Berkemah di Cipamingkis

Desember 2019 merupakan pengalaman kedua kami berkemah di Cipamingkis, Jonggol, Bogor, Jawa Barat. Kali ini yang mengikuti kemah cukup banyak sekitar 200 keluarga dengan total peserta hingga 400 orang. Ada enak enggak enaknya, sih, berkemah bersama banyak orang seperti itu.

Enaknya, rame! Bisa kenalan denganbanyak orang. Kegiatan-kegiatan juga diikuti banyak orang. Nggak enaknya, terlalu banyak orang. Jadi tidak bisa mengenal masing-masing dengan lebih dekat. Jarak antar tenda juga jadi terlalu padat. Kurang teratur.

Aku pribadi lebih suka berkemah dengan jumlah orang yang terbatas. Dengan 10 keluarga sepertinya sudah lebih dari cukup. Jadi tempatnya lebih longgar. Rasa kekeluargaannya juga jadi lebih erat. Semoga nanti kalau pandemi corona sudah berakhir, kami sekeluarga bis aberkemah lagi.

Lalu gimana fasilitas di Camping Ground Cipamingkis ini?

Fasilitasnya cukup banyak. Ada dua kolam renang dan area bermain berupa jembatan yang mengubungkan beberapa pohon berpagar jaring. Pemandangannya bagus. Air terjunnya tidak terlalu tinggi. Perjalanan menuju air terjun lumayan jauh dengan medan mendaki. Kalau harus menggendong balita cukup melelahkan.

Ada banyak toilet. Warung makan dan penjual cemilan tersebar di dekat pintu masuk dan di area menuju air terjun. Ada taman-taman yang luas buat piknik. Juga beberapa spot yang menarik untuk berfoto.

 

Berkemah di Curug Cijalu

Weekend kemarin kami sekeluarga berkemah di di Curug Cijalu, Subang. Lokasinya dekat sekali dengan Purwakarta. Kami berkemah bersama komunitas Kemah Keluarga Indonesia (K3i).

Lokasinya seger. Tenda kami dikelilingi pohon pinus yang menjulang tinggi. Kalau melihat sekeliling, seakan kita di dalam ceruk yang dipagari pepohonan yang tumbuh diatas tebing rendah.

Di lokasi perkemahan disediakan kamar mandi dan mushola. Juga ada penjual makanan yang tidak jauh dari tenda kami. Air mudah diakses. Semalam juga tidak ada nyamuk.

Hanya berjalan kurang lebih 500 m, kita akan sampai di Curug Cijalu. Jalannya naik turun berupa jalanan berbatu. Airnya segar, pemadangannya indah. Langitnya biru cerah menambah indah suasana.

Alhamdulillah hapeku tidak ada sinyal, tidak ada listrik juga buat nge charge hp. Jd hp kami matikan, anak-anak main dengan apa yang ada.

Kelebihan kemah bersama komunitas ada teman-teman baru. Kadang anak-anak cocok kadang juga enggak. Seharian pas hari Sabtu kami jalan-jalan mengelilingi area perkemahan, ke air terjun, lihat pohon, kayu, main denga semua yang ada. Malamnya mengelilingi api unggun bersama. Lili dan Sofie senang sekali berbagi marshmallow untuk dipanggang.

O iya pas Sabtu siangnya ada acara sharing dari om Chepy, pendiri K3I mengenai macam-macam tenda dan flysheet. Jadi, jangan khawatir kalau belum pernah camping. Sewa atau pinjam alat aja atau bahkan bawa aja seadanya yang ada di rumah. Nanti pelan-pelan belajar dan kalau ada dana bisa nyicil beli satu-satu. Kami jg blm punya alat apa2. Perlengkapan berkemah saat di US kami tinggal di sana semua ☺

Hari minggunya kami senam sama-sama setelah itu ada game, jalan lagi ke air terjun, main air lalu masak dan makan sama-sama. Begitu saja, sih, kegiatannya. Main, jalan-jalan, nasak, makan. Awalnya sih si Sofie malam berkemah tapi setelah merasakan pengalaman di sana, dia menikmati juga. Kalau Lili memang sudah suka berkemah dan sejak berangkat sudah tidak sabar tiba dia sana.

 

jalan-jalan ke Bali

Hari Pertama: Penuh Drama 🙂

Hari pertama diawali dengan serangkaian drama ☺ Supir gocar yg lupa isi kartu tol dan kehabisan bensin. Kena macet di tol karena ada kecelakaan. Baru pertama coba pindah destinasi ke stasiun Tambun (dan ternyata, bisa!). Mengejar kereta comuter ke Manggarai yang pas banget datang (kalau kami telat 5 menit aja, kami mesti nunggu kereta sejam kemudian dan mungkin akan terlambat mengejar pesawat).

Di kereta komuter, Ihsan muntah. Padahal jarang banget bocah itu mabuk. Untung tidak lama kemudian kami sampai Manggarai, segera mengejar kereta bandara. Hanya ada waktu 45 an menit, mesti nyebrang dan jalan kurang lebih 15 menit. Gak sempat beli makan (padahal Lili kelaparan), untung sempat makan roti dan air putih. Alhamdulillah kereta sepi, proses beli tiket dll berjalan lancar. Tak lama kami sudah duduk manis di kereta.

Kereta bandaranya sangat menyenangkan angkan. Bersih, rapi, cepat. Anak-anak senang sekali. Ihsan sudah ganti baju dan mengeksplorasi kereta dengan penuh semangat. Waktu sejam menuju bandara terasa sangat cepat. Tidak terasa kami sudah sampai.Turun dari kereta bandara, kami masih naik skytrain. Seneng, deh, bandara Soeta sekarang tidak beda dengan bandara2 besar dunia lainnya. Dari stasiun bandara naik skytrain ke terminal 2, check in bagasi, dan..akhirnya sempat juga makan siang. Usai makan siang, dah dipanggil naik pesawat. Baru sadar kalau kemungkinan sampai Bali dah waktu Magrib, kami memutuskan shalat di pesawat. Alhamdulillah penerbangan tepat waktu dan kami sampai bandara Ngurah Rai pas senja hari.Melakukan perjalanan selalu penuh kejutan. Apalagi bersama-sama krucil-krucil. Tak heran kalau banyak orangtua enggan karena kesannya repot dan capek. Tapi buat kami, ini salah satu ‘sekolah’ buat anak-anak. Mencoba aneka jenis transportasi, merasakan jalan kaki, jauh, capek, lapar yang artinya mesti berlatih sabar. Saling membantu, saling tenggang rasa kalau salah satu anggota keluarga sedih, capek, sakit. Saling menghibur mengusir kebosanan. Hal-hal itu yang bikin jalan-jalan seperti candu 😊 Belum selesai perjalanan yang ini, rasanya dah ingin merencanakan perjalanan yang akan datang 😀

Hari Kedua: Pantai Sanur

Hari kedua, aku dan anak-anak mengunjungi teman masa kecil sekaligus tetangga mepet rumah di Banyuwangi, Ida Nurjannah. Selama hampir 23 tahun kami hanya bertemu sesekali kalau pas kebetulan lebaran sama-sama pulang ke Banyuwangi. Tapi setiap lebaran aku selalu sempatkan mengunjungi Ibunya Ida di rumah beliau.Uniknya anak pertama Ida usianya hanya selisih 2 hari dengan Sofie. Anak kedua dia juga hanya selisih 6 bulan dengan Lili. Sebuah kebetulan yang tidak disengaja, orang kami nggak pernah janjian hamil, hehe.

Sesaat setelah bertemu, anak pertama Ida, Azka, sudah menunjukkan karakter yang luar biasa sebagai kakak. Dia menjemput kami di depan gang dan langsung menyambut Lili dan Ihsan. Selama kami berkunjung Azka juga sabar melayani Aufa, adiknya dan membantu ibunya ini dan itu. Saat kami bersiap ke Pantai Sanur, sore harinya, Azka tidak segan menuntun Lili dan Ihsan.

“Aku suka rambut Lili, bagus keritingnya,” ucap Azka.

Aku suka sekali dengan karakter bocah 11 tahun ini yang lugas tapi sopan. Sesekali dia bilang, “Aku tidak bisa bahasa Inggris, jadi nggak tahu mau ngomong apa.” ☺ Beberapa kali dia juga tanya arti beberapa kata dalam bahasa Inggris.

Kami menghabiskan kurang lebih 2 jam di rumah Ida, sebelum ke pantai Sanur. Bertemu teman lama selalu menyenangkan. Kami saling bercerita, tentang masa kecil, saat masih sekolah, perjuangan para lajang dan pahit getir membangun rumah tangga di awal-awal pernikahan. Alhamdulillah Ida dan suaminya memiliki usaha sendiri, yaitu, mengemas dan menjual oleh-oleh khas Bali. Yang berencana ke Bali dan males repot-repot cari oleh-oleh bisa kontak fb yang kumention di atas ya.

Sorenya kami ke Pantai Sanur. Pantainya, sih, tidak terlalu istimewa. Tapi mengisi waktu bersama teman, melihat anak-anak main bersama seperti sedang melihat masa depan. Bahwa anak-anak ini kelak akan dewasa dan mereka akan meniti jalan masing-masing yang mungkin berbeda. Tapi menjaga persahabatan, saling silaturahmi tidak pernah membuat rugi. Dengan berkunjung kita bisa saling belajar dan berbagi pengalaman. Dengan begitu kita bisa lebih bersyukur dan saling menyemangati. Ini juga mutiara yang selalu aku cari dari setiap perjalanan.

Terimakasih Ida yang sudah menjamu dengan sangat baik dan memberi banyak oleh-oleh (termasuk boneka hello kitty buat Lili). Semoga rezeki makin banyak dan berkah!

Hari Ketiga: Pantai Kuta

Salah satu ikon kota Bali ini sebenarnya tidak kumasukkan ke daftar tempat yang ingin kukunjungi. Mengapa? Pengalaman saat terakhir aku singgah ke pantai ini, suasananya terlalu ramai dan pemandangannya kurang eksotik. Tapi, kemarin, tanpa sengaja, kami malah menghabiskan seharian di sini.

Ceritanya, saat browsing tempat menarik untuk dikunjungi di sekitar Jimbaran, tanpa sengaja aku menemukan info soal BSTS (Bali Sea Turtle Society), semacam komunitas konservasi penyu. Mereka punya jadwal melepas tukik secara rutin yang biasanya diinformasikan melalui FB mereka. Ndilalah (apa ya bahasa Indonesianya 😀 ) kok, ya, jadwal terbaru mereka melepas tukik adalah tgl 23 Oktober atau sehari setelah aku tahu info soal BSTS ini.Lalu aku cari-cari info mengenai komunitas ini, apa yang mereka lakukan dan kapan jadwal pelepasan tukik lagi. Lha, kok, nggak ada info yang jelas. Si Sofie dah terlanjur kukabari soal komunitas ini, dan sebagai pecinta hewan, sudah kuduga kalau dia bersikukuh ingin ke sana. Aku coba telpon ke nomor hp yang tertera, tidak ada yang mengangkat. Aku juga kirim pesan, tidak dibalas. Ya udahlah tetap kujadwalkan ke sana, dengan asumsi meskipun mereka tidak ada jadwal melepas tukik, pastinya mereka punya kandang penyu atau minimal pusat informasi mengenai konservasi penyu yang sudah mereka lakukan.

Dengan semangat 45 kami menuju ke sana yang dalam proses perjalanan kembali terjadi ‘drama’. Hehe. Tas ranselnya Sofie ketinggalan di mobil grab yang kami naiki. Pas aku telpon si pengemudi, dia bersikeras sampai bersumpah kalau tidak ada barang yang tertinggal. Oke telpon kututup baik-baik lalu kuminta Sofie merunut kejadian pagi itu, dan dia tetap bersikukuh kalau tas dia ada di bagasi mobil grab. Aku pun kembali menelpon si pengemudi, kujelaskan pelan-pelan, dia baru sadar kalau yang aku cari itu tas ransel. Dia mengira aku mencari mobil mainannya Ihsan 😧 (siapa juga yang mencari mainan, kesel banget sebenarnya tapi ya kutahan-tahan, orang bukan dia yang salah)

Singkat kata, masalah ransel dah beres, aku baru tahu kalau si BSTS ini tempatnya di pinggir pantai Kuta. Dan tidak ada kantornya, cuma semacam halaman kecil dengan patung penyu raksasa, sebuah pos gardu dan bedeng-bedeng (bangunan semi permanen seperti yang biasa dipakai tukang bangunan). Bertanyalah aku ke seorang wanita di dalam pos gardu. Dia bilang hari ini tidak ada pelepasan tukik, nggak ada display tukik dan tidak ada apapun yang bisa dilihat. Kecewalah kami. Aku beri masukan ke petugas tersebut, setidaknya kasihlah informasi yang jelas di website atau FB mereka (katanya mereka punya IG juga tapi dari googling aku cuma diarahkan ke FB mereka), atau kalau ada orang yang tanya tolong direspon, biar nggak ada yang kecewa seperti yang kami alami.

(Sekitar 30 menit aku meninggalkan post BSTS itu pesan yang kukirim via wa ke non hp yang tertera di FB BSTS dibalas. Kuranglebih isinya mereka komunitas yang hanya menetaskan dan melepaskan tukik ke laut. Tidak ada display tukik dan mereka tidak punya jadwal tetap karena proses menetasnya tukik juga tidak pasti. Aku pun mengucap terimakasih atas info tersebut)

Gagal sudah rencana melihat penyu. Sebetulnya rencanaku hari ini, setelah ke BSTS, kami mau ke Pantai Melasti yang kabarnya mirip pantai Pandawa. Membandingkan pantai Pandawa dan Padang-padang yang aku kunjungi 2014 lalu dengan Kuta rasanya Kuta jadi kurang menarik. Dua pantai yang kusebut itu memiliki pemandangan yang lebih alami, air lautnya pun berwarna toska bening. Tapi melihat anak-anak yang sudah tidak sabar pingin main pasir dan air, ya sudahlah sepertinya aku mesti merelakan untuk tidak ke Pantai Melasti. Tapi sebelum memutuskan, aku ajak Sofie musyawarah dulu, kujelasan kalau sebenarnya Ibu pingin kita ke pantai lain tapi itu akan butuh waktu ke sana. Kata dia, “Kenapa kita nggak main di pantai ini aja?”
Aku jelaskan, kalau main di pantai ini dia mesti hati-hati karena ombaknya besar. Dan, karena Ihsan rewel karena ngantuk, Ibu nggak bisa menemani ke pantai, yang artinya dia harus tanggungjawab jaga adiknya.
“I can do that,” jawabnya.

Okelah, jadinya kami main di Kuta hampir seharian. Pantai Kuta ini agak berbeda dengan Pantai Sanur yang sehari sebelumnya kami juga kunjungi. Di Pantai Sanur lebih berpasir, sedangkan di Kuta, alas tempat anak-anak berenang dipenuhi pasir berbatu dan potongan karang. Efeknya apa? Baju renang anak-anak tidak dipenuhi pasir sebagaimana saat renang di Pantai Sanur. Hal sepele seperti ini menjadi penting buat ibu-ibu seperti aku 😊

Hampir 3 jam, dua bocah itu main pasir dan berenang. Satu setengah jam pertama Ihsan tidur, setengah jam terakhir baru dia bergabung main pasir dan mengumpulkan kerang. Menjelang jam 4 sore kami bersiap pulang. Melihat Lili ngantuk dan capek, kebetulan, kok, ya aplikasi grab lagi ngadat kuputuskan naik taxi ke hotel. Begitu taxi jalan aq tanya, kok argo nggak hidup, kata supirnya lagi rusak. Lha, terus gimana tau biayanya, kata supirnya ongkosnya Rp 270 ribu! What??? Tadi aja pas berangkat aq cuma bayar Rp 47 ribu masak pulangnya segitu mahal. Kata dia, jalannya muter dan macet. Aq tegas aja bilang kalau aku nggak mau bayar segitu dan memilih turun. Dia coba merayu dengan menurunkan harga mulai 250, 200, sampai terakhir 150. Aku bilang, aku cuma mau bayar maksimal 90ribu dan dia nggak mau. Aku bersikukuh turun dan dia kukasih 10ribu (karena kami sudah jalan sekitar 300m). Turun dari taxi, aq coba pake grab lagi dan alhamdulillah langsung dapat. Mau tahu berapa ongkosnya? 76 ribu rupiah!

Pengalaman berharga, ya. Alhamdulillah kami sampai di hotel dengan lancar dan selamat. Dan Lili tidur selama perjalanan ke hotel. Rupanya dia capek banget. Senang melihat anak-anak puas bermain meskipun kami tidak jadi mengunjungi Pantai Melasti. Semoga lain waktu bisa ke sana!

 

 

 

 

Celebrated Eid Adha in Indonesia

Today we celebrate Eid Adha, a feast of sacrifice. It starts with Arafat fasting, which we did a day before the festival. It is also the day when the pilgrims stand on the plains of Arafah for pray. After breakfasting we say Takbir or “Allahu Akbar,” that means Allah is the greatest, either alone or together, at home or at the masjid, quietly or loudly.
In the morning, we wake up early around 4:30 am to prepare for eid prayer. We start with Fajr pray then have a quick shower. We wear our best clothes and skip our breakfast until the eid prayer done.

Because the place for doing eid prayer is close to our house, we went there by walking. Then we did two rakaah eid prayer continued with listening to the eid sermon. After that we went home, had breakfast and get ready for the feast festival.

Usually, the festival is held by masjid, Islamic groups or school. Almost every neighborhood in Indonesia have their own masjid, so usually, people will gather to the masjid in their neighborhood. In our neighborhood masjid, we sacrifice 4 cows and 4 goats. People will work together to slaughter the cattle, clean and cut the meat then distribute them to all people in that neighborhood and the needy people.

While the men were working with the cut and distribute the meat, the women were cooking some of the meat for the festival. During those time snacks, beverages, fruits, including ice cream served. After all the meat packed and the food cooked, everyone will sit and eat together. Then we all cleaned and did Dhuhur pray together.
Happy Eid Mubarak!

 

Idul Adha di Amerika

eid adha 1Dua hari lagi insyaAllah kita akan bertemu dengan Idul Adha 1440 H. Ini tahun pertama kami merayakan Idul Adha di Indonesia, setelah empat tahun terakhir kami selalu merayakannya di Norfolk, Virginia. Mungkin banyak di antara teman-teman di sini yang bertanya-tanya, seperti apa, sih, merayakan Idul Adha di Amerika Serikat? Apakah sama seperti di Indonesia, orang-orang bergotong royong menyembelih hewan Qurban di masjid, memotong-motong daging dan membagikannya?

Di Amerika Serikat, sebagaimana di negara-negara minoritas muslim lain, Idul Adha nyaris tak beda dengan hari-hari biasa. Anak-anak tetap masuk sekolah, orang-orang masuk kerja dan kantor-kantor buka seperti biasa. Tidak ada libur, takbir keliling, apalagi acara kumpul-kumpul, menyembelih dan memasak hewan kurban bersama.

Sehari sebelum hari raya, masjid di dekat tempat saya tinggal, yakni Islamic Centre of Tidewater biasa mengadakan potluck atau makan bersama saat buka puasa di hari Arafah. Disebut potluck karena para keluarga yang hadir menyumbang makanan untuk dimakan bersama-sama. Ada yang membawa nasi biryani, nasi ayam khas Timur Tengah, kadang ada juga yang memasak Couscous Maroko. Tidak hanya makanan ‘berat’ yang disajikan, namun juga kue-kue, buah, es krim bahkan kadang ada juga yang membawa roti tart!

Di kota Norfolk, Virginia, selain dua masjid kecil yang menyelenggarakan shalat Id dengan kapasitas yang terbatas, terdapat 2 penyelenggaraan shalat Idul Adha yang mampu menampung jamaah dalam jumlah besar. Dua penyelenggara tersebut biasa menyewa hall atau gedung olahraga di Virgina Beach atau Hampton Roads. Saya biasa mengikuti shalat Id di Hampton Roads yang berjarak kuranglebih 45 menit mengendarai mobil dari tempat saya tinggal. Panitia shalat Id yang merupakan gabungan beberapa komunitas muslim setempat menyewa gedung stadion dengan kapasitas kuranglebih 2000 orang. Biaya sewanya juga tak tanggung-tanggung, sekitar 4000 USD atau setara dengan 50 juta rupiah. Namun tak perlu khawatir karena biasanya uang donasi atau sedekah dari para jamaah melebihi jumlah tersebut.

Shalat Id dimulai pukul 9 pagi, takbir mulai dikumandangkan satu jam sebelumnya. Apakah ada takbir sebelum shalat Id? Ada, namun hanya bisa didengar di dalam masjid, malam sebelum shalat Id. Itu pun hanya takbir pendek, dikumandangkan oleh imam seusai shalat Isya.

Karena sekolah tidak libur, orangtua muslim perlu memintakan ijin untuk anak-anak mereka. Sisi positif dari masyarakat Amerika, mereka sangat menghormati kebebasan setiap orang memeluk dan menjalankan ibadah sesuai keyakinannya. Jadi umumnya tak masalah siswa tak masuk sekolah untuk menjalankan ibadah shalat Idul Adha. Bahkan di kota New York, Idul Fitri dan Idul Adha sudah menjadi hari libur sekolah, semoga negara bagian yang lain segera mengikuti kebijakan ini.

Demikian juga bagi para pekerja kantoran. Mereka harus mengajukan ijin datang terlambat atau sekalian cuti kerja. Hari Idul Adha merupakan momen istimewa anggota keluarga berkumpul menjalankan ibadah bersama-sama. Juga saat langka dimana komunitas muslim dari berbagai penjuru kota bersua.

Sejak pukul tujuh, lokasi shalat Id sudah ramai dengan para jamaah. Semua hadir dengan pakaian terbaik. Ibu-ibu menggandeng anak-anak yang tampak ceria memakai baju baru dengan aksesoris gelang, bando dan ikat rambut warna warni. Umumnya jamaah memakai pakaian tradisional mereka. Pria Pakistan, Afganistan dan India memakai Shalwar Kameez berbentuk gamis selutut, sewarna dengan celana mereka. Laki-laki dari Timur Tengah memakai gamis Thobe warna hitam atau putih, dengan aksesoris penutup kepala (kofiyah) kombinasi merah dan putih. Tak sedikit pula yang memakai jas, hem biasa bahkan kaos (t-shirt) dipadu dengan jeans.

Para perempuan tampil ceria dengan busana warna-warni. Sebagian berhijab, banyak pula yang tidak. Ada yang memakai Shalwar Duppata khas Pakistan, abaya hitam Arab, baju sari, busana pesta, baju tradisional Afrika. Luar biasa beragam. Menggambarkan berbagai latarbelakang, suku, ras, dan bangsa. Semua hadir dengan niat menjalankan ibadah sebagaimana perintah Allah Swt.

Khutbah shalat Id disampaikan dalam 2 bahasa, yaitu Arab dan Inggris. Usai shalat dan khutbah orang-orang berkumpul bersama kolega, teman-teman dan keluarga mereka. Biasanya panitia menyediakan cemilan berupa donat artisan box. Adakalanya tersedia pula kue-kue khas berbagai negara yang sengaja dibawa beberapa keluarga untuk berbagi sukacita.

Proses Penyembelihan Hewan Qurban

Lalu bagaimana penyembelihan hewan Qurban di sini? Bisakah masjid menyelenggarakan prosesi penyembelihan dan pembagian hewan Qurban seperti di Indonesia? Di Amerika, seperti juga di Eropa dan Australia memiliki kebijakan yang ketat mengenai penyembelihan hewan. Tak bisa sembarang orang menyembelih hewan ternak. Penyembelihan pun hanya bisa dilakukan di tempat yang memang sudah disediakan dan telah melalui uji kelayakan.

Masjid atau organisasi keislaman tak bisa menyelenggarakan prosesi penyembelihan hewan Qurban. Oleh karena itu umumnya muslim di Amerika berkurban melalui lembaga kemanusiaan lokal dan internasional seperti Islamic Circle of North America (ICNA) dan Islamic Relief. Masjid-masjid juga menerima pembayaran hewan Qurban lalu menyalurkannya ke lembaga-lembaga kemanusiaan internasional atau mengirimkannya ke negara-negara yang lebih membutuhkan seperti Palestina dan Syiria.

Lalu bagaimana jika ingin menyembelih hewan Qurban sendiri? Karena di beberapa negara seperti Maroko, Mesir dan Saudi Arabia, berkurban merupakan tradisi tiap keluarga. Hampir setiap rumah menyembelih kambing sendiri, lalu membagikan dan menikmati daging tersebut bersama keluarga, teman dan kerabat. Bisa dibayangkan alangkah hampanya menjalani Idul Adha tanpa menyembelih hewan Qurban.

Rupanya ada cara untuk menyembelih Qurban ‘sendiri’ di Amerika. Caranya, beberapa minggu sebelum Idul Adha, orang yang hendak berkurban (Shahibul Qurban) bepergian ke wilayah pertanian di pinggiran kota. Biasanya para petani di Amerika sekaligus peternak yang memelihara kuda, sapi, biri-biri, babi, bebek, dan ayam. Sesampainya di sana, mereka melakukan transaksi pembelian sapi, kambing atau biri-biri dengan perjanjian akan kembali ke sana pada hari tertentu antara 10 hingga 13 Dzulhijah. Harga hewan Qurban tahun ini kurang lebih 300-500 USD (Rp 3,5 juta- Rp 6 juta) untuk kambing/biri-biri dan 900-1500 USD (Rp 10 juta-Rp 17 juta) untuk sapi.

Pada hari yang sudah disepakati mereka kembali ke peternakan tersebut. Lalu si petani akan mempersiapkan prosesi penyembelihan. Shabibul Qurban menyembelih sendiri hewan Qurban yang dipilihnya. Namun prosesi menguliti, membersihkan dan memotong-motong dilakukan oleh si peternak. 

Di beberapa kota besar seperti Washington DC dan Maryland yang memiliki komunitas muslim cukup besar, tersedia pertanian dan peternakan yang dikelola oleh keluarga muslim. Proses Qurban di tempat tersebut lebih mudah, Shahibul Qurban tinggal datang dan memilih hewan Qurban, lalu peternakan akan melakukan proses selanjutnya. Mulai dari menyembelih, menguliti, memotong dan membersihkan hewan Qurban. Proses penyembelihan pun dilakukan secara modern, tak lagi menggunakan parang atau golok namun menggunakan gergaji mesin. Demikian juga untuk memotong daging, mereka menggunakan mesin canggih. Dalam waktu singkat, daging Qurban pun siap dibawa pulang.

Piknik di Peternakan

Tahun lalu, kami berkurban di salah satu peternakan di North Carolina. Hari itu, usai shalat Id Adha kami sekeluarga menuju kawasan peternakan. Kurang lebih sejam berkendara, kami pun sampai di lokasi. Sudah banyak keluarga yang menunggu giliran menyembelih hewan kurban. Sambil menunggu giliran, sebagian keluarga piknik dengan menggelar alas duduk, sambil menyantap makanan ringan dan meminum teh dan minuman segar lainnya.

Meskipun kami berada di peternakan, tak ada bau menyengat. Mungkin karena binatang-binatang yang dipelihara di peternakan ini, seperti kuda, sapi, kambing dan domba tidak dikurung namun dibiarkan bebas berkeliaran dalam sebuah ‘kandang’ besar seperti kebun binatang. Di sekeliling kami terlihat rumah petani, gudang yang dicat merah, dan silo atau bangunan seperti tabung tempat petani menyimpan hasil pertanian. Hewan-hewan yang lebih kecil seperti ayam, kalkun, kelinci, dan babi di tempatkan dalam kandang-kandang berukuran lebih kecil namun mereka masih bebas berkeliaran. Anak-anak bisa melihat dan memberi makan hewan-hewan tersebut.

Tak jauh dari lokasi peternakan terdapat pasar tradisional yang menjual kentang, jagung, labu, zuccini, wortel, brokoli, timun, tomat, semangka dan berbagai hasil pertanian lain. Terkadang mereka juga menjual madu, roti, kue pie dan es krim rumahan. Harganya memang sedikit lebih mahal dari barang sejenis yang biasa dijual di supermarket, namun rasanya jauh lebih nikmat. Rasa sayuran dan buahnya lebih enak, makanan yang dijual lebih sehat dan alami. Tak heran jika para pengunjung tak melewatkan kesempatan untuk berbelanja di pasar yang hanya buka selama musim semi, musim panas dan pertengahan musim gugur ini.

Perayaan Idul Adha di Amerika memang tak semeriah lebaran kurban di Indonesia, namun, tak kalah menyenangkan, bukan?

***

Sebagian isi tulisan sudah dimuat di sini 

Cerita Idul Adha 2017 huga bisa dibaca di sini

 

 

 

Jalan-jalan ke Pattani

Masih lanjutan perjalan bersama tim Majalah Ummi pada Desember 2013

Cerita sebelumnya bisa di baca di sini 

pat1
Masjid Besar Pattani

Waktu aku dan 3 teman lain jalan-jalan ke Malaysia, Singapura dan Thailand, kami juga mampir ke Pattani. Sebelumnya aku selalu mengira kalau Pattani tidak aman, sebagaimana yang dilansir berbagai media bahwa sering ada bom meledak di berbagai tempat, baku hantam dan sejenisnya. Namun pandangan itu langsung sirna saat ada kunjungan dari Muslim Pattani ke Jakarta pada tahun 2011. Saat itu aku bertugas meliput acara pertemuan dengan rombongan Pattani di rumah Bapak Tifatul Sembiring yang kala itu menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Infromatika. Dari acara itu aku jadi kenal dengan beberapa muslim Pattani dan mereka juga yang kuhubungi saat berkunjung ke sana pada 2012 serta kunjungan bersama majalah Ummi pada 2013.

Continue reading “Jalan-jalan ke Pattani”

Jalan-jalan ke Phuket

Postingan 26 Desember 2013

Masih lanjutan cerita dari sini

Hari terakhir, kami berkunjung ke Phuket, Thailand. Phuket seperti Kute nya Bali. Pulau ini dikelilingi Bukit dan Pantai. Ada banyak destinasi yang bisa didatangi, kebanyakan seperti Puncak Pass atau semacam bukit untuk melihat kota dan pantai Phuket dari atas gunung. Salah satu yang kami kunjungi adalah di Promthep Cape Viewpoint.

Continue reading “Jalan-jalan ke Phuket”