Masuk Sekolah di Amerika (3-Terakhir)

Postingan 12 Januari 2015

Bagian pertama tulisan bisa di baca di sini

Bagian kedua tulisan bisa di baca di sini

Selasa pagi (pekan lalu) dengan membawa lembar keterangan imunisasi tambahan, kami berempat ke sekolahnya Sofie. Saat itu jam 9 pagi, sampai sekolah anak2 sudah masuk. Oya sekolah di sini masuk jam 9 pagi dan pulang jam 15.30 dan berlaku untuk kelas 1-6.

Sampai di sekolah, ngurus berkas di kantor dan sebelum masuk kelas Sofie ditanya, “Would you like to riding school bus, Sofie?”
Sofie menjawab dengan mantap, “Yes, I like bus.” (Batinku, weelah dah nyambung juga diajak ngobrol bahas Inggris..)

Tapi pas si ibu ngambil form untuk ngisi alamat dan tempat pemberhentian bus terdekat dengan apartemen kami, tiba2 sofie berbisik di telinga ayah,
“Ayah, bus itu apa sih?” (Hahaha.Jadi ternyata dia tidak tahu saudara..sudara).

Dan setelah dijelaskan, dia memekik gembira, “Hore aku naik bis ke sekolah kayak Franklin.”

Padahal, jarak apartemen ke sekolah paling cuma 400m. Jarak dari apartemen ke bus stop kira2 300m. Gak beda jauh lah. Tapi berhubung anaknya gembira banget masak iya kita larang-larangĀ šŸ™‚

Setelah urusan bus beres, masuklah Sofie ke kelasnya. Kelas Sofie berisi 15 anak. Meja dan kursinya kecil, seukuran anak. Mejanya tidak dicat, warna cokelat kayu. Kursinya warna biru. Di kelas, selain meja kursi banyak barang yang jadi bahan belajar, seperti buku-buku, mainan, bola, dan masih banyak lagi.

Di meja Miss Addison (gurunya Sofie) terdapat laptop dengan infokus. Jadi sehari-hari mereka belajar dengan panduan belajar yang sudah dibuat Ms Addison. Oya pelajaran kelas 1 cuma 4, Reading, Writing, Math and Science.

Kata Sofie hari itu dia belajat tentang membaca buku. Jadi anak-anak membaca buku terus ada salah satu yang menceeitakan di depan. Mereka juga belajar di ruangan lain. Tapi yang dipelajari entah apa, Sofie kesulitan menjelaskan. Mungkin karena dia juga belum terlalu paham bahasa Inggris.

Oya dalam sehari anak-anak istirahat sekali. Biasanya mereka main di taman dekat sekolah. Dan makan siang antara jam 12-13. Untuk makan siang, anak2 bisa bawa dari rumah atau “katering” dari sekolah. Kata Sofie, “Tempat makannya luassss banget. Anak2 yang enggak bawa makan ambil makanan sendiri bu. Makanannya ada roti, sayur, buah.”

Sepulang sekolah ada lembar dari sekolah, isinya PR selama seminggu. PR setiap hari adalah membaca buku 20 menit dan di akhir pekan si anak harus menceritakan hasil bacaannya ke orangtua. Untuk menulis, anak hanya disuruh menulis satu kalimat dengan 2 kata yang ada. Misalnya make kata Norfolk dan Virginia beach. Berhitung, anak diminta membuat tabel, misalnya 1 anak memiliki 2 mata. Kalau 2 anak, berapa jumlah matanya? Kalau 3,4,5 dan 6 anak, berapa jumlah mata mereka? Semacam itulah. Untuk science, ada tugas untuk melihat langit malam ini, lalu gambar dan tuliskan apa yang kamu lihat. Jadi selain membaca selama 20 menit, setiap hari ada tugas menulis, matematika dan science yang beda2 tapi kurang lebih sama yang kucontohkan tadi. Setiap akhir pekan, buku PR dikumpulkan, dengan tanda tangan orangtua. Lalu hari jumat (Sabtu dan Minggu sekolah libur), ada form lagi berisi kometar guru tentang PR Sofie dan kolom catatan buat orangtua.

Pekan ini kami tulis: “Sofie very excited to go to school everyday, but she has limitation in term of language. She likes to read but struggling to read english materials.”

Oya, beberapa hari yang lalu ada edaran dari sekolah untuk ditanda tangani mengenai program English for Second Language Program (ESLP). Jadi untuk anak2 yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, dimasukkan dalam program ini. Tapi program ini integral dengan pelajaran di sekolah, jadi tidak mengambil waktu tersendiri. Pada hari2 tertentu anak2 peserta ESLP berkumpul dan belajar di jelas tersendiri.

Di awal2 masuk, hampir tiap hari Sofie membawa pulang form untuk ditandatangani orangtua. Ada banyak sekali ‘aturan’ yang dibuat sekolah dan mereka meminta ijin pada orangtua. Salah satunya mereka minta ijin untuk memuat foto anak (yang akan diambil di acara2 sekolah) untuk brosur dan publikasi sekolah. Sekolah juga meminta orangtua aktif dalam PTA (Parent Teaching Assistance).

Menariknya, sekolah juga menjunjung tinggi kebebasan setiap anak. Anak2 boleh tidak menghormat ke bendera Amerika dan boleh juga tidak mengikuti kegiatan2 sekolah yang bertentangan dengan keyakinan. Soal pakaian juga tidak ada aturan khusus, jadi tidak masalah setiap hari Sofie memakai jilbab ke sekolah.

Cuma satu hal yang agak sulit buat kami, mengenai shalat. Sekolahnya Sofie, kan, sampai sore tuh, jd melewati shalat dhuhur. Kami konsultasi dengan teman2 muslim di sini, kata mereka untuk anak2 yang sudah besar, mereka boleh, kok, ijin shalat dhuhur. Cuma untuk anak2 yang masih kecil, biasanya mereka belum berani ijin shalat jadi terpaksa shalat dhuhurnya dijamak dengan shalat ashar di rumah. Terpaksa kami juga mengambil pilihan itu buat Sofie. Semoga dengan semakin bertambahnya usia dan lancarnya berbahasa, suatu saat nanti dia juga bisa shalat di sekolah.

Jadi, sudah 4 hari Sofie sekolah. Setiap hari dia sangat antusias berangkat dan mengerjakan PR. Bahkan ada hari dimana kami sekeluarga diundang makan malam oleh teman dari Pakistan. Karena sampai rumah sudah agak malam kutawarkan ke Sofie untuk mengerjakan PR pagi hari sebelum berangkat. Tapi dia keukeuh mengerjakan malam itu.

Pernah juga dia batuk2 lalu kutanya, “Sofie sakit? Apa mau gak masuk sekolah dulu?” Dia langsung memohon-mohon. “Enggak bu, aku suka sekali sekolah. Jadi please please aku mau sekolah ibu.” (Lebay ya si SofieĀ ^_^)

Setiap hari dia berangkat sekolah dengan riang sambil lari2. Padahal lho, suhu udara pas kapan itu sampai minus 10. Tapi dia santai aja tuh, kayak gak kedinginan. Semoga terus semangat sekolah, ya, Nak !

…Tamat…

Masuk Sekolah di Amerika (1)

Postingan 8 Januari 2015

Saat kami pidah ke Norfolk, Virginia, Sofie berumur 7 tahun. Sudah sempat sekolah selama satu semester di kelas 1 MI Muhammadiyah Banyuwangi. Kami sempat ragu, akankan Sofie bisa masuk sekolah di sini atau homeschooling saja?

Dengan berbagai pertimbangan kami mencoba memasukkan Sofie ke sekolah publik di sini. Kebetulan di dekat tempat tinggal kami ada sekolah publik yang reputasinya cukup bagus. Kira-kira 1,5 bulan sebelum kami datang, suami sudah ambil formulir sekaligus menanyakan persyaratan masuk sekolah. Ternyata syarat-syaratnya tidak banyak. Hanya mengisi formulir dan melengkapi imunisasi.

Nah, ini dia masalahnya. Sofie itu cuma ikut imunisasi dasar sampai usia 9 bulan. Setelah itu blas gak pernah imunisasi lagi. Di MI sempat mendapat imunisasi DPT dan campak. Padahal syarat masuk SD di sini, anak harus sudah imunisasi, DPT & DT (stlh 7th), Polio, Hib, MMR, Hepatitis B, Varicella (Campak) yang masing2 lebih dari 1 dosis dan harus ada yang diberikan di atas usia 4 th.

Jadilah selama di Banyuwangi aq mencari info tempat mendapat imunisasi tersebut dan Sofie medapat berbagai imunisasi sebelum berangkat ke US.

Tanggal 5 Januari kami ke calon sekolahnya Sofie. Namanya Larchmont Elementary School. Motonya home for leopard, jadi banyak gambar dan aksesoris leopard di sekolah.

Jam 8 kami berangkat, saat itu suhu 9 derajat celcius. Cuaca dingin tapi langit cerah. Matahari bersinat hangat. Karena mengira tidak terlalu dingin jadi kami tidak berjaket. Awalnya sih tidak apa-apa. Tapi lama2 wuihh dingin juga. Biar agak hangat kami berlari-lari kecil. Liliana di stroller dan didorong ayah.

Sampai di depan sekolah tampak anak2 berbaris. Sebagian didampingi ayah atau ibunya. Sapaan-sapaaan hangat terdengar, “Morning”…”Hi”…”Happy New Year”…Anak2 riuh saling berceloteh, “My new jacket….bla bla..good sweater..bla bla..wow frozen..bla bla..

Ada seorang ibu berkerudung yang sedang bercanda dengan anaknya. Hari itu Sofie memakai kaus dan tas Frozen. Beberapa anak terlihat tertarik dan menunjuk tas yang dipakai Sofie sambil berbisik pada temannya.

Tak berapa lama pintu dibuka. Seorang anak laki-laki berambut keriting dan anak perempuan berambut pirang berdiri di depan pintu. Mereka memakai selendang berwarna hijau muda sebagai penanda bahwa mereka menjadi petugas ketertiban. Anak-anak masuk dengan tertib berdasar kelasnya, dimulai dari kelas 1.

Kami menunggu semua anak masuk, setelah itu kami menuju kantor sekolah. Di kantor sekolah cukup ramai. Ada 5-6 anak bersama orangtuanya sedang mengurus sesuatu. Perempuan paruh baya, berambut pirang sebahu, memakai rok hitam dan sweater krem, tampak sibuk kesana kemari melayani para orangtua. Belakangan aku baru tau namanya Ms Kimball, office manager sekolah ini. Miss Kimball dibantu 2 petugas yang semuanya bermuka ramah.

Kami menyerahkan formulir dan menunggu dipanggil. Sembari menunggu aku duduk di depan pintu kantor sambil melihat-lihat suasana. Kantor itu terletak di sebuah lorong. Di ujung lorong berjejer kelas-kelas. Selama duduk di situ berulang kali kulihat anak-anak lewat, ada yang mengambil alat bantuan peraga, mengambil buku, juga mereka yang terlambat.

Oya anak-anak yang terlambat masuk harus mampir ke kantor sekolah untuk meminta surat pengantar. Biasanya Ms Kimball akan bertanya:
“What’s your name Sweeti?”
“Who is your teacher?”
Sambil menuliskan nama, kelas dan guru di kertas kecil berwarna putih yang lalu diberikan sama si anak yang terlambat itu Ms Kimball menanyakan hal-hal kecil, seperti gimana kabarmu, apakah pagi ini menyenangkan, dll.

Anak-anak yang bersekolah bermacam-macam, ada yang berkulit putih, hitam, kuning. Bermuka Asia, Chinesse, dll.

Di dinding lorong sekolah ditempel berbagai piagam penghargaan yang sudah dicapai sekolah. Di dinding yang lain terdapat kalender kegiatan sekolah (yang ditulis tangan dengan kapur tulis), foto kegiatan-kegiatan sekolah, dan semacam mading yang berisi berita seputar kegiatan siswa, guru dan orangtua. Sepertinya cukup menarik dan banyak kegiatan menyenangkan seperti hari buku, setiap anak diminta memakai aksesoris dari tokoh buku favoritnya, juga bazar dimana anak2 berjualan pizza untuk amal, field trip, dll.

Kata salah seorang teman yang sudan lama tinggal di sini, sekolah ini termasuk favorit. Banyak anak yang ingin masuk sekolah ini tapi karena domisili mereka tidak berada di area sini, mereka tidak bisa masuk. Ya, sekolah publik (seperti sekolah negeri di Indonesia) di sini berdasarkan area. Anak-anak yang bersekolah dipastikan tinggal di area yang tak jauh dari sekolah. Tapi kalau sekolah swasta siapa bebas masuk. Makanya mereka yang tak yakin degan kualitas sekolah publik di daerahnya biasanya memilih sekolah swasta.

Sekolah publik di Amerika gratis tis, sedangkan sekolah swasta membayar. Dan biasanya cukup mahal alias tidak terjangkau bagi mahasiswa PhD yang mengandalkan uang beasiswa seperti kami hehe..

Akhirnya tiba giliran kami..

Oh..ternyata imunisasi Sofie kurang 2 item yakni hepatitis B dan polio. Seorang guru memberikan catatan kecil buat kami sebagai pengantar imunisasinya Sofie di kantor Public Health.

Bersambung…

Belajar dari Pelajaran Sekolah Sofie

Postingan Februari 2015 ..

(Saat itu anakku, Sofie Hilmia Rahman kelas 1 SD)

Sudah sebulan lebih Sofie sekolah di LES (Larchmont Elementary School). Setiap hari dia berangkat jam 8.20 dari rumah, jalan sebentar lalu menunggu bus sekolah warna kuning. Sopir bus nya perempuan, berkulit hitam dan sangat ramah. Pas kapan itu ayahnya Sofie sedang ada acara jadi aku nganter Sofia sambil terburu-buru. Baru juga jalan beberapa meter bus sekolahnya sudah nunggu di perempatan. Aku langsung teriak, “Ayo lari Sofie!” Kami berdua lari. Untung si Lili di stroller jadi tdk kesulitan saat harus lari2 begini. Saat mendekati lokasi, terlihat bu Sopir yang aku belum tahu namanya itu melambaikan tangan.

“I’m sorry Miss!” ucapku sambil terengah-tengah.

“No problem. I saw you..” jawabnya sambil tersenyum.

Di sekolah dia sampai jam 3 sore. Jam 3.20 jadwal bus sekolahnya tiba di tempat yang sama. Setiap hari senin Sofie membawa pulang daftar PR nya selama sepekan. Selain PR juga ada selembar kertas yang berisi informasi mengenai apa yang akan dipelajari sepekan ke depan dan biasanya PR-PR dia juga akan berkaitan erat dengan bahasan.

Untuk reading, PR nya masih sama, membaca 20 menit setiap hari dengan total pencapaian 120 menit per pekan. Kalau kemarin hanya diminta retell (atau menceritakan ulang hasil bacaan) setiap pekan, sekarang hampir tiap hari ada tugas retell, menandai kata sulit dan melatih spelling (pengucapan dalam bahasa Inggris) serta memilih kata yang disukai dari buku yang dibaca. Ganti-ganti ada tugasnya tapi seputar itu.

Di sekolah pelajaran membacanya berupa listening story tentang “Growing Vegetable Soup”, “Little Rabbit’s Tale”, “The Big Trip”, yang dari cerita2 tersebut anak2 belajar tentang kerjasama, saling menolong, juga belajar kata baru, memahami inti cerita, dll.

PR matematikanya 2 pekan pertama mengenai pattern. Misalnya pattern ABC bisa ditranformasikan ke bentuk bintang, lingkaran, hati, hati juga ke warna merah, biru, pink, pink, begitu seterusnya. Dia juga belajar menandai pengulangan, misalnya 2, 4, 6,…..,10,..Sebagai bagian dari pelajaran ini dia diminta membuat kalender dan tiap kotak diwarnai sesuai dengan pattern yang diminta. Sedangkan 2 pekan terakhir, dia diajarkan mengenal bentuk lingkaran, segitiga, kotak dan segi empat. PR nya menemukan benda2 di rumah yang sesuai bentuk2 tersebut.

PR menulisnya tentang membuat surat untuk teman dan saudara. Suratnya harus berisi, minimal 5 hal, yaitu tanggal, salam pembuka, isi (minimal 2 kalimat), penutup dan tanda tangan. Tema-temanya seputar ucapan terima kasih atas hadiah yang diberikan dan ucapan terimakasih sudah diajak bermain bermain dan satu surat berisi cerita mengenai apa yang sudah dia pelajari di kelas science. Pekan ini PR menulisnya mengenai memilih kata yang sulit diucapkan (dari daftar kata yang didapat dari sekolah) dan membuat kalimat dari kata tersebut.

Pelajaran science nya berisi pengenalan tata surya, mengenal bumi, matahari, bulan, bintang dan teleskop (alat melihat bintang). Lalu ada juga sosial science tentang mengenal bendera Amerika, bagaimana menjadi warga negara yang baik (misalnya mentaati peraturan, tidak mengganggu orang lain, bertanggungjawab di sekolah, di bus, di jalan, dll). Oya ada juga pelajaran tentang sejarah Amerika, kebetulan 15 januari lalu ada libur, Martin Luther King’s Day (tokoh kulit hitam yang memperjuangkan dihapusnya rasialisme di Amerika) dihubungkan dengan bagaimana berjuang mencapai cita-cita.

Pekan ini Sofie belajar memahami kompas dan membaca peta sederhana. PR nya asyik sekali yaitu membuat peta dari rumah ke sekolah dan tempat-tempat yang pernah dikunjungi dengan membuat minimal 1 landmark dengan memperhatikan arah utara, selatan, timur dan barat.

Yang aku rasakan pelajaran yang dipelajari di sekolahnya Sofie tidak selalu banyak dan selalu dikaitkan dengan keseharian. Jika sebuah konsep belum dipahami maka guru akan mengulang terus sampai anak tersebut paham. Seperti saat bab “pattern” Sofie belum paham-paham misalnya dari pattern ABC ditransformasikan jadi merah, kuning, ijo, merah, kuning, ijo, dst. Maka di sekolah Sofie sampai beberapa kali mengerjakan tugas ttg itu, bahkan di lembar komunikasi gurunya juga memberikan catatan khusus sehingga orangtua bisa mengulang konsep tersebut di rumah. Begitu juga saat membahas relasi matahari dan bumi, pas hari jumat Sofie membawa lebih dari satu lembar tugas yang mirip, semuanya sudah dia kerjakan, dengan penilaian yang secara bertahap meningkat, misalnya awalnya dia cuma bisa menjawab benar 5 dari 10 pertanyaan, sampai tugas yang terakhir dia bisa menjawab benar 9 dari 10 pertanyaan. Secara tidak langsung kami, sebagai orangtua jadi tahu, “Oh, Sofie belum paham topik ini..” dan kami bisa membahasnya di rumah.

Ya begitulah, catatan ini kubuat sebagai rangkuman pelajaran yang sudah dipelajari Sofie di LES. Semoga bermanfaat juga buat semua teman di siniĀ ^_^