Merawat Orangtua

sumber; pixabay

“Kapan, Bu, kembali ke Cikarang? Betah banget di kampung?”

Beberapa tetangga dan teman baik berkali menanyakan pertanyaan tersebut. Kami sekeluarga memang sudah hampir dua bulan tinggal di desa kelahiran saya, Banyuwangi, Jawa Timur. Kami yang sebelumnya tidak berencana mudik lebaran, mendadak mudik, karena ibuku terkena stroke. Sekitar 10 hari menjelang lebaran lalu kami tes rapid untuk memastikan non-reaktif covid, menembus beberapa check point hingga alhamdulillah sampai rumah. Setibanya di sini, kami melakukan karantina 14 hari, hanya aku yang bisa menemui ibu dengan menggunakan peralatan APD lengkap.

Alhamdulillah masa karantina sudah berlalu, kami bisa beraktivitas seperti biasa. Kesehatan ibu berangsur membaik. Tangan dan kaki kiri yang sebelumnya kaku, perlahan sudah bisa digerakkan. Awalnya Ibu sama sekali tidak bisa berjalan, kini pelan-pelan beliau bisa melangkah dengan bantuan. Kekuatan tangan dan kaki menguat tapi beliau belum bisa memegang sesuatu dalam waktu lama atau berjalan sendiri.

“Ojo balik, sik, yo!” (Jangan pulang dulu, ya!), pesan Ibu beberapa kali padaku.

Rupanya keramaian bocah-bocah bermain menjadi obat tersendiri buat beliau. Ditemani dua anak (aku dan mbakku yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Ibu) menjadi hal yang inginkan di kala sakit begini. Syukurnya suamiku juga masih kerja dari rumah, anak-anak kemungkinan besar juga tetap belajar dari rumah jadi kami masih bisa ‘berlibur’ di sini.

Selama merawat ibu, banyak hal yang kupikirkan. Melihat rambut beliau yang memutih, aku membayangkan apakah kelak rambutku juga akan seputih itu? Mendampingi beliau makan, kesulitan mengunyah jenis makanan tertentu, aku bertanya-tanya, apakah ada masanya aku akan seperti ini juga? Menyaksikan beliau yang kadang tidak sabaran, tidak konsisten (kadang pagi menyampaikan sesuatu, sorenya beliau menyatakan hal yang 100% berkebalikan), frustasi (marah sampai menangis), seakan umur beliau mengerut dan kembali seperti anak usia balita.

Di sini, di Indonesia, lansia seperti ibuku tidak bisa melakukan apa-apa jika tidak didampingi anak atau pengasuh. Beliau membutuhkan bantuan untuk hampir semua aktivitas keseharian. Mobilitas beliau juga terbatas, dari kamar tidur ke kamar mandi, ke ruang tengah, dapur, halaman, paling jauh menyeberang ke toko depan rumah menggunakan kursi roda.

Aku ingat teman-teman di Amerika yang sudah sepuh. Sebagian dari mereka tinggal sendiri, masih menyetir mobil sendiri, bisa belanja dan ke mana-mana sendiri. Padahal usia mereka kuperkirakan sekitar 70-80 tahunan. Kadang kalau pas belanja di Walmart, aku ketemu sama ibu/bapak yang juga sudah sepuh, naik kursi roda otomatis yang bisa jalan sendiri. Ada juga fasilitas mobil/van yang secara khusus disediakan pemerintah untuk mereka yang berkebutuhan khusus.

Ada satu teman lansia di Amerika yang dua tahun lalu harus menjalani operasi di Rumah Sakit setelah sebelumnya ditemukan colaps oleh tetangganya. Pak H, nama si bapak ini, tinggal sendiri. Beruntung ada tetangganya yang menengoknya pagi itu dan menemukan dia terkapar sakit. Si tetangga lalu menelepon 911, dalam waktu singkat tenaga kesehatan datang dan pak H segera dilarikan ke rumah sakit. Ternyata dia harus menjalani operasi. Usai operasi pak H tidak bisa pulang ke rumah karena dia membutuhkan bantuan melakukan aktivitas keseharian. Makanya dia dikirim ke eldery nursing house atau rumah perawatan khusus lansia dan tinggal di sana sekitar 2.5 bulan. Setelah dinyatakan sehat Pak H pun pulang ke rumah dia sendiri dan ditemani sepupu dia selama seminggu. Setelahnya dan hingga sekarang dia kembali tinggal sendiri. Seperti ini gambaran seorang lansia di Amerika yang menjalani perawatan kesehatan.

Teman-teman lansia yang kukenal di Amerika cenderung aktif berkegiatan. Ada yang tergabung dalam klub berkebun, kelompok membaca buku di perpustakaan, merajut dan pengajar bahasa Inggris. Kebanyakan mereka menjadi volunteer atau bekerja secara sukarela. Di salah satu mall tempat aku kerja saat masih tinggal di Norfolk, punya kegiatan rutin pekanan untuk lansia. Tiap kamis para lansia itu bertemu di foodcourt untuk makan dan bermain kartu, tebak kata, dan permaian lainnya.

Lansia yang aktif, cenderung lebih sehat.

Ini pula yang kulihat pada ibuku. Saat masih sehat beliau aktif membina pengajian, menjadi pengurus koperasi, dan mengajar senam tera. Badan beliau sehat (dibanding para lansia yang berusia sebaya) dan masih kuat melakukan perjalaan ke mana-mana, termasuk mengikuti Muktamar Muhammadiyah ke Makassar pada 2015. Saat mulai jatuh sakit pada tahun 2016 dan tidak lagi bisa melakukan banyak kegiatan, kesehatan beliau juga menurun drastis. Apalagi setelah terkena stroke kemarin, perasaan beliau sangat down bahkan sempat bilang bahwa mungkin usia beliau tidak lama dan sudah siap dipanggil kapan saja.

Perasaan tidak berguna, merasa membebani orang lain, bosan dan putus asa menjadi ancama serius yang bisa secara cepat menurunkan kesehatan lansia. Makanya selama menjaga ibu, aku dan kakak berusaha sebisa mungkin menyemangati beliau. Misalnya saat ibu mengeluh mengenai tangan dan kakinya yang tidak kunjung bisa digerakkan secara normal, aku akan mengingatkan bahwa dibanding kondisi beliau saat pertama aku datang, saat ini sudah banyak sekali perkembangan. Yang awalnya untuk miring ke kiri saja tidak bisa, sekarang beliau bebas miring ke kanan, kiri, bahkan bangun sendiri dari posisi tidur ke duduk. Lalu aku ingatkan juga kalau sebelumnya Ibu sama sekali tidak bisa berjalan, sekarang sudah bisa jalan 90% dan hanya butuh sedikit bantuan. Demikian juga porsi makan beliau yang sebelumnya hanya 3-5 suap, sekarang sudah porsi orang normal. Selera makan beliau juga sudah kembali normal. Mendengar ‘pemaparan’ perkembangan tersebut, biasanya ibu jadi kembali bersemangat.

Untuk menghindari kebosanan, ibu rutin latihan jalan kaki, kadang menggunakan kursi roda. Saat di kamar aku putarkan pengajian di youtube atau murottal. Jam-jam tertentu beliau juga mendengarkan berita di televisi. Kebahagiaan beliau yang paling besar, saat mendengarkan cucu-cucu bermain. Momen pekanan yang selalu beliau tunggu, tiap malam Rabu, saat para tetangga datang ke rumah ini untuk mengikuti pengajian. Setiap malam Rabu ruang tengah di rumah kami menjadi tempat pengajian ibu-ibu RT kami. Pesertanya 10-25 orang. Selama masa pandemi pengajian libur, baru kembali digelar paska lebaran dengan tetap mengikuti protokol kesehatan. Beliau juga tampak gembira saat dikunjungi saudara dan tetangga.

Merawat orangtua, gampang-gampang susah. Kalau kondisi orangtua masih relatif ‘sehat’ seperti ibuku, mestinya lebih mudah. Meski begitu, kondisi psikologisku naik turun. Tidak terbayang teman-teman yang merawat orangtua dengan kondisi yang lebih berat.

Hal yang harus selalu kita ingat, Allah memerintahkan kita semua untuk berbuat baik/berbakti pada orangtua. Mohon pada Allah agar kita selalu diberi kesabaran. Sabar, sabar dan sabar terus. Tahan lidah untuk membantah, berkata agak keras bahkan mengomel. Tutup mulut rapat-rapat saat orangtua yang kita rawat melakukan hal yang mengesalkan. Lebih baik diam daripada kita menyampaikan sesuatu yang bisa menyakiti hati orangtua.

Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’

(QS Al-Israa’ : 23-24).

Masa merawat orangtua biasanya tidak lama dibandingkan dengan masa mereka merawat kita. Jika ternyata Allah takdirkan orangtua berumur panjang dan kita berkesempatan merawat mereka, ingat selalu, bahwa ini bisa menjadi ‘tiket’ kita ke surga. Sebagaimana Sabda Rasulullah Saw, ”Celaka seseorang itu (diulang tiga kali), sahabat bertanya: siapa yang celaka wahai Rasulullah? Beliau menjawab: orang yang mendapati salah satu orang tuanya atau dua-duanya dalam keadaan tua, kemudian (anak tersebut) tidak masuk surga”. (HR Muslim No: 2551).

Yuk, saling menguatkan dan mendoakan agar kita diberi kemudahan merawat orangtua kita!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s