Kehilangan

Beberapa hari yang lalu kami mendapat kabar duka dari Amerika. Salah seorang teman yang sudah kuanggap seperti ibu sendiri meninggal dunia. Sedihnya, si Ibu ini, sebut saja Ibu B, meninggal dunia sendirian, di kamar dia, tanpa seorang pun yang mendampingi. Diduga, beliau meninggal sehari sebelum ditemukan, dengan sebab serangan jantung.

Setiap kali teringat Ibu B, aku masih merasa sedih. Membayangkan beliau meregang nyawa sendiri, tidak ada yang menemani. Dua anaknya tinggal satu kota, tapi karena suatu hal mereka tidak mau berkomunikasi dengan ibunya. Sang mantan suami juga tinggal satu kota, tapi sejak bercerai mereka tidak pernah saling bicara. Kadang ada orang yang tinggal (kost) di rumah ibu B, kadang dia hanya tinggal sendiri. Beberapa kali ibu B juga menampung teman atau keluarga yang butuh tempat tinggal, bahkan kabarnya, saat beliau meninggal itu sedang ada satu keluarga yang tinggal menumpang di rumah beliau, namun mereka sedang tidak di rumah ketika Ibu B meninggal. Kalau sudah takdir, ya, meskipun ada keluarga yang tinggal bersama, Allah berkehendak memanggil kala beliau sedang sendiri.

Potret Ibu B menjadi sesuatu yang biasa di Amerika. Aku punya beberapa kenalan (orang Amerika asli) yang sudah berusia senja dan tinggal sendirian. Ada yang pernah menikah lalu bercerai, si anak tinggal di state lain. Ada yang tidak pernah menikah dan tidak punya anak. Ada juga yang istri/suaminya sudah meninggal duluan dan dia tinggal sendiri. Sepertinya bukan hal yang aneh kalau ada lansia meninggal sendirian di rumahnya dan lambat diketahui karena tidak ada yang menemani. Namun begitu jarang aku tahu orang Indonesia atau orang Asia yang memilih gaya hidup seperti itu. Biasanya kalau mereka tidak punya keluarga lagi, ya, mereka memilih kembali ke negara asal. Atau minimal mereka masih punya anak-anak, teman atau saudara yang rutin datang, menengok atau minimal saling menelepon.

Banyak orang membayangkan pernikahan dengan ‘bule’ atau warga negara Amerika Serikat selalu berbuah manis. Padahal banyak kisah dibaliknya dan sebagian darinya bukan cerita indah. Seperti kisah Ibu B yang diawali dengan cerita manis pernikahan yang menghasilkan dua anak perempuan yang lucu-lucu. Sekian tahun mereka membina pernikahan, suatu ketika sang suami memutuskan keluar dari Islam. Menurut ibu B perpindahan agama ini yang menjadi alasan dia mengajukan perceraian tapi mungkin sebetulnya ada masalah rumit yang saling berkelindan. Singkat kata mereka bercerai dengan proses yang tidak baik-baik saja. Mantan suami dan istri itu tidak pernah lagi saling berkomunikasi, dua anak ikut ibunya.

Sekian tahun Ibu B membesarkan anak sendiri, mengajarkan mereka tentang Islam, Allah mengujinya dengan anak sulung yang hamil di luar nikah. Tak terbayangkan bagaimana perasaan perempuan yang setiap pekan mengajar di sekolah Islam Sunday School saat putri kecilnya terbawa arus pergaulan bebas. Hanya Allah yang tahu bagaimana akhirnya si Ibu bisa menerima kehadiran bayi kecil ganteng dan mencintainya sepenuh hati.

Beberapa tahun kemudian ketika Allah mengujinya kembali dengan serangan jantung. Sempat dirawat di rumah sakit sampai lumayan membaik, ibu B berkeinginan kembali ke Singapura, tanah kelahirannya. Dia pun meninggalkan negeri Paman Sam yang sudah ditinggalinya kurang lebih 30 tahun. Sayangnya, negeri Singa yang dia bayangkan berbeda dengan kondisi saat itu. Puluhan tahun bekerja di Amerika, saat kembali ke Singapura ibu B kesulitan mengakses kemudahan, seperti asuransi dan tunjangan ‘cacat’ seperti yang biasa dia dapatkan di Amerika. Setelah berpikir panjang, Ibu B memutuskan kembali ke Amerika setelah 7 bulan tinggal di Singapura.

Kembali ke Amerika, ibu B kaget, rumahnya ditempati si anak kedua dengan pacarnya plus anjing piaraan mereka. Momen itu menjadi awal komunikasi yang memburuk dengan anak-anaknya. Ibu B selalu mengatakan bahwa selama dia tinggal di Singapura sang mantan suami ‘meracuni’ dua putrinya dengan segala pikiran buruk mengenai dirinya. Hingga mereka tak mau lagi bersikap baik dengannya. Selama nyaris lima tahun aku tinggal di Norfolk, si Ibu tidak pernah berbicara dengan putri sulungnya. Si bungsu sempat tinggal dengan ibunya namun akhirnya dia juga memilih tinggal sendiri dan nyaris tak pernah berkomunikasi dengan ibunya.

Aku sedih sekali membayangkan perasaan bu B. Anak-anak yang dibesarkan dengan susah payah, tumbuh jauh dari yang dia harapkan. Ingin kembali ke tanah air, khawatir membebani keluarga besar. Minimal selama tinggal di Amerika, dia masih bisa mandiri. Dalam arti dia bisa pergi ke mana-mana tanpa merepotkan orang lain. Bagi penderita masalah kesehatan seperti ibu B, bisa mendapat fasilitas layanan bus dengan biaya yang sangat murah ke mana-mana. hanya tinggal order minimal sehari sebelumnya, bus yang dilengkapi layanan kursi roda akan menganta dan menjemput dari depan pintu rumah. Setiap bulan dia juga mendapat semacam tunjangan dari negara. Asuransi kesehatan juga gratis. Bahkan jika bu B mau, dia bisa mendapat semacam perawat gratis yang tiap hari datang ke rumah untuk membantu dia membersihkan rumah, memasak makanan dan menemani berbagai aktivitas sederhana.

Alhamdulillah dengan segala fasilitas itu, Ibu B bisa rutin shalat Jumat ke masjid dan pergi ke beberapa acara, misalnya kumpul-kumpul dengan orang Indonesia atau kegiatan lainnya. Setidaknya beliau masih punya ‘kehidupan’ bersama teman-teman dan komunitas muslimnya. Sayangnya relasi dengan kedua anaknya tidak kunjung membaik. Bahkan akhir-akhir ini dia makin susah berkomunikasi dengan cucunya.

Seperti itulah ibu B mengisi hari-hari. Kadang dia ke Gym kalau ada teman yang mengajak. agar tidak bosan, dia sering memesan bus untuk ke mall setidaknya sekali sepekan. Sering dia mengundang kami sekeluarga atau teman-teman Indonesia lain untuk datang ke rumahnya. Kalau kami datang berkunjung, beliau senang sekali. Terlihat dari berbagai makanan yang beliau sajikan. Mukanya juga berseri-seri. Ibu B meskipun asli Singapura, ayahnya asli Indonesia. Karena itu dia akrab dengan komunitas Indonesia.

Sampai hari saat dia meninggal, tidak ada kabar bahwa ibu B sakit sebelumnya. Karena itu kami semua, yang mengenalnya, kaget mendengar berita dukacita tersebut. Kita semua berasal dari Allah dan kepada-Nya lah kita semua akan kembali. Berita kematian memang selalu mengingatkan kita semua bahwa sejatinya kita hidup ini sementara. Alam akhiratlah yang kekal dan kita semua akan menuju ke sana.

Selamat Jalan ibu B. Semoga Allah  mengampuni dosa-dosamu dan melapangkan kuburmu. Semoga kisah hidupmu menjadi pelajaran bagi kami semua. Ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa kita kendalikan dan berjalan bertentangan dengan rencana kita. Tapi Allah tidak membebani kita dengan sesuatu yang kita tidak mampu mengontrolnya. Mari lakukan yang terbaik, mengambil keputusan-keputusan yang terbaik sambil senantiasa memohon agar keputusan yang kita ambil itu sesuai dengan apa yang Allah sukai. Semoga dengan begitu kita bisa menjalani hidup kita di dunia ini dengan baik dan Allah berikan keselamatan serta penghidupan yang baik pula di alam akhirat. Aamiin.

Mang Sayur

16001049
sumber foto: Mas Sayur zonamotor.net

Kemarin tukang sayur yang biasa lewat depan rumah, tidak datang, karenanya pagi ini kutanya,

“Kok, kemarin nggak jualan, Mang?”

“Iya, saya bangun kesiangan!” Jawabnya.
“Emang bangun jam berapa, Mang?” Aku balik tanya.
“Jam setengah satu!” Jawabnya.
“Setengah satu siang?” tanyaku lagi
“Enggak, lah, jam setengah satu malam!” Jawabnya lagi.
“Bangun setengah satu malam masih kesiangan jualan, emang biasanya bangun jam
berapa, Mang? tanyaku lagi, penasaran.
“Saya biasa bangun jam 11 malam, terus belanja sampai jam 2 (pagi). Setelah itu bungkus-bungkus sampai Subuh. Habis subuh langsung ngider jualan,” paparnya.
“Terus tidurnya jam berapa, Mang?”
“Selesai jualan, kadang jam 3, kadang-kadang jam 4.”
—-
Wow, aku tidak bisa membayangkan kerja dengan jam kerja seperti itu. Jam 11 malam, bagi sebagian orang adalah jam berangkat tidur tapi bagi Mang Nyunyun (nama panggilan dia) justru saat dia mulai kerja. Lima belas jam berikutnya dia masih kerja. Kalau dihitung mungkin hanya sekitar 4-5 jam dia tidur per hari, dengan jam tidur yang tidak ‘normal’. Padahal si “Mamang” ini masih muda, mungkin usianya sekitar 30 tahun. Kubayangkan, pasti sesekali dia pingin main juga dengan teman-temannya, atau sekadar bersantai tanpa dikejar waktu.
Tapi dia mungkin tak punya banyak pilihan pekerjaan. Atau mungkin memang dia memilih kerja seperti itu dibanding kerja di pabrik atau pekerjaan lain. Tetangga depan rumah pernah cerita kalau Mang Nyunyun sempat tidak jualan beberapa bulan, kabarnya dia menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) ke luar negeri. Tapi tak lama kemudian dia balik dan kembali jualan lagi.
Cerita Mang Nyunyun menyadarkan aku bahwa ada banyak hal yang mesti kusyukuri. Bahwa untuk bisa belanja di depan rumah, ada sosok penjual yang mesti bangun sejak jam 11 malam. Bahwa pekerjaan sehari-hari di rumah itu masih terbilang ringan, dengan jam kerja yang longgar, tanpa deadline dan bebas tekanan. Kalau pas malas masak, ya, tinggal beli makanan jadi. Kalau malas nyuci, ya, tinggal ditumpuk untuk nyuci hari berikutnya. Itupun yang nyuci si mesin cuci, tinggal memasukkan baju, mencet tombol, hingga siap dijemur. Jika malas menyetrika, ya, baju nggak usah disetrika. Asal tahan aja ngelihat baju anak-anak atau baju sendiri sedikit kusut. Bahkan, andaikan malas banget cuci dan setrika, tinggal bawake laundry, lalu tinggal jemput dan terima baju rapi dan wangi. Semua itu adalah kemewahan yang mungkin tidak semua orang bisa merasakan.
Di sisi lain aku juga senang, menyaksikan anak muda pekerja keras. Aku jadi lebih menghormati Mang Nyunyun yang memilih mengisi masa mudanya dengan kerja keras dibanding santai-santai dan kongkow-kongkow yang biasanya dipilih mereka yang enggan memeras keringat. InsyaAllah dengan niat baik bekerja halal, Allah akan anugerahkan rezeki berlimpah dan barokah.
Terimakasih atas ‘petuah’ hidup yang berharga, Mang Nyunyun!

Berkirim Doa

Pernah, nggak, ketemu orang yang tiba-tiba bilang, aku sering mendoakan kamu, lho..

Ada sebuah kejadian yang sangat membekas di pikiran, saat suatu ketika aku mengunjungi tetangga beda 4 rumah dari apartemen tempat kami tinggal di Norfolk. Tetangga yang kukunjungi ini keluarga Afganistan. Sang suami sekolah PhD, si istri tinggal di rumah mengasuh anak mereka yang berjumlah 5 orang. Entah karena sibuk mengasuh anak atau memang tidak suka bersosialisasi, sang istri ini nyaris tidak pernah ke luar rumah dan jarang datang ke acara kumpul-kumpul, entah di masjid atau di taman. Bahasa Ingrisnya juga kurang lancar, jadi agak susah berkomunikasi dengan dia. Aku sempat beberapa kali ketemu di sekolahnya anak-anak, tapi, ya itu, kami jarang ngobrol panjang karena kendala bahasa.

Saat kami sekeluarga pindah apartemen sekitar 2 tahun yang lalu, jadilah kami bertetangga. Tapi kami masih jarang ngobrol. Hanya sesekali kami saling mengirim makanan.

Kira-kira sebulan setelah aku melahirkan Ihsan, aku berkunjung ke rumahnya. Kalau biasanya aku hanya mengantar makanan dan langsung pulang, hari itu aku masuk dan duduk di ruang tamunya yang tampak sempit.

“Aku senang kamu mendapat anak laki-laki, aku sering mendoakan kamu untuk mendapat anak laki-laki,” ucapnya dengan bahasa Inggris yang campur aduk.

Masya Allah, aku ternganga. Tidak terbayang di pikiranku, kalau perempuan ini, yang kami tidak terlalu akrab, bahkan bercakap-cakap saja kami jarang, mengirimkan doa untuk kami. Bisa jadi, atas doa dia, Allah berkenan memberikan anak lelaki pada kami.

Kejadian itu mengingatkanku untuk jangan bosan mengirimkan doa untuk keluarga, teman dan siapa saja. Mendoakan itu tidak berat, hanya butuh sedikit kelonggaran hati. Siapa tahu melalui doa-doa yang kita panjatkan, para malaikat mengaminkan hal yang sama dan Allah mengabulkan doa-doa terbaik.

Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”