Solichah Indah Setyani: Hijaukan Lingkungan, Ajak Masyarakat Kelola Sampah

“Saya baru masuk rumah, Mbak, silakan masuk dulu, ya. Maaf saya tinggal mandi dan shalat Ashar dulu,” kata Ninik, panggilan akrab Solichah Indah Setyani saat saya kontak melalui ponsel, sore itu.

Kami memang sudah janjian ketemu di rumah beliau. Bu Ninik sendiri baru pulang dari sebuah acara di Ciater, makanya beliau meminta waktu untuk membersihkan diri dan beribadah sebelum kami memulai wawancara.

Saat memasuki halaman rumah beliau, saya langsung ‘disambut’ dengan taman yang hiajau, asri dan teduh. Ada pohon besar di halaman rumah. Terdapat juga kolam ikan yang dipenuhi ikan mas kecil-kecil yang berenang ke sana-kemari.

Ninik dikenal sebagai pionir penghijauan dan pengelolaan sampah di Kelurahan Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan. Kampung yang awalnya kekeringan di musim kemarau dan banjir ketika musim hujan berubah menjadi hijau dan segar. Tidak hanya rumah warga yang hijau, masyarakat juga menanami lahan-lahan kosong dan tepi kali. Keberhasilan membangun kampung hijau mangantarkan Rawajati memenangkan berbagai penghargaan kampung hijau mulai dari tingkat RT, RW, DKI dan nasional.

DSCN9058

Selanjutnya Ninik menginisiasi pengelolaan sampah. Dimulai dengan pemilahan sampah organik dan unorganik, lalu pengelompokkan sampah yang bisa dijual. Saat itulah Ninik menggagas ide Tabungan Sampah Kering (TASAKE) yang menjadi cikal bakal berdirinya Bank Sampah Induk Gesit (BSIG) pada Februari 2017. BSIG kini membawahi 392 bank sampah unit di seluruh wilayah Jakarta Selatan.

sumber beritajakarta id
Peresmian BSIG, sumber foto: beritajakarta.id

 

Sukses membawa kampung Rawajati ke kancah nasional, Ninik pun diminta menyebarluaskan idenya. Dia menjadi pembicara di berbagai forum yang membahas mengenai kampung hijau dan pengelolaan sampah. Hampir semua provinsi di seluruh wilayah Indonesia pernah dia kunjungi dengan misi tersebut. Selain itu kampung Rawajati juga dikunjungi ribuan orang, baik pengunjung lokal maupun internasional. Mereka datang untuk belajar demi mengembangkan proyek serupa di wilayah masing-masing.

Berawal dari Program PKK

Memulai aksinya sejak 2001, Ninik awalnya hanya membuat program PKK. “Saya berasal dari Temanggung yang bersih dan hijau. Saat baru terpilih jadi ketua PKK dan membuat program bersama para pengurus, saya katakan ‘Mau enggak ibu-ibu, kalau wilayah kita hijau dan bersih?’ Ternyata mereka menyambut usulan tersebut dengan semangat,” tutur perempuan kelahiran 13 Agustus 1961 ini.

Selama kurang lebih 6 bulan Ninik bersama Ketua RW dan pengurus PKK mematangkan ide penghijauan tersebut. Mereka menyatakan komitmen bersama untuk menghijaukan kampung juga mengunjungi beberapa tempat untuk study banding. Dalam rentang waktu tersebut mereka juga telah memulai dengan menanami lahan di sekitar rumah masing-masing.

Setelah rencana lebih matang dan rumah masing-masing pengurus terlihat hijau, mereka melakukan sosialisasi ke seluruh wilayah RW 03 Kelurahan Rawajati. “Di wilayah kami ada 10 RT. Alhamdulillah semua menyambut baik ide ini, apalagi sudah ada contoh dari para pengurus PKK yang telah menghijaukan rumah masing-masing,” ucap istri dari Nuryanto ini.

Selain menanami lahan sekitar rumah, Ninik juga mengajak warga menghijaukan lahan-lahan kosong termasuk pinggir kali. Siapa yang bertugas menanami tempat-tempat tersebut?

“Kami membuat tiga kelompok tani yaitu Benih Tani, Kembang Jati dan Anggrek. Kelompok ‘Benih Jati’ yang bertugas menanami lahan-lahan kosong tersebut. Anggotanya didominasi para pensiunan. Meskipun usia mereka 60-an tahun (kala itu dan saat ini sekitar 70-80 tahun) mereka sehat, kuat dan rajin menghijaukan lahan sekitar RW kami,” tambah Ninik seraya menambahkan informasi bahwa tiga kelompok tani tersebut lantas bergabung menjadi gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Jati Mandiri dan berhasil menyabet penghargaan sebagai Gapoktan Teladan 2017.

Setelah memiliki gapoktan, Kampung Rawajati mendapat banyak bantuan dari pemerintah. Di antaranya mendapat bibit gratis serta modal untuk mendirikan Koperasi Tani pada 2010. Berawal dari hibah dana dari Departemen Pertanian RI sejumlah Rp 150 juta tersebut Koperasi Tani Jati Mandiri berkembang pesat. Saat ini uang yang berputar di Koperasi Tani sudah mencapai Rp 3 miliar. Modalnya pun sudah berlipat menjadi Rp 400 juta.

Segala upaya yang dilakukan Ninik tidak sia-sia. Pada 2004 Kelurahan Rawajati memenangkan penghargaan sebagai Kampung Agrowisata tingkat DKI Jakarta. Setahun kemudian mereka juga menggondol juara pertama Kampung Agrowisata tingkat nasional.

sataywinnie3
Asrinya kampung Rawajati, sumber foto: satyawinnie.com

Mengelola Sampah Mandiri

“Saya sebenarnya sudah konsen masalah pengelolaan sampah ini di awal menjadi ketua PKK pada 2001. Namun saya pikir kalau langsung mengajak masyarakat mengelola sampah, mereka akan menolak. Sampah kan identik dengan hal yang kotor, tidak banyak orang suka bersinggungan dengannya. Kesadaran masyarakat akan pentingnya mengelola sampah saat itu juga belum ada, makanya saya memilih memulai program penghijauan,” papar Ninik.

Lalu sejak kapan Ninik memulai program pengelolaan sampah? “Saat masyarakat mulai kesulitan menemukan media tanam sekitar tahun 2003,” jawabnya. Awalnya masyarakat menanam dengan memanfaatkan tanah yang ada di sekitar. Lama-lama semua lahan sudah tertutup tanaman dan pot, sementara program penghijauan masih terus berjalan. Ketika itulah muncul keinginan untuk membuat kompos. Ninik menangkap kebutuhan tersebut sebagai peluang mengajak masyarakat mulai mengelola sampah secara mandiri.

Ninik lalu mengundang praktisi yang mengajarkan membuat kompos. Mereka memulai program memilah sampah, sampah organik diolah menjadi kompos, sampah non organik dijual ke bank sampah. Perlahan masyarakat merasakan keuntungan memilah sampah. Mereka jadi punya stok kompos, jumlah sampah berkurang dan mereka mendapat uang.

“Setiap orang yang ingin menyetor sampah mendapat buku tabungan sampah kering (TASAKE). Setiap kali setor, sampah mereka dihitung lalu dibeli, uangnya mereka tabung. Dengan begini orang merasakan manfaat uangnya. Biasanya masyarakat mengambil tabungan mereka menjelang lebaran atau ketika anak hendak masuk sekolah,” tutur ibu tiga anak ini.

Hasil TASAKE ini lumayan. Ada salah satu nasabah yang tinggal di sebelah masjid dan rajin mengumpulkan sampah, khususnya botol dan gelas air kemasan. Dalam waktu satu tahun tabungannya sejumlah Rp 6 juta.

20191110_171208 (1)

Sampah-sampah kering yang dikumpulkan oleh bank sampah lalu didistribusikan ke pabrik dan tempat-tempat lain yang menerima pembelian sampah. Lalu timbul kendala yakni harga sampah yang berbeda, misalnya ada yang membeli 1 kg koran Rp 1000, ada juga yang hanya Rp 500. Muncul keinginan mendirikan bank sampah induk yang diwujudkan dengan pendirian Bank Sampah Induk Gesit (BSIG) diresmikan dua tahun yang lalu.

sumber saytawinnie
sumber foto: setyawinnie.com

BSIG hingga Oktober 2019 memiliki 392 nasabah unit. Nasabah unit ini merupakan bank-bank sampah kecil tempat masyarakat menyetorkan sampah kering mereka. Umumnya bank sampah unit ini dikelola oleh instansi, sekolah dan masyarakat.

Dengan pengelolaan sampah mandiri seperti yang dilakukan warga Kelurahan Rawajati, 90% sampah sudah dikelola sendiri. Sejumlah 60% sampah organik diolah menjadi kompos atau dimasukkan lobang biopori, semetara 30% sampah non organik didaur ulang dan disetorkan melalui bank sampah. Tapi, tambah Ninik, masih ada sekitar 10% residu sampah, seperti ranting-ranting pohon, diapers, baju-baju atau kain rusak, termasuk kasur bekas dan furnitur lain.yang tidak bisa mereka kelola. Residu ini yang perlu dikelola oleh pemerintah.

Delapan belas tahun berkecimpung di dunia penghijauan dan pengelolaan sampah, termasuk menjadi ketua PKK, ketua Gapoktan Jati Mandiri dan ketua BSIG, Ninik tidak mendapat gaji sepeserpun. Meskipun begitu dia mengaku mendapat banyak hal yang jauh lebih berharga dibanding uang.

“Yang jelas saya senang keinginan menjadikan kelurahan Rawajati sebagai kampung wisata terpenuhi. Mimpi saya memiliki lingkungan yang hijau, bersih dan indah juga sudah tercapai. Ke depan, saya ingin terus mengkampanyekan gaya hidup zero waste yang bisa diawali dengan memroduksi atau menyantap makanan secukupnya dan mengolah sisa makanan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Saya yakin jika semua orang mau peduli, kita bisa ciptakan kehidupan yang lebih baik,” pungkasnya.

2 thoughts on “Solichah Indah Setyani: Hijaukan Lingkungan, Ajak Masyarakat Kelola Sampah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s