Hidup Tanpa TV

tv
Postingan lama..

Sejak menikah kami memutuskan untuk tidak memiliki televisi. Seorang teman menganggap pilihan itu terlalu ekstrim karena menurutnya masih banyak hal positif yang bisa kita ambil dari kotak ajaib itu. Memang benar, ada tayangan-tayangan yang bagus dan mendidik seperti Kick Andy, Mata Najwa, acara-acara tentang perjalanan dan budaya serta film-film kartun yang edukatif. Apalagi di bulan ramadhan, serial Para Pencari Tuhan dan Tafsir yang disampaikan oleh Quray Shihab layak dimasukkan dalam kelompok tayangan yang mendidik. Apalagi temanku itu berlangganan program televis yang menurutnya bagus-bagus, semacam Disney Channel dan National Geographic.

Namun, keputusan kami untuk tidak memiliki televisi bukan semata karena tayangan yang ada di sana. Tapi karena kami ingin benar-benar memilih apa-apa yang akan menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian hidup. Memangnya ada apa dengan televisi? Mungkin tak banyak yang menyadari bahwa televisi kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan hampir semua orang.

Bayangkan ilustasi ini, pagi-pagi saat Anda bangun tidur, apa yang pertama Anda sentuh? Kalau tidak gadget (handphone–> BB atau android, atau IPad) ya kemungkinan besar, televisi. Sambil memasak, “Ah, puter tivi, siapa tahu ada berita menarik sambil buat ngame-ngramein aja” (bagi yang tinggal sendiri di rumah). Saat pulang dari mana saja dan masuk rumah, langsung cari remote dan memencet tombol on, sambil tetap konsnetrasi pada handphone. Di malam hari saat harus lembur karena ada pekerjaan di rumah, puter televisi untuk menemani karena anggota keluarga yang lain sudah pada tidur. Apalagi saat ramadhan, biar bisa bangun sahur, puter tivi yang acaranya paling seru. Biar enggak ngantuk! Kalau Anda punya anak dan berlangganan chanel anak, puterin aja biar anak enggak rewel, toh, hampir semua acaranya bagus.

Coba hitung, berapa banyak waktu kita yang habis di depan televisi? Berapa banyak suara berupa dialog, lagu, iklan dan segala macam yang keluar dari televisi dan kita ijinkan masuk dalam pikiran dan mungkin hati kita. dan itu seringkali terjadi tanpa ‘sengaja’ (atau lebih tepatnya karena kita tidak sadar). Buktinya berapa banyak orangtua yang kaget saat tiba-tiba si kecil bersenandung “iwak peyek nasi jagung” atau “dimana..dimana ..dimana” atau “cinta satu malam”. Nggak ada yang mengajari mereka tapi setiap hari senandung itu muncul di iklan, setiap jeda beberapa menit. dan sesuatu yang sering diulang, terus menerus kita dengar, akan mengendap dalam pikiran kita dan suatu saat akan muncul dalam ungkapan atau bahkan perilaku.

Betapa banyak orang yang jadi ketakutan belanja di pasar tradisional karena melihat tayangan investigasi. Tahu berformalin, otak-otak beracun, gorengan yang digoreng bareng plastik, segala makanan yang dikasih pewarna kain dan lain -lain. Televisi mengajari kita untuk paranoid. Berapa banyak anak muda yang jadi terbiasa bercelana pendek karena mengikuti idola mereka cherrybelle dan SNSD di televisi. Dan masih banyak lagi hal kurang positif yang terjadi karena televisi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup kita.

Dengan tak memiliki televisi, minimal di waktu-waktu luang kita bisa bercanda bersama keluarga. Main gelitik-gelitik-an. Kejar-kejaran sama anak yang masih kecil, membaca buku, dan hal lain yang mungkin kita akan malas melakukannya kalau ada televisi.Dan jangan khawatir akan ketinggalan berita jika tak punya televisi. Apalagi sekarang kan ada smartphone, tinggal klik http://www.kompas.com atau detik.com kita akan langsung tahu berita-berita terbaru. Apalagi kalau Anda punya akun twitter. Biasanya sebelum televisi menayangkan, berita di twitter sudah lebih dahulu rame.

Bagaimana dengan acara-acara yang bagus seperti Kick Andy? Tenang saja, apa, sih yang tidak bisa kita cari di youtube. Tinggal download dan simpan di komputer, bisa ditonton kapan-kapan pas punya waktu senggang. Demikian juga kalau anak mau nonton film kartun, tinggal cari di internet, download, kita tonton dulu untuk menyensor misal ada muatan yang tidak bagus buat anak. Baru kita ijinkan anak untuk menontonnya. Lebih praktis dan aman.

Jaman semakin maju, menawarkan segala fasilitas dan kemudahan bagi kita. Sekaligus ‘mencengkeram’ dan membuat kita seakan tak bisa hidup jika tanpa fasilitas itu. Hati-hati dengan pengaruh televisi, sama juga kita harus waspada dengan internet dan semua fasilitas yang ditawarkan smartphone. Kalau bukan kita yang menjadi pengendali, kita yang akan dikendalikan mereka.

Jadi, ini pilihan kami untuk hidup tanpa televisi. Bagaimana dengan Anda?

3 thoughts on “Hidup Tanpa TV

  1. Dulu waktu saya kecil, para orang tua selalu memberi nasihat, “Jadilah pintar seperti Pak Habibie supaya bisa masuk TV.” Nah, sekarang yang terjadi malah sebaliknya. Yang bisa masuk TV justru bocah-bocah yang kehilangan urat malunya dan menjadi viral di medsos. Ada yang ngaku sebagai istri sah Iqbal, ada yang bikin meet and greet tiktok, dan segala macam. 😦

    Setuju banget dengan artikel ini, Bu. Saya belum menikah, dan mungkin akan menerapkan prinsip hidup tanpa TV juga kelak. Kecuali kalau tontonannya sudah tidak separah sekarang.

    Like

    1. Amiin, smg dimudahkan Allah, Mbak Tri, untuk berumah tangga dan hidup bijak menggunakan televisi. Btw saya malah baru tau nih soal Iqbal…bocah-bocah jaman sekarang ya…smg anak-anak kita dijauhkan dari hal-hal yang tidak bermanfaat

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s