Selamat Datang

Apa kabar teman-teman? Perkenalkan, saya Aini Firdaus, ibu 4 anak yang tinggal di Cikarang, Bekasi.

Terimakasih sudah mampir ke blog ini. Meskipun blog ini terbilang baru tapi tulisan-tulisan yang ada merupakan rekapan dari blog-blog sebelumnya. Aku sendiri suka menulis sejak kuliah di UGM antara tahun 2000-2005 dan memulai aktivitas blogging sejak 2008, sebelum mulai bekerja di majalah Ummi tahun 2009.

Secara singkat perjalanan hidupku; aku lahir dan besar di Banyuwangi, Jawa Timur. Setelah lulus SMP aku melanjutkan SMA di Delayota Yogyakarta. Sempat kuliah setahun di Jurusan D3 Teknik Sipil UNEJ, aku melanjutkan pendidikan di jurusan Ilmu Pemerintahan UGM. Lalu menikah dengan Mas Sigit dan tinggal di Palu, Sulteng selama kurang lebih 3 tahun. Pada 2019 suamiku melanjutkan S2 ke Belanda, aku memulai karier sebagai wartawan majalah Ummi di Jakarta. Kami tinggal di Jakarta sampai pertengahan 2014, lalu pada Desember 2014 kami sekeluarga ‘merantau’ ke Amerika Serikat demi mendampingi suamiku tercinta menempuh pendidikan doktor di Old Dominion University di Norfolk, Virginia. Kami kembali ke Indonesia pada 2019 dan langsung tinggal di Cikarang, Bekasi.

Saat ini di tahun 2026 menandai 7 tahun berdirinya Perpustakaan Liliana di Graha Asri, Jatireja, Cikarang Timur. Di awal tahun ini juga aku mendapat amanah menjadi Ketua Forum TBM Kabupaten Bekasi. Dalan selama beberapa bulan ini aku terlibat dalam penulisan Modul Sekolah Rumah oleh direktorat Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) Dikdasmen RI, juga menjadi enumerator riset CARE Economy yang dilakukan oleh SRI Institute. ALhamdulillah juga di tahun ini Perpustakaan Liliana terpilih menjadi salah satu dari 110 komunitas literasi yang mendapat bantuan pemerintah untuk komunitas literasi 2026. Doakan agar selalu istiqomah menjalani peran sebagai pegiat literasi dan semoga apa yang aku lakukan memberikan manfaat pada masyarakat.

Menulis menjadi cara yang efektif untuk berbagi cerita dan pengalaman. Dengan menulis kita merekam kejadian, menyajikannya secara sistematis hingga memudahkan pembaca untuk menangkap apa yang kita sajikan. Butuh kemampuan khusus untuk bisa menyarikan sebuah kejadian yang sepintas sederhana menjadi bermakna. Namun kemampuan khusus itu akan terbangun dengan sendirinya jika kita belajar dan terus berlatih.

Jadi, aku percaya bahwa menulis tidak mensyaratkan bakat yang dibawa sejak lahir. Kemampuan ini lebih pada kemauan memulai dan berlatih terus menerus. Aku sendiri memberanikan menyebut diri sebagai penulis, bukan karena memang sudah menjadi penulis jempolan, namun lebih pada upaya menyemangati diri untuk terus menulis. Dengan harapan tulisan-tulisan tersebut membawa kebaikan yang menjelma sebagai amal kebaikan.

Selamat membaca, dan semoga ada hikmah yang bisa dipetik dari tulisan-tulisan di sini!

Leave a comment