Hal-hal ‘Kecil’ dalam Hidup

Pernah, nggak, sih, kepikiran bahwa ada banyak hal-hal dalam hidup ini yang sepertinya ‘kecil’ tapi penting? Aku, terus terang agak jarang. Seringnya hal-hal ‘kecil’ ini muncul, mendadak, tiba-tiba dan ujung-ujungnya menghadirkan pikiran, “Kok, selama ini nggak kepikiran, sih?”

Seperti, suatu ketika Sofie minta tolong aku membukakan botol air minum kemasan. Saat aku lagi repot, dia minta tolong Mas Sigit, eh, kok, ya, kebetulan Mas Sigit lagi ribet ngerjain sesuatu. Aku baru kepikiran, “Ini bocah udah berapa tahun sih, usianya, masak buka botol air minum sendiri saja belum bisa?”

Lain waktu, aku lihat si bocah (Sofie), lagi asyik baca buku atau main komputer dan terlihat kukunya panjang-panjang serta hitam. Spontan aku bilang, “Sofie, mbok, ya, kamu potong kuku! Itu sudah panjang-panjang dan hitam.” Lalu aku sodorkan gunting kuku, dan apa yang terjadi?

Dia tidak bisa potong kuku sendiri!

Selain dua hal itu, masih panjang deretan hal-hal ‘kecil’ yang dalam pikiranku dia mestinya sudah bisa melakukan sendiri di usia 10 jelang 11 tahun (waktu itu). Namun kenyataannya, dia masih kesulitan. Termasuk menyisir rambutnya sendiri (karena terbiasa pake jilbab jadi dia tidak merasa perlu merapikan rambutnya), mengunci rambut (katanya sakit kalau rambutnya dikuncir), membuka kaleng, menuang saus botol ke mangkuk kecil, memegang mangkuk panas dari microwave, menyapu, mengepel, oh my…kenapa daftarnya jadi panjang begini…

Singkat cerita, sebagai ibu-ibu aku bereaksi dengan sikap yang ‘normal’ tapi sebetulnya tidak tepat, yakni ngomel-ngomel sambil sedikit menyalahkan dia. “Masak melakukan hal-hal ‘kecil’ begitu saja nggak bisa, sih, Sofie?”

Kadang aku ‘paksa’ dia melakukan semua hal ‘kecil’ itu secara tidak langsung. Contohnya dengan tidak mau membantu dia membuka botol air minum, biar dia berusaha sendiri. Biar saja dia kehausan, kalau tidak mau berusaha, begitu pikirku.

Tapi lama-lama aku pikir ini bukan cara yang tepat. Terbukti dengan tidak banyaknya peningkatan Sofie mengatasi hal-hal tersebut. Dia juga sering tampak frustasi karena merasa tidak mampu melakukan hal-hal ‘kecil’ itu.

Lalu aku coba cara lain. Kami jadwalkan latihan buat dia. Aku beri waktu dengan memberikan sedikit bantuan, misalnya memberikan minyak rambut sehingga rambut kriwilnya jadi lebih mudah disisir. Demikian juga kami berlatih mengunci rambut. Kuajari teorinya dan dia pelan-pelan praktek sendiri. Saat dia tetap tidak suka mengunci rambut sementara aku pingin rambutnya terlihat rapi, kami menemukan jalan tengah dengan memotong pendek rambutnya.

Demikian juga dengan potong kuku, membuka botol air minum, menuangkan saus dengan rapi, mencuci mangkuk, piring dan gelas punya dia sendiri, dll. Bahkan akhirnya dia bisa mencuci baju menggunakan tangan dia sendiri, dan beberapa waktu lalu dia belajar menjahit (setelah kami beradu argumen hampir setengah jam).

Anakku yang ini memang butuh alasan yang ‘jelas’ untuk melakukan segala sesuatu. Seperti saat aku meminta dia belajar naik sepeda, dia bersikeras, “I’m not an outdoor person Mommy! I won’t enjoy riding bicycle or other activities outside!” Intinya dia bilang tidak mau belajar naik sepeda karena tidak suka kegiatan di luar rumah dan dia tidak menikmati sepedaan seperti sebagian teman-temannya suka bersepeda.

Setelah panjang lebar beradu argumen, akhirnya aku bilang, “Kamu tahu Sofie? Bersepeda adalah kemampuan dasar yang perlu kamu miliki yang tidak hanya berguna untuk main tapi juga untuk keselamataan. Bayangkan jika kamu berada dalam suatu kondisi darurat, di sana tidak ada ayah dan ibu, kamu tidak bisa menyetir dan kamu butuh segera lari. Kalau kamu berjalan dan berlari, kamu tidak punya cukup waktu, sementara di sana ada sepeda. Dalam kondisi seperti ini kemampuan bersepeda menjadi penting untuk menyelamatkanmu.”

Akhirnya dia menganguk, “Okay Mommy, I will do it!”

Demikian juga pas aku membujuk dia belajar menjahit. Awalnya dia jelas-jelas menolak. Hingga aku coba jelaskan bahwa kemampuan menjahit penting karena menutup aurat adalah hal mendasar dalam agama kita. Kalau kamu bisa menjahit, kamu bisa memperbaiki bahkan membuat baju sendiri. Lita tidak tahu di masa depan, bisa jadi kemampuan ini membantumu untuk survive, dalam kondisi yang mungkin sekarang tidak bisa kita bayangkan. Alhamdulillah dia setuju dan mau belajar menjahit.

Aku tahu setiap anak berbeda, demikian juga anak perempuanku yang ini. Dia agak kurang terampil dan mungkin butuh waktu lebih lama untuk belajar sesuatu dibanding anak-anak lain yang mungkin bisa melakukannya secara spontan. Tapi aku bersyukur, Allah berikan kesadaran buatku, sebagai ibunya untuk menyadari akan pentingnya hal-hal ‘kecil’ ini. Dan syukurlah juga, dia mau mendengarkan dan mulai belajar, melakukan hal-hal tersebut.

Karena itu melalui tulisan ini aku hendak mengapresiasi pencapaian-pencapaian yang menurutku cukup besar untuk Sofie. Di usianya 11 tahun dia bisa membuka botol air minum sendiri, memotong kuku, menyisir rambut, mengunci rambut, sikat gigi dengan benar, mandi dan bersuci, mencuci baju dengan tangannya sendiri, membuat makanan sederhana, membuat teh, menata baju di lemarinya sendiri, menjahit sederhana.

Hal yang saat ini sedang on going atau dalam proses adalah belajar merajut, menyapu, mengepel, mem-vacuum rumah, dan mungkin memasak dan membuat kue sederhana.

Aku tidak tahu akan jadi apa Sofe saat besar nanti, tapi aku ingin memastikan dia bisa mandiri memenuhi kebutuhannya sendiri. Hal-hal itu mungkin kecil saat ini tapi aku yakin dari hal kecil itu akan menempa dia menjadi orang besar. “Ayah dan Ibu tidak akan selalu disampingmu Sofie karena itu kamu harus bisa mandiri!”

Tahu nggak sih, menuliskan hal ini saja membuatku terharu. Betapa mendidik anak itu sebuah proses jangka panjang, yang mungkin tidak akan pernah selesai bahkan ketika si anak sudah beranjak dewasa. Kadang aku khawatir jika tidak menyiapkan dia dengan baik dan ada hal yang terlupa diajarkan dan diingatkan sedari kecil. Tapi, ya, kita, manusia. Pasti akan ada hal yang terlewat dan terlupa. Kadang juga dia harus belajar dari pengalaman pahit untuk menjadi lebih baik.

Jadi, terus belajar ya Sofie. Ibu selalu berdoa buatmu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s