Snorkeling di Pantai Bangsring

Arti snorkeling menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah selam permukaan. Memang sesui arti kata tersebut, snorkeling adalah aktivitas mengapung di laut sambil melihat ‘isi’ bawah laut dari permukaan air melalui kacamata google. Kacamata google ini sudah didesain khusus jadi hidung kita dijepit ke dalam hingga mau tidak mau kita mesti bernafas melalui mulut. Nah, aktivitas menghirup dan membuang nafas ini akan terjadi melalui selang snorkel yang kita gigit di dalam mulut. Dengan begitu, muka kita bisa bertahan lama tanpa perlu keluar masuk permukaan air.

Ngapain, sih, pakai menjelaskan aktivitas snorkeling segala?

Ya, kan, siapa tahu ada yang belum tahu ^_^

Oke, lanjut. Jadi ceritanya, akhir pekan lalu kami sekeluarga jalan-jalan ke pantai yang berjuluk Bangsring Underwater. Dari rumah ibuku didekat kota Jajag, membutuhkan waktu 2 jam menuju sana. Bangsring sendiri berlokasi di jalan Situbondo-Banyuwangi. Ikuti saja GPS, tempatnya mudah ditemui. Tapi hati-hati saat sudah masuk ke lokasi, sebelum menuju pantai, kita akan diminta belok kiri oleh GPS. Ikuti saja petunjuk tersebut, sebab jika kita nekad lurus malah masuk ke pantai lain dan mesti bayar retribusi Rp10 ribu. Saat saya di sana ada seorang ibu yang mengeluh pada penjual hotdog, “Ternyata pengelola pantai yang sana (si ibu menunjuk arah pantai sebelum Bangsring) beda dengan yang sini, ya, pak? Saya tadi sudah masuk sana dan bayar Rp10 ribu, eh ternyata bukan Bangsring yang saya tuju!”

“Iya, pengelolanya memang beda, bu. Kalau masuk sini, mesti bayar lagi. Banyak yang kesasar ke sana, sudah bayar, masuk sini harus bayar lagi karena beda pengelola,” jawab si Bapak penjual hotdog.

Retribusi masuk Bangsring sangat murah, hanya Rp5000 per orang. Sebelum masuk area, pengunjung wajib memakai masker dan mencuci tangan. Setelah membayar tiket kita akan disambut taman yang rindang. Ada aula luas di depan, juga beberapa gazebo kecil bagi pengunjung yang ingin duduk-duduk santai. Sebelum sampai pantai kita akan menemui bangunan kecil dengan jaket-jaket pelampung di sampingnya. Di sini tempat kita menyewa peralatan snorkeling.

Berikut biaya sewa alat dan jasa

Pelampung dan alat snorkelingRp 30 ribu
Sewa jasa guideRp 40 ribu
Sewa kamera bawah lautRp 150 ribu

catatan: jaket pelampung tersedia untuk semua usia, bahkan anak balita. Sebaiknya semua anggota keluarga mencoba jaket pelampung dan google terlebih dulu untuk memastikan ukurannya cocok. Oya, bisa juga menyewa jaket pelampung saja tanpa google dnegan harga yang lebih murah.

Tak jauh dari sana, terlihat laut biru terharmpar luas. Pasir di pantai ini berwarna hitam berbatu. Hati-hati saat Anda melangkah tanpa sandal karena terkadang ada batu runcing yang bisa melukai telapak kaki. Di pantai ini, kita bisa main pasir dan berenang. Di sekelilingnya juga banyak kedai makanan.

Saya biarkan dulu anak-anak main pasir dan berenang. Setelahnya kami sewa alat dan bersiap snorkeling! Saya memutuskan menyewa jasa guide karena kami bawa tiga anak (dua di antaranya berencana snorkeling). Menurut pengelola, guide juga akan menunjukkan spot-spot menarik. Saya jadi tergoda menyewa kamera guide juga akan membantu mengambil foto bersama ikan-ikan dan terumbu karang. Wah, asyik!

Petualanganpun dimulai. Kami membayar ongkos naik perahu sebesar Rp5 ribu per orang. Lalu kami menuju dermaga, dan menaiki kapal ke rumah apung yang berjarak kurang lebih 20 meter dari pantai. Di rumah apung ada beberapa ruangan untuk duduk-duduk santai. Di sekelilingnya terlihat ikan-ikan berenang jinak, sebagian mengerubungi potongan-potongan roti tawar yang dilempar pengunjung. Roti tawar tersebut memang sengaja disediakan pengelola seharga Rp10 ribu per bungkus.

Kami bersiap snorkeling. Pak Ipin, pemandu kami, menjelaskan penggunaan kacamata google.

“Tarik karetnya ke belakang kepala, pastikan rapat. Setelah itu turunkan kaca menutupi mata dan hidung. Lalu bagian yang ini (pipa snorkel) dimasukkan ke dalam mulut dan gigit. Selama snorkeling jangan bernapas menggunakan hidung. Nafasnya pakai mulut seperti ini,” ujar Pak Ipin sambil menyontohkan cara memasang kacamata dan bernapas mulut menggunakan snorkel. (snorkel adalah set pipa udara berbentuk J)

Lalu kami masuk ke air bergantian.

Tiba-tiba ada yang sesenggukan. Lili menangis. Rupanya dia takut. Padahal sejak semalam sebelumnya dia yang paling bersemangat dan tidak sabar bersnorkeling pertama kali. Saya minta Lili tenang dan menunggu di atas bersama ayah dan Ihsan.

Saya dan Sofie turun dan langsung snorkeling. Wuih, kami langsung disambut ikan-ikan. Ikan yang jumlahnya banyak yakni ikan biru bergaris, Pak Ipin menyebutnya ikan ‘sersan’. Lalu ada satu dua ikan berukuran besar, pipih, berwarna putih, bernama Pomacentrus amboinensis. Selain itu banyak jenis ikan lain yang saya tidak tahu namanya. Sayang, ya. Kubayangkan, akan lebih menarik jika pengelola memiliki daftar ikan (disertai gambar) di perairan Bangsring. Mungkin nggak perlu semua jenis ikan, tapi ikan-ikan yang jumlahnya banyak dan relatif sering ditemui saat snorkeling. Jadi pengunjung bisa mengetahui beberapa jenis ikan tersebut. Jika ada informasi tambahan tentang masa hidup, habitat, dan lain-lain tentu lebih menarik. Jadi pengunjung bisa sekalian belajar ekosistem perairan. Mungkin ke depan bisa dikembangkan model pengelolaan wisata edukasi seperti ini.

Rasanya tak bosan-bosannya melihat ikan-ikan yang hilir mudik. Sepertinya di sekitar rumah apung ini lautnya relatif dalam, hingga tidak terlihat dasar laut dan terumbu karangnya. Saat tidak terlihat ikan, tidak terlihat apa-apa. Sofie, setelah snorkeling becerita, kalau dia merasa canggung dan takut saat snorkeling. Tak heran jika dia menempel dan terus memegang tangan saya. Maklum ini juga pengalaman pertama dia snorkeling.

Di awal-awal Sofie juga kesulitan bernapas pakai mulut. Karenanya berkali-kali kacamatanya berembun atau kemasukan air.

“Apalagi jika cemas dan takut, rasanya sulit konsentrasi bernapas menggunakan mulut,” kata Sofie.

Selain menikmati pemandangan ikan-ikan yang hilir mudik, Pak Ipin juga mengajari kami menyelam singkat, dengan berpegangan di tangga rumah apung. Saya melepaskan pelampung dan snorkel, lalu menyelam singkat sambil memberi makan ikan. Jadilah foto yang ciamik bersama ikan-ikan yang menawan.

Petualangan berlanjut dengan berenang ke area yang memiliki terumbu karang mempesona yang berjarak kurang lebih 5 meter dari rumah apung. Di sana jelas sekali terumbu-terumbu karang beraneka bentuk dan warna. Sayang sekali tidak ada program eduksi untuk mengenali jenis terumbu karang dan namanya. Seandainya sebelum snorkeling pengunjung bisa melihat jenis-jenis terumbu karang, bentuk dan warnanya tentu akan lebih menarik. Jadi sembari melihat-lihat kita bisa mengenali terumbu karang yang keras dan lunak, yang bentuknya lebar, runcing, dan lain-lain.

Di spot yang penuh terumbu karang kami juga melakukan penyelaman singkat. Pak Ipin mengajari tekniknya. Kami tahan napas, didorong masuk ke dalam air, lalu pegangan tali dan pengait yang ada di dasar laut, lalu melihat-lihat terumbu krang dari dekat, berfoto, dan kembali ke permukaan. Saya cuma bisa menyelam singkat, mungkin hanya 1 menit atau lebih sedikit di kedalaman sekitar 5 metar. Rasanya telinga sudah sakit. Tidak terbayang, ya, kejadian kapal Naggala 402 yang berada di kedalaman 800 meter lebih. Tapi pengalaman menyelam singkat itu sungguh berkesan. Betapa dunia bawah laut itu penuh misteri namun memesona. Ingin rasanya menyelam lebih lama dan menikmati keindahan bawah laut lebih luas.

Selanjutnya kami berenang di laut, bermain dengan ikan-ikan, melihat ikan hiu jinak di ‘kolam’ berukuran 3×3 meter. Ihsan dan Lili senang sekali memberi makan ikan. Lili yang awalnya menangis, saya bujuk untuk berenang. Begitu merasakan asyiknya berenang di laut, dia malah enggan berhenti. Setelah puas snorkeling dan berenang di skeitar rumah apung, kami kembali ke pantai dan anak-anak menikmati main pasir dan berenang lagi.

Beberapa tip jika ingin ke Bangsring Underwater:

  1. Datanglah lebih awal. Lokasi buka jam 7.30 pagi. Pekan lalu saya datang jam 8.30 pagi dan masih relatif sepi. Baru ada sekitar 3 mobil di parkiran. Di masa pandemi seperti sekarang, penting memastikan lokasi wisata tidak terlalu ramai dengan tetap menghindari kerumunan.
  2. Jika memiliki alat snorkeling, lebih baik bawa sendiri. Terus terang saya rada takut dengan proses desinfekstan alat, meskipun pengelola sudah memastikan hal tersebut.
  3. Jika sudah terbiasa snorkeling dan tidak menyewa kamera, mungkin tidak perlu memakai guide, jelas akan menghemat biaya. Namun pastikan mencari informasi spot-spot menarik.
  4. Saat mandi dan berganti baju pilih kamar mandi yang depan di dekat loket pembayaran. Di sana relatif tidak antri, kamar mandinya juga bersih. Di area belakang, di dekat laut juga ada kamar mandi tapi kemungkinan besar antri karena mayoritas orang yang berenang di laut memanfaatkan toilet di sana.
  5. Area tidak terlalu luas, jadi barang yang tidak diperlukan segera, seperti baju ganti, bekal makan yang berat, ditinggal di mobil saja. Jadi bisa santai saat berenang, menyeberang ke rumah apung, dan bermain di pantai tanpa harus direpotkan barang bawaan.

Secara umum, Bangsring Underwater sangat layak dipertimbangkan sebagai destinasi wisata keluarga. Biayanya murah namun pelayanannya tidak murahan. Yuk, agendakan, ke sana!