Para Pejuang Nafkah

Maaf jika ilustrasi kurang sesuai (gambar milik kompas.com)

Tiap sepedaan pagi aku bertemu dengan seorang bapak yang ‘menggelar’ jualan di atas motornya di pinggir jalan berupa pertalite seharga Rp 9000. Aku hitung hanya ada 12 botol. Misal semua laku dengan keuntungan Rp 3000 per botol, maka dia akan pulang dengan membawa uang sejumlah Rp 36000.

Di jalan yang lain aku papasan sama aki-aki yang umurnya kukira-kira 65 an tahun berjualan kangkung dan kemangi. Anggap aja beliau membawa 50 ikat dan kalau seikat untungnya Rp 1000 maka beliau akan pulang dengan membawa uang Rp 50 ribu.

Ada juga anak kecil berusia kurang lebih 13 tahun, berjalan mendorong gerobak dengan adik perempuannya yang 2-3 tahun lebih muda. Si bocah ini pada hari-hari biasa mengumpulkan plastik dan botol bekas tapi selama bulan Ramadhan kulihat mereka berjualan kangkung juga. Waktu papasan kemarin kuperkirakan kangkung yang mereka bawa tak lebih dari 30 ikat. Kalau dihitung dengan keuntungan yang sama dengan aki sayur di atas, setelah berjalan mendorong gerobak sekitar 2-3 jam -kalau dagangan habis- dia akan mendapat uang sekitar Rp 50-an ribu.

Mereka bertiga hanya contoh saja, aku yakin ada ratusan, ribuan atau bahkan jutaan orang di negeri ini yang tiap hari ke luar rumah, bergelut dengan keringat dan panas matahari untuk menyambung hidup. Jumlah uang yang mereka hasilkan sepertinya tidak besar dan mungkin kita bertanya-tanya, apa, ya, cukup uang segitu untuk menyambung hidup? Bahkan mungkin bagi sebagian orang akan menganggap, “Rugi bener, tenaga yang dikeluarkan enggak sebanding dengan uang yang didapat!”

Tapi buatku pribadi mereka adalah pejuang-pejuang nafkah yang luar biasa. Mereka memilih bergerak, berusaha, berikhtiar menjemput rezeki daripada mengangur atau menadahkan tangan di depan toko atau pasar. Tak peduli seberat apa pun, secapek apapun, mereka berjuang memberi makan anggota keluarga dengan halal. Dan jangan dikira sia-sia, justru kunci rezeki itu ketika kita menunjukkan pada Allah kesungguhan menjemputnya. Mungkin sepintas jumlahnya tak seberapa, tapi keberkahan tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah berlimpah. Dan kita semua perlu ingat bahwa rezeki itu tidak selalu berupa uang, bisa juga berbentuk kesehatan, rumah tangga yang tenteram, anak-anak sholeh sholehah, tetangga yang baik dan masih banyak lagi.

Mari, angkat topi untuk para pejuang nafkah. Tetap semangat berjuang!

Kegiatan Keluarga Saat Karantina Pandemi Corona

Apa kabar teman-teman?

Pekan ini merupakan pekan ke-empat masa karantina akibat penyebaran virus corona. Sekolah libur (lebih tepatnya belajar dari rumah), para pekerja bekerja dari rumah (ada juga yang masih masuk kerja), masjid tidak lagi menyelenggarakan shalat berjamaah dan kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang ditunda atau dibatalkan. Banyak yang mulai capek dan bosan di rumah. Mayoritas pasti bertanya-tanya, sampai kapan kondisi seperti ini terjadi? Banyak yang masih berharap kondisi sudah kembali ‘normal’ saat Ramadhan dan Idul Fitri. Tapi menurut para ahli, puncak pandemi bahkan belum terjadi. Entah kapan kondisi ini akan berakhir.

Kami juga sebetulnya sudah bosan di rumah, aku terutama yang pada dasarnya memiliki sifat ekstrovert. Sesekali aku masih ke luar rumah untuk belanja kebutuhan harian (tentu dengan memakai perlengkapan pengaman termasuk masker). Kadang masih ikut ngobrol dengan tetangga dengan tetap menjaga jarak aman. Ya hanya dua aktivitas itu saja yang terhitung kegiatan luar rumah yang kadang masih kulakukan.

Lalu apa kegiatan kami sehari-hari? masak, bersih-bersih rumah, baca buku, nonton film, nonton dram korea dan main game board seperti scrabble, ular tangga, ludo, checker, catur, dakon, dan monopoly. Hampir tiap malam kami main sekeluarga. Lili senang sekali main monopoli dan dakon. Sofie suka main scrabble dan checker. Sayangnya Ihsan masih kecil jadi belum bisa diajak main bareng. Kalau kami pas main sekeluarga, Ihsan akan main sendiri (atau nggangguin :D) kadang nonton channel anak.

Bagaimana dengan gadget? Ini tentu tak bisa dihindarkan. Lili suka main game di hp, Ihsan mulai kenal youtube. Tiap hari mereka minta pake hp juga. Kalau tidak segera diantisipasi ada kecenderungan kecanduan juga. Makanya kami berusaha membuat kegiatan bersama.

Selain main bareng, anak-anak juga mulai kuajak masak bersama. Pas kapan itu kami bikin dumpling. Juga masak chicken katsu sama-sama. Habis makan Lili nyuci piring sendiri habis itu dilanjutkan oleh Ihsan :D. Kemarin aku ajak Ihsan bermain dengan lem dan menempel gambar. Ternyata dia betah juga berjam-jam asyik mengusap lem dan menempel kertas.

Bagi Sofie, masa karantina ini bisa dikatakan tidak mempengaruhi dia sama sekali. Sehari-hari bocah itu  memang cenderung introvert, tidak suka beraktivitas di luar rumah. Dia juga homeschooler jadi sudah biasa dengan kelas online dan ujian menggunakan laptop dengan sambungan internet.

Jadi apa kegiatanmu teman?

 

 

 

Melawan Corona

COVID-19 saccountynet
sumber gambar: saccounty.net

Beberapa hari terakhir corona virus (covid 19) menjadi topik perbincangan di MANA SAJA, baik di dunia nyata maupun maya. Khususnya setelah Presiden RI Joko Widodo mengumumkan ditemukannya 2 pasien positif corona pada hari Selasa, 3 Maret 2020. Aku ingat banget tanggalnya karena hari itu pas sehari sebelum field trip+porseni sekolahnya Lili. Kami sempat khawatir tapi karena sekolah tidak membatalkan acara, kami berangkat juga. Alhamdulillah semua sehat sepulang dari sana.

Makin ke sini pemberitaan mengenai covid 19 makin gencar, seiring dengan meningkatnya jumlah pasien positif corona. Banyak yang menyayangkan lambatnya respon pemerintah pusat yang beralasan ingin menghindarkan kepanikan di masyarakat. Tapi, ya, masyarakat terlanjut panik. Kondisi tersebut malah seakan menjadi ladang subur tersebarnya info-info yang tidak jelas alias hoax.

Tapi, alhamdulillah, melalui program televisi Mata Najwa, publik mulai tahu bahwa ada pimpinan-pimpinan daerah yang gerak cepat. Pak Anies Baswedan dan Ridwan Kamil (Kang Emil) memberikan contoh pemimpin yang mampu bertindak cepat meski dengan segala keterbatasan. Warga masyarakat yang meskipun tidak berada di wilayah Jakarta dan Jawa Barat pasti menangkap isi pesan mereka berdua: bahwa  kita TIDAK BOLEH MAIN-MAIN berhadapan dengan virus ini.

Hari terus berlalu, pemerintah pusat masih bertahan dengan metode awal mereka melawan corona. Dengan operasi SENYAP melibatkan intelejen. Namun menariknya para pimpinan daerah makin percaya diri untuk melakukan terobosan. Dimulai dengan keputusan Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo yang meliburkan sekolah selama dua minggu untuk mencegah peredaran covid 19, diikuti Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Depok, Banten dan semoga diikuti oleh daerah lain. Kampus-kampus juga mengambil kebijakan untuk meniadakan kelas tatap muka dan menggantinya dengan pertemuan online.

Mereka yang libur disarankan tidak bepergian atau pulang kampung. Kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang sebaiknya dibatalkan atau ditunda. Aktivitas cuci tangan menggunakan sabun digalakkan lagi.

Berita yang gencar, informasi yang di-update terus menerus mungkin membuat sebagian orang takut, TAPI sejatinya hal itu bisa dipandang sebagai sesuatu yang POSITIF. Kita semua mesti tahu dan aware dengan penyebaran virus corona ini. Meliburkan anak sekolah merupakan kebijakan penting dan TERBAIK untuk saat ini. Anak-anak bisa menjadi carier atau pembawa virus. Mereka mungkin tidak sakit tapi berpotensi sebagai PEMBAWA dan PENYEBAR virus ke orang dewasa.

Tapi bagaimana dengan aktivitas sehari-hari kita? Apakah aman belanja ke pasar atau beli makan di warung? Bisakan virusnya ‘terbang’ dan nemplok di badan kita? Kalau sekolah libur anak-anak mau ngapain? Apakah kita harus melarang mereka main di luar?

Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu menggayuti banyak orang saat ini. Sebenarnya sudah banyak yang membahas APA YANG HARUS DILAKUKAN saat ini, untuk melawan virus corona, namun menurutku tetap penting melakukan hal-hal di bawah ini:

  1. Usahakan untuk lebih banyak di rumah, tidak bepergian atau mengikuti kegiatan-kegiatan yang menghadirkan orang banyak. Jangan PULANG KAMPUNG kecuali memang darurat atau penting banget. Kita mungkin sehat, tapi kita tidak tahu apakah badan kita ini carier atau PEMBAWA virus atau tidak kasihan. Kalau ternyata kita carier virus, kasihan bapak/ibu yang sudah sepuh dan bisa tertular.
  2. Anak-anak sebisa mungkin diajak melakukan kegiatan di rumah, main bareng dengan kakak atau adik. Bisa beli mainan manik-manik buat tambahan kegiatan di rumah (seperti gambar di bawah ini)

    Bisa mewarnai, menggambar, melukis dan berbagai aktivitas lain. Main game di hp atau menonton video tentu tidak bisa dihindarkan, tapi, kita sebagai orangtua juga mesti menyiapkan berbagai kegiatan alternatif biar si kecil tidak bosan. Apa tidak boleh sama sekali main di luar? Aku pribadi, sih, mengambil kebijakan untuk Lili dan Ihsan boleh main ke luar atau ke rumah teman. Syaratnya, tidak lama-lama dan tiap masuk rumah harus langsung CUCI TANGAN menggunakan sabun.

  3. Perlukan menyetok makanan? Setiap ibu rumah tangga pasti punya pertimbangan masing-masing, kalau, aku, cukup menyetok beberapa jenis makanan tapi tidak usah terlalu banyak. JANGAN MENIMBUN. Belanja yang biasanya harian mungkin bisa diagendakan jadi per tiga hari, beberapa makanan yang tidak musah basi seperti beras, telur, minyak, dan lain-lain mungkin bisa stok seminggu atau 2 minggu ke depan. Kita enggak tahu kondisi ke depan, tapi kalau memang kondisi memburuk dan sampai lockdown misalnya, ya minimal kita bisa bertahan dengan stok makanan di rumah.
  4. Jika merasa sakit batuk, pilek, apalagi sesak nafas, tolong PAKAI MASKER, baik di dalam rumah apalagi ke luar rumah. Memakai masker memang tidak nyaman, tapi ini cara paling efektif untuk menjaga orang-orang tercinta di sekitar kita agar tidak tertular.
  5. Biasakan semua anggota keluarga untuk CUCI TANGAN dengan sabun setiap kali masuk rumah. Ini kebiasaan yang bagus banget, insyaAllah kalau sudah menajdi kebiasaan tidak hanya kita terhindar dari corona namun juga penyakit-penyakit lain yang disebabkan oleh virus.
  6. Dan yang tidak kalah penting dan bahkan utama bagi kita semua, banyak BERDOA, berpikir POSITIF dan saling MEMBANTU. Jika punya masker lebih dan stok handsanitizer menumpuk PLEASE BANTU oranglain yang membutuhkan. Tidak turut menyebar berita-berita hoax merupakan salah satu cara membangun pikiran positif juga.

Jadi, yuk, bersama kita lawan virus corona ini. Mari belajar dari Singapura, Korsel, Italia, Perancis dan Wuhan yang saling menyemangati untuk melalui ujian ini BERSAMA-SAMA. Hindari memancing keributan. Kalau ada teman yang panik berlebihan, tenangkan dengan informasi yang akurat. InsyaAllah dengan kebijakan-kebijakan yang saat ini ada, seperti berdiam diri di rumah, meliburkan sekolah, membatasi aktivitas di luar, dan mempersering cuci tangan, kita bisa menahan laju perkembangan virus coorona. Kita optimalkan IKHTIAR sebelum TAWAKKAL kepada Allah Swt.

 

Celebrated Eid Adha in Indonesia

Today we celebrate Eid Adha, a feast of sacrifice. It starts with Arafat fasting, which we did a day before the festival. It is also the day when the pilgrims stand on the plains of Arafah for pray. After breakfasting we say Takbir or “Allahu Akbar,” that means Allah is the greatest, either alone or together, at home or at the masjid, quietly or loudly.
In the morning, we wake up early around 4:30 am to prepare for eid prayer. We start with Fajr pray then have a quick shower. We wear our best clothes and skip our breakfast until the eid prayer done.

Because the place for doing eid prayer is close to our house, we went there by walking. Then we did two rakaah eid prayer continued with listening to the eid sermon. After that we went home, had breakfast and get ready for the feast festival.

Usually, the festival is held by masjid, Islamic groups or school. Almost every neighborhood in Indonesia have their own masjid, so usually, people will gather to the masjid in their neighborhood. In our neighborhood masjid, we sacrifice 4 cows and 4 goats. People will work together to slaughter the cattle, clean and cut the meat then distribute them to all people in that neighborhood and the needy people.

While the men were working with the cut and distribute the meat, the women were cooking some of the meat for the festival. During those time snacks, beverages, fruits, including ice cream served. After all the meat packed and the food cooked, everyone will sit and eat together. Then we all cleaned and did Dhuhur pray together.
Happy Eid Mubarak!