Suatu hari di tahun 2019, kami sekeluarga baru kembali ke Indonesia setelah 4.5 tahun tinggal di Virginia, Amerika Serikat. Setelah hari-hari yang menyenangkan kembali berkumpul dengan keluarga, kembali bisa mencicipi makanan-makanan Indonesia dengan bebas, mengunjungi tempat-tempat wisata, kami kembali pada rutinitas harian. Anak-anak kembali masuk sekolah, suami berangkat bekerja, saya di rumah dan mulai mengenal lingkungan sekitar. Saya merasa sepi dan rindu :)Ada dua fasilitas di Amerika yang sangat saya rindukan, yaitu taman dan Perpustakaan Umum.
Di kota Norfolk, Virginia, tempat kami tinggal sebelumnya, taman-taman mudah diakses. Taman-taman tersebut biasanya memiliki mainan anak-anak, seperti ayunan, perosotan, tempat panjatan anak, dan lain-lain juga lapangan luas tempat anak-anak berlarian dan bermain. Biasanya ada juga pohon-pohon besar yang aman dipanjati anak-anak. Taman ini buka dari pagi sampai sore dan semua bisa diakses secara gratis. Hampir tiap hari saya mengajak anak-anak untuk menghabiskan waktu di taman-taman tersebut.
Selain taman, banyak juga Perpustakaan Umum. Ada perpustakaan level kota yang besar, lengkap dan penuh fasilitas. Ada juga perpustakaan cabang yang lebih kecil, namun lengkap dengan fasilitas standar seperti ruang membaca dan bermain untuk anak, ruang komputer, dan lain-lain. Dari apartemen tempat kami tinggal, ada sekitar 5 peprustakaan yang bisa diakses hanya 5-10 menit naik mobil. Kami mengunjungi perpustakaan seminggu sekali (kadang lebih). Tiap datang ke perpustakaan, anak saya yang pertama, Sofie, akan meminjam buku sejumlah, minimal 30 buku. satu kartu anggota perpustakaan bisa meminjam sampai 30 buku, sementara di rumah kami ada 3 orang yang memiliki kartu, jadi praktis, kami bisa meminjan hingga 90 buku!
Sementara itu, saat kami tinggal di Cikarang, saya cek lokasi Perpustakaan jauh dari tempat kami tinggal. Sementara koleksi buku kami cukup banyak. Kami membawa dua kardus besar buku dari Amerika. Saya kepikiran, apa saya buka aja ya perpustakaan rumah saya untuk umum…
Pada 14 Desember 2019 say awujudkan keinginan itu. Saya pasang spanduk menginformasikan bahwa perpustakaan rumah saya bisa diakses untuk umum. Namanya, Peprustakaan Liliana. Alasannnya, kami warga baru di Perumahan Graha Asri. Nama yang dikenal masyarakat sekitar adalah Lili, nama anak saya yang kedua. Jadilah nama tersebut saya sematkan di Perpustakaan saya.
Mulailah rutin saya membuka teras rumah untuk umum. Karpet-karpet digelar. Rak-rak buku dipajang. Kotak-kotak mainan dikeluarkan. Saya memang mnegundnag anak-anak tidak hanya untuk membaca buku tapi juga bermain bersama. Selama beberapa jam kegiatan itu kami lakukan, lalu di siang hari, teras kami rapikan lagi, rak buku dimasukkan, begitu seterusnya.
Tahun 2020 saya mulai mengenal dan bergabung dengan Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM) Kabupaten Bekasi. ternyata, ada banyak orang yang membuka perpustakaan seperti yang saya lakukan. Saya pun bergabung menjadi pengurus Forum TBM. Perpustakaan Liliana yang sebelumnya berstatus sebagai perpustakaan pribadi say ageser menjadi TBM. Walaupun namanya Perpustakaan, namun bentuknya TBM yang saya kelola secara personal, namun semua kegiatannya diperuntukkan untuk umum.




