Belajar dari Keluarga Jeter

Salah satu kegiatan yang kami sekeluarga suka lakukan selama tinggal di Norfolk, Virginia adalah mengunjungi keluarga Amerika. Kami beruntung di kampus Old Dominion University (ODU) ini ada organisasi yang menjembatani para mahasiswa untuk berkenalan dengan keluarga Amerika. Setiap bulan ada acara makan malam bersama, kita yang ingin bergabung dengan acara tersebut bisa mengisi form dan organisasi tersebut akan menghubungkan kita dengan keluarga Amerika yang siap menerima para mahasiswa internasional untuk makan malam bersama.

Kadang kami makan malam dengan keluarga yang baru kami kenal saat itu, tak jarang juga kami diundang keluarga yang sudah kami kenal sebelumnya. Nah, tadi malam, kami diundang keluarga Jeter, yakni Bapak Stan Jeter dan Ibu Rhoda Jeter. Kami sudah kenal sebelumnya dengan keluarga ini, karena mereka sekeluarga rajin menjadi volunter di kegiatan-kegiatan untuk mahasiswa internasional. Anak perempuan keluarga ini, namanya Michelle baru menikah Desember lalu. Saat menghadiri pernikahan Michelle waktu itu juga menjadi pengalaman pertama buatku menghadiri pernikahan ala keluarga Amerika.

Oke, kembali ke cerita makan malam dengan keluarga Jeter.

Buatku makan malam kemarin sangat berkesan karena Stan dan Rhoda (kita biasa memanggil nama langsung di sini karena memang demikian kebiasaan yang ada di sini) merupakan sosok orangtua yang luar biasa menurutku. Mereka punya 4 anak, 3 laki-laki dan 1 perempuan. Rhoda mendidik anak-anaknya dengan metode homeschooling walaupun tidak fulltime. Maksudnya dalam rentang waktu tertentu mereka homeschool, namun juga di waktu yang lain anak-anak tersebut masuk sekolah umum.

Keistimewaan yang pertama dari keluarga ini, mereka sangat baik dan suka membantu orang lain terutama mahasiswa internasional. Salah satu contohnya, waktu kami datang semalam, ada satu orang mahasiswa India di sana, namanya Kruppa. Aku tanya apakah Kruppa tinggal bersama keluarga Jeter?

“Enggak, kok. Aku tinggal di dekat sini. Tadi aku menelpon Rhoda, aku bertanya apakah aku boleh datang ke rumah dia? Aku sedang butuh tempat tenang untuk mengerjakan tugas. Dan aku tahu kalau aku datang ke sini selain bisa mendapat tempat yang tenang aku juga tidak perlu khawatir dengan makanan!” Jawab Kruppa (terjemah bebas dari jawaban Kruppa yang berbahasa Inggris.

Kalau bukan karena hubungan mereka yang sangat baik, rasanya mustahil, ya, Kruppa bisa dengan menelpon seperti itu.

Contoh yang lain, ada salah satu teman kami, mahasiswa S3 dari Kurdistan yang baru saja melahirkan anak kedua. Padahal anak pertama dia baru berumur 18 bulan. Rhoda dengan senang hati membantu menjaga dua bocah ini saat si ibu dan suaminya ada kelas. Maklum mereka berdua mahasiswa seperti juga suamiku yang hanya bekerja di kampus, jadi tidak ada cukup dana untuk menitipkan anak di day care.

Stan sosok suami yang suka membantu istrinya. Beliau sudah cukup berumur ya, aku tidak tau berapa usia sebenarnya tapi ya kira-kira 70 tahun lah. Nah, semalam, setelah kami selesai makan, Stan yang beres-beres meja. Mengambil semua piring dan gelas. Membersihkannya di tempat cuci piring untuk kemudian dimasukkan ke mesin pencuci piring. Itu mungkin sesuatu yang sederhana tapi dari yang sederhana ini menurutku merupakan contoh yang sangat baik untuk ditiru para lelaki 🙂

Setelah makan malam, kami mengobrol sambil menemani anak-anak main. Stan dan Rhoda bercerita mengenai anak-anak mereka. Aku paling suka saat mereka bercerita tentang dua anak lelaki mereka yang berkerja sebagai fotografer dan videomaker. Mereka menunjukkan hasil-hasil karya anak mereka baik foto maupun video. Mereka tahu persis cerita-cerita dibalik foto dan video-video tersebut, buatku ini penggambaran sebuah hubungan dan komunikasi yang baik antara orangtua dan anak.

Lalu hal lain yang juga menarik, Stan dan Rhoda punya banyak mainan meja (hehe tepat enggak, ya, penyebutan ini, kalau dalam bahasa Inggrisnya ‘board game’). Biasanya mainan-mainan ini dimainkan saat keluarga berkumpul. Kadang juga dalam acara-acara kumpul-kumpul bersama teman ketika cuaca di luar tidak begitu bersahabat, kami memainkan permainan ini. Salah satu mainnya adalah ‘Scrabble’ (permainan menyusun kata). Selain itu ada permainan ‘mancala’ dengan papan seperti dakon/congklak, lalu ada juga mainan ‘four checkers’ dan kotak kecil ‘boggle’ dengan dadu bertuliskan huruf yang memainkannya mirip dengan scrabble.

Mereka nggak cuma menunjukkan permainan apa itu namun juga mengajak Sofie dan Lili main. Sofie langsung ketagihan main mancala (aturannya sedikit berbeda dengan dakon). Lili memilih main ‘Four Checkers’ sama Opa Stan. Asyik sekali main, sambil kami terus saling bercerita.

Di sela-sela main, Sofie ingin ke kamar mandi. Lalu Rhoda dengan lembut bertanya, “Do you know where is the bathroom?” Sofienya menjawab, “No, I don’t.”

Belakangan aku baru tahu pas Rhoda mengantar Sofie ke kamar mandi, dia juga ngasih tahu, kalau lain kali butuh bantuan, Sofie mesti bilang dengan baik dan jangan lupa bilang “Please.” Rhoda memberitahuku mengenai hal ini dan aku langsung senang. Kadang sebagai ibu aku lupa mengingatkan si bocah. Dan buatku pribadi, seneng banget kalau ada orang lain yang turut peduli mengajarkan anak-anakku akhlak yang baik.

Malam itu  kami pulang dengan rasa syukur yang lebih besar. Bersyukur atas kesempatan berinteraksi dengan keluarga yang baik serta berterimakasih atas ilmu-ilmu yang secara tidak langsung dicontohkan oleh kedua orang tersebut. Semoga Allah selalu bukakan mata dan pikiran kami untuk mudah menyerap kebaikan dari mana saja asalnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s