Sussex University di Inggris menguatkan hal ini. Menurutnya, ada kesamaan pola ‘ketakutan’ yang dimiliki tiap anak pada usia yang berbeda. bayi takut akan lingkungan yang tidak biasa dihadapinya, seiring bertambah usianya mereka cenderung takut pada hewan tertentu dan hal-hal supranatural seperti hantu. Di atas umur delapan tahun anak mulai khawatir dengan hal seputar dirinya, misalnya mengalami cedera atau kecelakaan. Sedangkan anak remaja umumnya takut dengan masalah sosial seperti dianggap aneh atau ditertawakan oleh teman sebayanya.

Apa yang terjadi saat kita merasa takut?

Profesor Joanne Cantor dari Universitas Wisconsin Amerika Serikat pernah meneliti tentang sekelompok orang yang masih dibayangi rasa takut dari sebuah film yang sudah lama mereka tonton. Dari pemeriksaan MRI terlihat ada bagian dari otak, disebut amigdala, yang sangat aktif. Aktifnya amigdala ini memicu respon tubuh berupa detak jantung meningkat, tekanan darah naik, muncul keringat dingin dan timbul dorongan untuk melawan atau lari. Perasaan ini juga memicu hipokampus yakni tempat otak menyimpan ingatan hingga rasa takut akan muncul kembali jika menghadapi hal sama.

Tidak heran jika ketakutan itu berulang. Tiap kali kita menemui pemicu rasa takut, sekejap saja rasa ngeri akan menjalari diri. Tengkuk merinding, degup jantung meningkat, keringat dingin mengalir dan kaki tiba-tiba terasa lumpuh. Perasaan itu akan terus menerus kita alami, sampai kita berhasil mengalahkan rasa takut tersebut.

Rasa takut karena trauma masa lalu biasanya lebih susah diatasi karena ingatan yang sudah terpendam lama. Ingatan itu begitu membekas hingga merembet tidak hanya pada hal yang menyebabkan trauma, bahkan hal ”sederhana’ yang berkaitan dengannya. Contohnya mereka yang trauma karena pernah tenggelam di laut jadi takut berenang. Tidak hanya berenang di laut, mandi di sungai kecil atau bahkan di bak mandi (bath-up) akan membuat tidak nyaman.

Jika level ketakutan itu sudah begitu dalam, perlu dipertimbangkan untuk menemui psikolog. Dengan konsultasi dan terapi, ketakutan bisa ditelusuri dan pelan-pelan diatasi. Mungkin butuh waktu tidak sebentar, namun ada harapan untuk dilawan. Bahkan bukan tidak mungkin jika suatu saat rasa takut tersebut dapat ditekan serendah mungkin.

Untuk ketakutan-ketakutan yang tidak akut, kita bisa lawan sendiri. Salah satu caranya dengan menemukan sumber penyemangat dari diri sendiri maupun cerita atau pengalaman orang lain. Seperti pengalaman yang kurasakan baru-baru ini.

Sejak kembali ke Indonesia, aku takut menyetir mobil. Bayangan jalan-jalan kecil yang sempit, motor-motor yang berseliweran, kadang tidak bisa diprediksi, membuat ngeri. Aku takut menyenggol motor ibu-ibu (padahal aku juga seorang ibu pemakai motor) apalagi kalau ibu tersebut membawa anak kecil. Aku khawatir menyenggol mobil orang lain yang kadang diparkir di jalan dan sebagainya. Rasa takut itu membuatku selalu menunda keinginan untuk latihan menyetir, sampai hampir dua tahun kami kembali ke Indonesia.

Namun akhir-akhir ini aku merasa kebutuhan menyetir makin tinggi. Kadang ada acara yang kalau ditempuh menggunakan motor terasa jauh dan melelahkan. Jika naik go-car ongkosnya juga lumayan besar. Akhirnya aku memaksa diri untuk kembali menyetir.

Hal yang selalu kuingat adalah pengalaman menyetir selama 4 tahun di Amerika. Aku yakinkan diri kalau sebetulnya aku ini bisa menyetir. Aku ingat-ingat cerita teman tentang mereka yang awalnya takut menyetir, lalu memaksa diri dan akhirnya terampil juga. Aku tumbuhkan niat, bahwa kalau terampil menyetir mungkin aku bisa membantu teman-teman lain, misalnya ketika pergi ke alamat yang sama setidaknya bisa memberi tumpangan 2-3 orang.

Ternyata cara itu cukup efektif. Pekan lalu adalah pertama kalinya aku menyetir kembali. Saat pertama menginjak pedal, jantung berdegup kencang, keringat dingin mengalir, badan dan tangan kaku sekali memutar kemudi. Tapi terus aku lawan rasa-rasa itu. Sepanjang jalan ke RS Mitra keluarga Cikarang (kebetulan mau cek telinga yang beberapa hari terasa super gatal dan berdengung) tak henti aku rapalkan doa dan shalawat. Tiap papasan sama truk tronton jangungku berdegup lebih kencang 🙂 Perjalanan yang hanya 20-an menit serasa berjam-jam. Saat akhirnya berhasil parkir di RS, dan duduk di dalam menunggu giliran, rasanya lega sekali. Meskipun saat ingat nanti pulang mesti nyetir kembali, jantung kembali berdebar-debar.

Saat pulang dari RS, hujan deras. Tantangan menyetir bertambah. Ditambah lagi, mendadak aku lupa cara mengaktifkan wiper (untuk membersihkan kaca mobil dari air hujan). Tak lama kemudian aku salah belok alias kesasar. Panik, khawatir, takut menjadi satu. Akhirnya aku mencari tempat aman dan menepi. Lalu bertanya ke satpam arah yang benar, kemudian menelpon suami untuk memastikan cara mengaktifkan wiper. Masih dengan perasaan yang campur aduk, aku menyetir pelan-pelan, sampai…akhirnya sampai rumah dengan selamat. Meskipun saat masuk rumah, kaki masih gemetaran dan sekujur tubuh terasa pegal-pegal seakan menempuh perjalanan berjam-jam. Haha.

Setelah itu, ajaib sekali. Dua hari kemudian aku menyetir lagi. Dan perasaan takut itu sirna dengan sendirinya. Tiba-tiba seperti otomatis saja, respon mengurangi kecepatan, belok kanan, belok kiri, mundur. Truk besar, bus, mobil-mobil lain, sepeda motor tidak lagi terasa menakutkan. Bahkan aku sudah memberanikan diri melewati jalan yang lebih sempit dan ramai.

Oya malam sebelum menyetir yang kedua itu aku nonton episode baru “The Good Doctor S4”. Salah satu ceritanya ada seorang pasien yang sejak umur 8 tahun mengalami skoliosis atau tulang belakangnya melengkung mirip huruf C. Setelah 10 tahun mengalami kondisi tersebut, ada peluang dia dioperasi dan sembuh. Awalnya dia semangat namun menjelang jadwal operasi tiba-tiba dia mundur karena takut akan konsekuensi kalau dia benar-benar sembuh. Dia takut tidak bisa berlaku ‘normal’ seperti orang umum. Dia takut tidak bisa beradaptasi seperti orang kebanyakan. Singkat cerita Dr Glassman mengingatkan si pasien akan cita-citanya untuk hidup normal juga perjuangan mencari ‘dokter gila’ yang mau ambil risiko melakukan ‘operasi edan’ yang peluang keberhasilannya tergolong rendah. Hingga akhirnya si pasien memutuskan jadi operasi, dan dokter-dokter yang turut bertugas jadi terinspirasi untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya mereka takuti.

Sepertinya ada efeknya juga aku menonton episode tersebut. Jika dibandingkan dengan ketakutan-ketakutan yang selama ini mendera seseorang, misalnya saja trauma karena Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), ketakutan akibat teror atau kerusuhan, dan sejenisnya yang begitu dalam dan akut, ketakutan ‘menyetir’ serasa tidak ada apa-apanya. “Masak, sih, mengalahkan ketakutan ‘sekecil’ ini saja aku tidak mampu?” tantangku pada diri sendiri.

Entah ada kaitannya atau tidak, yang jelas, saat hari ini aku kembali menyetir, alhamdulillah sudah tidak takut lagi. Keterampilanku memang belum kembali 100% tapi rasa tenang dan percaya diri sudah kembali. Dengan keyakinan yang kuat insya Allah keterampilan bisa kita latih. Tanpa rasa takut, kita akan menempuh kemajuan. Dan percaya atau tidak, kemampuan mengalahkan rasa takut itu membuat BAHAGIA.

Dan kutipan dari Nelson Mendela baru benar-benar kurasakan: “Saya belajar bahwa keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, tetapi kemenangan atasnya. Orang pemberani bukanlah dia yang tidak merasa takut, tetapi dia yang mengalahkan rasa takut itu.”