Sisi Lain Pulau Tidung

Postingan Juni 2012

tidung
Selamat Datang di Pulau Tidung

Pulau Tidung, salah satu desa wisata di Kepulauan Seribu. Sudah 3 kali aku mengunjungi tempat ini dalam 2 tahun terakhir. Terakhir kesana hari jumat (22/6) lalu, bersama 3 teman kantor untuk survey kegiatan Ummi dan Annida di sana.
Saat di kapal Muara Angke-Tidung, aku bertemu dengan seorang bapak berusia 40-an tahun, pegawai kecamatan di Tidung. Pak Ardi, sebut saja begitu, mengawali percakapan dengan penjelasan mengenai pelabuhan baru di Muara Angke.
Asal tahu saja, pelabuhan yang berada di dekat pom bensin pasar Muara Angke merupakan pelabuhan lama. Beberapa bulan terakhir, pemerintah sudah membangun pelabuhan baru di Muara Angke juga. Lokasi persisnya, setelah pasar ikan dan sebelum gerbang pelabuhan lama, belok kiri dan susuri jalan sekitar 2 km. Pemandangan di kanan kiri jalan sangat tidak sedap. Karena penuh sampah dan ikan asin yang sedang dijemur. Namun saat sampai di pelabuhan, kesan kumuh itu langsung hilang. Berganti dengan bangunan baru dengan warna cat yang masih jelas. Di tepi laut bersandar sekitar 5-7 kapal fery yang terlihat bersih.

“Semua penumpang di fery mendapat tempat duduk, mbak. Tapi kapasitasnya terbatas. Mungkin 1 kapal hanya sekita 100-150 kursi,” ucap Pak Ardi.

Dengan kapasitas yang terbatas tersebut, jelas tidak bisa memenuhi kebutuhan angkutan untuk wisatawan yang berkunjung ke Tidung. Bayangkan, untuk satu hari saja saat weekend pengunjung Tidung bisa mencapai 7 ribu orang. Apalagi kapal fery di pelabuhan baru tak bisa di-booking alias semua calon penumpqng harus datang dan megantri didepan loket. Tak heran jika biro travel yang melayani wisata ke Tidung lebih suka memberangkatkan klien mereka melalui pelabuhan lama. Karena di pelabuhan lama ada puluhan kapal kayu dengan kapasitas 100-200 orang. Hingga bisa dipastikan semua terangkut. Bahkan para pemilik travel sudah biasa menyewa 1 kapal khusus untuk tamu-tamu mereka. Padahal suasana di sekitar pelabuhan lama juga jauh dari kenyamanan. Air limbah di sepanjang jalan dan bau ikan yang mnyengat membuat semua calon penumpang kapal terpaksa menutup hidung.
Sepertinya memang masih menjadi PR bersama untuk menciptakan fasilitas publik yang bersih dan nyaman.

Lalu iseng saja aku bertanya, “Bapak punya usaha travel?”
“Dulu saya punya, mbak. Tapi hanya bertahan 2 tahun. Karena ada yang bertentangan dengan hati dan akidah saya, usaha saya tutup,” jawabnya.

Naluri ingin tahuku langsung muncul. Lalu kutanyakan lebih detil apa maksud dari jawaban tersebut.
Ternyata, yang dimaksudkan pak Ardi adalah peluang-peluang terjadinya maksiyat dari bisnis pariwisata. Misalnya dia tidak pernah benar-benar bisa mengontrol apakah penginapannya dihuni oleh orang yang berjenis kelamin sama atau tidak. Jika ternyata beda jenis, siapa juga yang menjamin mereka tidak melakukan hal-hal yang melanggar aturan agama. Belum lagi tuntutan melayani konsumen, misalnya si guide yang harus menemani tamu, yang seringkali melanggar waktu shalat.
“Sekarang sudah biasa pas waktu shalat jumat remaja dan para lelaki di Tidung masih di jalan atau di laut menemani tamu. Padahal dulu, kalau ada seorang lelaki yang masih di jalan saat shalat jumat, dia pasti malu. Karena semua orang disini saling mengenal,” tambahnya.
Aku langsung takjub. Selama ini aku tidak memikirkan semua itu. Sebagai tamu, ya, aku nikmati saja perjalanan dan fasilitas. Tapi betul juga kekhawatiran yang Pak Ardi rasakan. Sudah selayaknya seorang muslim yang baik memikirkan semua hal itu.

Aku jadi ingat, saat berlibur ke Tidung pertengahan Maret lalu. Saat itu aku juga jengah, dimana-mana ketemu gadis muda bercelana pendek. Bahkan lebih parah lagi, saat snorkeling kelompok kami digabung dengan kelompok lain yang salah satu dari mereka memakai bikini two pieces saat berenang. Aduh..gimana, sih, rasanya. Kalau kamu bersama teman-teman laki-laki dan perempuan, sementara di antaramu ada yang berpakaian seperti itu. Pastinya risih, kan, walaupun mungkin sebagian dari kita akan bilang “Ah, cuek aja. Yang penting, kan, nggak saling ganggu.”
Oke, kondisi-kondisi seperti ini memang tidak bisa benar-benar kita hindari. Tapi tidak juga kita biarkan begitu saja, kan?

Aku suka jalan-jalan ke mana saja. Aku suka berenang, snorkeling dan semoga suatu saat bisa diving. Dan biasanya anak-anak akan ngikutin kebiasaan atau kesukaan orangtuanya. Nah, bagiku ini jadi masalah buat anak-anakku nanti. Alangkah kasihannya anak lelakiku jika dia kuajarkan untuk menjaga diri dari melihat aurat perempuan, sementara saat dia berlibur justru ‘disuguhi pemandangan’ seperti itu. Kalau mau nyari pantai yang ‘aman’ dimanakah?apakah artinya kami sekeluarga tidak bisa berlibur ke pantai untuk menghindari kondisi itu? Susah, kan?

Aku nggak tahu apakah orangtua lain juga memikirkan hal ini. Namun aku berharap di masa yang akan datang, akan lebih banyak pilihan untuk konsumen. Mungkin akan ada tempat wisata yang lebih ‘rapi’…sebgaimana sekarang sudah ada hotel syariah yang punya aturan lebih ketat pada tamu. Dan terbukti bahwa hotel syariah itu tetap punya segmen tertentu.
Kupikir ke depan perlu ada pengembangan tentang tempat wisata syariah yang tentu tetap menyuguhkan hiburan namun dengan ‘pagar’ nilai-nilai syariah. Tak ada salahnya, kan, berharap..Ini juga bisa menjadi peluang bisnis. Ayo, siapa tertarik membuka biro wisata ‘syariah’?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s