13 years and more (insyaAllah)

4 Januari lalu merupakan ulang tahun pernikahan kami ke-13. Tidak terasa, waktu berjalan cepat. Dari berdua, jadi berlima. Si Sulung yang dulu ditimang, sekarang tingginya sudah melebihi ibunya. Si nomor dua yang kemarin-kemarin masih manut-manut saja, sekarang sudah bisa bilang, ” I feel left out, Mommy!”

Hal yang selalu kusyukuri, baik dalam perjalanan rumah tangga ini maupun kehidupanku secara keseluruhan, adalah karunia Allah berupa ‘rasa cukup’. Rasa cukup itu membuatku bersyukur dengan segala yang Allah berikan dan tidak pingin sesuatu milik orang lain. Rasa cukup itu pula yang membuatku seakan ingin bilang bahwa aku senang menjadi diriku sendiri dan kalau sleandainya Allah beri kesempatan untuk dilahirkan kembali dan memilih menjadi siapapun, maka aku akan memilih untuk menjadi diriku yang sekarang.

Demikian juga dengan pernikahan dan rumah tangga ini, rasanya semuanya berjalan indah-indah saja. Bertemu pertama kali dengan mas suami (tentu waktu itu masih orang lain) tahun 2001 dalam sebuah acara di Magelang. Kenal lebih intens tahun 2002-2004 dalam komunitas Al Manar UGM. Sempat putus komunikasi lalu sambung lagi masa-masa gempa Jogja 2006. Dan, menikah awal tahun 2007.

Lalu kami tinggal di Palu, Sulteng dan punya bayi perempuan pada November 2007. Selama tinggal di Palu, kami merasakan suka duka dalam proses saling memahami. Setiap pasangan yang baru menikah pasti mengalami susah senangnya mengenal karakter asli masing-masing. Berkompromi dengan kekurangan pasangan dan berjuang menemukan pola komunikasi yang baik, agar pesan sampai tanpa harus menyinggung perasaan. Di sini juga kami merasakan uang tabungan yang selalu habis terkuras tiap tahun pas pulang kampung saat lebaran 🙂 Jadi tiap habis lebaran serasa disapa oleh petugas pom bensin, “mulai dari nol, ya!” ^_^

Dua setengah tahun kemudian mas suami mendapat beasiswa ke Belanda, aku nangis seneng juga sedih. Seneng karena ini mimpi dia sejak lama, sedih karena nggak bisa ikut alias mesti pisah lama. Mas suami sadar sekali kalau istrinya ini nggak suka jauhan sama dia, makanya dia cari program yang singkat. Dan atas pertolongan Allah program S2 dia bisa kelar kurang dari setahun.

Tahun 2009-2014 kami tinggal di Jakarta. Aku kerja di majalah Ummi (yang ini merupakan awal karierku di bidang penulisan) dan dia ngajar serabutan di banyak universitas sampai akhirnya menetap mengajar di Universitas Presiden. Di Jakarta kami merasakan ngekos satu kamar yang sempit dan panas. Selama setahun ditinggal mas suami ke Belanda, aku pernah tinggal di kost yang jauh dari kantor, dan kalau malam berisik banget. Kadang ada anak-anak kecil yang iseng ngetok-ngetok pintu. Tiap hari aku berangkat ke kantor bawa bocah usia 2,5 tahun (karena waktu itu belum dapat ART). Berangkat sepagi mungkin dan pulang paling malam. Itu satu-satunya cara ‘membunuh’ waktu. Kadang pas malam, setelah si bocah tidur, aku nyuci baju sambil nangis karena kangen sama mahasiswa S2 yang lagi sekolah di Belanda itu.

Keadaan sedikit membaik saat aku punya ART terbaik sepanjang perjalanan rumah tangga, bernama Mbak Wati. Aku juga sudah pindah ke kontrakan dekat kantor, yang sebenarnya tingkat kenyamanannya juga sangat rendah karena hampir ambruk dan banyak tikus. Ngontrak dengan teman terbaik bernama Esti, yang sayangnya cuma bertahan beberapa bulan dan kembali mesti tinggal sendiri. ART terbaik itu juga cuma bertahan beberapa bulan karena mesti pulang kampung, menikah dan tak kembali ke ibu kota.

Masa-masa mas suami sekolah di Belanda itu rasanya jadi waktu paling berat buatku. Tapi alhamdulillah semua terlampaui dan mas suami bisa kembali dengan selamat (dan sukses). Tampak keren dengan ijazah S2 dari luar negeri tapi belum punya pekerjaan di Indonesia. Hehe. Mulailah babak baru pencarian pekerjaan. Mengajar bahasa Inggris di LIA, juga mengajar HI di Universitas Budi Luhur, Paramadina, UIN, juga di UPN Jakarta. Akhirnya menetap mengajar di Universitas Presiden, Cikarang. Tiap hari mas suami berangkat pagi-pagi, kadang naik kendaraan umum, pernah juga naik motor, pulang sore kadang malam hari. Capek dengan kemacetan jalan di Jakarta, tapi alhamdulillah kehidupan kami terus berjalan. Tiap akhir pekan kami sekolah Qur’an dan menambah hafalan di Al Hikmah, Mampang. Mas suami juga masih sempat ikut kelas Bahasa Arab di masjid Al Manar, Utan Kayu, Jakarta Timur, dekat kantor Ummi. Tempat kost kami juga sudah lebih nyaman, meskipun rumah tua tapi lumayan luas dengan ongkos yang terjangkau.

Lalu mas suami mendaftar beasiswa ke Amerika, alhamdulillah diterima. Mulailah kami LDR lagi selama 5 bulan, pas kebetulan aku hamil anak kedua yang jadwal lahirnya kok, ya, barengan sama jadwal mas suami berangkat ke Amerika. Alhamdulillah Allah mengaturnya dengan baik, suami sempat tertunda berangkat yang sisi positifnya jadi bisa mendampingi aku melahirkan tapi negatifnya proses ngurus pemberangkatan yang berbelit-belit (bahkan nyaris tidak bisa berangkat). Dan aku menunggu di Indonesia, tepatnya di kota kelahiranku di Banyuwangi sambil mendampingi bayi yang lahir tepat di hari terakhir Ramadhan tahun 2014 serta bocah perempuan usia 7 tahun yang mulai masuk SD.

Lima bulan yang sepertinya tidak lama, kala itu, saat menjalaninya, waktu berjalan seperti keong, lama sekali 🙂 Dan tak terkira bahagia ketika akhirnya kami bisa bersama menginjakkan kaki ke kota New York City yang gemerlap. Seperti mimpi bisa menginjakkan kaki di kota yang rasa-rasanya dikenal orang sedunia raya. Dan lima tahun berlalu nyaris seperti kedipan mata. Begitu cepat.

Pengalaman yang sungguh berkesan tinggal hampir selama lima tahun di Norfolk, Virginia. Banyak susahnya juga, kondisi finansial yang terbatas, pernah juga kami berutang yang sepertinya tidak akan terbayar sampai kami kembali ke Indonesia. Alhamdulillah atas pertolongan Allah, lunas juga. Mas suami beberapa kali sakit, sepertinya karena tekanan mengerjakan disertasi. Aku juga sempat bekerja sebagai babysitter, petugas cleaning service dan terakhir menjadi penjaga toko di mall. Tapi pengalaman senangnya terasa lebih banyak. Mengenal banyak orang dari berbagai negara di seluruh dunia, mengecap makanan dari berbagai bangsa, dan buatku pribadi: menjadi lancar berbahasa Inggris dan menyetir mobil sendiri.

Si Sulung belajar membaca dalam bahasa Inggris. Dia juga merasakan belajar SD kelas 1-kelas 5 (kelas terakhir Elementary School di US) di sana. Si nomor dua sempat merasakah sekolah setahun di Amerika. Dan setahun terakhir sebelum kami balik Indonesia, Allah kasih bonus bayi laki-laki ganteng, Alhamdulillah.

Di Amerika kami bergabung dengan IMSA (Indonesian Muslim Society of America) yang memberikan pengalaman luar biasa. Tiap tahun (kecuali tahun 2014 karena aku lagi hamil besar) kami menghadiri Muktamar IMSA yang menjadi ajang pertemuan diaspora muslim Indonesia dari seluruh penjuru Amerika dan Canada. Teman-teman IMSA juga yang selalu berbaik hati menyambut kami yang sering numpang istirahat dan menginap kala melakukan perjalanan lintas negara bagian di Amerika.

Di Amerika kami bertemu orang-orang baik, dari berbagai agama, ras dan bangsa. Kami dua kali mendapat hibah mobil gratis. Kami mendapat selimut-selimut hangat yang dibuat sendiri oleh sekelompok lansia di sebuah gereja. Kami mendapat kiriman makanan hampir tiap hari selama sebulan dari komunitas masjid dekat kami tinggal selama proses pemulihan paska melahirkan, juga dari teman-teman Indonesia di VA dan para tetangga serta teman-teman Amerika. Tidak sekali teman-teman Amerika yang mayoritas beragama Kristen mengantar kami ke sana kemari mengurus banyak hal (saat kami belum punya mobil). Begitu berlimpah nikmat yang Allah berikan hingga rasanya tak pernah cukup rasa syukur itu aku panjatkan.

Saat harus kembali ke Indonesia 6 bulan yang lalu, rasa beratnya melebihi perasaan saat meninggalkan Indonesia lima tahun yang lalu. Norfolk, VA sudah seperti kampung halaman kedua buatku. Ada orang-orang yang kami cintai di sana. Ada tempat-tempat yang kami menitipkan kenangan. Semoga Allah ijinkan kami menjejakkan kaki lagi ke sana, entah sekadar berkunjung atau menetap lagi.

Hal yang selalu kusyukuri dari perjalanan rumah tangga ini adalah pasangan yang menjelma menjadi sahabat baik. Dia orang paling mengerti diriku, bahkan melebihi kedekatanku dengan semua teman dekat yang pernah kumiliki. Di depannya aku bisa menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi. Jika aku malu, takut, sedih, khawatir, tanpa ragu dan malu aku bisa bercerita dan dia selalu bisa menjadi tempat bersandar. I love him more saat menuliskan deskripsi ini.

Dari sepanjang perjalanan berumahtangga aku bertemu dengan banyak orang dan pasangan lain. Dan tidak semua rumah tangga diberikan ‘rezeki’ berupa ‘teman baik’ ini. Banyak pasangan yang ketika istri atau suaminya melakukan kesalahan, suami atau istrinya ikut menyalahkan. Banyak juga istri atau suami yang tidak bisa jujur menjadi diri sendiri di depan pasangan karena berbagai alasan. Karena itu, menurutku, menjadi rezeki luar biasa kalau Allah jadikan pasangan kita sebagai teman baik yang selalu mengerti. Teman baik tidak berarti selalu membenarkan, tapi dia bisa mengajak pada kebaikan tanpa kita merasa disalahkan. Teman baik membuat nyaman bercerita karena kita percaya rahasia kita aman dan dia memahami karakter serta sifat-sifat kita.

Aku melihat banyak pasangan juga seperti ini. Mereka saling mendukung dan memahami. Tapi tak sedikit juga yang sebaliknya. Yang jika melihat suami atau istrinya salah dia yang teriak paling keras menyalahkan, semoga teman-teman yang membaca postingan ini tidak termasuk didalamnya.

Ada banyak cerita dari 13 tahun perjalanan kami. Dari kurus kami menggendut berdua 🙂 lalu olahraga bareng, diet bareng, timbangan sedikit bergeser ke kiri walaupun kemudian gendut lagi, begitu saja naik turun. Di awal rumah tangga mas suami tidak terlalu suka pedas, sekarang ketularan doyan pedas bahkan nggak lengkap lagi makan kalau tidak ada cabe ^_^ Dari hobi tidur ketika libur sekarang mas suami ikutan suka jalan-jalan, dan beberapa kali mendaki gunung berdua, termasuk mewujudkan salah satu keinginan terpendamku yakni menaklukkan Mahameru. Terimakasih sudah sabar menemani ^_^

Tiap kali kami jalan-jalan, ada saja hal yang bikin diem-dieman. Kadang negosiasi masalah pilihan tempat menginap dan destinasi yang nggak kelar-kelar. Maklumlah, kami keluarga mahasiswa PhD yang dompetnya pas-pasan tapi ingin menjelajahi seluruh penjuru Amerika. Kadang, ya, enggak tau apa sebabnya. Tapi tak lama kami ketawa-tawa lagi. Saat mengunjungi sebuah tempat wisata, mas suami paling sabar menenangkan anak-anak, ngajak main, nungguin anak-anak sementara sang istri ke sana ke sini ambil foto dan nyoba segala macam wahana. Dia juga suka nyetir dan tidak mau digantiin karena kalau jadi penumpang suka mabuk. Hehe.

Masih banyak hal lain yang rasanya tidak akan pernah cukup ditulis satu-satu. Yang jelas di ulang tahun pernikahan ke-13 ini aku ingin kembali mengingatkan diri sendiri untuk lebih banyak bersyukur dan bersandar hanya pada-Nya. Banyak hal -yang biasanya berkaitan dengan uang/finansial- sebelumnya samar dan kalau pakai perhitungan manusia seperti meragukan, tapi ketika kita jalani dengan niat baik, selalu Allah kasih jalan. Tidak terhitung banyaknya doa-doa yang dikabulkan-Nya.

Tiga belas tahun masih terbilang muda, namun insyaAllah kami siap menapaki tahun-tahun ke depan. Mohon doanya agar kami selalu bisa menebar kebaikan, di mana pun Allah tempatkan kami sekeluarga.

 

 

 

Berkemah di Curug Cijalu

Weekend kemarin kami sekeluarga berkemah di di Curug Cijalu, Subang. Lokasinya dekat sekali dengan Purwakarta. Kami berkemah bersama komunitas Kemah Keluarga Indonesia (K3i).

Lokasinya seger. Tenda kami dikelilingi pohon pinus yang menjulang tinggi. Kalau melihat sekeliling, seakan kita di dalam ceruk yang dipagari pepohonan yang tumbuh diatas tebing rendah.

Di lokasi perkemahan disediakan kamar mandi dan mushola. Juga ada penjual makanan yang tidak jauh dari tenda kami. Air mudah diakses. Semalam juga tidak ada nyamuk.

Hanya berjalan kurang lebih 500 m, kita akan sampai di Curug Cijalu. Jalannya naik turun berupa jalanan berbatu. Airnya segar, pemadangannya indah. Langitnya biru cerah menambah indah suasana.

Alhamdulillah hapeku tidak ada sinyal, tidak ada listrik juga buat nge charge hp. Jd hp kami matikan, anak-anak main dengan apa yang ada.

Kelebihan kemah bersama komunitas ada teman-teman baru. Kadang anak-anak cocok kadang juga enggak. Seharian pas hari Sabtu kami jalan-jalan mengelilingi area perkemahan, ke air terjun, lihat pohon, kayu, main denga semua yang ada. Malamnya mengelilingi api unggun bersama. Lili dan Sofie senang sekali berbagi marshmallow untuk dipanggang.

O iya pas Sabtu siangnya ada acara sharing dari om Chepy, pendiri K3I mengenai macam-macam tenda dan flysheet. Jadi, jangan khawatir kalau belum pernah camping. Sewa atau pinjam alat aja atau bahkan bawa aja seadanya yang ada di rumah. Nanti pelan-pelan belajar dan kalau ada dana bisa nyicil beli satu-satu. Kami jg blm punya alat apa2. Perlengkapan berkemah saat di US kami tinggal di sana semua ☺

Hari minggunya kami senam sama-sama setelah itu ada game, jalan lagi ke air terjun, main air lalu masak dan makan sama-sama. Begitu saja, sih, kegiatannya. Main, jalan-jalan, nasak, makan. Awalnya sih si Sofie malam berkemah tapi setelah merasakan pengalaman di sana, dia menikmati juga. Kalau Lili memang sudah suka berkemah dan sejak berangkat sudah tidak sabar tiba dia sana.

 

Kehilangan

Beberapa hari yang lalu kami mendapat kabar duka dari Amerika. Salah seorang teman yang sudah kuanggap seperti ibu sendiri meninggal dunia. Sedihnya, si Ibu ini, sebut saja Ibu B, meninggal dunia sendirian, di kamar dia, tanpa seorang pun yang mendampingi. Diduga, beliau meninggal sehari sebelum ditemukan, dengan sebab serangan jantung.

Setiap kali teringat Ibu B, aku masih merasa sedih. Membayangkan beliau meregang nyawa sendiri, tidak ada yang menemani. Dua anaknya tinggal satu kota, tapi karena suatu hal mereka tidak mau berkomunikasi dengan ibunya. Sang mantan suami juga tinggal satu kota, tapi sejak bercerai mereka tidak pernah saling bicara. Kadang ada orang yang tinggal (kost) di rumah ibu B, kadang dia hanya tinggal sendiri. Beberapa kali ibu B juga menampung teman atau keluarga yang butuh tempat tinggal, bahkan kabarnya, saat beliau meninggal itu sedang ada satu keluarga yang tinggal menumpang di rumah beliau, namun mereka sedang tidak di rumah ketika Ibu B meninggal. Kalau sudah takdir, ya, meskipun ada keluarga yang tinggal bersama, Allah berkehendak memanggil kala beliau sedang sendiri.

Potret Ibu B menjadi sesuatu yang biasa di Amerika. Aku punya beberapa kenalan (orang Amerika asli) yang sudah berusia senja dan tinggal sendirian. Ada yang pernah menikah lalu bercerai, si anak tinggal di state lain. Ada yang tidak pernah menikah dan tidak punya anak. Ada juga yang istri/suaminya sudah meninggal duluan dan dia tinggal sendiri. Sepertinya bukan hal yang aneh kalau ada lansia meninggal sendirian di rumahnya dan lambat diketahui karena tidak ada yang menemani. Namun begitu jarang aku tahu orang Indonesia atau orang Asia yang memilih gaya hidup seperti itu. Biasanya kalau mereka tidak punya keluarga lagi, ya, mereka memilih kembali ke negara asal. Atau minimal mereka masih punya anak-anak, teman atau saudara yang rutin datang, menengok atau minimal saling menelepon.

Banyak orang membayangkan pernikahan dengan ‘bule’ atau warga negara Amerika Serikat selalu berbuah manis. Padahal banyak kisah dibaliknya dan sebagian darinya bukan cerita indah. Seperti kisah Ibu B yang diawali dengan cerita manis pernikahan yang menghasilkan dua anak perempuan yang lucu-lucu. Sekian tahun mereka membina pernikahan, suatu ketika sang suami memutuskan keluar dari Islam. Menurut ibu B perpindahan agama ini yang menjadi alasan dia mengajukan perceraian tapi mungkin sebetulnya ada masalah rumit yang saling berkelindan. Singkat kata mereka bercerai dengan proses yang tidak baik-baik saja. Mantan suami dan istri itu tidak pernah lagi saling berkomunikasi, dua anak ikut ibunya.

Sekian tahun Ibu B membesarkan anak sendiri, mengajarkan mereka tentang Islam, Allah mengujinya dengan anak sulung yang hamil di luar nikah. Tak terbayangkan bagaimana perasaan perempuan yang setiap pekan mengajar di sekolah Islam Sunday School saat putri kecilnya terbawa arus pergaulan bebas. Hanya Allah yang tahu bagaimana akhirnya si Ibu bisa menerima kehadiran bayi kecil ganteng dan mencintainya sepenuh hati.

Beberapa tahun kemudian ketika Allah mengujinya kembali dengan serangan jantung. Sempat dirawat di rumah sakit sampai lumayan membaik, ibu B berkeinginan kembali ke Singapura, tanah kelahirannya. Dia pun meninggalkan negeri Paman Sam yang sudah ditinggalinya kurang lebih 30 tahun. Sayangnya, negeri Singa yang dia bayangkan berbeda dengan kondisi saat itu. Puluhan tahun bekerja di Amerika, saat kembali ke Singapura ibu B kesulitan mengakses kemudahan, seperti asuransi dan tunjangan ‘cacat’ seperti yang biasa dia dapatkan di Amerika. Setelah berpikir panjang, Ibu B memutuskan kembali ke Amerika setelah 7 bulan tinggal di Singapura.

Kembali ke Amerika, ibu B kaget, rumahnya ditempati si anak kedua dengan pacarnya plus anjing piaraan mereka. Momen itu menjadi awal komunikasi yang memburuk dengan anak-anaknya. Ibu B selalu mengatakan bahwa selama dia tinggal di Singapura sang mantan suami ‘meracuni’ dua putrinya dengan segala pikiran buruk mengenai dirinya. Hingga mereka tak mau lagi bersikap baik dengannya. Selama nyaris lima tahun aku tinggal di Norfolk, si Ibu tidak pernah berbicara dengan putri sulungnya. Si bungsu sempat tinggal dengan ibunya namun akhirnya dia juga memilih tinggal sendiri dan nyaris tak pernah berkomunikasi dengan ibunya.

Aku sedih sekali membayangkan perasaan bu B. Anak-anak yang dibesarkan dengan susah payah, tumbuh jauh dari yang dia harapkan. Ingin kembali ke tanah air, khawatir membebani keluarga besar. Minimal selama tinggal di Amerika, dia masih bisa mandiri. Dalam arti dia bisa pergi ke mana-mana tanpa merepotkan orang lain. Bagi penderita masalah kesehatan seperti ibu B, bisa mendapat fasilitas layanan bus dengan biaya yang sangat murah ke mana-mana. hanya tinggal order minimal sehari sebelumnya, bus yang dilengkapi layanan kursi roda akan menganta dan menjemput dari depan pintu rumah. Setiap bulan dia juga mendapat semacam tunjangan dari negara. Asuransi kesehatan juga gratis. Bahkan jika bu B mau, dia bisa mendapat semacam perawat gratis yang tiap hari datang ke rumah untuk membantu dia membersihkan rumah, memasak makanan dan menemani berbagai aktivitas sederhana.

Alhamdulillah dengan segala fasilitas itu, Ibu B bisa rutin shalat Jumat ke masjid dan pergi ke beberapa acara, misalnya kumpul-kumpul dengan orang Indonesia atau kegiatan lainnya. Setidaknya beliau masih punya ‘kehidupan’ bersama teman-teman dan komunitas muslimnya. Sayangnya relasi dengan kedua anaknya tidak kunjung membaik. Bahkan akhir-akhir ini dia makin susah berkomunikasi dengan cucunya.

Seperti itulah ibu B mengisi hari-hari. Kadang dia ke Gym kalau ada teman yang mengajak. agar tidak bosan, dia sering memesan bus untuk ke mall setidaknya sekali sepekan. Sering dia mengundang kami sekeluarga atau teman-teman Indonesia lain untuk datang ke rumahnya. Kalau kami datang berkunjung, beliau senang sekali. Terlihat dari berbagai makanan yang beliau sajikan. Mukanya juga berseri-seri. Ibu B meskipun asli Singapura, ayahnya asli Indonesia. Karena itu dia akrab dengan komunitas Indonesia.

Sampai hari saat dia meninggal, tidak ada kabar bahwa ibu B sakit sebelumnya. Karena itu kami semua, yang mengenalnya, kaget mendengar berita dukacita tersebut. Kita semua berasal dari Allah dan kepada-Nya lah kita semua akan kembali. Berita kematian memang selalu mengingatkan kita semua bahwa sejatinya kita hidup ini sementara. Alam akhiratlah yang kekal dan kita semua akan menuju ke sana.

Selamat Jalan ibu B. Semoga Allah  mengampuni dosa-dosamu dan melapangkan kuburmu. Semoga kisah hidupmu menjadi pelajaran bagi kami semua. Ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa kita kendalikan dan berjalan bertentangan dengan rencana kita. Tapi Allah tidak membebani kita dengan sesuatu yang kita tidak mampu mengontrolnya. Mari lakukan yang terbaik, mengambil keputusan-keputusan yang terbaik sambil senantiasa memohon agar keputusan yang kita ambil itu sesuai dengan apa yang Allah sukai. Semoga dengan begitu kita bisa menjalani hidup kita di dunia ini dengan baik dan Allah berikan keselamatan serta penghidupan yang baik pula di alam akhirat. Aamiin.

Celebrated Eid Adha in Indonesia

Today we celebrate Eid Adha, a feast of sacrifice. It starts with Arafat fasting, which we did a day before the festival. It is also the day when the pilgrims stand on the plains of Arafah for pray. After breakfasting we say Takbir or “Allahu Akbar,” that means Allah is the greatest, either alone or together, at home or at the masjid, quietly or loudly.
In the morning, we wake up early around 4:30 am to prepare for eid prayer. We start with Fajr pray then have a quick shower. We wear our best clothes and skip our breakfast until the eid prayer done.

Because the place for doing eid prayer is close to our house, we went there by walking. Then we did two rakaah eid prayer continued with listening to the eid sermon. After that we went home, had breakfast and get ready for the feast festival.

Usually, the festival is held by masjid, Islamic groups or school. Almost every neighborhood in Indonesia have their own masjid, so usually, people will gather to the masjid in their neighborhood. In our neighborhood masjid, we sacrifice 4 cows and 4 goats. People will work together to slaughter the cattle, clean and cut the meat then distribute them to all people in that neighborhood and the needy people.

While the men were working with the cut and distribute the meat, the women were cooking some of the meat for the festival. During those time snacks, beverages, fruits, including ice cream served. After all the meat packed and the food cooked, everyone will sit and eat together. Then we all cleaned and did Dhuhur pray together.
Happy Eid Mubarak!

 

Idul Adha di Amerika

eid adha 1Dua hari lagi insyaAllah kita akan bertemu dengan Idul Adha 1440 H. Ini tahun pertama kami merayakan Idul Adha di Indonesia, setelah empat tahun terakhir kami selalu merayakannya di Norfolk, Virginia. Mungkin banyak di antara teman-teman di sini yang bertanya-tanya, seperti apa, sih, merayakan Idul Adha di Amerika Serikat? Apakah sama seperti di Indonesia, orang-orang bergotong royong menyembelih hewan Qurban di masjid, memotong-motong daging dan membagikannya?

Di Amerika Serikat, sebagaimana di negara-negara minoritas muslim lain, Idul Adha nyaris tak beda dengan hari-hari biasa. Anak-anak tetap masuk sekolah, orang-orang masuk kerja dan kantor-kantor buka seperti biasa. Tidak ada libur, takbir keliling, apalagi acara kumpul-kumpul, menyembelih dan memasak hewan kurban bersama.

Sehari sebelum hari raya, masjid di dekat tempat saya tinggal, yakni Islamic Centre of Tidewater biasa mengadakan potluck atau makan bersama saat buka puasa di hari Arafah. Disebut potluck karena para keluarga yang hadir menyumbang makanan untuk dimakan bersama-sama. Ada yang membawa nasi biryani, nasi ayam khas Timur Tengah, kadang ada juga yang memasak Couscous Maroko. Tidak hanya makanan ‘berat’ yang disajikan, namun juga kue-kue, buah, es krim bahkan kadang ada juga yang membawa roti tart!

Di kota Norfolk, Virginia, selain dua masjid kecil yang menyelenggarakan shalat Id dengan kapasitas yang terbatas, terdapat 2 penyelenggaraan shalat Idul Adha yang mampu menampung jamaah dalam jumlah besar. Dua penyelenggara tersebut biasa menyewa hall atau gedung olahraga di Virgina Beach atau Hampton Roads. Saya biasa mengikuti shalat Id di Hampton Roads yang berjarak kuranglebih 45 menit mengendarai mobil dari tempat saya tinggal. Panitia shalat Id yang merupakan gabungan beberapa komunitas muslim setempat menyewa gedung stadion dengan kapasitas kuranglebih 2000 orang. Biaya sewanya juga tak tanggung-tanggung, sekitar 4000 USD atau setara dengan 50 juta rupiah. Namun tak perlu khawatir karena biasanya uang donasi atau sedekah dari para jamaah melebihi jumlah tersebut.

Shalat Id dimulai pukul 9 pagi, takbir mulai dikumandangkan satu jam sebelumnya. Apakah ada takbir sebelum shalat Id? Ada, namun hanya bisa didengar di dalam masjid, malam sebelum shalat Id. Itu pun hanya takbir pendek, dikumandangkan oleh imam seusai shalat Isya.

Karena sekolah tidak libur, orangtua muslim perlu memintakan ijin untuk anak-anak mereka. Sisi positif dari masyarakat Amerika, mereka sangat menghormati kebebasan setiap orang memeluk dan menjalankan ibadah sesuai keyakinannya. Jadi umumnya tak masalah siswa tak masuk sekolah untuk menjalankan ibadah shalat Idul Adha. Bahkan di kota New York, Idul Fitri dan Idul Adha sudah menjadi hari libur sekolah, semoga negara bagian yang lain segera mengikuti kebijakan ini.

Demikian juga bagi para pekerja kantoran. Mereka harus mengajukan ijin datang terlambat atau sekalian cuti kerja. Hari Idul Adha merupakan momen istimewa anggota keluarga berkumpul menjalankan ibadah bersama-sama. Juga saat langka dimana komunitas muslim dari berbagai penjuru kota bersua.

Sejak pukul tujuh, lokasi shalat Id sudah ramai dengan para jamaah. Semua hadir dengan pakaian terbaik. Ibu-ibu menggandeng anak-anak yang tampak ceria memakai baju baru dengan aksesoris gelang, bando dan ikat rambut warna warni. Umumnya jamaah memakai pakaian tradisional mereka. Pria Pakistan, Afganistan dan India memakai Shalwar Kameez berbentuk gamis selutut, sewarna dengan celana mereka. Laki-laki dari Timur Tengah memakai gamis Thobe warna hitam atau putih, dengan aksesoris penutup kepala (kofiyah) kombinasi merah dan putih. Tak sedikit pula yang memakai jas, hem biasa bahkan kaos (t-shirt) dipadu dengan jeans.

Para perempuan tampil ceria dengan busana warna-warni. Sebagian berhijab, banyak pula yang tidak. Ada yang memakai Shalwar Duppata khas Pakistan, abaya hitam Arab, baju sari, busana pesta, baju tradisional Afrika. Luar biasa beragam. Menggambarkan berbagai latarbelakang, suku, ras, dan bangsa. Semua hadir dengan niat menjalankan ibadah sebagaimana perintah Allah Swt.

Khutbah shalat Id disampaikan dalam 2 bahasa, yaitu Arab dan Inggris. Usai shalat dan khutbah orang-orang berkumpul bersama kolega, teman-teman dan keluarga mereka. Biasanya panitia menyediakan cemilan berupa donat artisan box. Adakalanya tersedia pula kue-kue khas berbagai negara yang sengaja dibawa beberapa keluarga untuk berbagi sukacita.

Proses Penyembelihan Hewan Qurban

Lalu bagaimana penyembelihan hewan Qurban di sini? Bisakah masjid menyelenggarakan prosesi penyembelihan dan pembagian hewan Qurban seperti di Indonesia? Di Amerika, seperti juga di Eropa dan Australia memiliki kebijakan yang ketat mengenai penyembelihan hewan. Tak bisa sembarang orang menyembelih hewan ternak. Penyembelihan pun hanya bisa dilakukan di tempat yang memang sudah disediakan dan telah melalui uji kelayakan.

Masjid atau organisasi keislaman tak bisa menyelenggarakan prosesi penyembelihan hewan Qurban. Oleh karena itu umumnya muslim di Amerika berkurban melalui lembaga kemanusiaan lokal dan internasional seperti Islamic Circle of North America (ICNA) dan Islamic Relief. Masjid-masjid juga menerima pembayaran hewan Qurban lalu menyalurkannya ke lembaga-lembaga kemanusiaan internasional atau mengirimkannya ke negara-negara yang lebih membutuhkan seperti Palestina dan Syiria.

Lalu bagaimana jika ingin menyembelih hewan Qurban sendiri? Karena di beberapa negara seperti Maroko, Mesir dan Saudi Arabia, berkurban merupakan tradisi tiap keluarga. Hampir setiap rumah menyembelih kambing sendiri, lalu membagikan dan menikmati daging tersebut bersama keluarga, teman dan kerabat. Bisa dibayangkan alangkah hampanya menjalani Idul Adha tanpa menyembelih hewan Qurban.

Rupanya ada cara untuk menyembelih Qurban ‘sendiri’ di Amerika. Caranya, beberapa minggu sebelum Idul Adha, orang yang hendak berkurban (Shahibul Qurban) bepergian ke wilayah pertanian di pinggiran kota. Biasanya para petani di Amerika sekaligus peternak yang memelihara kuda, sapi, biri-biri, babi, bebek, dan ayam. Sesampainya di sana, mereka melakukan transaksi pembelian sapi, kambing atau biri-biri dengan perjanjian akan kembali ke sana pada hari tertentu antara 10 hingga 13 Dzulhijah. Harga hewan Qurban tahun ini kurang lebih 300-500 USD (Rp 3,5 juta- Rp 6 juta) untuk kambing/biri-biri dan 900-1500 USD (Rp 10 juta-Rp 17 juta) untuk sapi.

Pada hari yang sudah disepakati mereka kembali ke peternakan tersebut. Lalu si petani akan mempersiapkan prosesi penyembelihan. Shabibul Qurban menyembelih sendiri hewan Qurban yang dipilihnya. Namun prosesi menguliti, membersihkan dan memotong-motong dilakukan oleh si peternak. 

Di beberapa kota besar seperti Washington DC dan Maryland yang memiliki komunitas muslim cukup besar, tersedia pertanian dan peternakan yang dikelola oleh keluarga muslim. Proses Qurban di tempat tersebut lebih mudah, Shahibul Qurban tinggal datang dan memilih hewan Qurban, lalu peternakan akan melakukan proses selanjutnya. Mulai dari menyembelih, menguliti, memotong dan membersihkan hewan Qurban. Proses penyembelihan pun dilakukan secara modern, tak lagi menggunakan parang atau golok namun menggunakan gergaji mesin. Demikian juga untuk memotong daging, mereka menggunakan mesin canggih. Dalam waktu singkat, daging Qurban pun siap dibawa pulang.

Piknik di Peternakan

Tahun lalu, kami berkurban di salah satu peternakan di North Carolina. Hari itu, usai shalat Id Adha kami sekeluarga menuju kawasan peternakan. Kurang lebih sejam berkendara, kami pun sampai di lokasi. Sudah banyak keluarga yang menunggu giliran menyembelih hewan kurban. Sambil menunggu giliran, sebagian keluarga piknik dengan menggelar alas duduk, sambil menyantap makanan ringan dan meminum teh dan minuman segar lainnya.

Meskipun kami berada di peternakan, tak ada bau menyengat. Mungkin karena binatang-binatang yang dipelihara di peternakan ini, seperti kuda, sapi, kambing dan domba tidak dikurung namun dibiarkan bebas berkeliaran dalam sebuah ‘kandang’ besar seperti kebun binatang. Di sekeliling kami terlihat rumah petani, gudang yang dicat merah, dan silo atau bangunan seperti tabung tempat petani menyimpan hasil pertanian. Hewan-hewan yang lebih kecil seperti ayam, kalkun, kelinci, dan babi di tempatkan dalam kandang-kandang berukuran lebih kecil namun mereka masih bebas berkeliaran. Anak-anak bisa melihat dan memberi makan hewan-hewan tersebut.

Tak jauh dari lokasi peternakan terdapat pasar tradisional yang menjual kentang, jagung, labu, zuccini, wortel, brokoli, timun, tomat, semangka dan berbagai hasil pertanian lain. Terkadang mereka juga menjual madu, roti, kue pie dan es krim rumahan. Harganya memang sedikit lebih mahal dari barang sejenis yang biasa dijual di supermarket, namun rasanya jauh lebih nikmat. Rasa sayuran dan buahnya lebih enak, makanan yang dijual lebih sehat dan alami. Tak heran jika para pengunjung tak melewatkan kesempatan untuk berbelanja di pasar yang hanya buka selama musim semi, musim panas dan pertengahan musim gugur ini.

Perayaan Idul Adha di Amerika memang tak semeriah lebaran kurban di Indonesia, namun, tak kalah menyenangkan, bukan?

***

Sebagian isi tulisan sudah dimuat di sini 

Cerita Idul Adha 2017 huga bisa dibaca di sini

 

 

 

Back for Good to Indonesia

bfg-poster
gambar pinjam dari backforgoodfilm.com

“I heard you will go back to Indonesia for good, is it true, Aini?”

Demikian pertanyaan yang tak henti kudengar awal Mei lalu. Banyak teman yang sudah seperti keluarga kami di Norfolk menanyakan hal tersebut dengan nada sedih. Kami memang memutuskan akan kembali ke Indonesia pekan ketiga Mei 2019. Mas Sigit sudah menyelesaikan disertasinya, meskipun secara resmi dia baru lulus dari kampus pada Agustus 2019 (insya Allah).

Tak pernah kubayangkan jika meninggalkan Norfolk akan terasa sedemikian sedih. Jika ingat pertama kali kami sekeluarga menginjakkan tanah di kota ini, rasa asing mendominasi dan sepertinya akan mudah saja saat tiba waktunya kami kembali ke tanah air. Namun 4,5 tahun juga bukan waktu yang sebentar.  Teman yang awalnya sekadar kenal, menjelma menjadi teman baik bahkan jadi dekat seperti saudara. Lingkungan sekitar terasa nyaman, segala sistem sosial kemasyarakatan yang lebih teratur dibanding negara sendiri membuat kerasan. Ditambah lagi rutinitas yang mulai terbentuk dalam kurun waktu tersebut menjadikan hari-hari berlalu dengan cepat dan menyenangkan.

But, life must go on. Kita mesti terus melangkah. Rasa sedih dan berat tentu ada, tapi kita tidak pernah tahu apa yang ada di depan. Saat suami menerima beasiswa sekolah di Amerika, dia juga sudah menandatangani kontrak bahwa  kami mesti kembali ke tanah air. Itu adalah janji yang harus ditepati! Itu pula jawaban yang selalu kuberikan pada teman yang menyayangkan keputusan kami untuk kembali. Bagi sebagian orang, kesempatan untuk masuk ke Amerika sedemikian susah, jadi umumnya mereka akan berusaha sekuat mungkin untuk bertahan. Tapi tentu kondisi setiap orang berbeda, dan ini keputusan yang kami yakini terbaik, insyaAllah.

Teman-teman dekat sudah kukabari jauh sebelumnya. Mereka sahabat-sahabat yang pasti butuh hati yang lebih ‘besar’ untuk ‘melepas’ kami. Sebagian besar teman, baru kukabari kira-kira sebulan sebelum kami pergi. Prose mengepak barang dan membersihkan apartemen cukup memeras energi dan pikiran. Belum lagi mengurus ke sekolah anak-anak karena mereka akan meninggalkan sekolah sebelum tahun ajaran berakhir, menyiapkan ‘pesta perpisahan’ kecil-kecilan dengan teman-teman Sofie dan Lili. Menjual barang yang bisa dijual, termasuk mobil yang masih kami butuhkan hingga hari terakhir kami di Norfolk. Terbayang, kan, riwehnya?

Apalagi saat itu bulan Ramadhan. Hampir setiap malam kami begadang karena tak ingin melewatkan tarawih di masjid. Sementara paginya anak-anak masuk sekolah seperti biasa. Tak heran di awal-awal Ramadhan kami sempat sakit bergantian, antara kecapekan, waktu tidur yang berantakan, dan lain-lain.

Sekitar sepuluh hari sebelum hari H kami meninggalkan Norfolk, kami setiap hari diundang buka bersama oleh teman yang berbeda. Rasanya terharu sekali. Kami yang bukan siapa-siapa, kami juga tak melakukan banyak hal, tapi semua teman memandang kami sangat baik dan memperlakukan kami dengan istimewa. Jika bukan karena Allah yang ‘mengangkat’ kami sedemikian tinggi, niscaya kami tak ada apa-apanya.

Banyak hadiah yang kami terima, uang pemberian dari teman-teman masjid, kenangan berupa makan malam dan diskusi-diskusi yang sangat menyenangkan, masyaAllah itu semua sangat membekas di hati. Norfolk bertransformasi di hati kami, dari kota asing menjadi tempat yang kami rindukan.

Dan tibalah hari H kami kembali ke Indonesia. Oya, mungkin bagi teman di Indonesia tidak atau belum terbiasa dengan kata-kata ‘back for good’. Istilah ini biasa dipakai untuk mereka yang berencana pindah atau kembali ke negara asal untuk seterusnya. Makanya biasanya kalau ada teman yang hendak pindah, suka ada yang tanya “Is it for good?” atau kurang lebihnya “Kamu beneran pindah untuk seterusnya? Dan nggak akan kembali tinggal di sini?”

Lanjut ketika hari H, kami menempuh perjalanan 8 jam ke New York, untuk kemudian terbang dengan Singapore Airlines selama kurang lebih 25 jam dengan transit di Jerman, Singapura sebelum mendarat di Indonesia. Alhamdulillah semua lancar dan kami sampai Indonesia dengan selamat!


 

 

 

Merayakan Ulang Tahun di Taman

Kami nyaris tidak pernah merayakan ulang tahun dan juga jarang menghadiri pesta ulang tahun. Tapi jika memang diundang dan waktunya memungkinkan, tentu kami berusaha datang. Nah, kebetulan hari Sabtu kemarin teman sekelasnya Lili ulang tahun. Kartu undangannya bergambar ‘paw patrol’, Lili yang juga fans berat ‘Paw Patrol’ tentu jadi bersemangat hadir.

(Oya, ‘Paw Patrol’ itu serial kartun tentang 7 anjing penyelamat. Mereka adalah Chase, Skye, Rocky, Zuma, Marshal, Rubbel dan Everest. Enggak tahu apakah serial ini diputar di televisi Indonesia. Kalau kami biasa meminjam videonya dari perpustakaan).

pawpatrol
sumber gambar dari nickjr.com

Sabtu jam 10 pagi, kami menuju lokasi ulang tahun, yakni di sebuah taman yang berada di samping kantor pemadam kebakaran. Sebelumnya aku pikir mau datang hanya dengan Lili dan Ihsan, tapi kupikir-pikir lagi kasihan kalau Sofie ditinggal sendirian di rumah. Makanya aku sms Ibu Graeme (nama si bocah yang ualng tahun) untuk menanyakan apakah boleh membawa Sofie datang ke pesta ulang tahun. Jawabnya, “The more the merrier!” Makin banyak yang datang, makin rame, demikian kira-kira balasan si Ibu.

Pas sampai di lokasi, ternyata banyak yang hadir sekeluarga! Maklum, lah, ya, seperti yang sudah kusinggung di atas, kalau kami jarang menghadiri pesta ulang tahun. Biasanya hanya Sofie saja yang berangkat, kalau memang pas temannya ulang tahun dan waktu itu diadakan sambil main bowling. Pernah juga aku dan anak-anak hadir di pesta ulang tahun tetangga apartemen, waktu itu juga cuma anak-anak yang diundang. Makanya aku rada kaget pas melihat banyak bapak-bapak yang datang, bareng sama istri dan anak-anak mereka yang rata-rata emang lebih dari satu. Bahkan ada satu teman sekelas Sofie, yang ibunya langsung nyamperin aku karena seneng si bocah ada temannya main.

Menariknya juga, pestanya ini sederhana, lho. Orangtua Graeme cuma membawa satu meja lipat panjang. Terus memajang pernak pernik ulang tahun yang hanya berupa balon dan taplak  meja plastik bergambar Paw Patrol. Di meja itu ada jus, air putih, keripik kentang dan pretzel. Anak-anak begitu datang langsung  main di playground, sambil sesekali minum dan makan pretzel, sementara para orangtua pada asyik ngobrol. Menurutku, sih, ini kesempatan yang bagus untuk bersosialisasi dengan sesama orangtua. Biasanya kelas akan sering mengadakan kegiatan yang butuh kontribusi orangtua sebagai volunteer, jika sudah  saling mengenal dengan sesama orangtua teman sekelas, jadi lebih mudah koordinasi saat ada kegiatan.

Kurang lebih 1 jam main di playground, anak-anak dipanggil dan diminta berbaris. Mereka akan mengunjungi kantor pemadam kebakaran. Yey! Para penggemar Paw Patrol, terutama Marshal (yang di film kartun tersebut berperan sebagai anjing penyelamat dengan truk merah mirip dengan truk pemadam kebakaran) langsung bersorak gembira.

Dengan dipimpin seorang bapak (awalnya kupikir ini bapaknya Graeme tapi ternyata bukan! Dia teman orangtuanya Graeme dan juga bekerja sebagai salah satu anggota tim pemadam kebakaran) kami melakukan tur ke kantor pemadam kebakaran. Kami masuk ke garasi truk yang luas, tempat parkirnya truk pemadam kebakaran yang warna merah itu. Di dinding dan lokel-loker terlihat alat-alat yang biasa digunakan petugas, seperti helm, sarung tangan, dan lain-lain.

Di ruangan itu cuma dijelaskan sekilas, maklum mayoritas anak berusia 4-5 tahun. Mereka boleh tanya apa saja. Lucu lho pertanyaan anak-anak mungil itu. Ada yang bertanya, “Mengapa ruangan ini besar banget?” Jawabannya, “Biar truknya muat parkir di sini.”

Dari ruang garasi kami ke dapur yang juga sekaligus ruang tunggu. Ada 3 pekerja yang sedang duduk di situ dan menyambut kami ramah. Bau harum masakan tercium saat kami memasuki ruangan. Kata si bapak pemandu tur tiap hari Sabtu mereka makan hotdog. Jadi di ruangan itu mereka makan, duduk-duduk sambil membaca majalah atau menonton televisi jika sedang tidak ada panggilan bantuan.

Dari ruang tunggu kami ke luar ruangan lagi, di taman kecil dalam kantor pemadam kebakaran. Di taman kecil itu sudah ada meja yang tadi ada di taman bermain. Anak-anak diminta duduk, lalu dibagikan piring kertas dan mereka makan pizza. Sofie sudah tahu kalau dia mesti milih pizza keju yang tidak mengandung daging, sementara Lili mesti diingatkan sekali lagi untuk tidak mengambil pizza paparoni yang biasanya mengandung pork atau daging babi. Lalu mereka makan cupcake, minum jus, dan…balik lagi ke play ground lalu bermain sampai bosan sebelum pulang ke rumah.

(Saat anak-anak sedang asyik makan pizza terdengar suara sirine truk pemadam kebakaran meraung-raung. Itu pertanda para petugas sedang menjalankan misi penyelamatan.)

Sederhana, ya, ulang tahunnya? Nggak perlu repot nyiapin banyak hal. Yang penting anak-anak ngumpul dan senang. Stacey, ibu Graeme cerita ke aku pas kami baru datang kalau Graeme itu pemalu. Pagi itu sebelum mereka berangkat ke taman dia bilang ke ibunya untuk menelpon semua yang diundang biar nggak usah datang aja. Dia malu kalau mesti ketemu banyak orang. Hehe.

Oya anak-anak yang datang boleh mengambil topeng Paw Patrol sebagai oleh-oleh. Lili memillih topeng Skye yang merupakan tokoh favoritnya. Sebelum pulang, si bapak baju merah yang tadi memimpin tur (hehe aku nggak tau namanya dan nggak kepikiran nanya :D) membagikan stiker Norfolk Fire Fighter dan beberapa kertas yang berisi informasi berisi pengetahuan sederhana untuk menghindari serta menyelamatkan diri dari musibah kebakaran.

Wow, ulang tahun yang sederhana, namun menyenangkan dan juga menambah pengetahuan!

g6g5g4g3g2g1