Winter 2017

Postingan 8 Januari 2017

Kemarin hujan salju seharian dan anak2 juga batuk-pilek jadi gak berani keluar rumah. Hari ini langit sangat cerah, kusempatkan keluar rumah, masyaAllah hamparan putih dimana2. Rumput2 semua tertutup salju. Halaman belakang apartemen kami masih bersih blm terinjak siapapun. Terlihat 2 sepeda milik penghuni sebelumnya yang setengahnya tertutup salju.

Dulu kupikir kalau pas musim dingin tidak akan bisa melihat matahari, nyatanya mostly matahari bersinar cerah. Dulu kukira kalau ada matahari, saljunya langsung meleleh, kenyataannya kayak gak berkurang se-inchi-pun  Karena suhu masih sangat rendah, panasnya matahari tak mampu melelehkan si salju.

Salju yang bercampur air dan membentuk es sangat berbahaya. Orang bisa terpeleset dan mengakibatkan cedera yang tidak ringan. Mobil yang memaksa jalan bisa selip dan mengakibatkan kecelakaan. Di halaman apartemen kami sangat licin, jika tidak berhati2, rawan terpeleset. Paling aman jalan pelan-pelan di bekas tapak kaki orang lain, atau menginjak salju yang masih rata.

Orang yang tinggal di tempat yang tidak ada salju, pasti pingin menyentuh si putih ini. Tapi teman2 di sini yang sudah merasakan beratnya winter sering mengeluh, tidak enak, terperangkap di rumah, tidak bisa kemana-mana. Buatku, disyukuri saja, bisa menikmati tinggal di rumah bersama keluarga. Sedih membayangkan mereka yang tidak punya rumah di tengah cuaca dingin begini.

Enjoy the winter, friends, stay safe and warm

w6w5w4w3w2w1

Winter 2015

Postingan 19 Februari 2015

Sejak senin lalu turun salju sejak jam 3 sore sampai Selasa pagi. Si Sofie langsung kegirangan. Dia sengaja berdiri di bawah salju sambil menengadahkan kepala dan membuka mulut. “Rasanya biasa aja, bu, kayak air putih,” kata Sofie 🙂

Hari senin itu Sofie libur sekolah karena Presiden’s Day. Senin malam ada pengumuman kalau selasa pagi dia libur karena jalanan penuh salju. Selasa siang Sofie main salju di kampusnya Ayah. Awalnya dia cuma pegang-pegang salju dan buat bola-bola salju. Mau dibuat boneka agak susah karena saljunya keras. Tapi kemudian ada bapak-bapak yang meminjami papan seluncuran. Lalu Sofie gantian sama anaknya si Bapak, main seluncuran.

Selasa siang salju udah enggak turun, tapi di mana-mana salju masih tebal menutup tanah. Selasa malam ada pengumuman lagi kalau Rabu sekolah libur. “Hore, aku suka sekali sama salju,” kata Sofie.

Rabu siang kamai berencana ke perpustakaan. Saat ke luar rumah, waa.. jalanan penuh salju, cuma beberapa ruas yang sudah dibersihkan. Cuaca cerah, langit berwarna biru indah. Tumpukan salju di sepanjang jalan terlihat berkilau tertimpa cahaya matahari. Tanaman-tanaman tersembunyi di bawah tumpukan putih. Tapi tanaman itu enggak mati lho, beberapa daun menyembul dan masih tampak segar bugar.

Ternyata jalanan benar-benar tertutup salju. Hanya ruas jalan utama yang sudah dibersihkan, Itupun cuma 2 ruas, arah bolak balik. Trotoar kebanyakan masih tertutup salju, hanya sebagain kecil di sekitar kampus yang sudah bersih. Jalan-jalan kecil di sekitar perumahan masih banyak yang tertutup salju. Mobil-mobil yang hendak melintas banyak yang balik arah karena jalan menuju lokasi yang hendak dituju masih tertutup salju.

Melihat kondisi itu, kami mengurungkan niat ke perpustakaan. Akhirnya malah ke taman dan main salju beneran. Salju hari itu sudah tidak terlalu keras. Jadi mudah diambil dan dibuat bola-bola salju. Kalau disentuh langsung pakai tangan tentu dingin banget, tapi kalau kita pakai kaus tangan tidak terlalu dingin. Teksturnya sangat lembut, beda sama es batu yang diserut untuk campuran es 😀 Kalau bola-bola salju itu dilempar ke badan dan mengenai baju kita, nggak langsung mencair dan gak bikin basah.

Aku cuma pake rok jeans dan jaket anti air dan jilbab kain biasa, tapi meski duduk2 dan tiduran di atas salju, nggak basah tuh bajuku. Jadi di taman kami main lempar bola salju dan membuat boneka salju. Bikin boneka salju juga ada tekniknya lho, gak asal ditumpuk2 saja. Caranya buat bulatan yang besar, baru ditumpuk dengan bulatan yang besar juga. Kami juga belum berhasil bikin boneka salju yang besar, cuma bisa bikin boneka (anak) salju .hehe.

Meski dingin banyak hewanyang masih bertahan. Burung gagak berwarna hitam serombongan bisa sampai 20 an ekor, mengaok-aok di atas pohon sambil tembang dan hinggap berombongan. Ada juga burung berwarna putih yang tampak terbang rendah di dekat kami. Yang paling banyak, tupai-tupai yang berkejaran dan merayap dengan cepat ke pohon-pohon yang tinggi. Tapi jangan tanya hewan yang ditanah, karena semua permukaan tanah tertutup salju.

Awalnya cuma kami bertiga (berempat sih tapi Lili malah pulas tidur di stroler) yang main ditaman. Tak lama kemudian ada 4 orang dewasa dan 2 anak balita yang juga bermain salju. Ada juga sekelompok anak remaja yang kumpul-kumpul di sana. Juga 2 perempuan yang ikutan main salju.

Salju yang mengeras permukaannya sangat licin. Ini mungkin alasan sekolah diliburkan padahal saljunya sudah enggak turun. Jalan-jalan yang belum dibersihkan juga benar-benar menyulitkan mobil untuk lewat. Bisa dibayangkan dalam suasana seperti ini orang akan kesulitan pergi ke mana-mana. Padahal bisa dikatakan salju yang turun tidak terlalu tebal. Tigginya ‘hanya’ semata kaki. Bayangkan yang saljunya lebat, sampai selutut, bahkan yang sampai terkena badai.

Dan meskipun matahari bersinar cerah tapi saljunya tidak kunjung mencair. Hari Rabu malam kembali ada pengumuman kalau hari kamis sekolah libur. Dan ternyata hari kamisnya suhu dingin sekali. Sampai-sampai di dalam rumah juga terasa dingin. Padahal biasanya kalau di dalam rumah dinginnya tidak terlalu terasa. Karena itu hari kamis seharian kami bertiga di rumah, hanya ayah yang keluar untuk ke kampus.

Dan…kamis malam kembali ada pengumuman kalau esok hari sekolah libur  Jadi genap sepekan Sofie libur sekolah. Dia sudah mulai kangen dengan sekolahnya, tapi masih suka main salju. Ini pengalaman winter pertama kami di Norfolk, Virginia.