jalan-jalan ke Bali

Hari Pertama: Penuh Drama 🙂

Hari pertama diawali dengan serangkaian drama ☺ Supir gocar yg lupa isi kartu tol dan kehabisan bensin. Kena macet di tol karena ada kecelakaan. Baru pertama coba pindah destinasi ke stasiun Tambun (dan ternyata, bisa!). Mengejar kereta comuter ke Manggarai yang pas banget datang (kalau kami telat 5 menit aja, kami mesti nunggu kereta sejam kemudian dan mungkin akan terlambat mengejar pesawat).

Di kereta komuter, Ihsan muntah. Padahal jarang banget bocah itu mabuk. Untung tidak lama kemudian kami sampai Manggarai, segera mengejar kereta bandara. Hanya ada waktu 45 an menit, mesti nyebrang dan jalan kurang lebih 15 menit. Gak sempat beli makan (padahal Lili kelaparan), untung sempat makan roti dan air putih. Alhamdulillah kereta sepi, proses beli tiket dll berjalan lancar. Tak lama kami sudah duduk manis di kereta.

Kereta bandaranya sangat menyenangkan angkan. Bersih, rapi, cepat. Anak-anak senang sekali. Ihsan sudah ganti baju dan mengeksplorasi kereta dengan penuh semangat. Waktu sejam menuju bandara terasa sangat cepat. Tidak terasa kami sudah sampai.Turun dari kereta bandara, kami masih naik skytrain. Seneng, deh, bandara Soeta sekarang tidak beda dengan bandara2 besar dunia lainnya. Dari stasiun bandara naik skytrain ke terminal 2, check in bagasi, dan..akhirnya sempat juga makan siang. Usai makan siang, dah dipanggil naik pesawat. Baru sadar kalau kemungkinan sampai Bali dah waktu Magrib, kami memutuskan shalat di pesawat. Alhamdulillah penerbangan tepat waktu dan kami sampai bandara Ngurah Rai pas senja hari.Melakukan perjalanan selalu penuh kejutan. Apalagi bersama-sama krucil-krucil. Tak heran kalau banyak orangtua enggan karena kesannya repot dan capek. Tapi buat kami, ini salah satu ‘sekolah’ buat anak-anak. Mencoba aneka jenis transportasi, merasakan jalan kaki, jauh, capek, lapar yang artinya mesti berlatih sabar. Saling membantu, saling tenggang rasa kalau salah satu anggota keluarga sedih, capek, sakit. Saling menghibur mengusir kebosanan. Hal-hal itu yang bikin jalan-jalan seperti candu 😊 Belum selesai perjalanan yang ini, rasanya dah ingin merencanakan perjalanan yang akan datang 😀

Hari Kedua: Pantai Sanur

Hari kedua, aku dan anak-anak mengunjungi teman masa kecil sekaligus tetangga mepet rumah di Banyuwangi, Ida Nurjannah. Selama hampir 23 tahun kami hanya bertemu sesekali kalau pas kebetulan lebaran sama-sama pulang ke Banyuwangi. Tapi setiap lebaran aku selalu sempatkan mengunjungi Ibunya Ida di rumah beliau.Uniknya anak pertama Ida usianya hanya selisih 2 hari dengan Sofie. Anak kedua dia juga hanya selisih 6 bulan dengan Lili. Sebuah kebetulan yang tidak disengaja, orang kami nggak pernah janjian hamil, hehe.

Sesaat setelah bertemu, anak pertama Ida, Azka, sudah menunjukkan karakter yang luar biasa sebagai kakak. Dia menjemput kami di depan gang dan langsung menyambut Lili dan Ihsan. Selama kami berkunjung Azka juga sabar melayani Aufa, adiknya dan membantu ibunya ini dan itu. Saat kami bersiap ke Pantai Sanur, sore harinya, Azka tidak segan menuntun Lili dan Ihsan.

“Aku suka rambut Lili, bagus keritingnya,” ucap Azka.

Aku suka sekali dengan karakter bocah 11 tahun ini yang lugas tapi sopan. Sesekali dia bilang, “Aku tidak bisa bahasa Inggris, jadi nggak tahu mau ngomong apa.” ☺ Beberapa kali dia juga tanya arti beberapa kata dalam bahasa Inggris.

Kami menghabiskan kurang lebih 2 jam di rumah Ida, sebelum ke pantai Sanur. Bertemu teman lama selalu menyenangkan. Kami saling bercerita, tentang masa kecil, saat masih sekolah, perjuangan para lajang dan pahit getir membangun rumah tangga di awal-awal pernikahan. Alhamdulillah Ida dan suaminya memiliki usaha sendiri, yaitu, mengemas dan menjual oleh-oleh khas Bali. Yang berencana ke Bali dan males repot-repot cari oleh-oleh bisa kontak fb yang kumention di atas ya.

Sorenya kami ke Pantai Sanur. Pantainya, sih, tidak terlalu istimewa. Tapi mengisi waktu bersama teman, melihat anak-anak main bersama seperti sedang melihat masa depan. Bahwa anak-anak ini kelak akan dewasa dan mereka akan meniti jalan masing-masing yang mungkin berbeda. Tapi menjaga persahabatan, saling silaturahmi tidak pernah membuat rugi. Dengan berkunjung kita bisa saling belajar dan berbagi pengalaman. Dengan begitu kita bisa lebih bersyukur dan saling menyemangati. Ini juga mutiara yang selalu aku cari dari setiap perjalanan.

Terimakasih Ida yang sudah menjamu dengan sangat baik dan memberi banyak oleh-oleh (termasuk boneka hello kitty buat Lili). Semoga rezeki makin banyak dan berkah!

Hari Ketiga: Pantai Kuta

Salah satu ikon kota Bali ini sebenarnya tidak kumasukkan ke daftar tempat yang ingin kukunjungi. Mengapa? Pengalaman saat terakhir aku singgah ke pantai ini, suasananya terlalu ramai dan pemandangannya kurang eksotik. Tapi, kemarin, tanpa sengaja, kami malah menghabiskan seharian di sini.

Ceritanya, saat browsing tempat menarik untuk dikunjungi di sekitar Jimbaran, tanpa sengaja aku menemukan info soal BSTS (Bali Sea Turtle Society), semacam komunitas konservasi penyu. Mereka punya jadwal melepas tukik secara rutin yang biasanya diinformasikan melalui FB mereka. Ndilalah (apa ya bahasa Indonesianya 😀 ) kok, ya, jadwal terbaru mereka melepas tukik adalah tgl 23 Oktober atau sehari setelah aku tahu info soal BSTS ini.Lalu aku cari-cari info mengenai komunitas ini, apa yang mereka lakukan dan kapan jadwal pelepasan tukik lagi. Lha, kok, nggak ada info yang jelas. Si Sofie dah terlanjur kukabari soal komunitas ini, dan sebagai pecinta hewan, sudah kuduga kalau dia bersikukuh ingin ke sana. Aku coba telpon ke nomor hp yang tertera, tidak ada yang mengangkat. Aku juga kirim pesan, tidak dibalas. Ya udahlah tetap kujadwalkan ke sana, dengan asumsi meskipun mereka tidak ada jadwal melepas tukik, pastinya mereka punya kandang penyu atau minimal pusat informasi mengenai konservasi penyu yang sudah mereka lakukan.

Dengan semangat 45 kami menuju ke sana yang dalam proses perjalanan kembali terjadi ‘drama’. Hehe. Tas ranselnya Sofie ketinggalan di mobil grab yang kami naiki. Pas aku telpon si pengemudi, dia bersikeras sampai bersumpah kalau tidak ada barang yang tertinggal. Oke telpon kututup baik-baik lalu kuminta Sofie merunut kejadian pagi itu, dan dia tetap bersikukuh kalau tas dia ada di bagasi mobil grab. Aku pun kembali menelpon si pengemudi, kujelaskan pelan-pelan, dia baru sadar kalau yang aku cari itu tas ransel. Dia mengira aku mencari mobil mainannya Ihsan 😧 (siapa juga yang mencari mainan, kesel banget sebenarnya tapi ya kutahan-tahan, orang bukan dia yang salah)

Singkat kata, masalah ransel dah beres, aku baru tahu kalau si BSTS ini tempatnya di pinggir pantai Kuta. Dan tidak ada kantornya, cuma semacam halaman kecil dengan patung penyu raksasa, sebuah pos gardu dan bedeng-bedeng (bangunan semi permanen seperti yang biasa dipakai tukang bangunan). Bertanyalah aku ke seorang wanita di dalam pos gardu. Dia bilang hari ini tidak ada pelepasan tukik, nggak ada display tukik dan tidak ada apapun yang bisa dilihat. Kecewalah kami. Aku beri masukan ke petugas tersebut, setidaknya kasihlah informasi yang jelas di website atau FB mereka (katanya mereka punya IG juga tapi dari googling aku cuma diarahkan ke FB mereka), atau kalau ada orang yang tanya tolong direspon, biar nggak ada yang kecewa seperti yang kami alami.

(Sekitar 30 menit aku meninggalkan post BSTS itu pesan yang kukirim via wa ke non hp yang tertera di FB BSTS dibalas. Kuranglebih isinya mereka komunitas yang hanya menetaskan dan melepaskan tukik ke laut. Tidak ada display tukik dan mereka tidak punya jadwal tetap karena proses menetasnya tukik juga tidak pasti. Aku pun mengucap terimakasih atas info tersebut)

Gagal sudah rencana melihat penyu. Sebetulnya rencanaku hari ini, setelah ke BSTS, kami mau ke Pantai Melasti yang kabarnya mirip pantai Pandawa. Membandingkan pantai Pandawa dan Padang-padang yang aku kunjungi 2014 lalu dengan Kuta rasanya Kuta jadi kurang menarik. Dua pantai yang kusebut itu memiliki pemandangan yang lebih alami, air lautnya pun berwarna toska bening. Tapi melihat anak-anak yang sudah tidak sabar pingin main pasir dan air, ya sudahlah sepertinya aku mesti merelakan untuk tidak ke Pantai Melasti. Tapi sebelum memutuskan, aku ajak Sofie musyawarah dulu, kujelasan kalau sebenarnya Ibu pingin kita ke pantai lain tapi itu akan butuh waktu ke sana. Kata dia, “Kenapa kita nggak main di pantai ini aja?”
Aku jelaskan, kalau main di pantai ini dia mesti hati-hati karena ombaknya besar. Dan, karena Ihsan rewel karena ngantuk, Ibu nggak bisa menemani ke pantai, yang artinya dia harus tanggungjawab jaga adiknya.
“I can do that,” jawabnya.

Okelah, jadinya kami main di Kuta hampir seharian. Pantai Kuta ini agak berbeda dengan Pantai Sanur yang sehari sebelumnya kami juga kunjungi. Di Pantai Sanur lebih berpasir, sedangkan di Kuta, alas tempat anak-anak berenang dipenuhi pasir berbatu dan potongan karang. Efeknya apa? Baju renang anak-anak tidak dipenuhi pasir sebagaimana saat renang di Pantai Sanur. Hal sepele seperti ini menjadi penting buat ibu-ibu seperti aku 😊

Hampir 3 jam, dua bocah itu main pasir dan berenang. Satu setengah jam pertama Ihsan tidur, setengah jam terakhir baru dia bergabung main pasir dan mengumpulkan kerang. Menjelang jam 4 sore kami bersiap pulang. Melihat Lili ngantuk dan capek, kebetulan, kok, ya aplikasi grab lagi ngadat kuputuskan naik taxi ke hotel. Begitu taxi jalan aq tanya, kok argo nggak hidup, kata supirnya lagi rusak. Lha, terus gimana tau biayanya, kata supirnya ongkosnya Rp 270 ribu! What??? Tadi aja pas berangkat aq cuma bayar Rp 47 ribu masak pulangnya segitu mahal. Kata dia, jalannya muter dan macet. Aq tegas aja bilang kalau aku nggak mau bayar segitu dan memilih turun. Dia coba merayu dengan menurunkan harga mulai 250, 200, sampai terakhir 150. Aku bilang, aku cuma mau bayar maksimal 90ribu dan dia nggak mau. Aku bersikukuh turun dan dia kukasih 10ribu (karena kami sudah jalan sekitar 300m). Turun dari taxi, aq coba pake grab lagi dan alhamdulillah langsung dapat. Mau tahu berapa ongkosnya? 76 ribu rupiah!

Pengalaman berharga, ya. Alhamdulillah kami sampai di hotel dengan lancar dan selamat. Dan Lili tidur selama perjalanan ke hotel. Rupanya dia capek banget. Senang melihat anak-anak puas bermain meskipun kami tidak jadi mengunjungi Pantai Melasti. Semoga lain waktu bisa ke sana!

 

 

 

 

Kehilangan

Beberapa hari yang lalu kami mendapat kabar duka dari Amerika. Salah seorang teman yang sudah kuanggap seperti ibu sendiri meninggal dunia. Sedihnya, si Ibu ini, sebut saja Ibu B, meninggal dunia sendirian, di kamar dia, tanpa seorang pun yang mendampingi. Diduga, beliau meninggal sehari sebelum ditemukan, dengan sebab serangan jantung.

Setiap kali teringat Ibu B, aku masih merasa sedih. Membayangkan beliau meregang nyawa sendiri, tidak ada yang menemani. Dua anaknya tinggal satu kota, tapi karena suatu hal mereka tidak mau berkomunikasi dengan ibunya. Sang mantan suami juga tinggal satu kota, tapi sejak bercerai mereka tidak pernah saling bicara. Kadang ada orang yang tinggal (kost) di rumah ibu B, kadang dia hanya tinggal sendiri. Beberapa kali ibu B juga menampung teman atau keluarga yang butuh tempat tinggal, bahkan kabarnya, saat beliau meninggal itu sedang ada satu keluarga yang tinggal menumpang di rumah beliau, namun mereka sedang tidak di rumah ketika Ibu B meninggal. Kalau sudah takdir, ya, meskipun ada keluarga yang tinggal bersama, Allah berkehendak memanggil kala beliau sedang sendiri.

Potret Ibu B menjadi sesuatu yang biasa di Amerika. Aku punya beberapa kenalan (orang Amerika asli) yang sudah berusia senja dan tinggal sendirian. Ada yang pernah menikah lalu bercerai, si anak tinggal di state lain. Ada yang tidak pernah menikah dan tidak punya anak. Ada juga yang istri/suaminya sudah meninggal duluan dan dia tinggal sendiri. Sepertinya bukan hal yang aneh kalau ada lansia meninggal sendirian di rumahnya dan lambat diketahui karena tidak ada yang menemani. Namun begitu jarang aku tahu orang Indonesia atau orang Asia yang memilih gaya hidup seperti itu. Biasanya kalau mereka tidak punya keluarga lagi, ya, mereka memilih kembali ke negara asal. Atau minimal mereka masih punya anak-anak, teman atau saudara yang rutin datang, menengok atau minimal saling menelepon.

Banyak orang membayangkan pernikahan dengan ‘bule’ atau warga negara Amerika Serikat selalu berbuah manis. Padahal banyak kisah dibaliknya dan sebagian darinya bukan cerita indah. Seperti kisah Ibu B yang diawali dengan cerita manis pernikahan yang menghasilkan dua anak perempuan yang lucu-lucu. Sekian tahun mereka membina pernikahan, suatu ketika sang suami memutuskan keluar dari Islam. Menurut ibu B perpindahan agama ini yang menjadi alasan dia mengajukan perceraian tapi mungkin sebetulnya ada masalah rumit yang saling berkelindan. Singkat kata mereka bercerai dengan proses yang tidak baik-baik saja. Mantan suami dan istri itu tidak pernah lagi saling berkomunikasi, dua anak ikut ibunya.

Sekian tahun Ibu B membesarkan anak sendiri, mengajarkan mereka tentang Islam, Allah mengujinya dengan anak sulung yang hamil di luar nikah. Tak terbayangkan bagaimana perasaan perempuan yang setiap pekan mengajar di sekolah Islam Sunday School saat putri kecilnya terbawa arus pergaulan bebas. Hanya Allah yang tahu bagaimana akhirnya si Ibu bisa menerima kehadiran bayi kecil ganteng dan mencintainya sepenuh hati.

Beberapa tahun kemudian ketika Allah mengujinya kembali dengan serangan jantung. Sempat dirawat di rumah sakit sampai lumayan membaik, ibu B berkeinginan kembali ke Singapura, tanah kelahirannya. Dia pun meninggalkan negeri Paman Sam yang sudah ditinggalinya kurang lebih 30 tahun. Sayangnya, negeri Singa yang dia bayangkan berbeda dengan kondisi saat itu. Puluhan tahun bekerja di Amerika, saat kembali ke Singapura ibu B kesulitan mengakses kemudahan, seperti asuransi dan tunjangan ‘cacat’ seperti yang biasa dia dapatkan di Amerika. Setelah berpikir panjang, Ibu B memutuskan kembali ke Amerika setelah 7 bulan tinggal di Singapura.

Kembali ke Amerika, ibu B kaget, rumahnya ditempati si anak kedua dengan pacarnya plus anjing piaraan mereka. Momen itu menjadi awal komunikasi yang memburuk dengan anak-anaknya. Ibu B selalu mengatakan bahwa selama dia tinggal di Singapura sang mantan suami ‘meracuni’ dua putrinya dengan segala pikiran buruk mengenai dirinya. Hingga mereka tak mau lagi bersikap baik dengannya. Selama nyaris lima tahun aku tinggal di Norfolk, si Ibu tidak pernah berbicara dengan putri sulungnya. Si bungsu sempat tinggal dengan ibunya namun akhirnya dia juga memilih tinggal sendiri dan nyaris tak pernah berkomunikasi dengan ibunya.

Aku sedih sekali membayangkan perasaan bu B. Anak-anak yang dibesarkan dengan susah payah, tumbuh jauh dari yang dia harapkan. Ingin kembali ke tanah air, khawatir membebani keluarga besar. Minimal selama tinggal di Amerika, dia masih bisa mandiri. Dalam arti dia bisa pergi ke mana-mana tanpa merepotkan orang lain. Bagi penderita masalah kesehatan seperti ibu B, bisa mendapat fasilitas layanan bus dengan biaya yang sangat murah ke mana-mana. hanya tinggal order minimal sehari sebelumnya, bus yang dilengkapi layanan kursi roda akan menganta dan menjemput dari depan pintu rumah. Setiap bulan dia juga mendapat semacam tunjangan dari negara. Asuransi kesehatan juga gratis. Bahkan jika bu B mau, dia bisa mendapat semacam perawat gratis yang tiap hari datang ke rumah untuk membantu dia membersihkan rumah, memasak makanan dan menemani berbagai aktivitas sederhana.

Alhamdulillah dengan segala fasilitas itu, Ibu B bisa rutin shalat Jumat ke masjid dan pergi ke beberapa acara, misalnya kumpul-kumpul dengan orang Indonesia atau kegiatan lainnya. Setidaknya beliau masih punya ‘kehidupan’ bersama teman-teman dan komunitas muslimnya. Sayangnya relasi dengan kedua anaknya tidak kunjung membaik. Bahkan akhir-akhir ini dia makin susah berkomunikasi dengan cucunya.

Seperti itulah ibu B mengisi hari-hari. Kadang dia ke Gym kalau ada teman yang mengajak. agar tidak bosan, dia sering memesan bus untuk ke mall setidaknya sekali sepekan. Sering dia mengundang kami sekeluarga atau teman-teman Indonesia lain untuk datang ke rumahnya. Kalau kami datang berkunjung, beliau senang sekali. Terlihat dari berbagai makanan yang beliau sajikan. Mukanya juga berseri-seri. Ibu B meskipun asli Singapura, ayahnya asli Indonesia. Karena itu dia akrab dengan komunitas Indonesia.

Sampai hari saat dia meninggal, tidak ada kabar bahwa ibu B sakit sebelumnya. Karena itu kami semua, yang mengenalnya, kaget mendengar berita dukacita tersebut. Kita semua berasal dari Allah dan kepada-Nya lah kita semua akan kembali. Berita kematian memang selalu mengingatkan kita semua bahwa sejatinya kita hidup ini sementara. Alam akhiratlah yang kekal dan kita semua akan menuju ke sana.

Selamat Jalan ibu B. Semoga Allah  mengampuni dosa-dosamu dan melapangkan kuburmu. Semoga kisah hidupmu menjadi pelajaran bagi kami semua. Ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa kita kendalikan dan berjalan bertentangan dengan rencana kita. Tapi Allah tidak membebani kita dengan sesuatu yang kita tidak mampu mengontrolnya. Mari lakukan yang terbaik, mengambil keputusan-keputusan yang terbaik sambil senantiasa memohon agar keputusan yang kita ambil itu sesuai dengan apa yang Allah sukai. Semoga dengan begitu kita bisa menjalani hidup kita di dunia ini dengan baik dan Allah berikan keselamatan serta penghidupan yang baik pula di alam akhirat. Aamiin.

Celebrated Eid Adha in Indonesia

Today we celebrate Eid Adha, a feast of sacrifice. It starts with Arafat fasting, which we did a day before the festival. It is also the day when the pilgrims stand on the plains of Arafah for pray. After breakfasting we say Takbir or “Allahu Akbar,” that means Allah is the greatest, either alone or together, at home or at the masjid, quietly or loudly.
In the morning, we wake up early around 4:30 am to prepare for eid prayer. We start with Fajr pray then have a quick shower. We wear our best clothes and skip our breakfast until the eid prayer done.

Because the place for doing eid prayer is close to our house, we went there by walking. Then we did two rakaah eid prayer continued with listening to the eid sermon. After that we went home, had breakfast and get ready for the feast festival.

Usually, the festival is held by masjid, Islamic groups or school. Almost every neighborhood in Indonesia have their own masjid, so usually, people will gather to the masjid in their neighborhood. In our neighborhood masjid, we sacrifice 4 cows and 4 goats. People will work together to slaughter the cattle, clean and cut the meat then distribute them to all people in that neighborhood and the needy people.

While the men were working with the cut and distribute the meat, the women were cooking some of the meat for the festival. During those time snacks, beverages, fruits, including ice cream served. After all the meat packed and the food cooked, everyone will sit and eat together. Then we all cleaned and did Dhuhur pray together.
Happy Eid Mubarak!

 

Idul Adha di Amerika

eid adha 1Dua hari lagi insyaAllah kita akan bertemu dengan Idul Adha 1440 H. Ini tahun pertama kami merayakan Idul Adha di Indonesia, setelah empat tahun terakhir kami selalu merayakannya di Norfolk, Virginia. Mungkin banyak di antara teman-teman di sini yang bertanya-tanya, seperti apa, sih, merayakan Idul Adha di Amerika Serikat? Apakah sama seperti di Indonesia, orang-orang bergotong royong menyembelih hewan Qurban di masjid, memotong-motong daging dan membagikannya?

Di Amerika Serikat, sebagaimana di negara-negara minoritas muslim lain, Idul Adha nyaris tak beda dengan hari-hari biasa. Anak-anak tetap masuk sekolah, orang-orang masuk kerja dan kantor-kantor buka seperti biasa. Tidak ada libur, takbir keliling, apalagi acara kumpul-kumpul, menyembelih dan memasak hewan kurban bersama.

Sehari sebelum hari raya, masjid di dekat tempat saya tinggal, yakni Islamic Centre of Tidewater biasa mengadakan potluck atau makan bersama saat buka puasa di hari Arafah. Disebut potluck karena para keluarga yang hadir menyumbang makanan untuk dimakan bersama-sama. Ada yang membawa nasi biryani, nasi ayam khas Timur Tengah, kadang ada juga yang memasak Couscous Maroko. Tidak hanya makanan ‘berat’ yang disajikan, namun juga kue-kue, buah, es krim bahkan kadang ada juga yang membawa roti tart!

Di kota Norfolk, Virginia, selain dua masjid kecil yang menyelenggarakan shalat Id dengan kapasitas yang terbatas, terdapat 2 penyelenggaraan shalat Idul Adha yang mampu menampung jamaah dalam jumlah besar. Dua penyelenggara tersebut biasa menyewa hall atau gedung olahraga di Virgina Beach atau Hampton Roads. Saya biasa mengikuti shalat Id di Hampton Roads yang berjarak kuranglebih 45 menit mengendarai mobil dari tempat saya tinggal. Panitia shalat Id yang merupakan gabungan beberapa komunitas muslim setempat menyewa gedung stadion dengan kapasitas kuranglebih 2000 orang. Biaya sewanya juga tak tanggung-tanggung, sekitar 4000 USD atau setara dengan 50 juta rupiah. Namun tak perlu khawatir karena biasanya uang donasi atau sedekah dari para jamaah melebihi jumlah tersebut.

Shalat Id dimulai pukul 9 pagi, takbir mulai dikumandangkan satu jam sebelumnya. Apakah ada takbir sebelum shalat Id? Ada, namun hanya bisa didengar di dalam masjid, malam sebelum shalat Id. Itu pun hanya takbir pendek, dikumandangkan oleh imam seusai shalat Isya.

Karena sekolah tidak libur, orangtua muslim perlu memintakan ijin untuk anak-anak mereka. Sisi positif dari masyarakat Amerika, mereka sangat menghormati kebebasan setiap orang memeluk dan menjalankan ibadah sesuai keyakinannya. Jadi umumnya tak masalah siswa tak masuk sekolah untuk menjalankan ibadah shalat Idul Adha. Bahkan di kota New York, Idul Fitri dan Idul Adha sudah menjadi hari libur sekolah, semoga negara bagian yang lain segera mengikuti kebijakan ini.

Demikian juga bagi para pekerja kantoran. Mereka harus mengajukan ijin datang terlambat atau sekalian cuti kerja. Hari Idul Adha merupakan momen istimewa anggota keluarga berkumpul menjalankan ibadah bersama-sama. Juga saat langka dimana komunitas muslim dari berbagai penjuru kota bersua.

Sejak pukul tujuh, lokasi shalat Id sudah ramai dengan para jamaah. Semua hadir dengan pakaian terbaik. Ibu-ibu menggandeng anak-anak yang tampak ceria memakai baju baru dengan aksesoris gelang, bando dan ikat rambut warna warni. Umumnya jamaah memakai pakaian tradisional mereka. Pria Pakistan, Afganistan dan India memakai Shalwar Kameez berbentuk gamis selutut, sewarna dengan celana mereka. Laki-laki dari Timur Tengah memakai gamis Thobe warna hitam atau putih, dengan aksesoris penutup kepala (kofiyah) kombinasi merah dan putih. Tak sedikit pula yang memakai jas, hem biasa bahkan kaos (t-shirt) dipadu dengan jeans.

Para perempuan tampil ceria dengan busana warna-warni. Sebagian berhijab, banyak pula yang tidak. Ada yang memakai Shalwar Duppata khas Pakistan, abaya hitam Arab, baju sari, busana pesta, baju tradisional Afrika. Luar biasa beragam. Menggambarkan berbagai latarbelakang, suku, ras, dan bangsa. Semua hadir dengan niat menjalankan ibadah sebagaimana perintah Allah Swt.

Khutbah shalat Id disampaikan dalam 2 bahasa, yaitu Arab dan Inggris. Usai shalat dan khutbah orang-orang berkumpul bersama kolega, teman-teman dan keluarga mereka. Biasanya panitia menyediakan cemilan berupa donat artisan box. Adakalanya tersedia pula kue-kue khas berbagai negara yang sengaja dibawa beberapa keluarga untuk berbagi sukacita.

Proses Penyembelihan Hewan Qurban

Lalu bagaimana penyembelihan hewan Qurban di sini? Bisakah masjid menyelenggarakan prosesi penyembelihan dan pembagian hewan Qurban seperti di Indonesia? Di Amerika, seperti juga di Eropa dan Australia memiliki kebijakan yang ketat mengenai penyembelihan hewan. Tak bisa sembarang orang menyembelih hewan ternak. Penyembelihan pun hanya bisa dilakukan di tempat yang memang sudah disediakan dan telah melalui uji kelayakan.

Masjid atau organisasi keislaman tak bisa menyelenggarakan prosesi penyembelihan hewan Qurban. Oleh karena itu umumnya muslim di Amerika berkurban melalui lembaga kemanusiaan lokal dan internasional seperti Islamic Circle of North America (ICNA) dan Islamic Relief. Masjid-masjid juga menerima pembayaran hewan Qurban lalu menyalurkannya ke lembaga-lembaga kemanusiaan internasional atau mengirimkannya ke negara-negara yang lebih membutuhkan seperti Palestina dan Syiria.

Lalu bagaimana jika ingin menyembelih hewan Qurban sendiri? Karena di beberapa negara seperti Maroko, Mesir dan Saudi Arabia, berkurban merupakan tradisi tiap keluarga. Hampir setiap rumah menyembelih kambing sendiri, lalu membagikan dan menikmati daging tersebut bersama keluarga, teman dan kerabat. Bisa dibayangkan alangkah hampanya menjalani Idul Adha tanpa menyembelih hewan Qurban.

Rupanya ada cara untuk menyembelih Qurban ‘sendiri’ di Amerika. Caranya, beberapa minggu sebelum Idul Adha, orang yang hendak berkurban (Shahibul Qurban) bepergian ke wilayah pertanian di pinggiran kota. Biasanya para petani di Amerika sekaligus peternak yang memelihara kuda, sapi, biri-biri, babi, bebek, dan ayam. Sesampainya di sana, mereka melakukan transaksi pembelian sapi, kambing atau biri-biri dengan perjanjian akan kembali ke sana pada hari tertentu antara 10 hingga 13 Dzulhijah. Harga hewan Qurban tahun ini kurang lebih 300-500 USD (Rp 3,5 juta- Rp 6 juta) untuk kambing/biri-biri dan 900-1500 USD (Rp 10 juta-Rp 17 juta) untuk sapi.

Pada hari yang sudah disepakati mereka kembali ke peternakan tersebut. Lalu si petani akan mempersiapkan prosesi penyembelihan. Shabibul Qurban menyembelih sendiri hewan Qurban yang dipilihnya. Namun prosesi menguliti, membersihkan dan memotong-motong dilakukan oleh si peternak. 

Di beberapa kota besar seperti Washington DC dan Maryland yang memiliki komunitas muslim cukup besar, tersedia pertanian dan peternakan yang dikelola oleh keluarga muslim. Proses Qurban di tempat tersebut lebih mudah, Shahibul Qurban tinggal datang dan memilih hewan Qurban, lalu peternakan akan melakukan proses selanjutnya. Mulai dari menyembelih, menguliti, memotong dan membersihkan hewan Qurban. Proses penyembelihan pun dilakukan secara modern, tak lagi menggunakan parang atau golok namun menggunakan gergaji mesin. Demikian juga untuk memotong daging, mereka menggunakan mesin canggih. Dalam waktu singkat, daging Qurban pun siap dibawa pulang.

Piknik di Peternakan

Tahun lalu, kami berkurban di salah satu peternakan di North Carolina. Hari itu, usai shalat Id Adha kami sekeluarga menuju kawasan peternakan. Kurang lebih sejam berkendara, kami pun sampai di lokasi. Sudah banyak keluarga yang menunggu giliran menyembelih hewan kurban. Sambil menunggu giliran, sebagian keluarga piknik dengan menggelar alas duduk, sambil menyantap makanan ringan dan meminum teh dan minuman segar lainnya.

Meskipun kami berada di peternakan, tak ada bau menyengat. Mungkin karena binatang-binatang yang dipelihara di peternakan ini, seperti kuda, sapi, kambing dan domba tidak dikurung namun dibiarkan bebas berkeliaran dalam sebuah ‘kandang’ besar seperti kebun binatang. Di sekeliling kami terlihat rumah petani, gudang yang dicat merah, dan silo atau bangunan seperti tabung tempat petani menyimpan hasil pertanian. Hewan-hewan yang lebih kecil seperti ayam, kalkun, kelinci, dan babi di tempatkan dalam kandang-kandang berukuran lebih kecil namun mereka masih bebas berkeliaran. Anak-anak bisa melihat dan memberi makan hewan-hewan tersebut.

Tak jauh dari lokasi peternakan terdapat pasar tradisional yang menjual kentang, jagung, labu, zuccini, wortel, brokoli, timun, tomat, semangka dan berbagai hasil pertanian lain. Terkadang mereka juga menjual madu, roti, kue pie dan es krim rumahan. Harganya memang sedikit lebih mahal dari barang sejenis yang biasa dijual di supermarket, namun rasanya jauh lebih nikmat. Rasa sayuran dan buahnya lebih enak, makanan yang dijual lebih sehat dan alami. Tak heran jika para pengunjung tak melewatkan kesempatan untuk berbelanja di pasar yang hanya buka selama musim semi, musim panas dan pertengahan musim gugur ini.

Perayaan Idul Adha di Amerika memang tak semeriah lebaran kurban di Indonesia, namun, tak kalah menyenangkan, bukan?

***

Sebagian isi tulisan sudah dimuat di sini 

Cerita Idul Adha 2017 huga bisa dibaca di sini

 

 

 

Mang Sayur

16001049
sumber foto: Mas Sayur zonamotor.net

Kemarin tukang sayur yang biasa lewat depan rumah, tidak datang, karenanya pagi ini kutanya,

“Kok, kemarin nggak jualan, Mang?”

“Iya, saya bangun kesiangan!” Jawabnya.
“Emang bangun jam berapa, Mang?” Aku balik tanya.
“Jam setengah satu!” Jawabnya.
“Setengah satu siang?” tanyaku lagi
“Enggak, lah, jam setengah satu malam!” Jawabnya lagi.
“Bangun setengah satu malam masih kesiangan jualan, emang biasanya bangun jam
berapa, Mang? tanyaku lagi, penasaran.
“Saya biasa bangun jam 11 malam, terus belanja sampai jam 2 (pagi). Setelah itu bungkus-bungkus sampai Subuh. Habis subuh langsung ngider jualan,” paparnya.
“Terus tidurnya jam berapa, Mang?”
“Selesai jualan, kadang jam 3, kadang-kadang jam 4.”
—-
Wow, aku tidak bisa membayangkan kerja dengan jam kerja seperti itu. Jam 11 malam, bagi sebagian orang adalah jam berangkat tidur tapi bagi Mang Nyunyun (nama panggilan dia) justru saat dia mulai kerja. Lima belas jam berikutnya dia masih kerja. Kalau dihitung mungkin hanya sekitar 4-5 jam dia tidur per hari, dengan jam tidur yang tidak ‘normal’. Padahal si “Mamang” ini masih muda, mungkin usianya sekitar 30 tahun. Kubayangkan, pasti sesekali dia pingin main juga dengan teman-temannya, atau sekadar bersantai tanpa dikejar waktu.
Tapi dia mungkin tak punya banyak pilihan pekerjaan. Atau mungkin memang dia memilih kerja seperti itu dibanding kerja di pabrik atau pekerjaan lain. Tetangga depan rumah pernah cerita kalau Mang Nyunyun sempat tidak jualan beberapa bulan, kabarnya dia menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) ke luar negeri. Tapi tak lama kemudian dia balik dan kembali jualan lagi.
Cerita Mang Nyunyun menyadarkan aku bahwa ada banyak hal yang mesti kusyukuri. Bahwa untuk bisa belanja di depan rumah, ada sosok penjual yang mesti bangun sejak jam 11 malam. Bahwa pekerjaan sehari-hari di rumah itu masih terbilang ringan, dengan jam kerja yang longgar, tanpa deadline dan bebas tekanan. Kalau pas malas masak, ya, tinggal beli makanan jadi. Kalau malas nyuci, ya, tinggal ditumpuk untuk nyuci hari berikutnya. Itupun yang nyuci si mesin cuci, tinggal memasukkan baju, mencet tombol, hingga siap dijemur. Jika malas menyetrika, ya, baju nggak usah disetrika. Asal tahan aja ngelihat baju anak-anak atau baju sendiri sedikit kusut. Bahkan, andaikan malas banget cuci dan setrika, tinggal bawake laundry, lalu tinggal jemput dan terima baju rapi dan wangi. Semua itu adalah kemewahan yang mungkin tidak semua orang bisa merasakan.
Di sisi lain aku juga senang, menyaksikan anak muda pekerja keras. Aku jadi lebih menghormati Mang Nyunyun yang memilih mengisi masa mudanya dengan kerja keras dibanding santai-santai dan kongkow-kongkow yang biasanya dipilih mereka yang enggan memeras keringat. InsyaAllah dengan niat baik bekerja halal, Allah akan anugerahkan rezeki berlimpah dan barokah.
Terimakasih atas ‘petuah’ hidup yang berharga, Mang Nyunyun!

Back for Good to Indonesia

bfg-poster
gambar pinjam dari backforgoodfilm.com

“I heard you will go back to Indonesia for good, is it true, Aini?”

Demikian pertanyaan yang tak henti kudengar awal Mei lalu. Banyak teman yang sudah seperti keluarga kami di Norfolk menanyakan hal tersebut dengan nada sedih. Kami memang memutuskan akan kembali ke Indonesia pekan ketiga Mei 2019. Mas Sigit sudah menyelesaikan disertasinya, meskipun secara resmi dia baru lulus dari kampus pada Agustus 2019 (insya Allah).

Tak pernah kubayangkan jika meninggalkan Norfolk akan terasa sedemikian sedih. Jika ingat pertama kali kami sekeluarga menginjakkan tanah di kota ini, rasa asing mendominasi dan sepertinya akan mudah saja saat tiba waktunya kami kembali ke tanah air. Namun 4,5 tahun juga bukan waktu yang sebentar.  Teman yang awalnya sekadar kenal, menjelma menjadi teman baik bahkan jadi dekat seperti saudara. Lingkungan sekitar terasa nyaman, segala sistem sosial kemasyarakatan yang lebih teratur dibanding negara sendiri membuat kerasan. Ditambah lagi rutinitas yang mulai terbentuk dalam kurun waktu tersebut menjadikan hari-hari berlalu dengan cepat dan menyenangkan.

But, life must go on. Kita mesti terus melangkah. Rasa sedih dan berat tentu ada, tapi kita tidak pernah tahu apa yang ada di depan. Saat suami menerima beasiswa sekolah di Amerika, dia juga sudah menandatangani kontrak bahwa  kami mesti kembali ke tanah air. Itu adalah janji yang harus ditepati! Itu pula jawaban yang selalu kuberikan pada teman yang menyayangkan keputusan kami untuk kembali. Bagi sebagian orang, kesempatan untuk masuk ke Amerika sedemikian susah, jadi umumnya mereka akan berusaha sekuat mungkin untuk bertahan. Tapi tentu kondisi setiap orang berbeda, dan ini keputusan yang kami yakini terbaik, insyaAllah.

Teman-teman dekat sudah kukabari jauh sebelumnya. Mereka sahabat-sahabat yang pasti butuh hati yang lebih ‘besar’ untuk ‘melepas’ kami. Sebagian besar teman, baru kukabari kira-kira sebulan sebelum kami pergi. Prose mengepak barang dan membersihkan apartemen cukup memeras energi dan pikiran. Belum lagi mengurus ke sekolah anak-anak karena mereka akan meninggalkan sekolah sebelum tahun ajaran berakhir, menyiapkan ‘pesta perpisahan’ kecil-kecilan dengan teman-teman Sofie dan Lili. Menjual barang yang bisa dijual, termasuk mobil yang masih kami butuhkan hingga hari terakhir kami di Norfolk. Terbayang, kan, riwehnya?

Apalagi saat itu bulan Ramadhan. Hampir setiap malam kami begadang karena tak ingin melewatkan tarawih di masjid. Sementara paginya anak-anak masuk sekolah seperti biasa. Tak heran di awal-awal Ramadhan kami sempat sakit bergantian, antara kecapekan, waktu tidur yang berantakan, dan lain-lain.

Sekitar sepuluh hari sebelum hari H kami meninggalkan Norfolk, kami setiap hari diundang buka bersama oleh teman yang berbeda. Rasanya terharu sekali. Kami yang bukan siapa-siapa, kami juga tak melakukan banyak hal, tapi semua teman memandang kami sangat baik dan memperlakukan kami dengan istimewa. Jika bukan karena Allah yang ‘mengangkat’ kami sedemikian tinggi, niscaya kami tak ada apa-apanya.

Banyak hadiah yang kami terima, uang pemberian dari teman-teman masjid, kenangan berupa makan malam dan diskusi-diskusi yang sangat menyenangkan, masyaAllah itu semua sangat membekas di hati. Norfolk bertransformasi di hati kami, dari kota asing menjadi tempat yang kami rindukan.

Dan tibalah hari H kami kembali ke Indonesia. Oya, mungkin bagi teman di Indonesia tidak atau belum terbiasa dengan kata-kata ‘back for good’. Istilah ini biasa dipakai untuk mereka yang berencana pindah atau kembali ke negara asal untuk seterusnya. Makanya biasanya kalau ada teman yang hendak pindah, suka ada yang tanya “Is it for good?” atau kurang lebihnya “Kamu beneran pindah untuk seterusnya? Dan nggak akan kembali tinggal di sini?”

Lanjut ketika hari H, kami menempuh perjalanan 8 jam ke New York, untuk kemudian terbang dengan Singapore Airlines selama kurang lebih 25 jam dengan transit di Jerman, Singapura sebelum mendarat di Indonesia. Alhamdulillah semua lancar dan kami sampai Indonesia dengan selamat!


 

 

 

Berkirim Doa

Pernah, nggak, ketemu orang yang tiba-tiba bilang, aku sering mendoakan kamu, lho..

Ada sebuah kejadian yang sangat membekas di pikiran, saat suatu ketika aku mengunjungi tetangga beda 4 rumah dari apartemen tempat kami tinggal di Norfolk. Tetangga yang kukunjungi ini keluarga Afganistan. Sang suami sekolah PhD, si istri tinggal di rumah mengasuh anak mereka yang berjumlah 5 orang. Entah karena sibuk mengasuh anak atau memang tidak suka bersosialisasi, sang istri ini nyaris tidak pernah ke luar rumah dan jarang datang ke acara kumpul-kumpul, entah di masjid atau di taman. Bahasa Ingrisnya juga kurang lancar, jadi agak susah berkomunikasi dengan dia. Aku sempat beberapa kali ketemu di sekolahnya anak-anak, tapi, ya itu, kami jarang ngobrol panjang karena kendala bahasa.

Saat kami sekeluarga pindah apartemen sekitar 2 tahun yang lalu, jadilah kami bertetangga. Tapi kami masih jarang ngobrol. Hanya sesekali kami saling mengirim makanan.

Kira-kira sebulan setelah aku melahirkan Ihsan, aku berkunjung ke rumahnya. Kalau biasanya aku hanya mengantar makanan dan langsung pulang, hari itu aku masuk dan duduk di ruang tamunya yang tampak sempit.

“Aku senang kamu mendapat anak laki-laki, aku sering mendoakan kamu untuk mendapat anak laki-laki,” ucapnya dengan bahasa Inggris yang campur aduk.

Masya Allah, aku ternganga. Tidak terbayang di pikiranku, kalau perempuan ini, yang kami tidak terlalu akrab, bahkan bercakap-cakap saja kami jarang, mengirimkan doa untuk kami. Bisa jadi, atas doa dia, Allah berkenan memberikan anak lelaki pada kami.

Kejadian itu mengingatkanku untuk jangan bosan mengirimkan doa untuk keluarga, teman dan siapa saja. Mendoakan itu tidak berat, hanya butuh sedikit kelonggaran hati. Siapa tahu melalui doa-doa yang kita panjatkan, para malaikat mengaminkan hal yang sama dan Allah mengabulkan doa-doa terbaik.

Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”