Seorang Anak Perempuan dan Ibunya

Terinspirasi dari kisah nyata.

Pada suatu hari si anak perempuan (yang sudah menjadi istri dan ibu) berjalan-jalan bersama suami dan anak-anaknya. Karena ibunya sudah cukup tua dan tidak ada yang menjaga di rumah, diajaklah sang Ibu pergi bersama mereka. Saat tiba di lokasi dan tengah asyik menikmati pemandangan di tempat wisata, si ibu berbisik ke telinga anaknya, “Ibu pingin pipis.”

Sang anak pun membawa ibunya ke kamar mandi, sayang antrinya panjang sekali. Dengan sabar si ibu dan anak tersebut menunggu sampai tiba giliran ibu tersebut. Si anak menunggu di luar. Ternyata si ibu menghabiskan waktu lebih lama dari biasanya, si anak mengetuk pintu yang ternyata tidak terkunci. Masuklah dia dan terkejut melihat baju dan lantai kamar mandi penuh dengan, maaf, kotoran sang ibu.

“Aku nggak terasa ingin buang air besar, perutku juga tidak mulas, nggak tahu kok seperti ini,” ibu itu berkata lirih.

Mukanya menunduk, malu dan merasa bersalah.

“Nggak apa-apa, Ibu. Ibu tenang saja, mari kita bereskan sama-sama,” ujarnya.

“Tapi orang-orang pada ngantri di luar. Mereka pasti marah karena Ibu lama di kamar mandi,” jawab ibu tersebut masih merasa khawatir.

“Nggak apa-apa, namanya juga kamar mandi umum. Ya, siapa saja harus mau antri,” ucap si anak menenangkan ibunya sambil mengambil penyemprot air dan berusaha membersihkan semua sisa kotoran di sebagian baju ibunya serta lantai kamar mandi.

Saat akhirnya mereka selesai dan melangkan ke luar kamar mandi, antrian di depan kamar mandi mereka kosong. Rupanya mereka yang sebelumnya mengantri pindah berderet di depan kamar mandi sebelah. Si ibu kembali menunduk malu, dia merasa semua mata menatap kepadanya. Sebagian bahkan menutup hidung mereka. Si anak menggenggam erat telapak tangan ibunya, menyalurkan kekuatan, dan seakan menyampaikan, “Tidak apa-apa, Ibu. Semua akan baik-baik saja!”

Hari itu pun berlalu. Malamnya sebelum tidur, saat si anak menghampiri ibunya di kamar, dia berkata, “Terimakasih atas apa yang kamu lakukan hari ini , ya. Ibu sebenarnya malu sekali. Ini tidak pernah terjadi pada Ibu, sebelumnya.”

Si anak hanya mengangguk dan memeluk ibunya. Saat di kamar mandi, dia tiba-tiba menangis. Sejujunya, saat di toilet tadi siang dan menyaksikan ibunya, dia hampir saja mengomeli ibunya. Tapi tiba-tiba dia ingat putri kecilnya yang kini telah remaja. Tidak sekali dua kali bocah yang masih memakai popok itu ‘kecelakaan’ yakni buang air kecil dan air besar di lantai, kadang juga di kamar mandi umum seperti yang terjadi hari ini.

Hari itu, seperti ada yang membisikkan di telinganya, ‘Kalau dengan anakmu kamu mau sabar kenapa dengan ibumu kamu tidak mampu sabar?’

Bersyukur, dia masih ingat. Tak bisa dia bayangkan jika dia terbawa emosi dan turut memarahi ibunya. Sudah malu, khawatir dan merasakan luka hati karena dimarahi anak sendiri. Alangkah sedih ibunya!

Cerita ini mengingatkanku kita semua, khususnya buat aku sendiri bahwa orangtua khususnya ibu kita bisa jadi sudah lemah, tidak berdaya dan bahkan pikun, tapi beliau memiliki ‘kekuatan’ yang luar biasa besar. Kekuatan apa yang kumaksudkan? Tentu bukan kekuatan fisik, namun kekuatan doa. Doa-doa ibu menjadi salah satu dari beberapa doa yang mustajab atau mendapat prioritas untuk dikabulkan Allah. Merawat mereka juga menjadi salah satu ‘tiket’ masuk syurga sebagaimana hadits Rasulullah Saw:

”Celaka seseorang itu(diulang tiga kali), sahabat bertanya: siapa yang celaka wahai Rasulullah? Beliau menjawab: orang yang mendapati salah satu orang tuanya atau dua-duanya dalam keadaan tua, kemudian (anak tersebut) tidak masuk surga”. (HR Muslim) No: 2551)

Jadi, yuk, rawat orangtua kita, khususnya ibu yang sudah sepuh. Semoga Allah mencatatnya sebagai amal, syukur-syukur kalau menjadi jalan kita ke syurga!

Seni Berbakti

berbakti
Sumber foto: https://www.kompasiana.com/aamirdarwis/5a595e1acf01b452892e6352/temukan-keridhoan-allah-dengan-berbakti-pada-orangtua?page=all

 

“Gimana aku bisa berbakti, kalau Ibuku nggak pernah sayang ke aku sejak kecil?”

Seorang teman mengeluhkan kondisinya merawat ibunya yang sakit, sementara semasa kecil dia nyaris tidak pernah diasuh ibunya sendiri. Perceraian sejak dia belia, ibu yang harus banting tulang dan tinggal di luar kota, membuat dia hanya memiliki masa kecil bersama neneknya. Setelah dia besar dan memiliki keluarga sendiri, ibunya jatuh sakit. Dia memutuskan merawat ibunya. Tapi setiap hari dia ‘tersiksa’, perasaan sayang pada ibu yang melahirkannya tak kunjung tumbuh. Dia merawat ibunya karena menjalankan bakti sebagai anak ke orangtua.

Teman yang lain bercerita kalau ibunya selalu saja menuntut dikirimi uang. Berapapun selalu kurang. Setiap bulan dia sudah ‘menjatah’ ibunya Rp 5 juta, tapi selalu ada kebutuhan mendadak, jadi seringkali jumlah tersebut membengkak hingga dua kali lipat. Untung dia bekerja sebagai burun migran yang gaji yang jika dikonversi ke mata uang rupiah jumlahnya lumayan. Tapi dengan pengeluaran yang demikin tiap bulan, pengelolaan keuangan dia morat marit juga.

“Kadang aku juga heran, kenapa, ya, mamakku selalu butuh uang. Kalau aku tanya untuk apa, ya, selalu saja ada kebutuhan ini dan itu. Mintanya juga sering sambil nangis, jadi aku enggak tega. Akhirnya aku berpikir, ‘Ah, mumpung orangtua masih hidup. Tidak apa-apa, lah, aku kerja keras buat mereka. Nanti kalau orangtua sudah meninggal, kita, kan, juga tidak bisa ngasih apa-apa lagi’, “tuturnya.

Kalau mendengar cerita-cerita seperti itu, aku sering kagum. Kalau kita berbakti pada orangtua karena mereka memang mengurus kita dengan baik, itu, sih memang seharusnya begitu. Tapi mereka yang tidak merasakan kasih sayang dan ‘merasa’ tidak diurus orangtua tapi masih berbakti di kala orangtuanya renta, ini luar biasa.

Tapi mungkin itu juga rahasia yang membuat dua temanku mendapat ‘ganjaran’ tunai di dunia. Teman yang pertama, sukses dan bahagia. Kariernya moncer, belum lama dia juga mendapat beasiswa S2. Anaknya sehat dan cerdas. Di usia yang cukup muda dia dan suaminya sudah memiliki rumah sendiri.

Teman kedua, menikah dengan Warga Negara Asing (WNA). Dia yang sebelumnya dipandang sebelah mata karena seorang buruh migran, kini tidak lagi. Kalau bepergian, suaminya tak segan membelikan tiket kelas bisnis untuk istrinya. Karena secara finansial sudah di-support suaminya, dia lebih santai bekerja. Meski begitu, setiap bulan (nyaris) semua gajinya dia kirimkan untuk ibunya di Indonesia.

“Jika kariermu lambat atau bisnismu tidak kunjung sukses, lihatlah bagaimana baktimu pada orangtua, khususnya ibumu,” nasehat seorang teman yang juga pengusaha sukses di Indonesia.

Ibu kita, walaupun renta dan kelihatan tidak berdaya itu, memiliki andil besar dalam terkabulnya doa-doa. Keistimewaan ini tidak dimiliki sembarang orang, bahkan ayah kita. Selama beliau masih hidup, tak peduli seberapa usianya, jika beliau mengangkat tangan untuk berdoa, apabila Allah berkenan, akan mudah dikabulkan.

Maka, sayangi orangtua kita. Ibu kita, sudah berkorban banyak. Kalau kata Ibu Iim Fahima di salah satu twit-nya, Ibu Rumah Tangga yang sehari-hari kelihatannya ‘hanya’ kerja di rumah, berkorban besar, yaitu harga dirinya. Mereka yang sebetulnya bisa sekolah tinggi, membangun karier, dan melakukan banyak hal, memilih menjadi full time Mom untuk membersamai buah hati setiap saat. Ibu yang bekerja juga tidak kurang kerja kerasnya, bahkan dobel, untuk memastikan urusan rumah beres saat ditinggal kerja.

Jika ada orangtua, khususnya ibu yang akhirnya menyerahkan anak mereka untuk diasuh orang lain, biasanya karena ada kondisi-kondisi yang tidak bisa mereka atasi. Karena sejatinya tidak ada ibu yang tidak ingin membersamai anaknya, kecuali memang ada kondisi khusus atau sang ibu mengalami masalah psikologis.

Cara para ibu mengekspresikan rasa sayang juga berbeda-beda. Mungkin ada dari kita yang merasa ibu kita dulu demikian galak, yakinlah sebenarnya mereka tidak mau begitu. Tapi entah kenapa ekspresi galak itu yang keluar. Mungkin karena mereka tidak tahu cara lain untuk mengekspresikan rasa frustasi. Bisa juga karena mereka trauma dengan kegalakan orangtua mereka yang malah berimbas pada pengulangan sikap yang sama.

Kalau saat ini kita sukses, ingat selalu ada ibu yang tidak pernah berhenti mendoakan kita. Kita bisa menjadi kita saat ini karena sejak kecil menyantap makanan terbaik yang diramu bersama doa-doa dan harapan ibu kita. Kita jadi pintar karena ibu kita sabar mendidik dan mendampingi proses tumbuh kembang kita.

Dan yang mereka pinta sebetulnya tidak banyak. Rajin berkabar, sesekali menengok beliau.  Sebagian orangtua merasa cukup secara finansial dan tidak mengharap bantuan keuangan dari anak-anak, tapi akan menyenangkan kalau kita tetap menyisihkan uang, sesedikit apapun untuk mereka. Memberi hadiah biasanya menghadirkan senyum. Namun yang lebih utama adalah perhatian dan rasa sayang yang tulus.

Jaga ucapan kita, jangan sampai meninggi apalagi membentak saat berbicara dengan mereka. Dengarkan nasehatnya, ikuti petuahnya. Kalau berbeda pendapat, menurutku lebih baik diam, meskipun tidak harus juga menuruti semua pendapat yang tidak kita sepakati. Itulah seni berbakti, tidak selalu harus menuruti tapi juga tidak menentang secara terang terangan.

Dan yang utama, berdoa dan mohon agar diberikan kesabaran dalam berbakti. Ada masanya kita dipisahkan oleh Allah dengan orangtua. Kadang kita yang ‘pergi’ duluan, adakalanya mereka yang meninggalkan kita. Jangan sampai ketika mereka dipanggil Allah, kita menangis dan berujar, andaikan dulu aku begini dan begitu.

Semoga Allah berikan kemudahan pada kita semua untuk berbakti pada kedua orangtua!

“Kebodohan” Orang Baik

“Kok, mau aja, sih, dibodohin! Suami jelas-jelas selingkuh, kok, ya, istrinya masih aja setia!”

“Bodoh, banget, ya, masak dia kerja capek-capek, eh uangnya dibuat foya-foya sama orangtua, adik dan kakaknya. Dia, sih, sebenarnya tahu, tapi, kok, ya, masih aja kirim duit buat keluarganya!”

“Dia, kan, sudah berkali-kali mengingkari janji, kamu, kok, mau, sih minjemin uang ke dia?”

“Jadi, orang, jangan terlalu baik! Nanti kamu dimintai tolong terus menerus, lho.”

Akrab, nggak dengan ucapan-ucapan seperti itu? Sebagai subyek yang mengucapkan, atau obyek yang menerima omelan?

Sepanjang kehidupan berumah tangga, aku pernah 3 kali meminjamkan uang dalam jumlah yang cukup besar buatku, di kala itu. Yang pertama, adiknya teman yang menjualkan baju sejumlah kurang lebih Rp 2 juta. Dia mengaku dibohongi pembelinya dan tidak bisa membayar utangnya. Yang kedua, orang yang membantuku mengelola bisnis meminjam uang untuk biaya nikah sejumlah Rp 5 juta. Bisnis kami tidak berlanjut, dia mengaku pengangguran dan tidak bisa membayar utang. Dan ketiga, orang yang meminjam uang untuk modal usaha, sejumlah Rp 5 juta yang ternyata bermasalah salam mengelola keuangan jadi usahanya bangkrut. Selain ketiga orang itu ada sejumlah orang yang juga mengemplang pinjaman karena berbagai alasan, dengan angka pinjaman antara Rp 100 ribu sampai sejuta rupiah.

“Kita harus galak ke peminjam uang, Mbak! Kalau enggak keenakan mereka, dong, pinjam uang, kok, nggak dibalikin!” saran seorang teman.

Tapi entah kenapa aku tidak tega menagih terus menerus. Kalau sekali dua tiga kali aku tagih, ternyata peminjam tidak membayar, bahkan ada yang sampai kucing kucingan denganku, sampai takut berpapasan karena punya utang, kok, aku jadi tidak tega menagihnya. Apakah ini termasuk kebodohan? Entahlah.

Tapi yang kurasakan, rezeki yang diberikan Allah jauh lebih besar dari utang-utang yang tidak terbayarkan tersebut. Awalnya memang susah mengikhlaskan, aku coba aja lupakan dan tetap menjalin hubungan baik dengan orang-orang yang berutang tersebut, lama-lama jadi biasa aja. Aku anggap saja uang yang dipinjam tersebut memang rezeki si orang itu, melalui aku. Dan ajaibnya, justru Allah kembalikan dalam jumlah yang lebih besar dari arah yang tidak disangka-sangka.

Kasus kedua, seorang teman baikku tanpa sengaja menemukan hp suaminya yang mengirim pesan mesra pada perempuan lain. Dia langsung gemetar dan sambil menangis mengonfirmasi pesan itu ke suaminya.

Apa yang terjadi?

Suaminya malah marah dan menyalahkan teman tersebut. Dia bilang istrinya menuduh tanpa alasan dan dia sakit hati. Sejak detik itu sampai kini (sudah nyaris lima tahun) suami istri itu nyaris tidak pernah komunikasi. Maksudnya gimana? Ya, mereka masih tinggal bersama, si istri tiap hari memasak, membersihkan rumah, mencucikan dan menyertrika baju suaminya serta merawat anak mereka satu-satunya. Sang suami menghabiskan hampir 14 jam di kantor, sampai rumah langsung memasang headset di telinganya untuk menonton film atau entah melakukan apa dengan laptopnya. Dia makan masakan istrinya, tiap bulan dia memberi nafkah pada istrinya, kadang dia ikut mengurus sekolah anaknya, tapi ya begitu saja. Mereka hanya bicara, lebih tepatnya sang suami hanya merespon istrinya kalau memang ada masalah penting saja. Selebihnya mereka seperti orang asing. Padahal sang suami juga tidak memiliki wanita lain, tapi dia tetap memperlakukan istrinya seperti itu. Sang istri sempat tertekan dan frustasi sampai-sampai tekanan darahnya meningkat. Tapi kemudian dia ‘berdamai’ dengan kondisi tersebut. Dia sibukkan diri dengan belajar berbagai hal baru, dia juga mulai bekerja dari rumah, dengan tetap memenuhi semua kewajibannya sebagai istri.

“Suamiku, sepupuku. Kalau kami bercerai, rusak hubungan keluarga besar kami. Belum lagi bercerai adalah aib di daerah asal kami,” ujarnya.

“Aku kasihan sama anakku kalau kami bercerai. Walaupun suamiku bersikap seperti itu ke aku tapi setidaknya dia bersikap normal ke anakku. Jadi aku memilih bertahan!” ucapnya kali lain.

“Aku masih punya harapan ke suamiku. Dahulu dia orang yang sangat baik dan taat kepada Allah. Aku berdoa semoga dia kembali menjadi baik tapi kalaupun tidak semoga ini menjadi amalku untuk bekal di akhirat!” jawabnya saat aku menanyakan kenapa dia masih bertahan dalam pernikahan.

Apakah sahabatku itu bodoh? Mungkin sebagian orang menganggap demikian. Awalnya aku pun merasa sangat sayang dengan keputusannya bertahan. Dia masih muda, jika bercerai mungkin dia bisa menemukan pasangan lain dan bisa bahagia. Setidaknya jika dia menggertak suaminya untuk bercerai, mungkin saja suaminya berpikir ulang dan tidak berbuat seenaknya seperti sekarang. Tapi melihatnya kukuh dan pelan-pelan menata hidupnya kembali, aku seperti melihat setitik cahaya.

Alih-alih putus asa dia malah jadi makin pintar karena mengisi waktunya dengan belajar banyak hal. Pergaulannya juga meluas karena dia mengalihkan kesedihannya dengan aktif berkegiatan serta mengenal banyak teman baru. Ditambah lagi, tabungannya sedikit demi sedikit bertambah dengan menerima jahitan di rumah.

Mungkin suaminya tidak berubah. Bisa jadi suatu saat akhirnya mereka bercerai. Atau bisa jadi akhirnya suaminya sadar dan mereka menemukan kebahagiaan dalam pernikahan. Tapi yang jelas, aku salut dengan pilihan sikap sahabatku itu dalam menghadapi masalah tersebut. Dan pastinya tidak ada kebaikan yang sia-sia, jikalau suaminya tidak membalas kebaikan temanku itu, Allah pasti akan membalasnya dengan kebaikan yang lebih besar.

Kita sering melihat orang lain itu naiv dan bodoh, mau saja diakali, dibohongi dan tetap berbuat baik. Padahal bisa jadi mereka justru orang pintar. Mereka menggunakan kondisi yang tidak menguntungkan tersebut sebagai sarana berbuat kebaikan serta meningkatkan kualitas diri.

Dan jangan salah, Allah menjadi ‘tangan kanan’ bagi orang yang terzalimi.

“Dan berhati-hatilah terhadap orang yang terzalimi karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR Bukhari Muslim).

Jadi yang perlu khawatir justru orang yang berbuat zalim. Bisa jadi sekarang mereka berjaya tapi Allah tidak pernah tidur. Akan ada saat dia jatuh, yang seringnya membawa kesengsaraan baik di dunia ataupun akhirat.

Jadi, buat kalian yang sedang sedih, memiliki masalah yang berat, dalam kondisi terzalimi, jangan takut dan khawatir. Pikirkan langkah terbaik dan lakukan! Tetaplah berbuat kebaikan dan yakin Allah tidak tidur. Akan ada saat dimana Allah menghapus luka-luka dan airmata. Ikhlaskan semua karena Allah. Kalau tidak mendapat ganti di dunia, insyaAllah ada balasan terbaik di akherat!

Solichah Indah Setyani: Hijaukan Lingkungan, Ajak Masyarakat Kelola Sampah

“Saya baru masuk rumah, Mbak, silakan masuk dulu, ya. Maaf saya tinggal mandi dan shalat Ashar dulu,” kata Ninik, panggilan akrab Solichah Indah Setyani saat saya kontak melalui ponsel, sore itu.

Kami memang sudah janjian ketemu di rumah beliau. Bu Ninik sendiri baru pulang dari sebuah acara di Ciater, makanya beliau meminta waktu untuk membersihkan diri dan beribadah sebelum kami memulai wawancara.

Saat memasuki halaman rumah beliau, saya langsung ‘disambut’ dengan taman yang hiajau, asri dan teduh. Ada pohon besar di halaman rumah. Terdapat juga kolam ikan yang dipenuhi ikan mas kecil-kecil yang berenang ke sana-kemari.

Ninik dikenal sebagai pionir penghijauan dan pengelolaan sampah di Kelurahan Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan. Kampung yang awalnya kekeringan di musim kemarau dan banjir ketika musim hujan berubah menjadi hijau dan segar. Tidak hanya rumah warga yang hijau, masyarakat juga menanami lahan-lahan kosong dan tepi kali. Keberhasilan membangun kampung hijau mangantarkan Rawajati memenangkan berbagai penghargaan kampung hijau mulai dari tingkat RT, RW, DKI dan nasional.

DSCN9058

Selanjutnya Ninik menginisiasi pengelolaan sampah. Dimulai dengan pemilahan sampah organik dan unorganik, lalu pengelompokkan sampah yang bisa dijual. Saat itulah Ninik menggagas ide Tabungan Sampah Kering (TASAKE) yang menjadi cikal bakal berdirinya Bank Sampah Induk Gesit (BSIG) pada Februari 2017. BSIG kini membawahi 392 bank sampah unit di seluruh wilayah Jakarta Selatan.

sumber beritajakarta id
Peresmian BSIG, sumber foto: beritajakarta.id

 

Sukses membawa kampung Rawajati ke kancah nasional, Ninik pun diminta menyebarluaskan idenya. Dia menjadi pembicara di berbagai forum yang membahas mengenai kampung hijau dan pengelolaan sampah. Hampir semua provinsi di seluruh wilayah Indonesia pernah dia kunjungi dengan misi tersebut. Selain itu kampung Rawajati juga dikunjungi ribuan orang, baik pengunjung lokal maupun internasional. Mereka datang untuk belajar demi mengembangkan proyek serupa di wilayah masing-masing.

Berawal dari Program PKK

Memulai aksinya sejak 2001, Ninik awalnya hanya membuat program PKK. “Saya berasal dari Temanggung yang bersih dan hijau. Saat baru terpilih jadi ketua PKK dan membuat program bersama para pengurus, saya katakan ‘Mau enggak ibu-ibu, kalau wilayah kita hijau dan bersih?’ Ternyata mereka menyambut usulan tersebut dengan semangat,” tutur perempuan kelahiran 13 Agustus 1961 ini.

Selama kurang lebih 6 bulan Ninik bersama Ketua RW dan pengurus PKK mematangkan ide penghijauan tersebut. Mereka menyatakan komitmen bersama untuk menghijaukan kampung juga mengunjungi beberapa tempat untuk study banding. Dalam rentang waktu tersebut mereka juga telah memulai dengan menanami lahan di sekitar rumah masing-masing.

Setelah rencana lebih matang dan rumah masing-masing pengurus terlihat hijau, mereka melakukan sosialisasi ke seluruh wilayah RW 03 Kelurahan Rawajati. “Di wilayah kami ada 10 RT. Alhamdulillah semua menyambut baik ide ini, apalagi sudah ada contoh dari para pengurus PKK yang telah menghijaukan rumah masing-masing,” ucap istri dari Nuryanto ini.

Selain menanami lahan sekitar rumah, Ninik juga mengajak warga menghijaukan lahan-lahan kosong termasuk pinggir kali. Siapa yang bertugas menanami tempat-tempat tersebut?

“Kami membuat tiga kelompok tani yaitu Benih Tani, Kembang Jati dan Anggrek. Kelompok ‘Benih Jati’ yang bertugas menanami lahan-lahan kosong tersebut. Anggotanya didominasi para pensiunan. Meskipun usia mereka 60-an tahun (kala itu dan saat ini sekitar 70-80 tahun) mereka sehat, kuat dan rajin menghijaukan lahan sekitar RW kami,” tambah Ninik seraya menambahkan informasi bahwa tiga kelompok tani tersebut lantas bergabung menjadi gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Jati Mandiri dan berhasil menyabet penghargaan sebagai Gapoktan Teladan 2017.

Setelah memiliki gapoktan, Kampung Rawajati mendapat banyak bantuan dari pemerintah. Di antaranya mendapat bibit gratis serta modal untuk mendirikan Koperasi Tani pada 2010. Berawal dari hibah dana dari Departemen Pertanian RI sejumlah Rp 150 juta tersebut Koperasi Tani Jati Mandiri berkembang pesat. Saat ini uang yang berputar di Koperasi Tani sudah mencapai Rp 3 miliar. Modalnya pun sudah berlipat menjadi Rp 400 juta.

Segala upaya yang dilakukan Ninik tidak sia-sia. Pada 2004 Kelurahan Rawajati memenangkan penghargaan sebagai Kampung Agrowisata tingkat DKI Jakarta. Setahun kemudian mereka juga menggondol juara pertama Kampung Agrowisata tingkat nasional.

sataywinnie3
Asrinya kampung Rawajati, sumber foto: satyawinnie.com

Mengelola Sampah Mandiri

“Saya sebenarnya sudah konsen masalah pengelolaan sampah ini di awal menjadi ketua PKK pada 2001. Namun saya pikir kalau langsung mengajak masyarakat mengelola sampah, mereka akan menolak. Sampah kan identik dengan hal yang kotor, tidak banyak orang suka bersinggungan dengannya. Kesadaran masyarakat akan pentingnya mengelola sampah saat itu juga belum ada, makanya saya memilih memulai program penghijauan,” papar Ninik.

Lalu sejak kapan Ninik memulai program pengelolaan sampah? “Saat masyarakat mulai kesulitan menemukan media tanam sekitar tahun 2003,” jawabnya. Awalnya masyarakat menanam dengan memanfaatkan tanah yang ada di sekitar. Lama-lama semua lahan sudah tertutup tanaman dan pot, sementara program penghijauan masih terus berjalan. Ketika itulah muncul keinginan untuk membuat kompos. Ninik menangkap kebutuhan tersebut sebagai peluang mengajak masyarakat mulai mengelola sampah secara mandiri.

Ninik lalu mengundang praktisi yang mengajarkan membuat kompos. Mereka memulai program memilah sampah, sampah organik diolah menjadi kompos, sampah non organik dijual ke bank sampah. Perlahan masyarakat merasakan keuntungan memilah sampah. Mereka jadi punya stok kompos, jumlah sampah berkurang dan mereka mendapat uang.

“Setiap orang yang ingin menyetor sampah mendapat buku tabungan sampah kering (TASAKE). Setiap kali setor, sampah mereka dihitung lalu dibeli, uangnya mereka tabung. Dengan begini orang merasakan manfaat uangnya. Biasanya masyarakat mengambil tabungan mereka menjelang lebaran atau ketika anak hendak masuk sekolah,” tutur ibu tiga anak ini.

Hasil TASAKE ini lumayan. Ada salah satu nasabah yang tinggal di sebelah masjid dan rajin mengumpulkan sampah, khususnya botol dan gelas air kemasan. Dalam waktu satu tahun tabungannya sejumlah Rp 6 juta.

20191110_171208 (1)

Sampah-sampah kering yang dikumpulkan oleh bank sampah lalu didistribusikan ke pabrik dan tempat-tempat lain yang menerima pembelian sampah. Lalu timbul kendala yakni harga sampah yang berbeda, misalnya ada yang membeli 1 kg koran Rp 1000, ada juga yang hanya Rp 500. Muncul keinginan mendirikan bank sampah induk yang diwujudkan dengan pendirian Bank Sampah Induk Gesit (BSIG) diresmikan dua tahun yang lalu.

sumber saytawinnie
sumber foto: setyawinnie.com

BSIG hingga Oktober 2019 memiliki 392 nasabah unit. Nasabah unit ini merupakan bank-bank sampah kecil tempat masyarakat menyetorkan sampah kering mereka. Umumnya bank sampah unit ini dikelola oleh instansi, sekolah dan masyarakat.

Dengan pengelolaan sampah mandiri seperti yang dilakukan warga Kelurahan Rawajati, 90% sampah sudah dikelola sendiri. Sejumlah 60% sampah organik diolah menjadi kompos atau dimasukkan lobang biopori, semetara 30% sampah non organik didaur ulang dan disetorkan melalui bank sampah. Tapi, tambah Ninik, masih ada sekitar 10% residu sampah, seperti ranting-ranting pohon, diapers, baju-baju atau kain rusak, termasuk kasur bekas dan furnitur lain.yang tidak bisa mereka kelola. Residu ini yang perlu dikelola oleh pemerintah.

Delapan belas tahun berkecimpung di dunia penghijauan dan pengelolaan sampah, termasuk menjadi ketua PKK, ketua Gapoktan Jati Mandiri dan ketua BSIG, Ninik tidak mendapat gaji sepeserpun. Meskipun begitu dia mengaku mendapat banyak hal yang jauh lebih berharga dibanding uang.

“Yang jelas saya senang keinginan menjadikan kelurahan Rawajati sebagai kampung wisata terpenuhi. Mimpi saya memiliki lingkungan yang hijau, bersih dan indah juga sudah tercapai. Ke depan, saya ingin terus mengkampanyekan gaya hidup zero waste yang bisa diawali dengan memroduksi atau menyantap makanan secukupnya dan mengolah sisa makanan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Saya yakin jika semua orang mau peduli, kita bisa ciptakan kehidupan yang lebih baik,” pungkasnya.

Kehilangan

Beberapa hari yang lalu kami mendapat kabar duka dari Amerika. Salah seorang teman yang sudah kuanggap seperti ibu sendiri meninggal dunia. Sedihnya, si Ibu ini, sebut saja Ibu B, meninggal dunia sendirian, di kamar dia, tanpa seorang pun yang mendampingi. Diduga, beliau meninggal sehari sebelum ditemukan, dengan sebab serangan jantung.

Setiap kali teringat Ibu B, aku masih merasa sedih. Membayangkan beliau meregang nyawa sendiri, tidak ada yang menemani. Dua anaknya tinggal satu kota, tapi karena suatu hal mereka tidak mau berkomunikasi dengan ibunya. Sang mantan suami juga tinggal satu kota, tapi sejak bercerai mereka tidak pernah saling bicara. Kadang ada orang yang tinggal (kost) di rumah ibu B, kadang dia hanya tinggal sendiri. Beberapa kali ibu B juga menampung teman atau keluarga yang butuh tempat tinggal, bahkan kabarnya, saat beliau meninggal itu sedang ada satu keluarga yang tinggal menumpang di rumah beliau, namun mereka sedang tidak di rumah ketika Ibu B meninggal. Kalau sudah takdir, ya, meskipun ada keluarga yang tinggal bersama, Allah berkehendak memanggil kala beliau sedang sendiri.

Potret Ibu B menjadi sesuatu yang biasa di Amerika. Aku punya beberapa kenalan (orang Amerika asli) yang sudah berusia senja dan tinggal sendirian. Ada yang pernah menikah lalu bercerai, si anak tinggal di state lain. Ada yang tidak pernah menikah dan tidak punya anak. Ada juga yang istri/suaminya sudah meninggal duluan dan dia tinggal sendiri. Sepertinya bukan hal yang aneh kalau ada lansia meninggal sendirian di rumahnya dan lambat diketahui karena tidak ada yang menemani. Namun begitu jarang aku tahu orang Indonesia atau orang Asia yang memilih gaya hidup seperti itu. Biasanya kalau mereka tidak punya keluarga lagi, ya, mereka memilih kembali ke negara asal. Atau minimal mereka masih punya anak-anak, teman atau saudara yang rutin datang, menengok atau minimal saling menelepon.

Banyak orang membayangkan pernikahan dengan ‘bule’ atau warga negara Amerika Serikat selalu berbuah manis. Padahal banyak kisah dibaliknya dan sebagian darinya bukan cerita indah. Seperti kisah Ibu B yang diawali dengan cerita manis pernikahan yang menghasilkan dua anak perempuan yang lucu-lucu. Sekian tahun mereka membina pernikahan, suatu ketika sang suami memutuskan keluar dari Islam. Menurut ibu B perpindahan agama ini yang menjadi alasan dia mengajukan perceraian tapi mungkin sebetulnya ada masalah rumit yang saling berkelindan. Singkat kata mereka bercerai dengan proses yang tidak baik-baik saja. Mantan suami dan istri itu tidak pernah lagi saling berkomunikasi, dua anak ikut ibunya.

Sekian tahun Ibu B membesarkan anak sendiri, mengajarkan mereka tentang Islam, Allah mengujinya dengan anak sulung yang hamil di luar nikah. Tak terbayangkan bagaimana perasaan perempuan yang setiap pekan mengajar di sekolah Islam Sunday School saat putri kecilnya terbawa arus pergaulan bebas. Hanya Allah yang tahu bagaimana akhirnya si Ibu bisa menerima kehadiran bayi kecil ganteng dan mencintainya sepenuh hati.

Beberapa tahun kemudian ketika Allah mengujinya kembali dengan serangan jantung. Sempat dirawat di rumah sakit sampai lumayan membaik, ibu B berkeinginan kembali ke Singapura, tanah kelahirannya. Dia pun meninggalkan negeri Paman Sam yang sudah ditinggalinya kurang lebih 30 tahun. Sayangnya, negeri Singa yang dia bayangkan berbeda dengan kondisi saat itu. Puluhan tahun bekerja di Amerika, saat kembali ke Singapura ibu B kesulitan mengakses kemudahan, seperti asuransi dan tunjangan ‘cacat’ seperti yang biasa dia dapatkan di Amerika. Setelah berpikir panjang, Ibu B memutuskan kembali ke Amerika setelah 7 bulan tinggal di Singapura.

Kembali ke Amerika, ibu B kaget, rumahnya ditempati si anak kedua dengan pacarnya plus anjing piaraan mereka. Momen itu menjadi awal komunikasi yang memburuk dengan anak-anaknya. Ibu B selalu mengatakan bahwa selama dia tinggal di Singapura sang mantan suami ‘meracuni’ dua putrinya dengan segala pikiran buruk mengenai dirinya. Hingga mereka tak mau lagi bersikap baik dengannya. Selama nyaris lima tahun aku tinggal di Norfolk, si Ibu tidak pernah berbicara dengan putri sulungnya. Si bungsu sempat tinggal dengan ibunya namun akhirnya dia juga memilih tinggal sendiri dan nyaris tak pernah berkomunikasi dengan ibunya.

Aku sedih sekali membayangkan perasaan bu B. Anak-anak yang dibesarkan dengan susah payah, tumbuh jauh dari yang dia harapkan. Ingin kembali ke tanah air, khawatir membebani keluarga besar. Minimal selama tinggal di Amerika, dia masih bisa mandiri. Dalam arti dia bisa pergi ke mana-mana tanpa merepotkan orang lain. Bagi penderita masalah kesehatan seperti ibu B, bisa mendapat fasilitas layanan bus dengan biaya yang sangat murah ke mana-mana. hanya tinggal order minimal sehari sebelumnya, bus yang dilengkapi layanan kursi roda akan menganta dan menjemput dari depan pintu rumah. Setiap bulan dia juga mendapat semacam tunjangan dari negara. Asuransi kesehatan juga gratis. Bahkan jika bu B mau, dia bisa mendapat semacam perawat gratis yang tiap hari datang ke rumah untuk membantu dia membersihkan rumah, memasak makanan dan menemani berbagai aktivitas sederhana.

Alhamdulillah dengan segala fasilitas itu, Ibu B bisa rutin shalat Jumat ke masjid dan pergi ke beberapa acara, misalnya kumpul-kumpul dengan orang Indonesia atau kegiatan lainnya. Setidaknya beliau masih punya ‘kehidupan’ bersama teman-teman dan komunitas muslimnya. Sayangnya relasi dengan kedua anaknya tidak kunjung membaik. Bahkan akhir-akhir ini dia makin susah berkomunikasi dengan cucunya.

Seperti itulah ibu B mengisi hari-hari. Kadang dia ke Gym kalau ada teman yang mengajak. agar tidak bosan, dia sering memesan bus untuk ke mall setidaknya sekali sepekan. Sering dia mengundang kami sekeluarga atau teman-teman Indonesia lain untuk datang ke rumahnya. Kalau kami datang berkunjung, beliau senang sekali. Terlihat dari berbagai makanan yang beliau sajikan. Mukanya juga berseri-seri. Ibu B meskipun asli Singapura, ayahnya asli Indonesia. Karena itu dia akrab dengan komunitas Indonesia.

Sampai hari saat dia meninggal, tidak ada kabar bahwa ibu B sakit sebelumnya. Karena itu kami semua, yang mengenalnya, kaget mendengar berita dukacita tersebut. Kita semua berasal dari Allah dan kepada-Nya lah kita semua akan kembali. Berita kematian memang selalu mengingatkan kita semua bahwa sejatinya kita hidup ini sementara. Alam akhiratlah yang kekal dan kita semua akan menuju ke sana.

Selamat Jalan ibu B. Semoga Allah  mengampuni dosa-dosamu dan melapangkan kuburmu. Semoga kisah hidupmu menjadi pelajaran bagi kami semua. Ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa kita kendalikan dan berjalan bertentangan dengan rencana kita. Tapi Allah tidak membebani kita dengan sesuatu yang kita tidak mampu mengontrolnya. Mari lakukan yang terbaik, mengambil keputusan-keputusan yang terbaik sambil senantiasa memohon agar keputusan yang kita ambil itu sesuai dengan apa yang Allah sukai. Semoga dengan begitu kita bisa menjalani hidup kita di dunia ini dengan baik dan Allah berikan keselamatan serta penghidupan yang baik pula di alam akhirat. Aamiin.

Mang Sayur

16001049
sumber foto: Mas Sayur zonamotor.net

Kemarin tukang sayur yang biasa lewat depan rumah, tidak datang, karenanya pagi ini kutanya,

“Kok, kemarin nggak jualan, Mang?”

“Iya, saya bangun kesiangan!” Jawabnya.
“Emang bangun jam berapa, Mang?” Aku balik tanya.
“Jam setengah satu!” Jawabnya.
“Setengah satu siang?” tanyaku lagi
“Enggak, lah, jam setengah satu malam!” Jawabnya lagi.
“Bangun setengah satu malam masih kesiangan jualan, emang biasanya bangun jam
berapa, Mang? tanyaku lagi, penasaran.
“Saya biasa bangun jam 11 malam, terus belanja sampai jam 2 (pagi). Setelah itu bungkus-bungkus sampai Subuh. Habis subuh langsung ngider jualan,” paparnya.
“Terus tidurnya jam berapa, Mang?”
“Selesai jualan, kadang jam 3, kadang-kadang jam 4.”
—-
Wow, aku tidak bisa membayangkan kerja dengan jam kerja seperti itu. Jam 11 malam, bagi sebagian orang adalah jam berangkat tidur tapi bagi Mang Nyunyun (nama panggilan dia) justru saat dia mulai kerja. Lima belas jam berikutnya dia masih kerja. Kalau dihitung mungkin hanya sekitar 4-5 jam dia tidur per hari, dengan jam tidur yang tidak ‘normal’. Padahal si “Mamang” ini masih muda, mungkin usianya sekitar 30 tahun. Kubayangkan, pasti sesekali dia pingin main juga dengan teman-temannya, atau sekadar bersantai tanpa dikejar waktu.
Tapi dia mungkin tak punya banyak pilihan pekerjaan. Atau mungkin memang dia memilih kerja seperti itu dibanding kerja di pabrik atau pekerjaan lain. Tetangga depan rumah pernah cerita kalau Mang Nyunyun sempat tidak jualan beberapa bulan, kabarnya dia menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) ke luar negeri. Tapi tak lama kemudian dia balik dan kembali jualan lagi.
Cerita Mang Nyunyun menyadarkan aku bahwa ada banyak hal yang mesti kusyukuri. Bahwa untuk bisa belanja di depan rumah, ada sosok penjual yang mesti bangun sejak jam 11 malam. Bahwa pekerjaan sehari-hari di rumah itu masih terbilang ringan, dengan jam kerja yang longgar, tanpa deadline dan bebas tekanan. Kalau pas malas masak, ya, tinggal beli makanan jadi. Kalau malas nyuci, ya, tinggal ditumpuk untuk nyuci hari berikutnya. Itupun yang nyuci si mesin cuci, tinggal memasukkan baju, mencet tombol, hingga siap dijemur. Jika malas menyetrika, ya, baju nggak usah disetrika. Asal tahan aja ngelihat baju anak-anak atau baju sendiri sedikit kusut. Bahkan, andaikan malas banget cuci dan setrika, tinggal bawake laundry, lalu tinggal jemput dan terima baju rapi dan wangi. Semua itu adalah kemewahan yang mungkin tidak semua orang bisa merasakan.
Di sisi lain aku juga senang, menyaksikan anak muda pekerja keras. Aku jadi lebih menghormati Mang Nyunyun yang memilih mengisi masa mudanya dengan kerja keras dibanding santai-santai dan kongkow-kongkow yang biasanya dipilih mereka yang enggan memeras keringat. InsyaAllah dengan niat baik bekerja halal, Allah akan anugerahkan rezeki berlimpah dan barokah.
Terimakasih atas ‘petuah’ hidup yang berharga, Mang Nyunyun!

Berkirim Doa

Pernah, nggak, ketemu orang yang tiba-tiba bilang, aku sering mendoakan kamu, lho..

Ada sebuah kejadian yang sangat membekas di pikiran, saat suatu ketika aku mengunjungi tetangga beda 4 rumah dari apartemen tempat kami tinggal di Norfolk. Tetangga yang kukunjungi ini keluarga Afganistan. Sang suami sekolah PhD, si istri tinggal di rumah mengasuh anak mereka yang berjumlah 5 orang. Entah karena sibuk mengasuh anak atau memang tidak suka bersosialisasi, sang istri ini nyaris tidak pernah ke luar rumah dan jarang datang ke acara kumpul-kumpul, entah di masjid atau di taman. Bahasa Ingrisnya juga kurang lancar, jadi agak susah berkomunikasi dengan dia. Aku sempat beberapa kali ketemu di sekolahnya anak-anak, tapi, ya itu, kami jarang ngobrol panjang karena kendala bahasa.

Saat kami sekeluarga pindah apartemen sekitar 2 tahun yang lalu, jadilah kami bertetangga. Tapi kami masih jarang ngobrol. Hanya sesekali kami saling mengirim makanan.

Kira-kira sebulan setelah aku melahirkan Ihsan, aku berkunjung ke rumahnya. Kalau biasanya aku hanya mengantar makanan dan langsung pulang, hari itu aku masuk dan duduk di ruang tamunya yang tampak sempit.

“Aku senang kamu mendapat anak laki-laki, aku sering mendoakan kamu untuk mendapat anak laki-laki,” ucapnya dengan bahasa Inggris yang campur aduk.

Masya Allah, aku ternganga. Tidak terbayang di pikiranku, kalau perempuan ini, yang kami tidak terlalu akrab, bahkan bercakap-cakap saja kami jarang, mengirimkan doa untuk kami. Bisa jadi, atas doa dia, Allah berkenan memberikan anak lelaki pada kami.

Kejadian itu mengingatkanku untuk jangan bosan mengirimkan doa untuk keluarga, teman dan siapa saja. Mendoakan itu tidak berat, hanya butuh sedikit kelonggaran hati. Siapa tahu melalui doa-doa yang kita panjatkan, para malaikat mengaminkan hal yang sama dan Allah mengabulkan doa-doa terbaik.

Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”