Belajar dari Perbedaan

Suatu hari di bulan Desember, Liliana pulang sekolah dan langsung tanya, “Mommy, do you know what my favorite holiday?”

“Ibu tidak tahu, sayang, what’s your favorite holiday?” Jawabku

“My favorite holiday is Christmas!” Jawabnya ceria.

Lalu kutanya lagi kenapa dia suka natal, jawabnya karena banyak makanan, permen, cokelat dan hadiah-hadiah.

“We have a huge Christmas tree at school, Mommy with a lot of ornaments,” tambahnya.

Memang di sini, sejak akhir November suasana natal sudah terasa, terlihat dari pohon natal di mana-mana, juga lagu-lagu bertema Christmas. Salah satu topik yang dibahas di kelasnya Lili juga mengenai mengenal beragam holiday, khususnya yang dirayakan pada bulan Desember.

“I know you like Christmas, Liliana, but we don’t celebrate Christmas, because we’re moslem,” kataku sambil jongkok biar bisa berhadapan dengannya.

“So, what will we celebrate if we don’t celebrate Christmas?” sambung Liliana yang terlihat sedih.

“We celebrate Ramadan and Eid Fitr. We did stay in the masjid to have iftar or dinner together, remember? When we were stay along the nigh in the masjid for eating, praying and you were playing with your friend?”

“Oh yea, I remembered, Mommy. It kind of fun too. But what we will do at Christmas?”

“During Christmas we will going to New Jersey, Liliana. We’re going to Indonesian conference. You’ll meet a lot of friend over there. You’re going to field trip too!”

“Field trip, wow, where am I going on field trip Mommy?” Matanya membesar penasaran.

“It kind of game Centre!” jawabku

“Woo, I can’t wait to go over there,” jawab Liliana lagi.

Percakapan selesai.

Beberapa hari kemudian, saat pulang sekolah Liliana laporan lagi. “Mommy, today my teacher asked me, ‘Liliana are you celebrate Christmas?’, and I said, ‘No, Mrs Gortz, I’m not because I’m a moslem’.”

“That’s great, Sayang!” Pujiku

“But, Mommy, actually I’m still like Christmas,” Jawabnya sedikit murung.

Aku peluk dia. Lalu kududukkan dia di pangkuanku. Aku jelaskan bahwa boleh saja Liliana suka Christmas karena merayakan natal memang terlihat menyenangkan dengan aktivitas menghias pohon natal, menyiapkan kue dan berbagi permen, apalagi mendapat banyak hadiah. Siapa, sih, yang tidak suka hadiah. Tapi, kita tidak merayakannya, tegasku. Kenapa? Karena Christmas milik orang Kristen sedangkan kita Muslim dan kita punya hari raya sendiri. Kita hormati teman dan tetangga kita yang merayakannya, tapi kita tidak merayakannya. Kita bisa beli permen, kue-kue dan hadiah setiap saat tanpa harus merayakan natal.

Liliana balik memelukku erat. Di usianya yang menjelang 5 tahun, dia memang lagi suka-sukanya mengekspresikan perasaan, termasuk kesukaannya memelukku setiap pulang sekolah.

Mungkin dia belum bisa memahami sepenuhnya penjelasan dan aku juga tidak memaksakan dia harus paham sekarang. Tahun ini pertama kalinya dia masuk sekolah. Ada banyak hal baru yang dia pelajari. Tak mudah juga menjadi minoritas muslim yang memiliki identitas berbeda dengan kebanyakan teman dan guru-gurunya di sekolah. Justru dengan perbedaan ini aku berharap dia belajar mengenal diri dan lingkungannya.

Hal-hal seperti ini menjadi tantangan orangtua dalam membesarkan anak di Amerika Serikat. Tidak mudah membangun identitas muslim namun juga berharap mereka bisa beradaptasi baik dengan lingkungan mereka. Namun, aku yakin, sih, dengan pendampingan orangtua, kesediaan untuk selalu berdiskusi, kebersamaan menjalankan ibadah dan nilai keislaman, pemahaman itu akan hadir dengan sendirinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s