Masuk Sekolah di Amerika (2)

Postingan 10 Januari 2015

Bagian pertama tulisan bisa di baca di sini ya…

Dengan pengantar dari sekolah, dan diantar Pak Sem, teman dari Indonesia yang sedang mengambil PhD di sini, berangkatlah kami ke semacam klinik milik departemen kesehatan di sini. Sempat was was juga, menurut berita-berita yang kami baca imunisasi di US termasuk mahal. Pak Sem juga bercerita kalau dia pernah imunisasi di klinik kampus dan membayar hampir 50 dolar (setara 500 sekian ribu). Wah mesti siap2 seratusan dolar nih, pikirku.

Klinik itu terletak satu lokasi dengan salah satu supermarket besar bernama Kroger. Jadi saat kami mendaftar dan ternyata harus menunggu 3 jam, kami jalan2 dulu ke Kroger. Oya, di klinik itu hampir semua orang sudah membuat janji beberapa hari sebelumnya. Karena kami baru datang hari ini, mau tak mau harus ikut antrian panjang. Untunglah ada perkiraan waktu tunggunya jadi kami bisa melakukan hal lain untuk mengisi waktu.

Apalagi si Sofie itu mimbak mimbik (javaness, the meaning is pingin nangis) karena takut disuntik. Sedikit terhibur karena di Kroger jualan buku-buku. Jadi hampir 2 jam Sofie asyik buka-buka buku Frozen, Sofia, Paw Patrol, dll yang memang disukainya. (Catat ya, cuma buka2, baca2 dan enggak beli..hehe).

Mendekati jam 1 siang kami balik klinik lagi. Ruang tunggunya cukup nyaman. Ada kursi2 kecil dan mainan anak. Juga 2 TV layar lebar yang memutar film Horton lalu lanjut Madagascar. Mayoritas pengunjung adalah orangtua yang mengantar anaknya, entah ayah/ibu/pasangan beserta anaknya (bayi/balita/remaja). Ada juga orang dewasa yang sendirian.

Uniknya tidak ada satu pun perempuan yang datang dengan menggendong bayinya. Semua ibu membawa bayinya dalam car seat yang sebagian mengombinasikan car seat&stroller utk membawa bayi. Emang terlihat praktis sih, gak usah ribet sama gendongan. Tapi car seat itu, tanpa bayi aja udah berat, apalagi dengan bayi yang montok2 itu, gak kebayang kalau harus bawa dalam jarak jauh.

Selama 2 jam menunggu (Sofie dipanggil sekitar jam 2.30), aku tidak melihat satu pun ibu yang menyusui bayinya. Entah kenapa. Bisa jadi mereka menyusui di Restroom, atau mungkin rata2 mereka tidak menunggu lama sehingga bisa menyusui di rumah. Memang sebagian bayi menyusu dari botol, yang bisa jadi berisi ASI dan bisa juga sufor. Dan sebagian besar bayi2 tersebut memakai ’empeng’ sesuatu yang di Indonesia sudah ditinggalkan oleh sebagian besar keluarga (hehe nggak ngerti sih data kongkritnya, tapi kupikir umumnya bayi di Indonesia sudah tidak ngempeng lagi).

Singkat kata, Sofie dipanggil dan dengan didampingi ayah dia diimunisasi hepatitis B dan polio. Aku menunggu di ruang tunggu bersama Lili. Saat keluar matanya sembab, tapi ayah Sigit tersenyum lebar. Apa pasalnya?
….Imunisasinya gratis….alhamdulillah. Tau gitu kemarin imunisasi semua aja di sini (tamak mode on).

Ternyata untuk anak-anak yang imunisasi karena syarat masuk sekolah (inilah pentingnya surat pengantar dari sekolah yang dikasih asistennya Ms Kimball kemarin), atau mereka yang tidak dicover asuransi (kebetulan asuransi Sofie memang tidak meng cover imunisasi), bisa mendapat layanan gratis di sini. Itulah mengapa antriannya panjang. Dan tidak sia-sia kami nunggu 4,5 jam untuk ‘menyelamatkan’ 100 dolar ^_^

Alhamdulillah syarat2 sudah lengkap dan insya Allah besok Sofie sudah bisa masuk sekolah.

Maaf bersambung lagi ya…

One thought on “Masuk Sekolah di Amerika (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s